Bapak Presiden, Anda Peduli?

Siaran Pers - 4 April, 2009
Greenpeace mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mewujudkan komitmennya mengurangi emisi gas rumah kaca akibat deforestasi menjadi aksi nyata, saat SBY melakukan kampanye di Yogyakarta.

aktivis Greenpeace memasang spanduk besar untuk mempertanyakan komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada hutan Indonesia.

Untuk mempertanyakan komitmen SBY ini, aktivis Greenpeace membentangkan spanduk bertuliskan "Pak SBY! Bagaimana Dengan Penggundulan Hutan? Bagaimana Dengan Perubahan Iklim" saat rombongan Presiden melintasi area Fly Over Janti, dalam perjalanan dari Bandara Adisucipto menuju tempat kampanye.

Presiden telah mengusung komitmen ini secara internasional, pada Pertemuan G8 di Jepang 2008 lalu. Tetapi hingga saat ini kebijakan pemerintah Indonesia malah bertolak belakang dengan komitmen ini, dengan terus mengeluarkan izin untuk membuka lebih banyak akses pada penebangan hutan tropus serta eksploitasi lahan gambut untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit serta untuk industri pulp dan kertas.

"Kita berada di sini untuk kembali mendesak pada Presiden Yudhoyono, apakah dia peduli terhadap masalah deforestasi, perubahan iklim, dan nasib rakyat Indonesia mengingat kita akan terkena dampak buruk perubahan iklim yang sangat besar," kata Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

Presiden Yudhoyono baru saja menghadiri pertemuan G20 di London, dimana dia ikut menandatangani Komunike Bersama G20: "Komitmen untuk mengatasi masalah perubahan iklim, berdasarkan prinsip umum tetapi menggunakan cara dan tanggung jawab masing-masing, serta berusaha mencapai kesepakatan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen Desember 2009."

Tetapi bersamaan dengan hal ini draft regulasi Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD) yang dikeluarkan pemerintah Indonesia untuk dibahas pekan lalu, tidak akan efektif untuk usaha menanggulangi masalah perubahan iklim dan tidak akan member keuntungan berarti pada masyarakat Indonesia.

Berbagai penelitian telah menunjukkan Indonesia adalah salah satu Negara yang mengalami kerugian paling besar dari dampak perubahan iklim ini, termasuk naiknya permukaan laut serta lebih besarnya frekuensi perubahan drastis cuaca, yang pada akhirnya akan menyebabkan kelangkaan pangan dan keamanan rakyat. Tanpa aksi yang kuat dan konkret mengenai perubahan iklim, berbagai janji-janji partai politik untuk masa depan rakyat Indonesia yang lebih baik mustahil terwujud.

Untuk mendesak presiden mewujudkan komitmen ini, Greenpeace mendesak pemerintah Indonesia untuk segera membuat moratorium (penghentian sementara) penebangan hutan. Lebih jauh, pemerintah harus mempromosikan pasar karbon yang befokus pada pengembangan teknologi yang bersih dan bisa diperbaharui di sektor-sektor industri kunci, serta mendesak Negara maju untuk mengurangi emisi mereka secara drastis dan memberikan bantuan finansial untuk program pelestarian hutan pada Negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

"Saat ini, kebijakan-kebijakan domestik pemerintah sangat jauh dari apa yang telah dijanjikan Presiden di forum internasional. Sekaranglah saatnya Presiden mewujudkan janji manis itu ke dalam aksi nyata. Presiden harus menginstruksikan departemen-departemennya untuk mencabut regulasi-regulasi yang menyebabkan lebih banyak kerusakan hutan dan habitat dan masyarakat yang tergantung pada hutan," Maitar menyimpulkan.

Other contacts: Bustar Maitar, Jurukampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara, 081344666135 Hikmat Soeriantuwijaya, Jurukampanye Media Greenpeace Asia Tenggara, 0818930271

Kategori