Greenpeace menuntut keadilan bagi aktivis yang ditahan di Jepang – Aksi damai dan doa bersama di depan kedutaan besar Jepang di seluruh dunia

Siaran Pers - 30 Juni, 2008
Hari ini aktivis Greenpeace melakukan aksi di depan kedutaan besar Jepang di Jakarta dalam rangka memprotes penahanan tidak adil kedua rekannya di Jepang yang telah berhasil mengungkap skandal besar dalam program yang disebut sebagai ‘penelitian ilmiah mengenai ikan paus.’

Aktivis Greenpeace hari ini melakukan aksi di depan kedutaan besar Jepang di Jakarta. aksi ini meminta pembebasan dua aktivis Greenpeace di Jepang yang ditangkap tanpa ada alasan yang jelas. Dua aktivis Greenpeace Jepang Junichi Sato dan Toru Suzuki di tahan sejak 20 Juni 2008. Penangkapan ikan paus di jepang secara besar-besaran adalah illegal untuk lingkungan.

Dengan membentangkan spanduk serta membawa petisi yang ditanda tangani lebih dari 170.000 orang yang peduli dari seluruh dunia, para aktivis di Indonesia menyerahkan surat kepada Duta Besar Kojiro Shiojiri serta menyerahkan dokumen hasil penyelidikan Greenpeace. Apabila penyelidikan ini ditindak lanjuti maka beberapa pejabat Jepang dan operator armada penangkapan ikan paus yang terlibat praktek korup yang sudah berlangsung dengan lama dalam apa yang disebut sebagai penelitian ikan paus Jepang(1).

"Aksi di Jakarta adalah aksi terakhir dalam serangkaian protes yang dilancarkan seluruh dunia yang menyerukan keadilan bagi para aktivis Greenpeace di Tokyo yang telah ditahan secara tidak adil. Aksi ini juga menyerukan keadilan bagi ikan paus yang hidup di Suaka Paus Laut Selatan (Southern Ocean Whale Sanctuary) dimana setiap tahunnya lebih dari seratus paus dibantai atas nama ilmu pengetahuan," ujar juru kampanye hutan Bustar Maitar.

Sejak minggu lalu, Greenpeace mengadakan aksi damai di kedutaan besar di seluruh dunia. Di beberapa negara akan diadakan doa bersama dimana para aktivis akan bertahan di luar gedung kedutaan besar sampai dengan Junichi Sato, 31, dan Toru Suzuki, 41, diberi tuduhan atau dilepas. Sebagai tambahan, lebih dari 170.000 email protes dari seluruh dunia telah dikirim ke pemerintah Jepang yang meminta pelepasan segera pada aktivis tersebut.

Kedua aktivis Jepang ditahan pada tanggal 20 Juni setelah menggagalkan pengiriman daging ikan paus illegal yang dilaporkan ke bea cukai sebagai papan karton. Pada prinsipnya hukum Jepang memperbolehkan penahanan selama 23 hari tanpa adanya tuduhan. Sidang berikutnya yang akan menentukan pembebasan atau penerusan penahanan mereka akan dilangsungkan pada tanggal 1 Juli.

Greenpeace percaya bahwa tanggapan yang diberikan pemerintah Jepang berlebihan, tidak adil dan sarat kepentingan politik. Junichi dan Toru memberikan pernyataan pada polisi mengenai kegiatan mereka ketika mereka mengungkap jaringan penyelundupan daging ikan puas dalam Armada Penangkapan Paus Jepang. Mereka menawarkan kerjasama penuh bagi penyelidikan polisi namun sekarang mereka malah ditahan tanpa tuduhan dan jaminan.

"Daripada membungkam mereka yang berhasil menunjukkan dimana korupsi terjadi seharusnya polisi menyelidikipejabat pemerintah, operator armada penangkapan ikan paus serta staff yang menyelundupkan daging ikan paus dari apa yang disebut program penelitian yang dibiayai oleh pembayar pajak di Jepang dan menjualnya demi profit. Operasi penangkapan paus ini dan yang berlangsung saat ini di Southern Ocean Whale Sanctuary harusnya menjadi perhatian para aparat penegak hukum," ujar Bustar.

Other contacts: Adhityani Arga, Juru Kampanye Media Greenpeace Asia Tenggara, +62813 980 999 77 Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, +62813 4466 135 Keiko Shirokawa, Media Greenpeace Jepang, di Tokyo: + 81 90 3470 7884 Mhairi Dunlop, Greenpeace Jepang: +81 80 3017 0046 Mike Townsley, Greenpeace Internasional, di Amsterdam: +31 621 296 918