{"id":1219,"date":"2017-09-12T00:00:00","date_gmt":"2017-09-11T17:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/"},"modified":"2019-11-06T15:46:30","modified_gmt":"2019-11-06T08:46:30","slug":"pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/","title":{"rendered":"Pemerintah Belum Cukup Melindungi Hutan dan Gambut"},"content":{"rendered":"<div class=\"leader\">\n\tJAKARTA, 12 September 2017. Usaha pemerintah harus lebih keras dalam melindungi hutan dan lahan gambut. Sejauh ini, pemerintah memang telah memperpanjang moratorium hutan dan lahan gambut melalui Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2017 tentang penundaan dan penyempurnaan tata kelola pemberian izin baru hutan alam primer dan lahan gambut. Tapi perpanjang moratorium ini diragukan efektivitasnya\n<\/div>\n<div>\n<p>Belum ada hasil evaluasi dari pelaksanaan moratorium sejak 2011 oleh pemerintah yang resmi diterbitkan untuk publik. Evaluasi datang dari sejumlah LSM yang menemukan setidaknya 2,7 juta hektar hutan primer dan gambut hilang selama kurun waktu 6 tahun pelaksanaannya. [1] \u201cKeberadaan lahan gambut di Indonesia semakin terancam oleh kehadiran para pelaku industri,\u201d kata Annisa Rahmawati, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia. Oleh sebab itu, lahan gambut utuh yang tersisa harus dijaga.<\/p>\n<p>Salah satu yang harus dipertahankan adalah ekosistem gambut di Lansekap Sungai Putri, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Lansekap seluas 57.000 hektar itu menjadi salah satu lansekap gambut yang tersisa keutuhannya dan sedang terancam oleh aktivitas bisnis di sekellilingnya. Di Desa Sungai Besar, Kec. Matan Hilir Selatan, salah satu desa yang berada di sekitar lansekap ini, Tim Cegah Api kembali dibentuk dan dilatih bersama dengan masyarakat\u00a0 setempat berkoordinasi dengan Manggala Agni. [2]\u00a0<\/p>\n<p>Mereka bersiaga dan siap untuk beraksi untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). \u201cSebagai warga Ketapang, saya tergerak ikut dalam Tim Cegah Api untuk mengetahui bagaimana teknik memadamkan api dan mencegah kebakaran menyebar, serta melindungi tempat tinggal saya,\u201d ujar Jane Yolanda, anggota Tim Cegah Api. Ia tidak menginginkan, Ketapang ataupun Kalimantan kembali dilanda bencana kebakaran seperti 2015.\u00a0<\/p>\n<p>Kerugian akibat kebakaran hutan tidak kecil. \u201cKita tidak boleh melupakan korban akibat kebakaran lahan dan krisis asap yang selalu berulang, yakni puluhan orang yang meninggal dan ratusan ribu orang yang terpapar asap berbahaya. Hal ini adalah pelanggaran terhadap hak asasi manusia mereka, terutama hak mereka atas hidup dan atas lingkungan yang bersih dan sehat,\u201d ujar Arimbi Heroepoetri, aktivis perempuan dan HAM dari debtWatch Indonesia. \u201cPemerintah harus memastikan agar kejadian ini tidak berulang, hak-hak korban asap dipulihkan, termasuk memastikan tanggung jawab korporasi jika ada peran korporasi di dalam pelanggaran tersebut.\u201d<\/p>\n<p>Kerugian lainnya yakni hilangnya keanekaragaman hayati, salah satunya yaitu berkurangnya populasi satwa endemik. Seperti yang disebut dalam laporan <em>Population and Habitat Viability Assessment (PHVA)<\/em> Orangutan Indonesia Tahun 2016 yang diluncurkan beberapa waktu lalu bahwa kepadatan populasi orangutan di daratan Kalimantan (termasuk Sabah dan Sarawak) menurun dari 0,45-0,76 individu\/km2 (PHVA 2004) menjadi 0,13-0,47 individu\/km2. [3] Kerusakan habitat menjadi penyebab utama berkurangnya populasi orangutan.<\/p>\n<p>Oleh sebab itu, akar permasalahan harus disasar, yaitu perbaikan tata kelola dalam melindungi hutan dan lahan gambut secara total. Pemerintah harus tegas terhadap masih maraknya praktik korupsi, lemahnya tata kelola sumber daya alam, minimnya keterbukaan informasi publik, dan lemahnya penegakan hukum. \u201cHari ini, kami meluncurkan petisi perlindungan total terhadap hutan dan gambut yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo, dengan harapan desakan masyarakat akan membuat pemerintah lebih tegas dalam melindungi gambut untuk mencegah krisis karhutla terulang kembali,\u201d tutup Annisa.