{"id":1312,"date":"2016-04-04T00:00:00","date_gmt":"2016-04-03T17:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/"},"modified":"2019-11-06T15:46:41","modified_gmt":"2019-11-06T08:46:41","slug":"konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/","title":{"rendered":"Konsekuensi Tersembunyi: Valuasi Kerugian Ekonomi Akibat Pencemaran Industri"},"content":{"rendered":"<p>Ringkasan Eksekutif: Polusi industri adalah ancaman serius bagi sumber-sumber air di seluruh dunia terutama di negara-negara dalam transisi ekonomi seperti Indonesia. Pandangan bahwa pencemaran adalah harga yang wajar untuk sebuah kemajuan masih berlaku kental. Pandangan ini biasanya berhubungan dengan ide bahwa mengatasi pencemaran membutuhkan biaya yang terlalu mahal, bahwa mencegah terjadinya polusi terlalu sulit dan tidak praktis, dan bahwa dampak lingkungan dan sosial dapat diatasi di masa depan. Kesalahpahaman umum bahwa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dapat mengatasi semua jenis polutan, tidak peduli tingkat toksisitasnya, juga memperburuk masalah.<\/p>\n<div id=\"attachment_2113\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-2113\" class=\"wp-image-2113 size-large\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/03\/e8d2e02b-gp04gum-1024x682.jpg\" alt=\"Water Sampling in Citarum Tributary. \u00a9 Yudhi Mahatma\" width=\"1024\" height=\"682\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/03\/e8d2e02b-gp04gum-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/03\/e8d2e02b-gp04gum-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/03\/e8d2e02b-gp04gum-768x511.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/03\/e8d2e02b-gp04gum-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/03\/e8d2e02b-gp04gum.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><p id=\"caption-attachment-2113\" class=\"wp-caption-text\">Para aktivis mengambil sampel air untuk menguji toksisitasnya di Sungai Cikijing, anak sungai Sungai Citarum, dekat Jalan Pancasila Dalam, Rancaekek, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.<\/p><\/div>\n<p>Pandangan pendek ini berujung pada pembuangan limbah kimia beracun berbahaya yang masif dan tertutup ke dalam sungai-sungai kita. Bagaimanapun, bila kita tidak mengidentifikasi atau mengabaikan pembuangan bahan-bahan kimia beracun berbahaya (B3) yang bersifat persisten dan bioakumulatif ke dalam sungai-sungai kita, maka akan berakibat pada masalah lingkungan dan kesehatan jangka panjang yang tidak dapat dipulihkan. Hingga saat ini kita tampaknya belum berhasil memetik pelajaran dari kesalahan masa lalu negara-negara maju, bahwa pencemaran bahan kimia berbahaya telah menimbulkan biaya ekonomi, lingkungan, dan sosial yang sangat besar.<\/p>\n<p>Kawasan Rancaekek di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, merupakan lokasi\u00a0 pencemaran ratusan hektar lahan persawahan oleh limbah industri. Pencemaran yang telah terjadi selama lebih dari dua dekade dapat menjadi potret bahwa kita gagal dalam memetik pelajaran tersebut. Berbagai penelitian telah mengungkap akumulasi pencemaran bahan berbahaya di sedimen sungai dan bahkan di tanaman padi di lahan persawahan yang tercemar, membawa kerugian nyata bagi masyarakat dan lingkungan.<\/p>\n<p><strong>Berapakah biaya sebenarnya dari puluhan tahun pencemaran tersebut? Berapa kerugian yang diderita masyarakat yang sumber kehidupan dan penghidupannya tercemar? Apa saja sumber kerugian tersebut? Berapa kerugian yang diderita oleh lingkungan?\u00a0 Berapa estimasi biaya yang dibutuhkan untuk membersihkan pencemaran tersebut? Bagaimana tanggungjawab pencemar dan pemerintah? Dan pada akhirnya, bagaimana kita dapat mengambil pelajaran dari kasus ini serta mencari jalan keluar untuk menuju masa depan yang terbebas dari bahan kimia berbahaya.<\/strong><\/p>\n<p>Sebagai bagian dari Koalisi Melawan Limbah, yang terdiri dari Walhi Jawa Barat, Pawapeling dan LBH Bandung, Greenpeace Indonesia bekerja sama dengan tim peneliti dari <em>Institute Of Ecology<\/em> Universitas Padjadjaran untuk mengidentifikasi kerusakan lingkungan dan dampak yang diderita masyarakat serta menghitung total kerugian ekonomi akibat pencemaran di kawasan Rancaekek dengan fokus sekitar aliran sungai Cikijing.<\/p>\n<h3><strong>Temuan Penelitian<\/strong><\/h3>\n<p>Total kerugian ekonomi akibat pencemaran di kawasan Rancaekek dengan pendekatan <em>Total Economic Valuation <\/em>(tanpa mengikutsertakan biaya abai baku mutu) mencapai angka <strong>Rp. 11.385.847.532.188 (\u00b1 11,4 Triliun).<\/strong><\/p>\n<p>Angka ini terdiri dari perkiraan biaya remediasi yang dibutuhkan untuk pemulihan 933,8 Ha lahan tercemar sebesar Rp.8.045.421.090.700 dan total kerugian masyarakat sejak tahun 2004 hingga 2015 sebesar Rp 3.340.426.441.488. Kerugian multisektor ini meliputi\u00a0 sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kesehatan, kerugian karena kehilangan jasa air, penurunan kualitas udara, dan kehilangan pendapatan.<\/p>\n<h3>Unduh Laporan:<\/h3>\n<p><a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/5a4dff4e-5a4dff4e-laporan-melawan-limbah.