Masyarakat Asia Mengatakan Tidak Pada Batubara

Siaran Pers - 5 Juli, 2010
Para pemimpin masyarakat dari enam negara hari ini mendesak pemerintah untuk menghapuskan batubara dan mulai memfokuskan diri pada sumber energi bersih terbarukan. Pernyataan ini muncul di akhir pertemuan regional yang difasilitasi oleh Greenpeace, dihadiri oleh para pemuka masyarakat dari Indonesia, China, India, Filipina, dan Thailand di Cirebon, 3-5 Juli, untuk berbagi pengalaman dan menemukan keterkaitan dalam isu batubara.

Batubara mematikan

"Batubara adalah masalah umum di wilayah Asia. Dampak buruk pertambangan batubara dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara adalah sama di setiap negara, mulai dari kerusakan lingkungan, masalah kesehatan, serta mempercepat perubahan iklim,"kata Arif Fiyanto, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara.

"Ekstraksi dan pembakaran batubara adalah ancaman besar bagi masyarakat yang hidup di sekitar tambang batubara atau di dekat PLTU, yang juga banyak terletak di tengah kota. Masyarakat itu menderita banyak penyakit termasuk penyakit pernafasan, kanker, gagal ginjal, serta kelainan janin. Pihak yang paling menderita dari dampak itu adalah wanita dan anak-anak. Jelas, masa depan generasi mendatang terancam," kata Dr. Wencesclao Kiat, ahli limbah lingkungan dari Filipina.

Dalam acara ini, tokoh masyarakat dari Indonesia mengungkapkan fakta mengejutkan tentang pertambangan batubara dan pembangkit listrik tenaga uap di wilayah mereka.

Di Kalimantan Timur, Kahar Al Bahri mengatakan bahwa penambangan batubara akan menghancurkan kawasan jika pemerintah tidak segera bertindak. "Sekarang konsesi pertambangan batubara telah mencapai 3,1 juta hektar, dengan 1.226 izin pertambangan. Ini setara dengan luas negara Swiss."

"Di Cirebon, pembangunan PLTU telah membawa kerugian ekonomi kepada masyarakat. Sebagai contoh, para nelayan biasanya bisa mendapatkan penghasilan harian sekitar Rp 100.000, tapi sekarang mereka hanya bisa mendapatkan sekitar Rp 25,000 karena konstruksi telah merusak lingkungan," jelas Aan Anwarudin dari Cirebon.

Untuk menghindari bencana perubahan iklim dan kerusakan lingkungan serta masalah kesehatan yang lebih parah, Arif mendesak pemerintah untuk segera menghentikan penggunaan batubara dan memfokuskan pada energi terbarukan sebagai gantinya.

"Bersama-sama, kami berharap dapat mengirim pesan yang kuat kepada pemerintah kita dan para pemimpin negara Asia bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil seperti batubara dan minyak akan mendorong kita ke arah bencana iklim."  (1)

"Energi Terbarukan dan efisiensi energi adalah solusi. Pemerintah harus segera berinvestasi pada teknologi energi terbarukan. Pada saat yang sama, mereka harus menjamin penerapan kebijakan efisiensi energi besar-besaran di semua sektor (Energi [R] evolusi!). Sumber daya energi terbarukan sudah tersedia. Daripada berinvestasi kepada bahan bakar fosil, pemerintah harus mengalihkan dana pada investasi energi terbarukan yang lebih bersih dan aman," Arif menyimpulkan.

Other contacts: Arif Fiyanto, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, +62 8111 805 373 Hikmat Soeriatanuwijaya, Jurukampanye Media Greenpeace Asia Tenggara, +62 8111 805 394

Notes: (1) http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/reports/declaration-against-coal