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>Catatan:<\/strong><\/p>\n<p>[1] <a href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/seasia\/id\/press\/releases\/Enam-Tahun-Moratorium-Berapa-Luas-Hutan-Terlindungi\/\">http:\/\/www.greenpeace.org\/seasia\/id\/press\/releases\/Enam-Tahun-Moratorium-Berapa-Luas-Hutan-Terlindungi\/<\/a><\/p>\n<p>[2] <a href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/seasia\/id\/press\/releases\/Merindukan-Hutan-Tanpa-Api\/\">http:\/\/www.greenpeace.org\/seasia\/id\/press\/releases\/Merindukan-Hutan-Tanpa-Api\/<\/a><\/p>\n<p>[3] <a href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/seasia\/id\/press\/releases\/Pemerintah-Tidak-Serius-Melindungi-Orangutan\/\">http:\/\/www.greenpeace.org\/seasia\/id\/press\/releases\/Pemerintah-Tidak-Serius-Melindungi-Orangutan\/<\/a>. Dan siaran pers Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan \u201cKondisi Terkini Populasi dan Habitat Orangutan: Sosialisasi Hasil dan Talkshow Konservasi Orangutan Indonesia,\u201d Jakarta, 22 Agustus 2017. <a href=\"http:\/\/forina.or.id\/orangutan-population-and-habitat-viability-assessment-2016\/\">http:\/\/forina.or.id\/orangutan-population-and-habitat-viability-assessment-2016\/<\/a><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>Kontak media:<\/strong><\/p>\n<p>Annisa Rahmawati, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia,\u00a0+62811-1097-527;\u00a0<a href=\"mailto:annisa.rahmawati@greenpeace.org\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">annisa.rahmawati@greenpeace.org<\/a><script type=\"text\/javascript\"><!--\ndocument.write(dc('Eoi_1', '1B_25_7A_34_27_7C_69_74_35_7E_78_7A_7E_6B_75_7E_7E_69_7C_5B_72_6F_7A_6C_7A_76_73_7A_69_35_7A_68_72_75_75_7A_25_39_7C_69_74_35_7E_78_7A_6B_7E_75_7E_7E_69_7C_5B_72_6F_7A_6C_7A_76_73_7A_69_35_7A_68_72_75_75_7A_21_74_6F_77_72_7A_76_39_26_7D_7E_69_73_3B_7A_27'));\/\/--><\/script><\/p>\n<p>Ester Meryana, Jurukampanye Media Greenpeace,\u00a0+62811-1924-090, <a href=\"mailto:emeryana@greenpeace.org\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">emeryana@greenpeace.org<\/a><script type=\"text\/javascript\"><!--\ndocument.write(dc('Eoi_2', '60_5E_01_4F_5C_07_12_0F_4E_05_03_01_05_10_0E_05_05_12_07_20_01_0E_01_19_12_05_0D_05_5E_42_07_12_0F_4E_05_03_01_05_10_0E_05_05_12_07_20_01_0E_01_19_12_05_0D_05_5A_0F_14_0C_09_01_0D_42_5D_06_05_12_08_40_01_5C'));\/\/--><\/script><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>Link foto:<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/media.greenpeace.org\/collection\/27MZIFJXD3BJ5\">http:\/\/media.greenpeace.org\/collection\/27MZIFJXD3BJ5<\/a><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div>\n\tJAKARTA, 12 September 2017. Usaha pemerintah harus lebih keras dalam melindungi hutan dan lahan gambut. Sejauh ini, pemerintah memang telah memperpanjang moratorium hutan dan lahan gambut melalui Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2017 tentang penundaan dan penyempurnaan tata kelola pemberian izin baru hutan alam primer dan lahan gambut. Tapi perpanjang moratorium ini diragukan efektivitasnya\n<\/div>\n","protected":false},"author":49,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[19],"p4-page-type":[14],"class_list":["post-1219","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-lindungi","tag-hutan","p4-page-type-siaran-pers"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Pemerintah Belum Cukup Melindungi Hutan dan Gambut - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pemerintah Belum Cukup Melindungi Hutan dan Gambut - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"JAKARTA, 12 September 2017. Usaha pemerintah harus lebih keras dalam melindungi hutan dan lahan gambut. Sejauh ini, pemerintah memang telah memperpanjang moratorium hutan dan lahan gambut