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Laporan Melawan Limbah<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Total kerugian ekonomi akibat pencemaran di kawasan Rancaekek dengan pendekatan valuasi ekonomi tanpa mengikutsertakan biaya abai baku mutu mencapai angka Rp. \u00b1 11,4 Triliun.<\/p>\n","protected":false},"author":49,"featured_media":2113,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[7],"p4-page-type":[15],"class_list":["post-1312","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ciptakan-perubahan","tag-detox","p4-page-type-publikasi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Konsekuensi Tersembunyi: Valuasi Kerugian Ekonomi Akibat Pencemaran Industri - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Konsekuensi Tersembunyi: Valuasi Kerugian Ekonomi Akibat Pencemaran Industri - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Total kerugian ekonomi akibat pencemaran di kawasan Rancaekek dengan pendekatan valuasi ekonomi tanpa mengikutsertakan biaya abai baku mutu mencapai angka Rp. \u00b1 11,4 Triliun.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2016-04-03T17:00:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2019-11-06T08:46:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/03\/e8d2e02b-gp04gum.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"799\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/\"},\"author\":{\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\"},\"headline\":\"Konsekuensi Tersembunyi: Valuasi Kerugian Ekonomi Akibat Pencemaran Industri\",\"datePublished\":\"2016-04-03T17:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2019-11-06T08:46:41+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/\"},\"wordCount\":475,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Detox\"],\"articleSection\":[\"Ciptakan Perubahan\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/\",\"name\":\"Konsekuensi Tersembunyi: Valuasi Kerugian Ekonomi Akibat Pencemaran Industri - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2016-04-03T17:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2019-11-06T08:46:41+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Konsekuensi Tersembunyi: Valuasi Kerugian Ekonomi Akibat Pencemaran Industri\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"sameAs\":[\"http:\/\/www.greenpeace.or.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Konsekuensi Tersembunyi: Valuasi Kerugian Ekonomi Akibat Pencemaran Industri - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Konsekuensi Tersembunyi: Valuasi Kerugian Ekonomi Akibat Pencemaran Industri - Greenpeace Indonesia","og_description":"Total kerugian ekonomi akibat pencemaran di kawasan Rancaekek dengan pendekatan valuasi ekonomi tanpa mengikutsertakan biaya abai baku mutu mencapai angka Rp. \u00b1 11,4 Triliun.","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2016-04-03T17:00:00+00:00","article_modified_time":"2019-11-06T08:46:41+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":799,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/03\/e8d2e02b-gp04gum.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Greenpeace Indonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Greenpeace Indonesia","Est. reading time":"2 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/"},"author":{"name":"Greenpeace Indonesia","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe"},"headline":"Konsekuensi Tersembunyi: Valuasi Kerugian Ekonomi Akibat Pencemaran Industri","datePublished":"2016-04-03T17:00:00+00:00","dateModified":"2019-11-06T08:46:41+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/"},"wordCount":475,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Detox"],"articleSection":["Ciptakan Perubahan"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/","name":"Konsekuensi Tersembunyi: Valuasi Kerugian Ekonomi Akibat Pencemaran Industri - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2016-04-03T17:00:00+00:00","dateModified":"2019-11-06T08:46:41+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/1312\/konsekuensi-tersembunyi-valuasi-kerugian-ekonomi-akibat-pencemaran-industri\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Konsekuensi Tersembunyi: Valuasi Kerugian Ekonomi Akibat Pencemaran Industri"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe","name":"Greenpeace Indonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","caption":"Greenpeace Indonesia"},"sameAs":["http:\/\/www.greenpeace.or.id"],"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1312","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/49"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1312"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1312\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2115,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1312\/revisions\/2115"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2113"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1312"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1312"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1312"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=1312"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}