{"id":1281,"date":"2013-10-22T00:00:00","date_gmt":"2013-10-21T17:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/"},"modified":"2019-11-06T15:46:43","modified_gmt":"2019-11-06T08:46:43","slug":"izin-untuk-memusnahkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/","title":{"rendered":"Izin Untuk Memusnahkan"},"content":{"rendered":"<h2>Bagaimana deforestasi dari perkebunan kelapa sawit mendorong harimau Sumatera menuju kepunahan. <\/h2>\n<\/p>\n<div class=\"leader\">\n\tSaat ini hanya sekitar 400 ekor harimau diperkirakan tersisa di hutan-hutan hujan Sumatra \u2013 yang berkurang secara pesat \u2013 seperempat juta hektar tiap tahunnya. Ekspansi perkebunan kelapa sawit dan kayu pulp\/HTI (Hutan Tanaman Industri) adalah penyebab hampir dua pertiga kerusakan habitat harimau dalam kurun waktu antara 2009 sampai 2011, periode paling akhir dimana data resmi pemerintah Indonesia tersedia. Kerusakan semacam ini memfragmentasi wilayah besar hutan ruang hidup harimau untuk berburu. Keadaan ini juga meningkatkan kontak dengan manusia; yang mengakibatkan meningkatnya perburuan harimau liar untuk perdagangan kulit dan obat-obatan tradisional serta meningkatnya serangan harimau yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia dan harimau.\n<\/div>\n<div>\n<div data-configid=\"1072487\/5320434\" style=\"width: 600px; height: 400px;\" class=\"issuuembed\"><\/div>\n<p><script type=\"text\/javascript\" src=\"https:\/\/e.issuu.com\/embed.js\" async=\"true\"><\/script>\u00a0<\/p>\n<p>Menurunnya populasi harimau Sumatra adalah indikasi hilangnya hutan, keanekaragaman hayati dan juga kestabilan iklim. Musim kemarau ini kebakaran besar yang disengaja maupun tidak, berkobar di Sumatra terutama di provinsi Riau dan menghancurkan ratusan ribu hektar hutan hujan \u2013 termasuk hutan lahan gambut dalam yang merupakan habitat terakhir harimau di provinsi ini. Kebakaran tersebut tercatat memecahkan rekor yang mengakibatkan terlepasnya gas rumahkaca (GRK) dan polutan dalam jumlah besar dimana kabut asapnya yang jauh hingga mencapai Thailand.<\/p>\n<p>Menurut pemerintah Indonesia, 85% dari emisi GRK<br \/>negri ini berasal dari perubahan peruntukan lahan (terutama yang berkaitan dengan deforestasi untuk perkebunan atau pertanian), dan sekitar separuhnya berkaitan dengan lahan gambut. Bahkan habitat harimau Sumatra dalam wilayah lindung seperti Taman Nasional Tesso Nilo yang terkenal di dunia telah dihancurkan oleh perambahan untuk produksi minyak kelapa sawit ilegal, dan pejabat pemerintahpun mengakui bahwa perlindungan wilayah ini hanya ada di atas kertas.<\/p>\n<h3>Download Laporan (PDF):<\/h3>\n<ul>\n<li>Bahasa: <a title=\"Ijin untuk Memusnahkan\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/7987b976-7987b976-laporan_izin_untuk_memusnahkan.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Izin untuk Memusnahkan<\/a><\/li>\n<li>English: <a title=\"Licence to Kill\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/f8735960-f8735960-report_licence_to_kill.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Licence to Kill<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div>\n\tSaat ini hanya sekitar 400 ekor harimau diperkirakan tersisa di hutan-hutan hujan Sumatra \u2013 yang berkurang secara pesat \u2013 seperempat juta hektar tiap tahunnya. Ekspansi perkebunan kelapa sawit dan kayu pulp\/HTI (Hutan Tanaman Industri) adalah penyebab hampir dua pertiga kerusakan habitat harimau dalam kurun waktu antara 2009 sampai 2011, periode paling akhir dimana data resmi pemerintah Indonesia tersedia. Kerusakan semacam ini memfragmentasi wilayah besar hutan ruang hidup harimau untuk berburu. Keadaan ini juga meningkatkan kontak dengan manusia; yang mengakibatkan meningkatnya perburuan harimau liar untuk perdagangan kulit dan obat-obatan tradisional serta meningkatnya serangan harimau yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia dan harimau.\n<\/div>\n","protected":false},"author":49,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[19],"p4-page-type":[15],"class_list":["post-1281","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-lindungi","tag-hutan","p4-page-type-publikasi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Izin Untuk Memusnahkan - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Izin Untuk Memusnahkan - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Saat ini hanya sekitar 400 ekor harimau diperkirakan tersisa di hutan-hutan hujan Sumatra \u2013 yang berkurang secara pesat \u2013 seperempat juta hektar tiap tahunnya. Ekspansi perkebunan kelapa sawit dan kayu pulp\/HTI (Hutan Tanaman Industri) adalah penyebab hampir dua pertiga kerusakan habitat harimau dalam kurun waktu antara 2009 sampai 2011, periode paling akhir dimana data resmi pemerintah Indonesia tersedia. Kerusakan semacam ini memfragmentasi wilayah besar hutan ruang hidup harimau untuk berburu. Keadaan ini juga meningkatkan kontak dengan manusia; yang mengakibatkan meningkatnya perburuan harimau liar untuk perdagangan kulit dan obat-obatan tradisional serta meningkatnya serangan harimau yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia dan harimau.