Paramotor Greenpeace mulai memantau titik api

Siaran Pers - 19 Oktober, 2007
Greenpeace hari ini memulai kegiatan memantau titik api dengan paramotors (paraglider atau paralayang menggunakan mesin) dari lokasi Kamp Pembela Hutan (Forest Defenders Camp/FDC) di Riau, Sumatra. Pemantauan dari atas ini akan menjadi kegiatan tetap di lokasi kamp untuk menyediakan informasi akurat dan tepat waktu bagi pasukan pemadam kebakaran dalam mengatasi kebakaran hutan.

Greenpeace hari ini memulai kegiatan memantau titik api dengan paramotors (paraglider atau paralayang menggunakan mesin) dari lokasi Kamp Pembela Hutan (Forest Defenders Camp/FDC) di Riau, Sumatra. Pemantauan dari atas ini akan menjadi kegiatan tetap di lokasi kamp untuk menyediakan informasi akurat dan tepat waktu bagi pasukan pemadam kebakaran dalam mengatasi kebakaran hutan.

Foto diambil oleh penerbang paramotor Greenpeace sebagai bagian dari kegiatan memantau titik api di hutan-hutan dan lahan gambut di kawasan kebun kelapa sawit di atas wilayah Desa Kuala Cenaku di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Paramotors (paraglider atau paralayang menggunakan mesin) diluncurkan dari lokasi Kamp Pembela Hutan (Forest Defenders Camp/FDC) di Desa Kuala Cenaku, yang dibuka 9 Oktober lalu. FDC merupakan bagian kampanye Greenpeace untuk menghentikan hancurnya hutan dan lahan gambut yang sebagian disebabkan oleh perkebunan kelapa sawit. Pengrusakan hutan mengakibatkan hilangnya sejumlah keanekaragaman-hayati dan menambah banyak emisi gas rumah kaca. Dalam jangka waktu dekat, menjelang diselenggarakannya UNFCCC di Bali, Greenpeace menyerukan agar pemerintah Indonesia agar bersungguh-sungguh memberlakukan moratorium atas konversi dan pengrusakan lahan gambut di Indonesia. Deforestasi menyumbang sekitar seperlima dari seluruh emisi gas rumah kaca.

Foto diambil oleh penerbang paramotor Greenpeace sebagai bagian dari kegiatan memantau titik api di hutan-hutan dan lahan gambut di kawasan kebun kelapa sawit di atas wilayah Desa Kuala Cenaku di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Paramotors (paraglider atau paralayang menggunakan mesin) diluncurkan dari lokasi Kamp Pembela Hutan (Forest Defenders Camp/FDC) di Desa Kuala Cenaku, yang dibuka 9 Oktober lalu. FDC merupakan bagian kampanye Greenpeace untuk menghentikan hancurnya hutan dan lahan gambut yang sebagian disebabkan oleh perkebunan kelapa sawit. Pengrusakan hutan mengakibatkan hilangnya sejumlah keanekaragaman-hayati dan menambah banyak emisi gas rumah kaca. Dalam jangka waktu dekat, menjelang diselenggarakannya UNFCCC di Bali, Greenpeace menyerukan agar pemerintah Indonesia agar bersungguh-sungguh memberlakukan moratorium atas konversi dan pengrusakan lahan gambut di Indonesia. Deforestasi menyumbang sekitar seperlima dari seluruh emisi gas rumah kaca.

Greenpeace telah mendirikan FDC di Desa Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, untuk melakukan kegiatan dan pengumpulkan dokumentasi dalam beberapa bulan ke depan demi membawa perhatian dunia guna mengakhiri deforestasi, hilangnya keanekaragaman-hayati dan bagi masalah perubahan iklim, menjelang diadakannya konperensi PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC) di Bali bulan Desember nanti.

"Terbang dengan paramotor di atas hutan-hutan di Riau merupakan pengalaman yang mendebarkan sekaligus mencengangkan. Kabut asap yang masih menyelimuti hutan-hutan asli itu sangat menarik untuk diamati. Tapi saat terbang di atas hutan gundul yang kebanyakan menjadi kebun kelapa sawit dan lahan konsesi penebangan hutan, langsung terasa betapa pentingnya tindakan untuk menghentikan kejahatan hutan," kata penerbang kawakan paramotor Cedar Anderson yang juga sukarelawan Greenpeace di FDC.

Laju deforestasi di Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di dunia (1), dan menurut data terakhir, Indonesia disebutkan sebagai  penyumbang emisi (emiter) karbon ketiga terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat dan China, yang diakibatkan hancurnya hutan lahan gambut (2). Deforestasi menyumbang sekitar seperlima dari seluruh emisi gas rumah kaca (3).

Dalam kurun 1982-2005, tingkat deforestasi di Riau rata-rata mencapai 160,000 hektar setiap tahunnya. Angka tersebut meningkat menjadi 200,000 hektar per tahun pada 2004-2005.  Hutan di Riau hanya tersisa seluas 2,7 juta hektar di tahun 2004, turun dari 6,4 juta hektar di tahun 1982 (4).

Greenpeace mendesak pemerintah Indonesia agar bersungguh-sungguh memberlakukan moratorium atas deforestasi dan industri penebangan hutan , meninjau-ulang peraturan dan perundangan, tata kelola dan penegakan hukum, serta melaksanakan perencanaan tata guna lahan yang adil dan bertanggung jawab.

"Kita membutuhkan tindakan nyata dari dunia internasional untuk mengakhiri deforestasi. Hal ini harus dinyatakan dalam tahap kedua setelah berakhirnya Protokol Kyoto. Penyelamatan sisa hutan di dunia akan mengurangi perubahan iklim dan melindungi jutaan manusia yang hidupnya bergantung dari keberadaan hutan, sekaligus menaga keanekaragaman-hayati," kata Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara Nur Hidayati yang saat ini berada di FDC. 

Greenpeace adalah organisasi kampanye independen yang menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkap masalah lingkungan hidup dan mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depan yang hijau dan damai.

Other contacts: I. Christianto Nusatya, Media Campaigner, Greenpeace Southeast Asia, +62 21 3101873 / +62 812 107 8050 Arie Rostika Utami, Media Assistant, Greenpeace Southeast Asia, +62 856 885 7275 / +62 813 7865 7398.

Notes: (1) FAO, Global Forest Resources Assessment 2005 (2) Climate Analysis Indicators Tool (CAIT) Version 4.0. (Washington, DC: World Resources Institute, 2007). (3) IPCC (intergovernmental Panel on Climate Change), 2007. Climate Change 2007: Mitigation of Climate Change. Contribution of Working Group III to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA. Lapiran IPCC tersedia di: http://www.mnp.nl/ipcc/pages_media/AR4-chapters.html (see technical summary) (4) Data dari Jaringan Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) di Pekanbaru

Tag