{"id":1653,"date":"2018-11-08T16:31:00","date_gmt":"2018-11-08T09:31:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/"},"modified":"2019-11-06T15:46:11","modified_gmt":"2019-11-06T08:46:11","slug":"minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/","title":{"rendered":"Minyak Sawit: Apa Yang Perlu Kita Ketahui"},"content":{"rendered":"<p>Dalam beberapa bulan terakhir, kami telah meningkatkan kampanye untuk mendorong agar merek-merek membersihkan pasokan minyak sawit mereka. Inilah semua yang perlu kita ketahui.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-1849 size-large\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/eb37e548-gp0sts4b9-1024x683.jpg\" alt=\"Forest Clearance in Southern Papua. \u00a9 Ulet Ifansasti\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/eb37e548-gp0sts4b9-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/eb37e548-gp0sts4b9-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/eb37e548-gp0sts4b9-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/eb37e548-gp0sts4b9-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/eb37e548-gp0sts4b9.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/p>\n<p>Minyak yang terbuat dari buah sawit spesies kelapa sawit Afrika ini banyak ditanam di perkebunan di Indonesia dan Malaysia. Minyak sawit dengan mudahnya ditemukan dalam produk-produk supermarket \u2013 mulai dari cokelat, keripik, hingga kosmetik. Sawit juga semakin banyak digunakan sebagai bahan bakar di seluruh Eropa (kecuali Inggris).<\/p>\n<p><strong>Mengapa sawit menjadi masalah?<\/strong><\/p>\n<p>Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat terhadap minyak sawit, hutan hujan tropis dan lahan gambut di Indonesia, serta negara-negara lain, tengah dirambah dan digantikan dengan perkebunan kelapa sawit yang tak henti-hentinya diperluas. Namun, hal ini tidak seharusnya terjadi \u2014 minyak sawit dapat tumbuh tanpa merusak hutan hujan.<\/p>\n<p><strong>Berapa banyak lahan yang dibuka?<\/strong><\/p>\n<p>Area seluas lapangan sepak bola di hutan hujan Indonesia dihancurkan setiap 25 detik. Minyak sawit bertanggung jawab mendorong kehancuran ini. Hutan hujan adalah titik panas untuk keanekaragaman hayati dan vital untuk mengatur iklim Bumi.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/67e82952-67e82952-144182_262147.jpg\" width=\"100%\" \/><\/p>\n<p>Warga menyelamatkan orang utan berusia 7 bulan (Pongo pygmaeus) dari kebakaran hutan, ketika dia minum air dari sungai di dalam konsesi kelapa sawit PT Graha Agro Nusantera (PT GAN), di perkebunan kelapa sawit dekat desa Linga, Sungai Ambawang Kubu Raya, Kalimantan Barat. Orang utan ini kini berada di bawah pengawasan Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA).<\/p>\n<p><strong>Apa dampaknya terhadap satwa liar?<\/strong><\/p>\n<p>Indonesia memiliki lebih banyak spesies dalam kategori terancam dan genting dibandingkan dengan negara lain di dunia \u2013 sebagian besar karena habitatnya telah dihancurkan, dalam banyak kasus untuk memperluas perkebunan kelapa sawit.<\/p>\n<p>Kita kehilangan lebih dari separuh orang utan Kalimantan antara 1999 dan 2015 dengan jumlah kehilangan sekitar 150.000 orang utan \u2013 artinya kita kehilangan 25 orang utan setiap hari.<\/p>\n<p><strong>Mengapa Greenpeace menargetkan merek-merek?<\/strong><\/p>\n<p>Dalam dekade terakhir, merek-merek termasuk Nestle, Unilever, dan Mars telah berjanji akan membersihkan kelapa sawit yang ada dalam produk mereka pada tahun 2020 \u2013 tetapi meski hanya tinggal kurang dari dua tahun, kerusakan hutan di Indonesia tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Jadi kami memberi tekanan pada merek-merek besar untuk memastikan mereka memberi tekanan kepada para pemasok.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/3fd689d4-3fd689d4-143806_261322.jpg\" width=\"100%\" \/><\/p>\n<p>Dua orangutan duduk di kandang di fasilitas orangutan International Animal Rescue (IAR) di Ketapang, Kalimantan Barat. Tim Pencegahan Kebakaran Hutan Greenpeace (FFP) mengunjungi pusat penyelamatan untuk mempelajari bagaimana memperlakukan orang utan jika mereka menjadi korban kebakaran hutan.<\/p>\n<p><strong>Bagaimana Greenpeace mendorong perubahan?<\/strong><\/p>\n<p>Pada Januari tahun ini, kami menantang 16 merek terbesar di dunia untuk mengungkapkan perusahaan minyak sawit dan pabrik yang mereka gunakan. Dua belas perusahaan mengungkap nama pemasok mereka, yang juga ternyata dikenal sebagai perusak hutan. Sisanya gagal menanggapi. Iklim kita bergantung pada perusahaan yang mengakhiri peran mereka dalam deforestasi, sebab itu kami meminta mereka untuk bertanggung jawab.<\/p>\n<p>Sekarang saatnya untuk membuat perusahaan melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya \u2013 menjauhi pedagang minyak sawit terbesar dan terkotor di dunia \u2013 Wilmar.<\/p>\n<p><strong>Produk apa yang mengandung minyak sawit dari deforestasi?<\/strong><\/p>\n<p>Ada banyak produk! Faktanya, minyak sawit ada dalam 50% dari produk supermarket \u2013 beberapa di antaranya sering kita jumpai atau digunakan sehari-hari seperti Kit-Kat, pasta gigi Colgate, losion bayi Johnson, sabun Dove, Doritos, Tart Pop Kellogg, biskuit Ritz, M&amp;M\u2019s, sampo Head &amp; Shoulders , dan banyak lagi!<\/p>\n<p>Perusahaan-perusahaan ini membeli minyak sawit mereka dari Wilmar \u2013 raksasa kelapa sawit terkotor di dunia \u2013 memicu kehancuran, kebakaran hutan, dan pelanggaran hak asasi manusia di seluruh Indonesia.