Greenpeace Menyerukan [R]evolusi Energi di Asia Tenggara

Perekonomian Kawasan Harus Ditataulang untuk Energi Terbarukan

Siaran Pers - 22 Juni, 2010
Sebuah laporan baru dirilis Greenpeace menunjukkan bagaimana perekonomian Asia Tenggara dapat ditopang hampir 100 persen oleh energi terbarukan pada tahun 2050, sekaligus mencegah dampak terburuk perubahan iklim dan menghindari bahaya akibat penggunaan bahan bakar fosil dan energi nuklir. Greenpeace menyerukan [R]evolusi Energi di Asia Tenggara pada malam sebelum berlangsungnya Forum Energi Bersih Asia yang kelima, yang diselenggarakan oleh Bank Pembangunan Asia di Manila.

"CLEAN ENERGY NOW"

Versi terbaru dari laporan tersebut, [R]evolusi Energi, Tinjauan Masa Depan Energi Dunia yang Berkelanjutan" [1], menunjukkan bagaimana, di tahun 2050, 94% [2] dari listrik yang dihasilkan Negara Berkembang di Asia [3] bisa berasal dari energi terbarukan, yang pada gilirannya akan menciptakan lapangan kerja di sektor kelistrikan sebanyak 700.000 - atau 30% lebih banyak pada tahun 2020 dibandingkan dengan skenario /business-as-usual/.

"Investasi dalam energi terbarukan di Asia Tenggara dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan lebih pesat lagi. Melakukan hal tersebut akan menghilangkan ketidakpastian biaya bahan bakar fosil, dan biaya eksternal batubara dan penggunaan energi nuklir, seperti kesehatan atau kerusakan lingkungan. Hal ini juga akan menciptakan lebih banyak pekerjaan dari yang bisa diciptakan industri batubara dan nuklir, "kata Sven Teske, Ahli Energi Senior dari Greenpeace International dan salah satu penulis laporan ini. "Pada 2020, akan ada lebih dari 400.000 lapangan kerja di industri energi terbarukan di Asia Tenggara, karena skenario revolusi energi berinvestasi pada penyediaan pekerjaan dan bukannya pada bahan bakar fosil."

Rencana Aksi Kerjasama Energi ASEAN (APAEC) 2010-2015, menargetkan peningkatan kapasitas terpasang energi terbarukan dalam bauran pembangkit listrik hanya 15%. Sebaliknya, pasokan batubara untuk konsumsi energi primer diperkirakan akan meningkat lima kali lipat sampai 2030, membuat kawasan ini lima kali lebih tergantung pada impor bahan bakar fosil dan fluktuasi harga di pasar dunia. [4]

Asia Tenggara benar-benar dapat menghindari jalan ini dan memilih untuk model pembangunan [R]evolusi Energi dimana kawasan dapat menuai keuntungan besar yang dibawa oleh ekonomi rendah karbon berbasis pada energi terbarukan. Dalam skenario [R]evolusi Energi, pengembangan sektor penyediaan kelistrikan ditandai dengan meningkatnya pangsa listrik terbarukan.

Di bawah skenario lanjutan [R]evolusi Energi, [2] satu jalur pembangunan pasar yang cepat, dengan tingkat pertumbuhan tahunan energi terbarukan yang tinggi mencapai 59% pada 2030 dan 94% pada tahun 2050. Kapasitas terpasang listrik terbarukan akan mencapai 363 GW pada tahun 2030 dan 1037 GW pada tahun 2050, 68% lebih tinggi dari skenario /business-as-usual/.

"Revolusi industri telah menciptakan dunia yang bergantung pada bahan bakar fosil yang sekarang terkunci dalam siklus tak berkelanjutan yang terus memperburuk dampak perubahan iklim. Negara-negara berkembang paling berisiko dari dampak tersebut, seperti di Asia Tenggara, yang sekarang diberi kesempatan untuk menghindari jalan kehancuran ini dan segera beralih ke [R]evolusi Energi dan menuai manfaatnya, "kata Arif Fiyanto, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara.

"Pemerintah negara-negara Asia Tenggara harus menyadari bahwa masa depan yang berkelanjutan dari planet ini berakar dalam investasi pada orang dan komunitas lokal yang dapat memasang dan memelihara sumber-sumber energi terbarukan. Dan, lembaga keuangan sperti ADB harus menghentikan pendanaan untuk bahan bakar fosil dan beralih ke [R]evolusi Energi," tambah Arif Fiyanto. "Tidak ada hambatan teknologi dalam mengimplementasikan [R]evolusi Energi kecuali halangan politik - untuk mencapai visi ini dan menuai banyak manfaat dalam hal lingkungan, ekonomi dan pekerjaan."

Pasar tahunan global untuk teknologi energi terbarukan akan meningkat dari sekitar US$ 100 miliar hari ini, menjadi lebih dari US$ 600 miliar pada 2030. Negara-negara Asia Tenggara bisa memiliki volume pasar tahunan hingga US$ 50 miliar per tahun dan akan memiliki banyak keuntungan dengan memanfaatkan munculnya tren ini, secara bertahap menghilangkan bahan bakar fosil yang akan menjadi usang.

Kunci untuk membuat [R]evolusi Energi menjadi nyata adalah menciptakan suatu sistem dimana biaya investasi didistribusikan secara adil di bawah rezim iklim global. Salah satu mekanisme tersebut, dibahas dalam laporan ini, adalah kerangka kerja Greenhouse Development Rights (GDR) [5], yang menghitung bagian setiap negara dalam kewajiban global gas rumah kaca yang didasarkan pada kombinasi antara tanggung jawab (kontribusi terhadap perubahan iklim) dan kapasitas (kemampuan membayar).

Laporan tentang "Energy [R]evolution: A sustainable World Energy Outlook"  bisa di unduh di: http://www.greenpeace.org/seasia/en/press/reports/the-energy-r-evolution atau www.erec.org

Untuk Indonesia, Filipina dan Thailand Revolusi energi telah kami publikasikan pada tahun 2008 dan dapat di unduh di www.greenpeace.org/seasia dan www.energyblueprint.info

Kategori