Program Relokasi Harimau APP Menutupi Fakta Sebenarnya

Siaran Pers - 2 Agustus, 2011
Pelecehan yang dilakukan Asia Pulp and Paper (APP) terhadap hutan Indonesia dan harimau yang terancam punah, adalah fakta sesungguhnya dibalik upaya PR program ‘relokasi harimau’ APP hari ini.

Saat ini hanya sekitar 400 ekor harimau sumatra tersisa di alam bebas. APP memuji-muji penangkapan dan relokasi harimau sumatra keluar dari area suplai bahan baku mereka di Sumatra Selatan sebagai ‘momen signifikan bagi preservasi harimau sumatra’. Hanya saja, data baru yang didapat Greenpeace memperlihatkan bahwa APP adalah pelaku besar perusakan kawasan yang menjadi habitat harimau dengan melakukan perusakan hutan untuk mensuplai pabrik-pabrik pulp mereka.

Perusakan hutan ini memaksa harimau mendekat kepada kehidupan manusia, menyebabkan lebih banyak insiden konflik antara mereka. Tragisnya, awal tahun ini dua orang dilaporkan terbunuh di konsesi suplai APP, PT Sumber Hijau Permai (PT SHP), tidak jauh dari lokasi penangkapan harimau ini.[1] Sejak mendapat izin konsesi pada 2002, kelompok APP telah menghancurkan hutan hujan dalam jumlah signifikan di kawasan konsesi dan sekitarnya.

Pada 2006, PT Rimba Hutani Mas (PT RHM) mendapat konsesi di kawasan sebelah utara dari konsesi PT SHP di daerah Merang. Meski kawasan ini mempunyai hutan yang lebat pada 2006, kini setelah lima tahun berlalu hutan itu telah rusak, sekitar 27.000 hektar hutan hujan telah dihancurkan. Pada awal 2011, periset lapangan Greenpeace berhasil merekam harimau di salah satu hutan yang masih tersisa di kawasan PT RHM.

Zulfahmi, Jurukampanye Hutan Greenpeace mengatakan, “jika APP benar-benar peduli dengan harimau, hentikanlah merusak hutan yang sangat penting bagi keberlangsungan jangka panjang harimau. Tetapi nyatanya dibanding berhenti merusak hutan, APP kini lebih memilih upaya public relation untuk menyembunyikan perusakan yang mereka lakukan.”

Ia menambahkan, “perusakan hutan yang dilakukan oleh APP adalah kabar buruk tidak hanya untuk harimau, tetapi juga untuk satwa terancam punah lain dan untuk iklim. Sebagian besar kawasan di daerah itu adalah hutan lahan gambut.”

[1] http://palembang.tribunnews.com/30/03/2011/harimau-sumatera-keliaran