Laporan Greenpeace mengungkapkan Biaya ketergantungan Indonesia terhadap Batubara yang sebenarnya

Siaran Pers - 25 Maret, 2009
Greenpeace pagi ini meluncurkan laporannya yang berjudul “Biaya Batubara yang Sebenarnya” (1) pada sebuah jumpa pers di Jakarta yang digelar bersama dengan koalisi Anti-Batubara.

Laporan Biaya Batubara Sebenarnya

Koalisi Anti-Batubara terdiri dari beberapa organisasi termasuk KAM Cilacap, JATAM, Walhi, Sekolah Demokrasi Ekonomi dan Greenpeace telah memulai sebuah kampanye menentang pembangunan baru atau perluasan pembangkit listrik bertenaga batubara di Indonesia.

Laporan utama ini menjelaskan secara rinci biaya-biaya eksternal yang ditanggung oleh masyarakat sekitar dan iklim global akibat ketergantungan bahanbakar yang paling kotor dan paling menyebabkan polusi. Batubara adalah sebab dominan emisi karbondioksida (CO2). Batubara mungkin adalah bahanbakar murah di pasaran, tetapi hanya karena sebagian besar biaya penggunaannya di-eksternalisasi. "Biaya-biaya eksternal" ini termasuk penyakit pernafasan, kecelakaan-kecelakaan tambang, hujan asam, polusi asap, penurunan panen pada pertanian dan perubahan iklim.

Rencana energi nasional pemerintah Indonesia yang salah arah untuk menambah sekitar 10.000 MW listrik dari tenaga batubara untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia adalah bertentangan dengan segala usaha menyelamatkan lingkungan kita dan menghentikan perubahan iklim. Menanggapi rencana Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral untuk membangun 35 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) bertenaga batubara dalam dua tahun mendatang, Greenpeace menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk memilih energi bersih dan terbarukan dan bukan tenaga batubara yang kotor.

"Indonesia mungkin saja mempunyai sumberdaya batubara yang melimpah tapi pada saat yang sama juga memiliki sumberdaya panas bumi, angin dan surya (2) yang belum dimanfaatkan, yang lebih cocok dengan kebutuhan negara kepulauan dibanding dengan sistem pembangkitan bahanbakar fosil yang kotor dan terpusat. Tapi pengembangan potensi energi terbarukan di negri ini dikalahkan dengan industri batubara yang menguasai kementrian energi kita," kata Arif Fiyanto, juru kampanye Iklim, Greenpeace Asia Tenggara.

PLTU Indonesia sudah mengakibatkan dampak buruk pada kesehatan dan penghidupan masyarakat sekitarnya. Pada bulan Februari, Greenpeace bersama masyarakat terdampak di Cilacap, Jawa Tengah, mengkaji dampak PLTU terhadap kesehatan dan lingkungan. Sekitar 90% dari masyarakat menderita masalah permafasan dan nelayan setempat melaporkan penurunan tangkapan.

"Indonesia telah teridentifikasi dalam laporan-laporan terakhir sebagai salah satu negara yang beresiko paling menderita akibat perubahan iklim, dengan Jakarta sebagai kota paling rentan di Asia Tenggara. Batubara berdampak terhadap kesehatan manusia, merampas penghidupan dan menyebabkan perubahan iklim. Indonesia membutuhkan revolusi energi sekarang!" kata Galih Aji Prasongko, dari Solar Generation Indonesia, Greenpeace.

Other contacts: Arif Fiyanto, juru kampanye Iklim, Greenpeace Asia Tenggara, 0813 1100 4640 Galih Aji Prasongko, Solar Generation Indonesia, Greenpeace Asia Tenggara, 0856 9240 0192 Hendrik Siregar, Jatam, 0852 6913 552 Desmiwati, Walhi, 0813 8109 4360 Nabiha Shahab, juru kampanye media, Greenpeace Asia Tenggara, tel: 0813 14213432

Notes: (1) Laporan “Biaya Batubara Sebenarnya” report http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/reports/biaya-batubara-sebenarnya (versi Indonesia). Untuk memperkirakan biaya batubara sebenarnya, pada tahun 2007 Greenpeace dan institut penelitian independen CE Delft secara konservatif mengevaluasi biaya eksternal pada kesehatan manusia akibat polusi udara yang diakibatkan batubara, kerusakan yang diakibatkan perubahan iklim dan korban jiwa akibat kecelakaan besar dalam operasi pertambangan. Biaya-biaya ini secara terpisah dikumpulkan dan kemudian digabungkan dan tercapailah suatu angka, yang diperkirakan merupakan batas bawah biaya batubara yang ditanggung oleh manusia dan lingkungan pada tahun 2007. Analisis ini mengungkapkan bahwa: • Pendekatan biaya kerugian tahunan akibat pembakaran batubara, dari faktor-faktor yang dikaji, adalah €355.75 milyar. • Pendekatan biaya kerugian tahunan terkait dengan kecelakaan dalam rangkaian produksi batubara, dari faktor-faktor yang dikaji, adalah €161.28 juta. • Perkiraan kerugian tahunan akibat kerusakan yang diakibatkan pada pertambangan, The approximate annual damage costs of mining, dari faktor-faktor yang dikaji, adalah €674 juta. (2) Energy Revolution - A Sustainable Indonesia Energy Outlook http://www.energyblueprint.info/484.0.html