Greenpeace Minta Negara Uni Eropa dan SBY Tolak Upaya Greenwash Industri Kayu

Siaran Pers - 8 Oktober, 2009
Greenpeace hari ini memperingatkan negara-negara Eropa bahwa mereka beresiko menjadi penyandang dana untuk industri kayu dan menggagalkan upaya global mengatasi dampak berbahaya perubahan iklim.

Resiko itu ada pada redaksional kalimat kecil tetapi sangat penting dalam Perjanjian Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD - Reduced Emissions from Deforestation and Degradation) yang dibuat oleh para negosiator dalam Pertemuan Iklim PBB di Bangkok. Kalimat itu adalah "Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (SFM - Sustainable Forest Management)" dan "Konversi Hutan (Forest Conversion)".

Pada Pertemuan Iklim di Bali 2007 dan di Poznan tahun lalu, referensi mengenai bagaimana hutan seharusnya diperlakukan di bawah REDD, menggunakan istilah Managemen berkelanjutan untuk utan (SMF - Sustainable management of forest), sebuah definisi yang cakupannya cukup luas, termasuk hal-hal yang menyangkut penggunaan hutan oleh komunitas lokal dan konservasi

Tetapi, sejak saat itu pihak-pihak sektor kehutanan secara diam-diam memasukkan istilah mereka sendiri ke dalam teks negosiasi yang mempunyai arti yang sangat berbeda: pengelolaan hutan berkelanjutan. Istilah ini lebih mengacu kepada skala industri perkayuan (1).

"Perubahan kecil dan membingungkan ini bisa berdampak sangat besar bahkan tragedi. Dalam teks baru yang keluar pagi ini, bahkan kalimat "perlindungan untuk menghindari konversi hutan alam menjadi hutan perkebunan" telah hilang. Ini menunjukkan kurang pedulinya Uni Eropa terhadap perlindungan hutan. Negara Uni Eropa telah mengarahkan hutan dan iklim lebih dekat dengan kematian," tegas Grant Rosoman, Penasehat Kebijakan Hutan Greenpeace dalam konferensi pers di Bangkok untuk peluncuran laporan "Alasan Kenapa Industri Kayu Tidak Akan Menyelamatkan Iklim (Why Logging Will Not Save the Climate).

"Jika perubahan ini disetujui, artinya industri bisa meneruskan membabat hutan alam, mempercepat perubahan iklim. Kecuali kalimat ini dikembalikan seperti semua, itu akan membuat skema REDD menjadi konyol. Upaya-upaya greenwash ini harus ditolak," imbuh Rosoman.

Berbeda dengan keyakinan luas, hutan alam tua masih bertumbuh dan masih menyimpan karbon. Secara global, deforestasi menyumbang hingga 20 persen emisi gas rumah kaca. Indonesia berperan besar sebagai negara yang punya tingkat deforestasi paling cepat di dunia, menjadikannya negara terbesar ketiga penghasil gas rumah kaca.

"Sejara penebangan hutan menunjukkan tidak pernah ada program yang berkelanjutan. SFM adalah kegiatan degradasi hutan besar dan tidak boleh ada dana REDD yang digunakan untuk mensubsidi pembabatan. Jika Presiden Yudhoyono serius untuk mewujudkan komitmennya mengurangi emisi Indonesia, dia harus segera mengumumkan moratorium (penghentian sementara) penebangan hutan dan mengkaji ulang kebijakan dan undang-undang yang sudah ada," tegas Joko Arif, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

Greenpeace mendesak nol deforestasi pada 2020. Perubahan iklim dan deforestasi sangat berkaitan - hanya penghentian pembabatan hutan yang bisa meningkatkan peluang mengatasi perubahan iklim.

Greenpeace adalah organisasi kampanye global yang beraksi untuk mengubak sikap dan perilaku, untuk melindungi dan memelihara lingkungan, dan mempromosikan perdamaian.

Other contacts: Joko Arif, Juru kampanye Hutan, Greenpeace Asia Tenggara (di Jakarta) +628111805390 Yuyun Indradi, Juru Kampanye Hutan, Greenpeace Asia Tenggara (di Bangkok) +66813091704 Hikmat Soeriatanuwijaya, Media Campaigner, +62818930271

Notes: (1) Penelitian yang dilakukan Organisasi Kayu Tropis Internasional (ITTO) menemukan bahwa potensi penurunan emisi dari SFM hanya tiga persen dari potensi mitigasi REDD dan restorasi hutan. (2) The Ecosystems Climate Alliance (ECA): Global Witness; Humane Society International; Rainforest Action Network; Rainforest Foundation Norway; The Rainforest Foundation U.K.; Wetlands International; The Wilderness Society