Kapal Greenpeace Esperanza akan mengunjungi Indonesia

Dengan Pesan "Stop Penghancuran Hutan Stop Penghancuran Iklim"

Siaran Pers - 26 September, 2008
Kapal Greenpeace Esperanza (dalam bahasa Spanyol berarti "harapan") akan berlayar ke Indonesia dalam bagian tour "Forest for Climate" mulai dari tanggal 6 Oktober sampai 15November2008. Kapal ini akan tiba di Jayapura, Papua pada tanggal 6 Oktober untuk menyoroti masalah pertahanan hutan alam asli terakhir di Indonesia.

Kapal Esperanza

Hutan Alam asli terakhir yang membentang dari Asia Tenggara, melalui Papua New Guinea dan kepulauan Solomon Islands di Pasifik. Hutan Alam asli terkhir terdiri dari hutan hujan tropis, hutan bakau,hutan pesisir dan hutan gambut. Di dalamnya terdapat spesies tumbuhan dan hewan yang luarbiasa jumlahnya, sebagian besar tidak terdapat di bagian lain di dunia ini. Dalam hutan ini juga terdapat ratusan adat dan kebudayaan asli.

"Hutan Indonesia makin menyusut dengan kecepatan yang luarbiasa. Penghancuran hutan merusak masyarakat, kebudayaan dan keanekaragaman hayati. Deforestasi juga melepas sekitar 20 persen dari emisi gas rumahkaca dunia tiap tahunnya, dan menyumbang ke memburuknya perubahan iklim.

Jumlah ini lebih banyak dari emisi dari mobil, truk, keretaapi, kapal laut dan kapa terbang di seluruh dunia pada tahun 2004 " kata Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan, Greenpeace Asia Tenggara.

"Kapal Esperanza membawa spanduk yang bertuliskan: "Stop Penghancuran Hutan, Stop Penghancuran Iklim". Hutan tropis menyimpan karbon yang disimpan di dalam tanah dan pepohonan. Seperti spons, mereka menyerap karbondioksida yang dilepas ketika bahan bakar fosil dibakar untuk keperluan energi. Kita memerlukan hutan yang luas untuk menyerap gas rumahkaca, memerangi perubahan iklim dan melindungi planet ini " tambahnya.

Di Indonesia, hutan gambut dihabisi oleh pembalakan, mengeringan dan pembakaran untuk memberi tempat bagi perkebunan kepala sawit. Di beberapa tempat, hutan gambut ini kedalamannya mencapai lebih dari 12 meter. Saat hutan gambut dibuka dan dibakar, hal ini bagaikan mengaktifkan bom karbon, dengan melepas hamper dua milyar ton karbondioksida yang berbahaya tiap tahunnya.

" Esperanza hadir di Indonesia untuk menyerukan pada pemerintah Indonesian untuk menerapkan moratorium secepatnya bagi semua bentuk konversi hutan, termasuk untuk penebangan industrial, ekspansi perkebunan kelapa sawit dan berbagai penyebab deforestasi. Hal ini dibutuhkan untuk membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, melindungi kekayaan keanekaragaman hayati tropis dan melindungi kehidupan jutaan orang yang hidup dan bergantung pada hutan di seluruh Indonesia " Shailendra Yashwant, Direktur Kampanye, Greenpeace Asia Tenggara.

Esperanza adalah kapal terbesar dalam armada Greenpeace, diluncurkan pertama kali pada Februari 2002, saat kampanye penyelamatan hutan alam asli "Ancient Forests Save or Delete" Kapal ini juga merupakan kapal Greenpeace pertama yang diberi nama oleh pengunjung website kami. Dengan panjang 72 metres, dan kecepatan maksimum mencapai 16 knot, kapal ini akan dinakhodai oleh Kapten Madeline Habib dalam perjalanannya di Indonesia.

Other contacts: Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan, Greenpeace Asia Tenggara, +62 813 4466 6135 Nabiha Shahab, Media Campaigner, Greenpeace Asia Tenggara, +62 813 1421 3432