{"id":1580,"date":"2016-08-15T20:42:00","date_gmt":"2016-08-15T13:42:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/"},"modified":"2019-11-06T15:46:40","modified_gmt":"2019-11-06T08:46:40","slug":"penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/","title":{"rendered":"Penduduk Negara Manakah Yang Paling Banyak Memperbaiki Gagdet nya?"},"content":{"rendered":"<div class=\"post-content\">\n<div>\n<p><em>Apa yang terjadi saat ponsel pintarmu mati? Negara mana yang paling banyak mendaur ulang? Dan, apakah orang-orang memperbaiki ponsel mereka atau hanya membuangnya begitu saja?<\/em> <em>Kami melakukan penelitian untuk mencari tahu..<\/em><\/p>\n<p><em><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/0e3a385d-0e3a385d-129484_226096.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"399\"><\/em><\/p>\n<p>Percaya atau tidak, ponsel pintar memberikan banyak tekanan bagi lingkungan kita \u2013 dari mulai saat mereka diproduksi hingga saat mereka dibuang ke tumpukan limbah elektronik. Karena itulah kami bekerja sama dengan <a href=\"https:\/\/www.ipsos-mori.com\/\">Ipsos MORI<\/a>, melakukan survey di enam negara: Amerika, Jerman, Rusia, Mexico, Korea Selatan dan China. Kami ingin mengetahui apa yang dicari orang-orang dari ponsel pintar, bagaimana kebiasaan mereka \u2013 apakah mereka memperbaiki, siapa menurut mereka yang harus bertanggungjawab untuk mendaur ulang?<\/p>\n<p>Dan temuannya mengejutkan, bahkan untuk kami!<\/p>\n<p>Lihatlah.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>1. Mengikuti trend itu Melelahkan! Kebanyakan orang berpikir bahwa terlalu banyak ponsel model baru diperkenalkan.\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/1b6f42fa-1b6f42fa-129487_226103.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"399\"><\/strong><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Lebih dari setengah responden yang disurvey berpikiran bahwa pembuat ponsel pintar TERLALU BANYAK mengeluarkan model baru, dan setuju bahwa mereka bisa LEBIH SEDIKIT berganti ke ponsel model baru.<\/p>\n<p><strong>2. Siapa yang harus mendaur ulang ponselmu saat akhirnya mati: kamu atau perusahaan yang memproduksinya?<\/strong><\/p>\n<p><strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/f88e6aea-f88e6aea-129482_226092.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"399\"><\/strong><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Apa yang kamu lakukan saat ponselmu mati? Apakah kamu simpan di laci? Apakah berakhir di tempat pembuangan limbah elektronik di Ghana? Atau apakah ia di daur ulang dan digunakan kembali?<\/p>\n<p>Hampir setengah dari responden yang disurvey di semua negara berpikir bahwa para pembuat ponsel adalah yang PALING bertanggungjawab untuk menyediakan akses daur ulang bagi pelanggan mereka. Bukankah akan sangat keren bila perusahaan membuat daur ulang jadi mudah, mulai dari bagaimana ponsel mereka didesain, hingga pada pengumpulannya untuk penggunaan kembali?<\/p>\n<p><strong>3. Hampir semua orang menginginkan ponsel yang bertahan lebih lama.<\/strong><\/p>\n<p><strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/51afc2ab-51afc2ab-129483_226094.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"399\"><\/strong><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Ini sangatlah jelas. 4 dari 5 responden percaya bahwa sangatlah penting ponsel pintar baru dapat mudah diperbaiki jika rusak.\u00a0 Angka yang muncul sangat tinggi hingga mencapai 95% di China, 94% di Mexico dan 92% di Korea Selatan.<\/p>\n<p>Namun dengan <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/80c08efb-80c08efb-unu-1stglobal-e-waste-monitor-2014-small.pdf\">hampir tiga juta metrik ton limbah elektronik<\/a> yang dihasilkan dari produk IT skala kecil saja seperti ponsel, nampaknya akan tetap BANYAK yang akan menjadi limbah!<\/p>\n<p><strong>4. China memimpin dunia dalam hal mereparasi ponselnya!<\/strong><\/p>\n<p><strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/6bdc20ce-6bdc20ce-129486_226101.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"399\"><\/strong><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Setidaknya dari enam negara yang kami survey, kami menemukan bahwa responden dari China (66%) dan Korea (64%) lebih mungkin mereparasi ponsel mereka, dibandingkan dengan mereka di Amerika (28%) dan Jerman (23%).<\/p>\n<p><strong>5. Bahan Kimia Berbahaya dalam ponsel pintar saya? Tidak, Terima Kasih!<\/strong><\/p>\n<p><strong><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/93bb3bf1-93bb3bf1-129489_226111.jpg\" alt=\"\"><\/strong><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Saya berani bertaruh bahwa banyak dari kita tidak tahu bahwa bahan-bahan kimia berbahaya digunakan untuk membuat ponsel pintar kita. Sebagai contoh, beberapa bahan kimia berbahaya yang digunakan dalam proses produksi, seperti benzene dan n-hexane, bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker) sementara lainnya dapat menyebabkan berbagai dampak buruk kesehatan.<\/p>\n<p>4 dari 5 responden menyadari pentingnya bahwa ponsel pintar baru tidak dibuat dengan bahan-bahan kimia berbahaya.<\/p>\n<p><strong>Bagaimana dengan kita di Indonesia?<\/strong><\/p>\n<p>Tentu kita semua bisa melakukan refleksi pribadi. Namun laporan dari United Nations University menyebutkan bahwa jumlah limbah elektronik yang dihasilkan oleh Indonesi a pada tahun 2014 saja mencapai\u00a0 745 Kiloton, terbesar di Asia Tenggara, kira-kira sejumlah lebih dari 28 ribu bus gandeng\u00a0 transjakarta saat penuh penumpang. DAN tanpa ada peraturan yang mengaturnya!<\/p>\n<p><strong>Jadi, apa arti semua ini?<\/strong><\/p>\n<p>Nampaknya kebanyakan orang tidak suka dengan fakta bahwa ponsel mereka begitu cepat usang dan bagaimana kita menjadi target pasar dari siklus trend baru yang tidak pernah berakhir. Namun serius, kita hanya ingin mempunyai ponsel yang bertahan lama, mudah diperbaiki, dan dapat didaur ulang. Terlebih lagi, kita tidak ingin ponsel kita diproduksi dengan bahan kimia berbahaya atau berakhir di tempat pembuangan limbah elektronik di seluruh dunia.