News & Stories - Page 7 of 8 - Greenpeace Indonesia
-
Menyelamatkan Keanekaragaman Hayati Laut: Krisis Tak Terlihat di Laut Lepas
Meskipun keanekaragaman hayati laut lepas ini tidak terlihat oleh banyak orang, wilayah ini tidak bebas dari bahaya—justru menjadi kawasan yang paling tidak dilindungi.
-
Raksasa Agribisnis Raup Keuntungan di Tengah Krisis
Di tengah krisis pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina, sejumlah perusahaan raksasa agribisnis meraup keuntungan miliaran dolar.
-
Jokowi dan PM Malaysia Sepakat Perangi ‘Diskriminasi’ Kelapa Sawit, Komitmen Hentikan Deforestasi Patut Dipertanyakan
Jakarta, 11 Januari 2022. Presiden Joko Widodo sebaiknya menjelaskan maksud pernyataan ‘memerangi diskriminasi terhadap kelapa sawit’ yang disampaikan seusai pertemuan dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim di Istana Bogor pada…
-
Ketika Energi Ekstraktif ‘Mendanai’ Sebuah Perang
“Perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia dan perang di Ukraina memiliki akar yang sama: bahan bakar fosil dan ketergantungan kita pada mereka,” kata ilmuwan iklim Ukraina, Svitlana Krakovska, ketika…
Filtered results
-
Coca-Cola, Nestlé, Danone, Mars, Pepsi, dan Unilever Menandatangani Komitmen Plastik Global Tetapi Masih Belum Memprioritaskan Pengurangan
Meskipun unsur-unsur Komitmen Global EMF bergerak ke arah yang benar, masalahnya adalah bahwa perusahaan diberi fleksibilitas untuk terus mengutamakan daur ulang ketimbang pengurangan.
-
Survei Global Mengungkap Kontribusi Perusahaan FMCG Terhadap Krisis Polusi Plastik di Masa Depan
Perusahaan produsen barang kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods atau FMCG) adalah kekuatan dominan di balik model ekonomi sekali pakai yang mendorong krisis sampah plastik.
-
Sebuah Krisis Kenyamanan
Korporasi di balik wabah pencemaran plastik. Sebuah kajian Greenpeace tentang kebijakan, praktik dan ambisi bisnis dari Produsen-produsen Ternama di bidang Barang Kebutuhan Sehari-hari (Fast Moving Consumer Goods).
-
Lebih dari 90% Merek Garam yang Disampel Secara Global Ditemukan Mengandung Mikroplastik
Lebih dari 90% merek garam yang disampel secara global ditemukan mengandung mikroplastik, di mana jumlah tertinggi berasal dari sampel garam yang bersumber di Asia.
-
Kegiatan Bersih-bersih dan Audit Merek Global Menemukan Coca-Cola, PepsiCo, dan Nestlé Sebagai Pencemar Plastik Terburuk di Seluruh Dunia
Lebih dari 187.000 kemasan sampah plastik diaudit, mengidentifikasi ribuan merek yang kemasannya masih bergantung pada plastik sekali pakai lalu mencemari lautan dan saluran air secara global.
-
Greenpeace Menemukan Lebih Dari 700 Merek Sampah Plastik Dari Tiga Lokasi
Audit merek sampah plastik yang dilakukan Greenpeace bersama sejumlah komunitas lokal di tiga lokasi, yakni Pantai Kuk Cituis (Tangerang), Pantai Pandansari (Yogyakarta), dan Pantai Mertasari (Bali).
-
Tanggung Jawab Ada Di Pundak Produsen
Greenpeace Indonesia bersama dengan komunitas yang tergabung dalam gerakan global #breakfreefromplastic mengajak masyarakat untuk bebersih pantai dan melihat sendiri ‘sumbangsih’ para produsen pengguna kemasan plastik sekali pakai terhadap lingkungan sekitar.
-
Bagaimana Sampah Plastik Mengejutkan Saya
Selama satu dekade terakhir, para penyelam serta pecinta pantai telah melihat perubahan besar pada lautan. Bahkan di lokasi yang sangat terpencil pun kini telah dipenuhi oleh sampah plastik dan bahan kimia lainnya.
-
Jelang Peringatan Hari Bumi, Lebih Dari 1 Juta Orang Menuntut Korporasi Mengurangi Plastik Sekali Pakai
Pada peringatan Hari Bumi – yang jatuh pada tanggal 22 April – kali ini, lebih dari satu juta orang menuntut agar perusahaan-perusahaan besar dunia mengurangi produksi plastik sekali pakai mereka.
-
Mengurangi Konsumsi Kemasan Plastik Sekali Pakai Adalah Kunci
Satu-satunya kunci mengatasi masalah sampah plastik adalah mengurangi konsumsinya. Daur ulang (recycle) tidak akan pernah cukup sebagai solusi.













