Regulasi ‘Lemah' Uni Eropa akan Tinggalkan Minyak Kelapa Sawit yang Berasal dari Perusakan Hutan

Siaran Pers - 12 Juni, 2010
Panduan Berkelanjutan ‘lemah' yang dikeluarkan Uni Eropa (EU) kemarin, meski harus diperkuat, tetap mengakomodasi keprihatinan konsumen terhadap produksi minyak kelapa sawit yang merusak hutan. Dalam panduan yang baru direvisi ini, para produsen minyak kelapa sawit akan diminta untuk menunjukkan bahwa mereka tidak melakukan konversi hutan atau mengeringkan lahan gambut setelah 2008. (1)

"Kriteria berkelanjutan baru ini adalah indikasi lain dari pasar global yang menuntut produsen minyak kelapa sawit untuk meninggalkan praktik perusakan lingkungan. Minyak kelapa sawit dari perusakan hutan dan lahan gambut kini bukan pilihan untuk biofuel," ujar Bustar Maitar, Team Leader Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

Walaupun kriteria revisi ini merupakan kemajuan, termasuk ditutupnya satu lubang besar - memasukkan perkebunan ke dalam kategori hutan, tetapi tetap menimbulkan problema karena beberapa masalah belum tersentuh. Panduan ini masih terlalu lemah untuk mencegah konversi beberapa hutan sekunder, dan tidak jelas dalam hal bagaimana pengaturan untuk perlindungan lahan gambut bisa diterapkan dan dimonitor, dimana hal itu sangat penting (2). EU juga gagal menanggapi masalah dampak dari perubahan lahan tidak langsung (ILUC) (3). Resiko terbesar dari ekspansi biofuel adalah seperti yang disoroti oleh institusi-institusi internasional besar (4).

Direktur Kebijakan Hutan Uni Eropa Greenpeace Sebastien Risso mengatakan: "Biofuel yang kotor malah akan memperparah perubahan iklim dan menyebabkan perusakan hutan alam. Di bawah skema yang ada saat ini, Eropa, yang ingin memangkas jejak karbon mereka, bisa jadi malah memperparah keadaan dengan penggunaan biofuel. Biofuel terburuk sebenarnya lebih berpolusi dibanding bahan bakar fosil dan sangat beresiko bahwa mobil-mobil Eropa akan berjalan dengan bahan bakar yang berasal dari perusakan hutan dan kepunahan hewan."

Peningkatan permintaan terhadap minyak sawit, termasuk untuk biofuel menyebabkan semakin terancamnya hutan di Indonesia. Setiap tahun Indonesia kehilangan hampir dua juta hektar hutan, menjadikannya negara penghasil emisi terbesar ketiga di dunia. Secara khusus, konversi tidak bertanggung jawab lahan gambut yang kaya karbon menjadi penyebab besar terlepasnya emisi gas rumah kaca ke udara. Beberapa kali Greenpeace telah mengeluarkan laporan yang memperlihatkan betapa perusahaan seperti Sinar Mas terus melakukan perusakan hutan lahan gambut. Greenpeace memperkirakan Sinar Mas yang merupakan produsen terbesar minyak kelapa sawit dalam setahun akibat perusakan lahan gambut di Provinsi Riau saja sudah menghasilkan hingga 2,5 juta ton CO2 (5).

Dalam enam bulan terakhir perusahaan-perusahaan besar dunia seperti Unilever dan Nestle telah menghentikan kontrak mereka dengan Sinar Mas karena tidak mau produk mereka terkait dengan perusakan hutan dan menjadi penyebab perubahan iklim. Produsen biofuel Spanyol Abengoa juga telah mengumumkan pembatalan kontrak dengan Sinar Mas.

"Perusahaan multinasional dan Uni Eropa telah memberikan tanda jelas pada pemerintah dan dunia industri di Indonesia: Hentikan penghancuran hutan dan lahan gambut. Sekarang saatnya untuk menghilangkan image buruk pada industri minyak kelapa sawit Indonesia. Itu artinya tidak ada lagi ekspansi kebun sawit yang merusak hutan dan lahan gambut," imbuh Maitar. "Presiden Yudhoyono harus menerapkan moratorium pada konsesi baru dan izin yang sudah ada serta melakukan perlindungan menyeluruh terhadap lahan gambut."

Greenpeace adalah organisasi kampanye global independen yang bertindak untuk mengubah sikap dan perilaku, untuk melindungi dan melestarikan lingkungan, dan mempromosikan perdamaian.

Other contacts: Bustar Maitar, Team Leader Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, tel: +62 81344666135 Hikmat Soeritanuwijaya, Jurukampanye Media Greenpeace Asia Tenggara, tel: +62 8111805394

Notes: (1) Hutan didefinisikan sebagai hutan primer dengan tutupan kanopi lebih dari 30 persen. (2) Di Indonesia, dimana industri minyak kelapa sawit berekspansi secara cepat, 1,8 miliar ton emisi gas rumah kaca terlontar tiap tahun dari degradasi dan perusakan lahan gambut - menyumbang 4% pada total emisi global. Hooijer, A, M Silvius, H Wösten, H and S Page (2006) PEAT-CO2, Assessment of CO2 emissions from drained peatlands in SE Asia, Delft Hydraulics report Q3943 7, December 2006. www.wetlands.org/LinkClick.aspx?fileticket=NYQUDJl5zt8%3D&tabid=56 (3) Saat tanah untuk pertanian dipakai untuk mengembangkan biofuel, juga menyebabkan hutan terancam untuk sumber makanan. Peningkatan permintaan akibat biofuel Eropa juga bisa menyebabkan hutan dalam jumlah besar terancam. Komisi diharapkan bisa mengeluarkan regulasi bagaimana mengatasi dampak ILUC pada akhir tahun ini. (4) Untuk contoh, silahkan lihat: - Organisation for Economic Cooperation and Development / Richard Doornbosch and Ronald Steenblik. "Biofuels: Is the Cure Worse Than the Disease?" 12 September 2007. http://www.cfr.org/publication/14293/oecd.html - United Nations Environment Programme (2009) Towards sustainable production and use of resources: Assessing Biofuels. http://www.unep.fr/scp/rpanel/Biofuels.htm - European Commission Joint Research Centre (2008) Biofuels in the European Context: Facts and Uncertainties. http://ec.europa.eu/dgs/jrc/downloadsjrc_biofuels_report.pdf (5) Greenpeace (2008) The hidden carbon liability of Indonesian palm oil, Greenpeace International 2008

Kategori