Raksasa Elektronik Gagal "Go Green"

Toshiba, Samsung dan Dell Kena Penalti dalam "Greenpeace Guide to Greener Electronics" Terbaru

Siaran Pers - 31 Mei, 2010
Versi terbaru (versi 15) Greenpeace Guide to Greener Electronics (1) memperlihatkan Samsung, Toshiba dan Dell terkena poin penalti karena gagal memenuhi jadwal yang telah mereka janjikan untuk menghilangkan beberapa kadar bahan beracun dalam produk-produk mereka. Kinerja buruk perusahaan ini bertolak belakang dengan kompetitor mereka seperti Apple dan HP yang telah melangkah maju dengan menyediakan konsumen pilihan produk-produk yang lebih ramah lingkungan (2).

 

Panduan terbaru ini diluncurkan dalam sebuah konferensi pers di Jepang kemarin, dimana Toshiba yang dalam panduan terdahulu menempati peringkat ketiga jatuh ke peringkat ke-14, sementara Samsung dari peringkat tujuh menjadi peringkat 13, karena mendapat pengurangan poin akibat tidak memenuhi komitmen yang telah mereka buat untuk tidak lagi menggunakan bahan berbahaya seperti PVC dan BFR (3).

"Dengan fakta ini raksasa elektronik ini tidak bisa mengklaim produk mereka ramah lingkungan hingga memenuhi komitmen mereka untuk mencoret bahan yang berbahaya terhadap lingkungan dan kesehatan konsumen," ujar Jurukampanye Bahan Beracun Greenpeace Internasional Iza Kruszewska. "Perusahaan-perusahaan yang masih menggunakan PVC dan BFR dalam produk mereka harus mengikuti contoh dari Apple, HP serta perusahaan India seperti HCL dan Wipro yang saat ini tidak lagi menggunakan bahan-bahan kimia beracun."

Pada panduan terbaru ini, perusahaan yang peringkatnya naik secara signifikan adalah Panasonic, dari posisi sepuluh ke posisi enam, dan Sharp yang naik ke posisi sembilan dari sebelumnya posisi 13. Sementara LGE jatuh dari posisi enam ke posisi 12, kehilangan poin akibat kebijakan efisiensi energi yang lemah. Berdasarkan laporan LGE terbaru soal standar energi tidak masuk hitungan Greenpeace karena sudah dua kali dikritisi oleh pihak berwenang, dinilai memanipulasi standar efisiensi ini untuk kepentingan mereka sendiri.

"Dengan melakukan komitmen dan memenuhinya, beberapa perusahaan telah memperlihatkan kemajuan demi masa depan alat elektronik yang lebih hijau. Sekarang saatnya semua perusahaan harus membuat itu jadi kenyataan dengan menyajikan produk bebas PVC dan BFR kepada masyarakat," pungkas Kruszewska.

Other contacts: Prajna Khanna, Greenpeace International, Communications Manager Toxics, di Belanda Mobile: + 31 (0) 6212 96896, email: Iza Kruszewska, Greenpeace International Toxics Campaigner, in Japan Mobile: + 44 (0) 780 121 2992, Hikmat Soeriatanuwijaya, Jurukampanye Media Greenpeace Asia Tenggara, di Jakarta, Mobile: +62818930271

Notes: Catatan untuk Editor: 1. Greenpeace Guide to Greener Electronics Edisi 15 tersedia di situs: http://www.greenpeace.org/rankingguide 2. Saat Toshiba, Dell, Lenovo, LGE dan Samsung mengingkari janji mereka untuk tidak lagi menggunakan polyvinyl chloride (PVC) dan brominated flame retardants (BFRs), kompetitor mereka seperti Hewlett Packard dan Apple terus mengeluarkan produk yang bebas dari bahan berbahaya ini, menunjukkan pada industri bahwa itu bisa dilakukan tanpa harus mengeluarkan biaya produksi yang besar. 3. PVC dan BFR mempunyai kadar racun yang tinggi, mengeluarkan dioxin ke udara saat dibakar. Dalam kondisi semakin banyak sampah elektronik dikirim ke negara-negara berkembang untuk dibakar di tempat terbuka, akan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia terutama para pekerja. 4. Greenpeace menginginkan para produsen elektronik mengikuti langkah Sony Ericsson, HP dan Acer yang aktif melobi Uni Eropa agar melarang penggunaan PVC dan BFR http://www.rohs.gov.uk/ 5. http://www.treehugger.com/files/2010/03/lg-under-the-gun-for-cheatingon-energy-efficiency-testing.php