SBY: Cabut Izin APRIL untuk Merambah Semenanjung Kampar

Siaran Pers - 9 Nopember, 2009
Hari ini Greenpeace mengeluarkan bukti-bukti terbaru perusakan hutan lahan gambut yang dilakukan oleh perusahaan kertas raksasa APRIL. Dengan memaparkan bukti berupa foto dan peta (1) ini, Greenpeace menyerukan kepada Presiden Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono untuk segera mencabut izin perambahan lahan gambut yang sangat kaya akan karbon tersebut oleh APRIL.

Membukaan lahan yang di lakukan APRIL di Semenanjung Kampar. Lokasi yang tidak jauh dari Kamp Pembela Iklim Greenpeace di Teluk Meranti, Riau

"APRIL memberitakan kepada masyarakat dan Greenpeace bahwa mereka tidak merusak hutan di Semenanjung secara ilegal, namun kami memiliki bukti-bukti yang menunjukkan adanya mesin penggali sedang merusak hutan dan indikasi kuat bahwa kegiatan itu berlangsung di lahan gambut dalam," tegas Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara Bustar Maitar berbicara dari Semenanjung Kampar.

Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan Darori dalam wawancara dengan sebuah surat kabar nasional mengatakan telah ada izin keluar untuk lahan gambut di Semenanjung Kampar berupa hak pengusahaan hutan (HPH) dan izin penanaman hutan tanaman industri (HTI). (2) Namun, dia mengatakan apabila terdapat bukti yang menunjukkan adanya perusahaan yang beroperasi di lahan gambut dengan kedalaman lebih dari tiga meter, izin perusahaan tersebut akan dicabut.

"Pemberian izin itu ada aturannya, yaitu sejauh lahan gambut yang dialihfungsikan tidak melebihi tiga meter," kata Darori. "Saya tidak antikritik. Kalau ditemukan data gambut yang melebihi tiga meter, izin HPH dan HTI akan dicabut."

"Area lahan gambut ini sangat dalam, dan dari perspektif iklim, sosial serta keanekaragaman hayati lahan ini harus dilindungi. Perusakan terhadap area seperti ini yang membawa Indonesia menjadi negara ketiga pencemar iklim di dunia setelah Amerika Serikat dan Cina," kata Maitar.  "Kami mendesak Presiden Yudhoyono untuk memerintahkan Menteri Kehutanan agar segera mencabut izin APRIL untuk memenuhi komitmen pengurangan emisi gas rumah kaca."

Aktivis Greenpeace telah mendirikan 'Pos Pembela Iklim' di jantung Semenanjung Kampar yang sedang terancam untuk memperlihatkan kepada para pemimpin dunia bahwa untuk menghindari krisis iklim, mereka harus melawan deforestasi. Selama beberapa minggu ke depan menjelang konferensi Iklim di Kopenhagen, Greenpeace dan masyarakat daerah tersebut berencana akan terus membangun bendungan di area Semenanjung Kampar - yang lahan gambutnya menyimpan 2 miliar ton karbon - minggu-minggu mendatang menjelang pertemuan iklim PBB bulan Desember.

"Kami mengambil aksi untuk menghentikan perubahan iklim di hadapan perusakan hutan. Untuk menarik mundur dunia dari tebing krisis iklim, kita memerlukan Obama, Merkel, Sarkozy, Brown dan para pemimpin dunia lainnya untuk berkomitmen memotong drastis emisi dari bahan bakar fosil dan menyalurkan dana kritis yang diperlukan untuk mengakhiri deforestasi. Jika mereka gagal, kita akan menghadapi kepunahan spesies, banjir, kekeringan dan kelaparan pada masa hidup kita," lanjut Maitar.

Greenpeace meluncurkan "Panduan Politik Iklim" di pertemuan iklim PBB di Barcelona, yang mengidentifikasi Presiden Amerika Serikat Barrack Obama sebagai pemimpin negara yang dianggap paling gagal dalam menyediakan kepemimpinan yang diperlukan untuk memastikan tercapainya perjanjian yang adil, ambisius dan mengikat.

Dalam panduan ini juga terdapat rincian posisi para pemimpin negara yang kemungkinan akan mewujudkan atau justru menggagalkan perjanjian iklim di Kopenhagen Desember mendatang. Posisi mereka di analisa dari aspek penurunan emisi, mekanisme finansial, perlindungan hutan, kerangka kerja legal dalam rangka pertemuan Kopenhagen, dan langkah nyata mereka dalam menurunkan emisi di dalam negeri. Detail lengkap ada di http://www.greenpeace.org/climate-politics-guide.

Other contacts: Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara: +62 81344666135 Hikmat Soeriatanuwijaya, Jurukampanye Media Greenpeace Asia Tenggara: +62 818930271

Notes: Catatan Untuk Editor: (1) Map link http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/melindungi-hutan-alam-terakhir/pembelaiklim/kampar_peatdepth_april (2) Kompas, 4 November 2009 Online version: For further information please see: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/04/03562471/hutan.gambut.masih.terancam Background media briefing on Indonesia’s forests and climate change is available at: www.greenpeace.org/climatedefenders/rainforests-and-climate-change. More information: http://www.greenpeace.or.id/pembelaiklim