Greenpeace menyambut baik langkah Golden Agri-Resources menuju kebijakan “nol jejak deforestasi” untuk kelapa sawit

Siaran Pers - 5 Juni, 2012
Jakarta, 5 Juni, 2012 - Greenpeace Indonesia menyambut baik peluncuran laporan dari produsen minyak sawit Golden Agri Resources (GAR) yang mengidentifikasi area hutan yang harus dilindungi sebagai langkah penting dalam mencegah deforestasi.

Laporan mengenai High Carbon Stock (HCS), adalah bagian dari kebijakan  konservasi hutan (Forest Conservation Policy) GAR, diluncurkan dalam sebuah workshop yang difasilitasi oleh Satuan Tugas REDD Pemerintah Indonesia di Jakarta. Bersama-sama dengan badan pemerintah lainnya, Satgas REDD bertugas untuk mencapai komitmen Presiden  Yudhoyono untuk mengurangi emisi sebesar 26%, atau 41% dengan bantuan internasional, hingga tahun 2020.  (1)

"Golden Agri Resources memberikan contoh yang jelas bahwa adalah suatu hal yang sangat mungkin dilakukan bagi perusahaan untuk mengidentifikasi hutan yang harus disisihkan bagi konservasi. Ini merupakan tonggak penting dalam perjuangan untuk mengakhiri deforestasi di sektor perkebunan kelapa sawit, "kata Bustar Maitar, Kepala Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia.

Februari 2011 Greenpeace mengakui komitmen GAR untuk menghilangkan deforestasi dari semua operasinya dan pindah haluan ke jejak nol deforestasi global (2).

Selama setahun penuh, GAR telah bekerjasama dengan The Forest Trust (TFT), sebuah organisasi nirlaba global yang bekerja untuk menyediakan produk yang bertanggung jawab, dan Greenpeace, untuk merancang satu set standar yang kuat untuk mengidentifikasi kawasan konservasi hutan. Upaya ini menghasilkan studi pertama sejenis yang bertujuan untuk mengembangkan metodologi yang praktis, kuat secara ilmiah dan biaya yang efektif  untuk mendefinisikan dan mengidentifikasi area konservasi High Carbon Stock . Ini termasuk batas sementara untuk HCS yaitu lebih besar dari 35 ton karbon per hektar. (3)

“Perkembangan ini secara signifikan dapat membantu pemerintah Indonesia memenuhi komitmennya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari deforestasi melalui kemampuan mengidentifikasi area hutan untuk dikonservasi dan hutan terdegradasi rendah karbon untuk dikembangkan. Ini penting bagi pemerintah Indonesia agar  sepenuhnya mendukung upaya GAR itu dengan memfasilitasi kerangka kerja untuk mengaktifkan cadangan karbon dan konservasi hutan, meninjau, dan mengubah peraturan jika perlu, dan menuntut hal yang sama terhadap  semua industri yang beroperasi di wilayah berhutan," lanjut Maitar.

Greenpeace telah melakukan kampanye selama tiga tahun untuk menghentikan deforestasi dari kelapa sawit. Komitmen GAR hari ini jelas menunjukkan bahwa industri dan masyarakat sipil dapat bekerja sama untuk menerapkan solusi menjaga lingkungan dan mata pencaharian masyarakat, bahkan pada saat yang sama memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pemerintah Indonesia, harus melipatgandakan upaya untuk meningkatkan tata kelola hutan dan memperkuat penegakan hukum kehutanan yang ada.

Perusahaan saudara GAR, Asia Pulp dan Paper (APP), yang bertanggung jawab atas deforestasi untuk sumber kertas dan produk kemasan, harus mengikuti inisiatif GAR dan akhirnya dapat bersungguh-sungguh menghilangkan deforestasi dari rantai pasokannya.

Greenpeace akan terus memantau pelaksanaan Kebijakan Konservasi Hutan GAR dan mendesak seluruh industri untuk mengikuti langkah GAR tersebut. Kelapa sawit dan penggunaan sektor hutan lainnya, seperti pulp dan kertas, perlu membuat dan menerapkan standar global untuk memastikan deforestasi  telah dihilangkan dari rantai pasokannya.

Catatan editor:

(1) Laporan  HCS Forest Study dalam bahasa Inggris : www.goldenagri.com.sg/pdfs/misc/High_Carbon_Stock_Forest_Study_Report.pdf.

Kata pengantar dan eksekutif summary tersedia dalam Bahasa Indonesia:  http://www.goldenagri.com.sg/pdfs/misc/LaporanPenelitianHutanber-StokKarbonTinggi_- _KataPengantardanRingkasanEksekutif.pdf  

(2) Golden Agri-Resources Inisiasi Pelibatan Industri untuk Konservasi Hutan  9 Februari 2011. http://www.goldenagri.com.sg/110209%20Golden%20Agri-Resources%20Initiates%20Industry%20Engagement%20for%20Forest%20Conservation.pdf

(3) Sebagai bagian dari implementasi Kebijakan Konservasi Hutan, GAR menyusun batas karbon agar tidak ada perluasan lahan yang mengandung lebih dari 35 ton karbon per hektar diatas biomassa tanah (AGB).  Angka ini sekarang didukung oleh hasil penelitian hutan HCS.

Penelitian mengidentifikasi enam tingkat tutupan vegetasi.

Vegetasi tersebut meliputi:

High Density Forest (HK3) – Sisa hutan atau hutan dekat hutan sekunder yang menyerupai kondisi primer. Rata-rata 192 tC/ha;

Medium Density Forest (HK2) – Sisa hutan yang lebih rusak dibandingkan High Density Forest. Rata-rata 166 tC/ha;

Low Density Forest (HK1) – Sisa hutan tapi sangat terganggu dan sedang dalam masa rehabilitasi (mungkin berisi perkebunan / kebun campuran). Rata-rata 107 tC/ha;

Old Scrub (BT) – Hutan muda yang sedang tumbuh kembali, tetapi dengan petak hutan dalam berbagai tingkatan. Rata-rata 60 tC/ha;

Young Scrub (BM) – Kawasan yang baru saja ditebang, beberapa kayu tumbuh lembali dan memiliki tutupan rumput.Rata-rata 27 tC/ha;

Cleared/Open Land (LT) – Kawasan hutan gundul dengan vegetasi rumput, sedikit tanaman kayu. Rata-rata 17 tC/ha;

Penelitian tersebut mencakup batas 35tC/ha HCS diantara tingkat vegetasi BT (Old scrub, hutan yang beregenerasi) dan BM (area degradasi atau hutan gundul), dan ini jelas membutuhkan batas karbon yang jelas apakah ini hutan dan termasuk lahan degradasi atau tidak, dan bahwa wilayah-wilayah dengan karbon rendah dibawah HCS sangat potensial untuk regenerasi stok karbon.

Kontak:

Bustar Maitar, Kepala Jurukampanye Hutan, Greenpeace  Indonesia tel: +62 81344666135
Hikmat Soeritanuwijaya, Jurukampanye Media, Greenpeace Indonesia, 
tel: +62  8111805394