{"id":46528,"date":"2022-08-12T11:13:19","date_gmt":"2022-08-12T04:13:19","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?page_id=46528"},"modified":"2025-07-02T14:39:56","modified_gmt":"2025-07-02T07:39:56","slug":"fact-sheet-energi-terbarukan","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/fact-sheet-energi-terbarukan\/","title":{"rendered":"Fact Sheet Energi Terbarukan"},"content":{"rendered":"\n<div class=\"wp-block-columns jkb-page-header justify-content-center is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-9d6595d7 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column container is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<div class=\"wp-block-buttons is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-button btn--back forceopacity-100\"><a class=\"wp-block-button__link\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/\">Back<\/a><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n<div class=\"wp-block-group section is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow\">\n<div class=\"wp-block-columns jbk-factsheet justify-content-center is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-9d6595d7 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column container jkb-section is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<section class=\"block accordion-block wp-block-planet4-blocks-accordion is-style-light\"><header><h2 class=\"page-section-header\">Yang perlu kamu ketahui tentang energi terbarukan<\/h2><\/header><div class=\"accordion-content\"><div class=\"accordion-headline\" name=\"Apa itu energi terbarukan? Apa bedanya dengan energi baru?\">Apa itu energi terbarukan? Apa bedanya dengan energi baru?<\/div><div class=\"panel panel-hidden\"><p class=\"accordion-text\">Energi terbarukan adalah energi yang berasal dari sumber daya alam yang<a href=\"https:\/\/ditsmp.kemdikbud.go.id\/menilik-sumber-energi-terbarukan-di-masa-depan\/\"> tidak akan habis<\/a> karena terbentuk dari proses alam yang berkelanjutan, yaitu proses alami yang akan terus ada dengan produktivitas tanpa batas. Misalnya, energi dari sinar matahari, air, serta angin. Sedangkan energi baru, menurut<a href=\"https:\/\/pusatpuu.dpr.go.id\/simas-puu\/detail-ruu\/id\/43\"> Rancangan Undang-undang Energi Baru dan Terbarukan<\/a> adalah semua jenis energi yang berasal dari atau dihasilkan dari teknologi baru dengan mengolah sumber energi yang ada.<br><br>Salah satu contoh yang sedang dikembangkan oleh Pemerintah adalah dengan terus memanfaatkan sumber energi bahan bakar fosil yang tidak terbarukan, yaitu batubara, melalui gasifikasi batubara dan batubara tercairkan, yang dianggap merupakan teknologi baru bagi Indonesia.<\/p><\/div><\/div><div class=\"accordion-content\"><div class=\"accordion-headline\" name=\"Lalu, sudah seberapa banyak energi kota yang bersumber dari energi terbarukan?\">Lalu, sudah seberapa banyak energi kota yang bersumber dari energi terbarukan?<\/div><div class=\"panel panel-hidden\"><p class=\"accordion-text\">Sangat minim.. Menurut <a href=\"https:\/\/web.pln.co.id\/statics\/uploads\/2021\/10\/ruptl-2021-2030.pdf\">Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik terbaru<\/a>, saat ini bahkan hanya 12% listrik di seluruh wilayah Indonesia yang berasal dari energi terbarukan, sedangkan 88% dari listrik kita masih dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti batubara (67%) yang mendominasi, dan juga gas serta minyak.<\/p><\/div><\/div><div class=\"accordion-content\"><div class=\"accordion-headline\" name=\"Kenapa sampai saat ini kita masih bergantung pada sumber energi tidak terbarukan?\">Kenapa sampai saat ini kita masih bergantung pada sumber energi tidak terbarukan?<\/div><div class=\"panel panel-hidden\"><p class=\"accordion-text\">Saat ini, kita sedang mengalami kondisi <em>carbon lock-in, <\/em>yakni kondisi ketika sistem penyediaan energi yang ada melanggengkan penggunaan bahan bakar fosil secara intensif sehingga menunda atau mencegah transisi energi ke alternatif rendah emisi karbon. Pemerintah masih memprioritaskan energi batubara, dengan terus menambah jumlah PLTU Batubara dalam 10 tahun ke depan, walaupun sebenarnya kita sudah mengalami kelebihan pasokan\/<em>supply<\/em> listrik. Penambahan PLTU Batubara dengan masa operasi lebih dari 30 tahun dan dengan kapasitas besar ini tentunya akan mengurangi ruang bagi energi terbarukan untuk berkembang dalam jangka waktu tersebut.