<\/p>\n<p>Ini adalah saatnya perusahaan-perusahaan teknologi sadar.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/4a581802-4a581802-129490_226113.jpg\" alt=\"\"><\/p>\n<p>Oleh karena itulah kita membantu menyatukan para pecinta teknologi, desainer, dan orang-orang yang menyukai <em>gadget <\/em>mereka untuk meminta cara baru dalam berpikir mengenai elektronik.\u00a0 Kita butuh <em>gadget <\/em>yang inovatif untuk planet kita sebagaimana untuk hidup kita&#8230;<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/detox.greenpeace.org\/trueinnovation\/\">Masa depan ditangan kita, mari kita ubah! Cari tahu bagaimana kamu bisa ikut terlibat.<\/a><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><em>Chih An Lee adalah Global IT Campaigner di Greenpeace East Asia, Taipei.<\/em><\/p>\n<p><em>Ahmad Ashov, Detox Campaigner di Greenpeace Asia Tenggara, Jakarta<\/p>\n<p> <\/em><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa yang terjadi saat ponsel pintarmu mati? Negara mana yang paling banyak mendaur ulang? Dan, apakah orang-orang memperbaiki ponsel mereka atau hanya membuangnya begitu saja? Kami melakukan penelitian untuk mencari tahu..<\/p>\n","protected":false},"author":49,"featured_media":1581,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[8],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-1580","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ciptakan-perubahan","tag-elektronik-hijau","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Penduduk Negara Manakah Yang Paling Banyak Memperbaiki Gagdet nya? - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Penduduk Negara Manakah Yang Paling Banyak Memperbaiki Gagdet nya? - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Apa yang terjadi saat ponsel pintarmu mati? Negara mana yang paling banyak mendaur ulang? Dan, apakah orang-orang memperbaiki ponsel mereka atau hanya membuangnya begitu saja? Kami melakukan penelitian untuk mencari tahu..\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2016-08-15T13:42:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2019-11-06T08:46:40+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/0e3a385d-0e3a385d-129484_226096.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"399\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/\"},\"author\":{\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\"},\"headline\":\"Penduduk Negara Manakah Yang Paling Banyak Memperbaiki Gagdet nya?\",\"datePublished\":\"2016-08-15T13:42:00+00:00\",\"dateModified\":\"2019-11-06T08:46:40+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/\"},\"wordCount\":626,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"ElektronikHijau\"],\"articleSection\":[\"Ciptakan Perubahan\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/\",\"name\":\"Penduduk Negara Manakah Yang Paling Banyak Memperbaiki Gagdet nya? - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2016-08-15T13:42:00+00:00\",\"dateModified\":\"2019-11-06T08:46:40+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Penduduk Negara Manakah Yang Paling Banyak Memperbaiki Gagdet nya?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"sameAs\":[\"http:\/\/www.greenpeace.or.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Penduduk Negara Manakah Yang Paling Banyak Memperbaiki Gagdet nya? - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Penduduk Negara Manakah Yang Paling Banyak Memperbaiki Gagdet nya? - Greenpeace Indonesia","og_description":"Apa yang terjadi saat ponsel pintarmu mati? Negara mana yang paling banyak mendaur ulang? Dan, apakah orang-orang memperbaiki ponsel mereka atau hanya membuangnya begitu saja? Kami melakukan penelitian untuk mencari tahu..","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2016-08-15T13:42:00+00:00","article_modified_time":"2019-11-06T08:46:40+00:00","og_image":[{"width":600,"height":399,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/0e3a385d-0e3a385d-129484_226096.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Greenpeace Indonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Greenpeace Indonesia","Est. reading time":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/"},"author":{"name":"Greenpeace Indonesia","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe"},"headline":"Penduduk Negara Manakah Yang Paling Banyak Memperbaiki Gagdet nya?","datePublished":"2016-08-15T13:42:00+00:00","dateModified":"2019-11-06T08:46:40+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/"},"wordCount":626,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["ElektronikHijau"],"articleSection":["Ciptakan Perubahan"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/","name":"Penduduk Negara Manakah Yang Paling Banyak Memperbaiki Gagdet nya? - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2016-08-15T13:42:00+00:00","dateModified":"2019-11-06T08:46:40+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1580\/penduduk-negara-manakah-yang-paling-banyak-memperbaiki-gagdet-nya\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Penduduk Negara Manakah Yang Paling Banyak Memperbaiki Gagdet nya?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe","name":"Greenpeace Indonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","caption":"Greenpeace Indonesia"},"sameAs":["http:\/\/www.greenpeace.or.id"],"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1580","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/49"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1580"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1580\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1589,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1580\/revisions\/1589"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1581"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1580"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1580"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1580"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=1580"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}