Solar Generation, Greenpeace memimpin gerakan aksi iklim di Jakarta

Siaran Pers - 6 Desember, 2008
Lebih dari seribu anak muda yang tergabung dengan Solar Generation, gerakan pemuda Greenpeace menggelar aksi perubahan iklim di Jakarta hari ini. Jutaan orang di seluruh dunia berpartisipasi dalam demonstrasi yang bertepatan dengan pertemuan iklim PBB yang sedang berlangsung di Poznan, Polandia.

Lebih dari seribu anak muda yang tergabung dengan Solar Generation, gerakan pemuda Greenpeace menggelar aksi perubahan iklim di Jakarta hari ini. Jutaan orang di seluruh dunia berpartisipasi dalam demonstrasi yang bertepatan dengan pertemuan iklim PBB yang sedang berlangsung di Poznan, Polandia

Solar Generation dan Greenpeace menyerukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengarahkan delegasi Indonesia di pertemuan PBB di Polandia tersebut untuk membuat komitmen mengurangi emisi secara drastis akibat deforestasi dan menepati janji yang dibuatnya pada pertemuan G8 di Jepang.

Indonesia adalah pengemisi karbon dioksida ketiga terbesar di dunia, dimana sebagian besar berasal dari penghancuran lahan gambut dan hutan. Presiden Yudhoyono membuat komitmen tahun ini dalam pertemuan G8 di Hokkaido, Jepang untuk memangkas emisi karbon dari deforestasi sebanyak 50% pada tahun 2009, 75% pada tahun 2012 dan 95% pada tahun 2025.

"Setahun telah berlalu sejak para kepala negara yang bertemu di Bali berjanji untuk sepakat dalam menyelamatkan iklim pada tahun 2009. Ini berarti hanya tinggal satu tahun lagi waktu untuk bersepakat menghentikan krisis iklim. Di Poznan, kami rasa sudah waktunya para pemimpin negara menghentikan pembicaraan-pembicaraan berkepanjangan, mulai menunjukkan keseriusan dan segera memulai negosiasi. Langkah pertama bagi delegasi Indonesia adalah mewujudkan janji Presiden SBY untuk menghindari perubahan iklim yang kebablasan. Mari berinvestasi untuk masa depan bersama yang lebih baik," kata Galih Aji Prasongko, Koordinator Solar Generation Greenpeace.

Konferensi Badan Perubahan Iklim PBB atau The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Bali (COP13) mengeluarkan mandat untuk sebuah kesepakatan Kyoto-plus dan sebuah komitmen untuk memperbaiki masalah-masalah dalam UNFCCC.

Greenpeace mendorong agar kesepakatan Kyoto-plus menempatkan keselamatan manusia sebagai prioritas dari upaya menjaga agar kenaikan suhu global tetap di bawah 2 derajat.

"Penghancuran hutan mengakibatkan kerugian pada ekonomi dunia paling tidak 2 trilyun dolar pertahunnya. Kekeringan dan kebakaran hutan menghancurkan sumberdaya planet kita yang sangat berharga dan kenaikan permukaan air laut akan menggusur ratusan juta orang pada akhir abad ini. Di balik semua kabar buruk itu, masih ada kabar baik, yaitu: untuk menghindari terlambatnya penanganan perubahan iklim, dunia harus menghentikan kecanduannya terhadap batubara dan penghancuran hutan. Kami perlu investasi bagi energi yang bersih, terbarukan dan menghentikan subsidi bagi energi kotor dan berbahaya seperti batubara dan nuklir," kata Arif Fiyanto, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, dalam acara ini.

Other contacts: Arif Fiyanto, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, 0813 11004640 Tessa de Ryck, Juru Kampanye Nuklir Regional Greenpeace Asia Tenggara, 0813 83231803 Galih Aji Prasongko, Koordinator Solar Generation Greenpeace Asia Tenggara, 0856 92400192 Nabiha Shahab, Juru Kampanye Media Greenpeace Asia Tenggara, 0813 14213432 Findi Kenandarti, Asisten Media Greenpeace Asia Tenggara, 0816 1681840

Kategori