<\/p><\/div><\/div><div class=\"accordion-content\"><div class=\"accordion-headline\" name=\"Apa yang terjadi jika kita terus-terusan menggunakan sumber energi yang tidak ramah lingkungan?\">Apa yang terjadi jika kita terus-terusan menggunakan sumber energi yang tidak ramah lingkungan?<\/div><div class=\"panel panel-hidden\"><p class=\"accordion-text\">Sektor energi merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) utama di Indonesia, dan akan menjadi yang terbesar pada 2030. Menurut <a href=\"https:\/\/www4.unfccc.int\/sites\/ndcstaging\/PublishedDocuments\/Indonesia%20First\/Updated%20NDC%20Indonesia%202021%20-%20corrected%20version.pdf\">Nationally Determined Contribution Indonesia tahun 2021<\/a>, sekitar 58% emisi GRK di Indonesia akan berasal dari sektor energi di tahun 2030 mendatang. Hal ini tentu karena Indonesia masih bergantung pada energi fosil. Dengan demikian, penggunaan energi fosil secara terus menerus tentunya akan memperparah kondisi krisis iklim di Indonesia. Selain itu, lingkungan juga akan semakin rusak akibat pencemaran dari proses penambangan, distribusi, dan juga pembakaran dari energi fosil tersebut.<\/p><\/div><\/div><div class=\"accordion-content\"><div class=\"accordion-headline\" name=\"Katanya energi terbarukan itu mahal, apa benar?\">Katanya energi terbarukan itu mahal, apa benar?<\/div><div class=\"panel panel-hidden\"><p class=\"accordion-text\">Sebenarnya, harga listrik dari energi terbarukan secara global sudah mengalami penurunan harga yang sangat signifikan dalam 10 tahun terakhir. Contohnya, harga listrik dari energi matahari sudah <a href=\"https:\/\/ourworldindata.org\/cheap-renewables-growth\">turun sebesar 90%<\/a> dan energi angin yang juga mengalami penurunan harga sebesar 70%. Dengan demikian, harga listrik yang berasal dari energi terbarukan ini semakin bersaing dan bahkan bisa menjadi lebih murah jika dibandingkan dengan harga energi listrik yang berasal dari batubara.<br><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"333\" height=\"516\" src=\"https:\/\/lh5.googleusercontent.com\/2e2_Q9G_QZ2tBBlFLo9Mwx63fcsrwkE7kCKYYRqfsKWIQoUHYapy_8BthNmFo0LMTnKh_zWqQqfaf5HkglksS5WRDSPXKLf4NOGogJ7VqhBVRL3y2G7FqeAKiz_oUPDXdrFp7nP-\"><br><\/p><\/div><\/div><div class=\"accordion-content\"><div class=\"accordion-headline\" name=\"Tapi, bagaimana caranya untuk mendorong pemerintah kota dan penyedia energi kota agar bisa lebih bijak dalam memilih sumber energi?\">Tapi, bagaimana caranya untuk mendorong pemerintah kota dan penyedia energi kota agar bisa lebih bijak dalam memilih sumber energi?<\/div><div class=\"panel panel-hidden\"><p class=\"accordion-text\">Berbeda dengan energi kotor fosil, penggunaan energi terbarukan khususnya energi matahari dapat menciptakan ruang bagi demokrasi energi kepada masyarakat kota. Dengan kata lain, masyarakat dapat memiliki sumber energi terbarukan tersebut tanpa harus bergantung pada perusahaan besar\/pemasok yang melakukan monopoli pengadaan energi. Peran pemerintah kota adalah mendukung proses demokrasi energi tersebut agar kota dapat memiliki kemandirian dan ketahanan energi yang baik. Dukungan dapat berupa pemberian kemudahan pengembangan energi terbarukan, seperti kebijakan dan peraturan, insentif bagi masyarakat yang telah beralih ke energi terbarukan, dan disinsentif bagi yang masih menggunakan bahan bakar fosil yang juga menjadi sumber polusi udara di kota.\u00a0<\/p><\/div><\/div><div class=\"accordion-content\"><div class=\"accordion-headline\" name=\"Lalu apa yang bisa saya lakukan saat ini juga?\">Lalu apa yang bisa saya lakukan saat ini juga?<\/div><div class=\"panel panel-hidden\"><p class=\"accordion-text\">Kita dapat melakukan beberapa solusi di berbagai level. Pada level individu, kita dapat mengurangi jejak karbon kita dengan melakukan penghematan listrik, memilih transportasi umum, perbanyak jalan kaki dan bersepeda, bahkan mengganti sumber energi listrik di tempat tinggal kita dengan energi terbarukan, seperti memasang panel surya. Pada level komunitas, kita bisa menyebarkan informasi mengenai hal ini kepada lingkungan pertemanan dan perumahan kita. Kita juga bisa membuat inisiatif bersama kelompok dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat urban mengenai solusi energi terbarukan. Pada level kolektif, kita dapat bersama-sama bersuara untuk menuntut perubahan sistem kepada pemerintah, karena sistem yang ada saat ini membuat kita selalu bergantung pada energi kotor fosil. Sudah saatnya pemerintah melakukan aksi nyata dan transisi energi, sekarang juga.