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2013-10-21T17:00:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2019-11-06T08:46:43+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"1 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/\"},\"author\":{\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\"},\"headline\":\"Izin Untuk Memusnahkan\",\"datePublished\":\"2013-10-21T17:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2019-11-06T08:46:43+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/\"},\"wordCount\":262,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Hutan\"],\"articleSection\":[\"Lindungi\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/\",\"name\":\"Izin Untuk Memusnahkan - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2013-10-21T17:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2019-11-06T08:46:43+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Izin Untuk Memusnahkan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"sameAs\":[\"http:\/\/www.greenpeace.or.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Izin Untuk Memusnahkan - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Izin Untuk Memusnahkan - Greenpeace Indonesia","og_description":"Saat ini hanya sekitar 400 ekor harimau diperkirakan tersisa di hutan-hutan hujan Sumatra \u2013 yang berkurang secara pesat \u2013 seperempat juta hektar tiap tahunnya. Ekspansi perkebunan kelapa sawit dan kayu pulp\/HTI (Hutan Tanaman Industri) adalah penyebab hampir dua pertiga kerusakan habitat harimau dalam kurun waktu antara 2009 sampai 2011, periode paling akhir dimana data resmi pemerintah Indonesia tersedia. Kerusakan semacam ini memfragmentasi wilayah besar hutan ruang hidup harimau untuk berburu. Keadaan ini juga meningkatkan kontak dengan manusia; yang mengakibatkan meningkatnya perburuan harimau liar untuk perdagangan kulit dan obat-obatan tradisional serta meningkatnya serangan harimau yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia dan harimau.","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2013-10-21T17:00:00+00:00","article_modified_time":"2019-11-06T08:46:43+00:00","author":"Greenpeace Indonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Greenpeace Indonesia","Est. reading time":"1 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/"},"author":{"name":"Greenpeace Indonesia","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe"},"headline":"Izin Untuk Memusnahkan","datePublished":"2013-10-21T17:00:00+00:00","dateModified":"2019-11-06T08:46:43+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/"},"wordCount":262,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Hutan"],"articleSection":["Lindungi"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/","name":"Izin Untuk Memusnahkan - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2013-10-21T17:00:00+00:00","dateModified":"2019-11-06T08:46:43+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1281\/izin-untuk-memusnahkan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Izin Untuk Memusnahkan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe","name":"Greenpeace Indonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","caption":"Greenpeace Indonesia"},"sameAs":["http:\/\/www.greenpeace.or.id"],"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1281","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/49"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1281"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1281\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1284,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1281\/revisions\/1284"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1281"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1281"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1281"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=1281"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}