Greenpeace Menghimbau Kandidat Presiden: “Ingat Hutan Kita”

Siaran Pers - 2 Juli, 2009
Greenpeace pagi ini mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di sisa masa kepemimpinannya untuk segera melakukan langkah nyata melindungi hutan yang masih tersisa di Indonesia, dengan menggelar imitasi dari pidato SBY sebelumnya, dimana Presiden menyerukan rakyat Indonesia untuk tidak melupakan warisan alam. Dalam pidato ala Greenpeace, SBY yang diperankan aktivis Greenpeace mengakui bahwa selama ini kebijakan-kebijakannya belum efektif dalam melindungi hutan, dan berjanji akan melakukan langkah-langkah lebih konkrit untuk melindungi hutan dan mengatasi perubahan iklim.

Aktivis Greenpeace di depan kantor BMC. Greenpeace mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di sisa masa kepemimpinannya untuk segera melakukan langkah nyata melindungi hutan yang masih tersisa di Indonesia, dengan menggelar imitasi dari pidato SBY sebelumnya, dimana Presiden menyerukan rakyat Indonesia untuk tidak melupakan warisan alam.

Aktivis Greenpeace di depan kantor BMC. Greenpeace mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di sisa masa kepemimpinannya untuk segera melakukan langkah nyata melindungi hutan yang masih tersisa di Indonesia, dengan menggelar imitasi dari pidato SBY sebelumnya, dimana Presiden menyerukan rakyat Indonesia untuk tidak melupakan warisan alam.

Dalam beberapa bulan terakhir Greenpeace memang terus mendesak tim sukses dari tiga kandidat Presiden Indonesia, untuk mengeluarkan komitmen dan program nyata mengatasi pembabatan hutan dan dampak perubahan iklim, jika nanti terpilih. Desakan itu terus disampaikan secara langsung melalui tim sukses maupun melalui serangkaian parodi debat capres di televisi swasta serta di kota-kota tempat para kandidat itu berkampanye. Seluruh kegiatan ini bertujuan untuk mendorong para capres itu untuk lebih serius dalam mencari penyelesaian masalah pembabatan hutan dan perubahan iklim.

"Hasilnya hingga saat ini kita telah mendengar banyak kata-kata dan janji-janji manis, tetapi belum ada yang menyodorkan rencana kerja konkret untuk menghentikan laju pembabatan hutan, yang sangat penting untuk ekonomi dan masa depan rakyat Indonesia," ujar Joko Arif, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara. "Kami menghimbau seluruh rakyat Indonesia untuk mengingat janji-janji para capres untuk melindungi hutan, pada Pemilihan Presiden 8 Juli mendatang. Pilih hutan untuk masa depan."

Beberapa waktu lalu, Jusuf Kalla dalam satu kesempatan meminta Greenpeace membantu merealisasikan dana dari negara maju untuk program perlindungan hutan alam di Indonesia yang sudah hampir punah. Sementara Megawati Soekarnoputri dalam kampanyenya di Palangkaraya telah berjanji akan menerapkan moratorium (penghentian sementara) penebangan hutan. Tetapi hingga saat ini SBY belum mengatakan apa pun mengenai programnya dalam melindungi hutan, kecuali lewat iklan satu halaman penuh di sebuah surat kabar yang membela posisinya dalam perlindungan hutan di Indonesia.

Sampai sekarang, pemerintah Indonesia masih membiarkan mayoritas hutan Indonesia dirusak untuk memproduksi kertas, produk perkayuan, coklat, kosmetik, dan produk kecantikan, minyak goreng, dan apa yang disebut 'biodiesel'. Jika terus dibiarkan, maka pemerintah tidak hanya bersalah karena tak mampu melindungi lingkungan dan membuat jutaan masyarakat yang hidupnya bergantung pada hutan kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian, tetapi juga harus bertanggung jawab atas dampak negatif perubahan iklim.

Desember tahun ini di Kopenhagen akan diselenggarakan pertemuan iklim yang sangat penting untuk menentukan keberhasilan upaya dunia mengatasi dampak perubahan iklim. Di pertemuan ini diharapkan negara-negara maju setuju untuk memberikan milyaran dolar Amerika sebagai dana pemeliharaan dan perlindungan hutan negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Greenpeace mendesak pemerintah Indonesia untuk menunjukkan komitmennya dalam menjaga hutan dengan cara mengimplementasikan moratorium pembabatan hutan untuk memberi ruang dan waktu bagi sistem yang lebih baik yang diperlukan untuk memastikan perlindungan hutan.

"Pemilihan Presiden 8 Juli mendatang bisa menghadirkan dua hal, kesempatan dan ancaman. Kesempatan jika Presiden terpilih kelak akan mampu melindungi hutan yang bisa membawa keuntungan bagi rakyat Indonesia, dan ancaman jika pemerintah yang baru akan tetap membiarkan perusakan hutan dan tak melakukan apa-apa dalam menanggulangi perubahan iklim," Joko menyimpulkan.

Greenpeace adalah organisasi independen global yang beraksi untuk mengubah perilaku dan sikap, untuk melindungi dan melestarikan lingkungan, serta mempromosikan perdamaian.

Other contacts: Joko Arif, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, +62 811 1805 390 Hikmat Soeriatanuwijaya, Jurukampanye Media Greenpeace Asia Tenggara, +62 811 1805 394

Kategori