Pernyataan Greenpeace - Astra Agro Lestari Bergabung dalam IPOP

Siaran Pers - 19 Februari, 2016
Jakarta, 19 Februari 2016 -- PT Astra Agro Lestari, perusahaan perkebunan kelapa sawit kedua terbesar yang sedang berkembang, pekan ini bergabung dengan menanda tangani Ikrar Minyak Sawit Indonesia (the Indonesia Palm Oil Pledge - IPOP) yang menunjukkan bahwa komitmen industri terhadap nol deforestasi terus tumbuh. [1]

Jurukampanye hutan Greenpeace Indonesia Annisa Rahmawati mengatakan :

“Greenpeace mengapresiasi  Astra Agro Lestari bergabung dengan IPOP, kami berharap direktur perusahaan ini akan menggunakan kepempimpinannya di GAPKI dalam menyusun agenda 2016 yang konstruktif bagi seluruh industri untuk bekerja menyelamatkan hutan dan gambut untuk mencegah terjadinya kembali krisis kebakaran hutan tahun lalu.”

“Tujuan ini sangat bisa dipenuhi dan selaras dengan komitmen Presiden Joko Widodo dalam perlindungan hutan dan gambut serta pencegahan kebakaran. Visi Presiden juga mempertegas pentingnya keterbukaan, melalui inisiatif peta tunggal (one map). Karenanya Greenpeace mendesak seluruh perusahaan untuk mendukung keterbukaan dengan mempublikasikan data berupa peta konsesi mereka dan penyuplai pihak ketiga untuk memudahkan pengawasan dan perlindungan hutan dan gambut. Kami mencatat bahwa RSPO sudah bergerak ke arah ini dengan mempublikasikan data konsesi anggotanya dalam waktu dekat.”

Selama kurun waktu hanya beberapa bulan di akhir tahun 2015, kebakaran hutan yang melanda hutan, gambut dan perkebunan Indonesia telah menyebabkan krisis yang menurut Bank Dunia menyebabkan kerugian ekonomi negara yang mencapai 16 miliar dollar Amerika atau hampir 2% dari GDP. [2] Kerugian dari sisi kemanusiaan akibat krisis ini bahkan jauh lebih besar dan tidak terhitung berapa jumlah masyarakat yang menderita parah dan kronis dari menghirup partikel asap beracun di kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, data kementerian kesehatan menyebutkan setidaknya 120 ribu orang mencari pertolongan kesehatan karena kebakaran ini. [3]

“Beberapa pemain besar di sektor perkebunan di Indonesia bersembunyi di balik petani kecil dan nilai ekonomi sebagai alasan untuk menghindar dari upaya menghentikan deforestasi skala besar dan pengeringan gambut sebagai penyebab krisis kebakaran hutan tahun lalu. Kenyataannya, perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam IPOP yang telah membuat ikrar nol deforestasi juga sudah berkomitmen untuk bekerja dengan petani kecil dalam meningkatkan produktifitasnya. Jika komitmen pada Ikrar ini terlaksana, itu akan memudahkan petani kecil memperoleh keuntungan dari permintaan pasar global terhadap kelapa sawit berkelanjutan, dan memperkuat persaingan kelapa sawit Indonesia di pasar global,” kata Annisa.

Catatan untuk editor:

[1] http://www.palmoilpledge.id/2016/02/astra-argo-lestari-aal-resmi-bergabung-ipop-untuk-berpartisipasi-dalam-komitmen-sawit-indonesia-berkelanjutan

[2] http://www.bloomberg.com/news/articles/2016-01-20/haze-crisis-cost-indonesia-almost-2-of-gdp-world-bank-says

[3] http://www.scientificamerican.com/article/hellish-fires-in-indonesia-spread-health-climate-problems

Kontak media:

  • Annisa Rahmawati, Jurukampanye hutan Greenpeace Indonesia, Tel : +62 8111097527
  • Zamzami, Jurukampanye media Greenpeace Indonesia, Tel : 08117503918