Terungkap: Sinar Mas Terbukti Membohongi Masyarakat dan Bursa Saham

Auditor Nyatakan Sinar Mas Manipulasi Hasil Audit

Siaran Pers - 19 Agustus, 2010
Sinar Mas harus menghadapi fakta memalukan setelah auditor independen yang mereka tunjuk hari ini mengeluarkan pernyataan bahwa Sinar Mas dengan sengaja menyalah artikan hasil audit dan kemudian mempresentasikan hasil yang salah itu kepada masyarakat. Auditor itu juga membenarkan bahwa Sinar Mas melanggar hukum dengan melakukan pembukaan di lahan gambut dalam, serta menghancurkan hutan tanpa izin yang diperlukan. (1) Auditor itu juga menuntut klarifikasi dari mereka dicantumkan di situs Sinar Mas.

Statemen yang dipublikasikan di situs BSI Group hari ini, juga memperlihatkan pernyataan-pernyataan perusahaan itu, termasuk yang dibuat di Bursa Saham Singapura, menyesatkan para pemegang saham dan konsumen mereka. Greenpeace telah menyurati bursa saham meminta Golden Agri Resources, induk perusahaan SMART, diinvestigasi karena memberikan informasi menyesatkan secara sengaja. 

“Fakta hari ini menunjukkan bahwa Sinar Mas terbukti memanipulasi hasil audit untuk mencoba meyakinkan pemegang saham dan pelanggan bahwa mereka adalah perusahaan yang bertanggung jawab dan taat hukum. Sekarang kebenaran akhirnya menang. Audit memperlihatkan Sinar Mas secara terus menerus melanggar hukum Indonesia, aturan RSPO dan komitmen mereka sendiri, dan menyembunyikannya lewat manipulasi informasi,” ujar Bustar Maitar, Team Leader Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara. 

Pernyataan hari ini memperlihatkan bagaimana SMART, divisi minyak kelapa sawit Sinar Mas Grup, secara salah mengklaim bahwa ‘mereka sudah beroperasi sesuai hukum dan secara bertanggung jawab (2). Padahal hasil audit menyatakan bahwa delapan dari 11 perusahaan mereka yang diaudit, terbukti melakukan perusakan hutan tanpa izin lingkungan (AMDAL) yang diperlukan (3). Dan kedalaman lahan gambut yang dihancurkan juga melanggar hukum Indonesia (4). Lebih jauh lagi, auditor mengakui --berbeda dengan klaim Sinar Mas—bahwa dalam laporan Greenpeace tidak pernah mengatakan bahwa Sinar Mas menghancurkan hutan primer. (5) 

Audit secara jelas juga memperlihatkan bahwa Sinar Mas terlibat dalam pembukaan hutan besar-besaran tanpa asesmen nilai konservasi tinggi (high conservation value – HCV), melanggar aturan minyak kelapa sawit berkelanjutan (RSPO) (6).

Greenpeace secara terus menerus memperlihatkan bukti bagaimana Sinar Mas menghancurkan lahan gambut kaya karbon dan hutan hujan Indonesia yang masih tersisa, termasuk habitat orang utan, seringkali melanggar hukum Indonesia, aturan RSPO dan komitmen berkelanjutan Sinar Mas sendiri. (7)

“Sinar Mas tidak punya lagi kredibilitas dan Greenpeace terus mendesak konsumen mereka untuk menghentikan hubungan bisnis hingga Sinar Mas menghentikan seluruh perusakan hutan dan lahan gambut. Menyembunyikan fakta dan berpura-pura sebagai perusahaan bertanggung jawab adalah tidak lebih dari sekedar greenwash,” ujar Maitar.

“Sinar Mas tidak hanya segera harus mencabut klaim salah mereka menanggapi laporan Greenpeace, tetapi fakta hari ini membenarkan bahwa mereka melanggar hukum di Indonesia dan menghancurkan banyak area hutan tanpa melakukan asesmen HCV, termasuk habitat potensial orang utan.” 

Perusahaan konsumen, termasuk Cargill, harus mengikuti langkah Nestle, Kraft dan Unilever, menghentikan andil mereka dalam perusakan hutan dan lahan gambut dengan mengeluarkan produk Sinar Mas dari rak dan rantai suplai mereka. Pemerintah Indonesia harus menghentikan perusahaan seperti Sinar Mas menghancurkan hutan dan memperparah perubahan iklim, dengan memastikan moratorium termasuk penghentian semua perusakan hutan, baik izin baru maupun izin yang telah diberikan. Juga secepatnya menerapkan perlindungan menyeluruh terhadap semua lahan gambut.

 

Kontak:

Di Jakarta, Indonesia:
Bustar Maitar, Team Leader Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara+62 813 446 66 135
Hikmat Soeriatanuwijaya, Jurukampanye Media Greenpeace Asia Tenggara +62 8111 805 394
 
Di London, Inggris:
Andy Tait, Greenpeace UK Senior Campaign Advisor, tel: + 44 (0) 7801 212 980
Beth Herzfeld, Greenpeace International, tel: +44 (0)7717 802 891

 

Catatan Redaksi:

(1)   The Sinar Mas Grup bereferensi kepada beberapa perusahaan di bawah kontrol Keluarga Widjaya. Termasuk Golden Agri Resources (GAR) yang terdaftar di Singapura dan anak perusahaannya, PT SMART, yang terdaftar di Jakarta. Hasil audit tersedia di: http://www.goldenagri.com.sg/newsroom_verification.php. Audit dilakukan oleh BSI dan Control Union, didukung oleh beberapa profesor dari Institut Pertanian Bogor.

(2) Klaim Sinar Mas dilakukan melalui press rilis dan konferensi pers pada 10 Agustus, pertama : “SMART tidak bertanggung jawab terhadap perusakan hutan primer seperti yang dituduhkan Greenpeace”. Kedua: “SMART beroperasi secara bertanggung jawab dan mematuhi hukum pemerintah Indonesia.”
 
(3) Temuan yang dimuat di ringkasan eksekutif audit 5.3.2. Di Kalimantan Tengah enam konsesi memulai pembukaan hutan tanpa izin-izin yang diperlukan. Di Kalimantan Barat dua dari lima konsesi melakukan hal yang sama.
 
(4) Statemen Klarifikasi BSI, halaman satu poin 1: “Ditemukan adanya penanaman di lahan gambut dalam (lebih dari tiga meter) di dua wilayah dari 2005 hingga 2008, dimana hal itu melanggar Peraturan Presiden mengenai lahan gambut yang dikeluarkan pada 1990. Statemen BSI bisa didapat di http://www.bsigroup.com/en/About-BSI/News-Room/BSI-News-Content/General/Verifying-Greenpeace-Claims-report-BSI-Group-issues-clarification-and-summary-statement/