<\/p>\n<p>Minyak kelapa sawit tidak harus berasal dari perusakan hutan hujan. Produksi minyak sawit sebenarnya sangat hemat lahan, namun, para pedagang seperti Wilmar bekerja dengan perusahaan-perusahaan yang membuka dan menghancurkan lahan baru di hutan hujan untuk memperluas kebun sawit.<\/p>\n<p>Wilmar tidak akan berubah sampai perusahaan besar berhenti membeli minyak sawit kotornya \u2013 dan itulah sebabnya kami menyerukan kepada perusahaan-perusahaan ini untuk menjauhi Wilmar.<\/p>\n<p>Tambahkan namamu dan beri tahu merek-merek besar untuk berhenti menggunakan minyak sawit dari perusak hutan:<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/act.gp\/2QueDun\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tandatangani petisinya di sini<\/a>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam beberapa bulan terakhir, kami telah meningkatkan kampanye untuk mendorong agar merek-merek membersihkan pasokan minyak sawit mereka dari deforestasi. Inilah semua yang perlu kita ketahui tentan minyak sawit.<\/p>\n","protected":false},"author":49,"featured_media":1849,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[19],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-1653","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lindungi","tag-hutan","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Minyak Sawit: Apa Yang Perlu Kita Ketahui - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Minyak Sawit: Apa Yang Perlu Kita Ketahui - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dalam beberapa bulan terakhir, kami telah meningkatkan kampanye untuk mendorong agar merek-merek membersihkan pasokan minyak sawit mereka dari deforestasi. Inilah semua yang perlu kita ketahui tentan minyak sawit.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-11-08T09:31:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2019-11-06T08:46:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/eb37e548-gp0sts4b9.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/\"},\"author\":{\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\"},\"headline\":\"Minyak Sawit: Apa Yang Perlu Kita Ketahui\",\"datePublished\":\"2018-11-08T09:31:00+00:00\",\"dateModified\":\"2019-11-06T08:46:11+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/\"},\"wordCount\":615,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Hutan\"],\"articleSection\":[\"Lindungi\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/\",\"name\":\"Minyak Sawit: Apa Yang Perlu Kita Ketahui - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2018-11-08T09:31:00+00:00\",\"dateModified\":\"2019-11-06T08:46:11+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Minyak Sawit: Apa Yang Perlu Kita Ketahui\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"sameAs\":[\"http:\/\/www.greenpeace.or.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Minyak Sawit: Apa Yang Perlu Kita Ketahui - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Minyak Sawit: Apa Yang Perlu Kita Ketahui - Greenpeace Indonesia","og_description":"Dalam beberapa bulan terakhir, kami telah meningkatkan kampanye untuk mendorong agar merek-merek membersihkan pasokan minyak sawit mereka dari deforestasi. Inilah semua yang perlu kita ketahui tentan minyak sawit.","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2018-11-08T09:31:00+00:00","article_modified_time":"2019-11-06T08:46:11+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":800,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/eb37e548-gp0sts4b9.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Greenpeace Indonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Greenpeace Indonesia","Est. reading time":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/"},"author":{"name":"Greenpeace Indonesia","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe"},"headline":"Minyak Sawit: Apa Yang Perlu Kita Ketahui","datePublished":"2018-11-08T09:31:00+00:00","dateModified":"2019-11-06T08:46:11+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/"},"wordCount":615,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Hutan"],"articleSection":["Lindungi"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/","name":"Minyak Sawit: Apa Yang Perlu Kita Ketahui - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2018-11-08T09:31:00+00:00","dateModified":"2019-11-06T08:46:11+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1653\/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Minyak Sawit: Apa Yang Perlu Kita Ketahui"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe","name":"Greenpeace Indonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","caption":"Greenpeace Indonesia"},"sameAs":["http:\/\/www.greenpeace.or.id"],"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1653","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/49"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1653"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1653\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1846,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1653\/revisions\/1846"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1849"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1653"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1653"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1653"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=1653"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}