melalui Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2017 tentang penundaan dan penyempurnaan tata kelola pemberian izin baru hutan alam primer dan lahan gambut. Tapi perpanjang moratorium ini diragukan efektivitasnya\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-09-11T17:00:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2019-11-06T08:46:30+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/\"},\"author\":{\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\"},\"headline\":\"Pemerintah Belum Cukup Melindungi Hutan dan Gambut\",\"datePublished\":\"2017-09-11T17:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2019-11-06T08:46:30+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/\"},\"wordCount\":563,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Hutan\"],\"articleSection\":[\"Lindungi\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/\",\"name\":\"Pemerintah Belum Cukup Melindungi Hutan dan Gambut - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2017-09-11T17:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2019-11-06T08:46:30+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pemerintah Belum Cukup Melindungi Hutan dan Gambut\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"sameAs\":[\"http:\/\/www.greenpeace.or.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pemerintah Belum Cukup Melindungi Hutan dan Gambut - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Pemerintah Belum Cukup Melindungi Hutan dan Gambut - Greenpeace Indonesia","og_description":"JAKARTA, 12 September 2017. Usaha pemerintah harus lebih keras dalam melindungi hutan dan lahan gambut. Sejauh ini, pemerintah memang telah memperpanjang moratorium hutan dan lahan gambut melalui Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2017 tentang penundaan dan penyempurnaan tata kelola pemberian izin baru hutan alam primer dan lahan gambut. Tapi perpanjang moratorium ini diragukan efektivitasnya","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2017-09-11T17:00:00+00:00","article_modified_time":"2019-11-06T08:46:30+00:00","author":"Greenpeace Indonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Greenpeace Indonesia","Est. reading time":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/"},"author":{"name":"Greenpeace Indonesia","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe"},"headline":"Pemerintah Belum Cukup Melindungi Hutan dan Gambut","datePublished":"2017-09-11T17:00:00+00:00","dateModified":"2019-11-06T08:46:30+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/"},"wordCount":563,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Hutan"],"articleSection":["Lindungi"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/","name":"Pemerintah Belum Cukup Melindungi Hutan dan Gambut - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2017-09-11T17:00:00+00:00","dateModified":"2019-11-06T08:46:30+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1219\/pemerintah-belum-cukup-melindungi-hutan-dan-gambut\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pemerintah Belum Cukup Melindungi Hutan dan Gambut"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe","name":"Greenpeace Indonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","caption":"Greenpeace Indonesia"},"sameAs":["http:\/\/www.greenpeace.or.id"],"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1219","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/49"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1219"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1219\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1220,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1219\/revisions\/1220"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1219"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1219"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1219"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=1219"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}