Aktivis Greenpeace Pulau Jawa Melakukan Aksi Untuk Mendorong Kepemimpinan Iklim SBY

Siaran Pers - 21 Nopember, 2009
Aktivis Greenpeace dari Kota Besar Pulau Jawa hari ini melakukan aksi untuk mendorong komitmen Presiden Yudhoyono mengurangi emisi karbon Indonesia dan meminta janjinya ini segera diwujudkan menjadi aksi nyata dengan menghentikan deforestasi untuk menanggulangi bencana perubahan iklim. Ratusan aktivis berkumpul di Monumen Nasional dan berjalan menuju Bunderan Hotel Indonesia dimana mereka membentangkan banner bertuliskan “cukup berbicara saatnya bertindak – lindungi hutan untuk masa depan”.

Pada pertemuan G20 di Pittsburgh beberapa waktu lalu, Presiden Yudhoyono memperlihatkan kepemimpinan iklimnya dengan mengeluarkan komitmen menurunkan emisi Indonesia 26 persen pada 2020 - akan menjadi  41 persen dengan dukungan internasional. Hal ini harus dibarengi dengan komitmen negara industri untuk secara drastis menurunkan emisi di negaranya dan mendukung negara berhutan tropis seperti Indonesia dengan menyediakan dana perlindungan hutan di bawah skema Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD).

"Presiden Yudhoyono telah memperlihatkan kepemimpinannya dengan berkomitmen mengurangi emisi karbon. Sekarang anak-anak muda ini melakukan aksi untuk mendorong komitmen ini menjadi aksi nyata dengan secepatnya menghentikan deforestasi," ujar Yuyun Indradi, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara. "Perubahan iklim yang cepat akan mempengaruhi seluruh kehidupan; sekarang semuanya tergantung pada para pembuat kebijakan untuk memastikan generasi muda memiliki masa depan yang bebas dari perubahan iklimyang berbahaya"

Aksi ini diselengarakan setelah Greenpeace membuka Kamp Pelindung Iklim atau Climate Defenders Camp di Semenanjung Kampar tiga minggu lalu, dengan dukungan kuat masyarakat setempat, untuk menyoroti perusakan hutan di lahan gambut oleh perusahaan kertas. Minggu lalu ratusan masyarakat berkumpul di sekitar kamp Greenpeace dan menghentikan upaya polisi untuk mengusir aktivis dari kamp.

Semenanjung Kampar adalah salah satu penyimpan karbon terbesar di dunia dengan kedalaman hingga 15 meter, menyimpan lebih dari dua miliar ton karbon. Jika lahan gambut Kampar dirusak untuk industri pulp dan kertas maka akan menambah emisi Indonesia dan bertentangan dengan komitmen Presiden Yudhoyono.  Perusakan di Semenanjung Kampar merupakan potret perusakan hutan yang terjadi di seluruh Indonesia, yang telah membuat Indonesia menjadi negara pengemisi terbesar ketiga di dunia. Namun awal minggu ini, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan memerintahkan perusahaan pulp dan kertas Asia Pacific Resources International Holding Limited (APRIL) menghentikan sementara aktifitas penggundulan hutan Kampar sementara pemerintah melakukan kajian ulang atas perijinannya.

"Asia Tenggara adalah kawasan yang paling rentan tetapi paling tidak siap menghadapi perubahan iklim. Kami menyambut baik komitmen Presiden demi menyelamatkan masa depan Indonesia. Sekarang saatnya tindakan nyata harus dilakukan, dengan cara sesegera mungkin melindungi hutan alam dan gambut kita yang sangat berharga," ujar Nur Hidayati, Perwakilan Indonesia, Greenpeace Asia Tenggara.

Other contacts: Nur Hidayati, Greenpeace Country Representative, Indonesia, 08129972642 Yuyun Indradi, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, 0812 2616 1759 Findi Kenandarti, Asst. Media Greenpeace Asia Tenggara, 08161681840