<\/p><\/div><\/div><\/section>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":84,"featured_media":0,"parent":46518,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_hide_page_title_checkbox":"","p4_title":"","p4_subtitle":"","p4_description":"","background_image_id":"","background_image":"","p4_button_title":"","p4_button_link":"","p4_button_link_checkbox":"","p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"not set","p4_local_project":"not set","p4_basket_name":"not set","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-46528","page","type-page","status-publish","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Fact Sheet Energi Terbarukan - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/fact-sheet-energi-terbarukan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Fact Sheet Energi Terbarukan - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/fact-sheet-energi-terbarukan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-02T07:39:56+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/lh5.googleusercontent.com\/2e2_Q9G_QZ2tBBlFLo9Mwx63fcsrwkE7kCKYYRqfsKWIQoUHYapy_8BthNmFo0LMTnKh_zWqQqfaf5HkglksS5WRDSPXKLf4NOGogJ7VqhBVRL3y2G7FqeAKiz_oUPDXdrFp7nP-\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/fact-sheet-energi-terbarukan\/\",\"url\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/fact-sheet-energi-terbarukan\/\",\"name\":\"Fact Sheet Energi Terbarukan - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2022-08-12T04:13:19+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-02T07:39:56+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/fact-sheet-energi-terbarukan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/fact-sheet-energi-terbarukan\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/fact-sheet-energi-terbarukan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Jakarta Butuh Kita\",\"item\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?page_id=46469\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Tiga Masalah Utama Kota Jakarta\",\"item\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":4,\"name\":\"Fact Sheet Energi Terbarukan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Fact Sheet Energi Terbarukan - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/fact-sheet-energi-terbarukan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Fact Sheet Energi Terbarukan - Greenpeace Indonesia","og_url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/fact-sheet-energi-terbarukan\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_modified_time":"2025-07-02T07:39:56+00:00","og_image":[{"url":"https:\/\/lh5.googleusercontent.com\/2e2_Q9G_QZ2tBBlFLo9Mwx63fcsrwkE7kCKYYRqfsKWIQoUHYapy_8BthNmFo0LMTnKh_zWqQqfaf5HkglksS5WRDSPXKLf4NOGogJ7VqhBVRL3y2G7FqeAKiz_oUPDXdrFp7nP-"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Est. reading time":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/fact-sheet-energi-terbarukan\/","url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/fact-sheet-energi-terbarukan\/","name":"Fact Sheet Energi Terbarukan - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2022-08-12T04:13:19+00:00","dateModified":"2025-07-02T07:39:56+00:00","breadcrumb":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/fact-sheet-energi-terbarukan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/fact-sheet-energi-terbarukan\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/fact-sheet-energi-terbarukan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Jakarta Butuh Kita","item":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?page_id=46469"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Tiga Masalah Utama Kota Jakarta","item":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/jakarta-butuh-kita\/tiga-masalah-utama-kota-jakarta\/"},{"@type":"ListItem","position":4,"name":"Fact Sheet Energi Terbarukan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/46528","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/84"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46528"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/46528\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":63899,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/46528\/revisions\/63899"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/46518"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46528"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46528"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46528"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}