Greenpeace Kembali Menghentikan Perusakan Hutan Alam Kampar oleh Raksasa Pulp and Paper APRIL

Siaran Pers - 15 Juli, 2010
Hari ini Aktivis Greenpeace memblokade kapal tongkang yang mengangkut ribuan meter kubik kayu yang berasal dari hutan alam di Semenanjung Kampar, Sumatra. Aktivis membentangkan spanduk bertuliskan “APRIL Hentikan Merusak Masa Depan Kami” dan mendesak perusahaan pulp and paper raksasa APRIL serta Pemerintah Indonesia untuk menghentikan perusakan hutan.

Sekitar 25 aktivis menghentikan kegiatan muat tongkang kayu dari hutan lam lahan gambut semenanjung Kampar yang kaya karbon Kampar, yang kan dibawa ke Pabrik bubur kertas milik APRIL di Pangkalan Kerinci. ni adalah aksi kedua aktivis Greenpeace untuk menghentikan APRIL merusak hutan alam di Kampar. Setelah aksi Greenpeace pada Oktober 009 lalu, Menteri Kehutanan memerintahkan penghentian sementara penebangan hutan yang dilakukan olehAPRIL. Perintah penghentian ementara ini juga diucapkan Menteri saat berkunjung dan bertemu masyarakat Desa Teluk Meranti.

"Tanpa terlebih dahulu melakukan kajian legal dan legislasi terhadap izin yang telah dikantungi RAPP, Kementerian Kehutanan malah mengeluarkan Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang mengizinkan perusahaan merusak 22 ribu hektar hutan di Semenanjung Kampar, ini betolak belakang dengan komitmen mentri kehutanan," ujar Zulfahmi, Juru kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

Berbekal RKT ini, APRIL telah kembali beroperasi menghancurkan hutan Kampar, meski masyarakat lokal dari Teluk Meranti dan Teluk Binjai masih menentang operasi ini. Aksi ini juga menyusul laporan Greenpeace yang diluncurkan pekan lalu, mengungkap peran perusahaan Sinar Mas, APP yang juga salah satu raksasa pulp and paper di Indonesia, dalam melakukan penghancuran hutan dan lahan gambut besar-besaran di Pulau Sumatra.

"Operasi APRIL dan APP menyebabkan kehancuran besar-besaran hutan kita

dan cermin bertolak belakangnya komitmen internasional Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menghentikan perusakan hutan dengan kebijakan

yang diambil Menteri Kehutanan. Perusakan hutan Kampar dan hutan lahan gambut di Sumatra juga menghancurkan sumber penghidupan ribuan masyarakat setempat yang menggantungkan hidupnya pada hutan, keanekaragaman hayati serta memperparah emisi karbon yang yang di hasilkan Indonesia."

Presiden Yudhoyono baru-baru ini mengumumkan moratorium (penghentian sementara) izin penebangan hutan dan lahan gambut mulai tahun 2011 di bawah kesepakatan senilai US$ 1 miliar dengan Norwegia, untuk mengurangi emisi gas rumah kaca Indonesia. Tetapi saat ini jutaan hektar hutan telah dialokasikan untuk dikonversi - termasuk ratusan ibu hektar di bawah kontrol APP dan APRIL - yang tidak masuk dalam kesepakatan Norwegia.

"Daripada menyerahkan hutan alam kita yang masih tersisa kepada perusahaan seperti APRIL dan APP, Pemerintah seharusnya mendukung masyarakat yang telah berinisiatif untuk merestorasi lahan gambut demi mengatasi perubahan iklim. Ini adalah kesempatan bagi pemerintah untuk memilih antara menyelamatkan warisan berharga lingkungan bagi generasi mendatang Indonesia dan kepentingan perusahaan-perusahaan pulp and paper raksasa yang tamak," Zulfahmi menyimpulkan.

Other contacts: Zulfahmi, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, 08126821214 Joko Arif, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, 08111805390 Zamzami, Juru Kampanye Media Greenpeace Asia Tenggara (di Pekanbaru), 08117503918 Nabiha Shahab, Juru Kampanye Media Greenpeace Asia Tenggara (di Jakarta), 081314813432.