{"id":1690,"date":"2018-04-10T13:56:00","date_gmt":"2018-04-10T06:56:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/"},"modified":"2019-11-06T15:46:22","modified_gmt":"2019-11-06T08:46:22","slug":"pak-lurah-ada-api-besar-di-laut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/","title":{"rendered":"\u201cPak Lurah, Ada Api Besar di Laut\u201d"},"content":{"rendered":"<div class=\"post-content\">\n<div>\n\tWaktu menunjukkan angka 3:30 pagi ketika Ride, Lurah Desa Margasari, terbangun.\u00a0<br \/>\n<span>Ia memang biasa bangun dinihari untuk melaksanakan Shalat Subuh. Tetapi kali ini, ia terbangun karena beberapa warga melaporkan kejadian tidak biasa di kampung. Ada genangan minyak merayap masuk di bawah rumah-rumah mereka.<\/span><br \/>\n<span>Sebagian rumah-rumah di Desa Margasari memang berada di atas air. \u00a0Memang, desa seluas 50,9 hektar ini, lebih dari setengahnya di bangun di atas permukaan air laut Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia.<\/span><br \/>\n<span><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/i_jtRHGQizmaqsPjwigeJV3WeiBjMIjvbQl8y3h7GG_tm-iBbyf0q2bUmnCB-U5e0ie-T7azpvf40tO_s9OQ0kMP-7asDOMXW9wsjAZiLcc6MsmsK4ZJX2v9VOJZQiOtrGYQx5OT\" alt=\"\" width=\"624\" height=\"416\"><\/span><br \/>\nSebaran minyak semakin banyak dan pekat. Minyak itu berasal dari pipa Pertamina Refinery Unit V, yang berada 25 meter di bawah permukaan laut. Ride bergerak cepat. Prioritas utamanya adalah menenangkan warga yang mulai panik, dan memperingatkan warga untuk tidak melakukan aktivitas yang berkaitan dengan api.\u00a0<br \/>\n<span>\u201cSaya menelepon Babinsa, Babinkamtibmas, juga berkoordinasi dengan Kapolsek dan Danramil, mohon dibantu menenangkan warga dan melakukan himbauan. Jangan dulu melakukan kegiatan yang berkaitan dengan api, misalnya merokok, atau seperti kebiasaan banyak warga di pagi hari membakar ikan, dan sebagainya,\u201d Ride menjelaskan.<\/span><br \/>\n<span>Pagi itu semua orang bekerja sama. Terutama membersihkan sampah-sampah penuh minyak yang tersangkut di bawah rumah, di hutan mangrove, dan lain-lain.<\/span><br \/>\n<span>Sekitar pukul 10.30 pagi, mereka punya waktu untuk istirahat dan sarapan. Baru saja mengambil nafas, Ride dikejutkan oleh beberapa warga yang berlarian menuju ke arah mereka.<\/span><br \/>\n<span>\u201cPak Lurah, Pak Lurah, itu ada api di laut.\u201d<\/span><br \/>\n<span>Berlarian menuju titik terdekat ke arah laut, mereka melihat 400 meter dari pemukiman terdekat, di tengah laut api sudah berkobar. Asapnya membumbung tinggi, dan terlihat api terus menyebar ke mana-mana.<\/span><br \/>\n<span> <\/span><span><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/lh5.googleusercontent.com\/QuzUidoQ2NJFwLfc13t5hk49zFZt7aTZQhkQ9sM0zdJ1gNZFln8YmryJ9rJmWDwLznLo7Dfs_IlGh_Ja8aVv_1yJStihnvOU7i2OsaPyx68N2V3XAdm15mxKnWviVcrjMiNtRAat\" alt=\"\" width=\"624\" height=\"416\"><\/span><br \/>\n<span>400 meter bukan jarak yang jauh. Tidak heran jika masyarakat khawatir atas keselamatan keluarganya.<\/span><br \/>\n<span>\u201cApakah kita harus pergi dari sini, pak Lurah?\u201d<\/span><br \/>\n<span>\u201cJangan dulu,\u201d tegas Ride. Karena beruntung, saat itu air sedang surut menjauhi pemukiman mereka. Dan beruntung juga, api bisa dipadamkan beberapa jam kemudian.<\/span><br \/>\n<span>Tetapi tidak demikian bagi penduduk yang sedang ada di laut, di sekitar kebakaran itu. Kawasan ini memang kawasan sibuk. Ada beberapa kapal nelayan bahkan kapal kargo yang sedang ada di sana.<\/span><br \/>\n<span>Seperti sebuah kapal kargo batubara (Kapal Ever Judger) yang tidak bisa menghindari api, puluhan awak kapalnya langsung berloncatan ke laut menyelamatkan diri. Demikian juga para nelayan. Malang, tidak semua orang berhasil menyelamatkan diri. Pada hari keempat (3 April), tercatat akhirnya lima orang meninggal dunia akibat peristiwa ini.<\/span>\u00a0<br \/>\n<span>Padamnya api bukan berarti padamnya masalah. Masalah terbesar yang dibawa tumpahan minyak ini tentu saja adalah masalah kesehatan. \u201cBau minyak terasa sangat menyengat sejak hari pertama.\u201d<\/span><br \/>\n<span>Ride kemudian menjenguk Puskesmas, dan di sana pasien sudah berjubel. Dari berbagai usia, pria maupun wanita. Menurut dokter, keluhan terbanyak adalah sesak nafas atau Ispa (infeksi saluran pernafasan atas).<\/span><br \/>\n<span>\u201cSekitar 1250 keluarga yang terpapar oleh dampak tumpahan minyak ini, karena berada tepat di atas air,\u201d jelasnya.<\/span><br \/>\n<span>Tumpahan minyak memang bukan perkara sepele. Menurut Hilda Meutia, peneliti dan ahli mikrobiologi, tidak hanya dampak langsung seperti yang terjadi sesaat setelah peristiwa ini, tetapi juga membawa resiko dampak akumulasi jangka panjang bagi kesehatan manusia dan juga tercemarnya ekosistem laut dan pantai.<\/span><br \/>\n<span><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/lh4.googleusercontent.com\/HRpZFYcEBIuJXiSZrwhJw-XGWRQPA8qsk6ucqo0LkpgK-7BponHNeN0J4rXcciY7VXfWKhGEVlTTPAO5I4xAbhu9xigUZ12Coe2OyNLRpEFz0_5yn_VeLNdGxlz67iN6uaG2OoR_\" alt=\"\" width=\"624\" height=\"416\"><\/span><br \/>\n\u00a0<br \/>\n<span>\u201cTumpahan minyak berkontribusi signifikan pada kandungan logam berat dan senyawa \u00a0PAH (Polycyclic Aromatic Hydrocarbon) yang bersifat toksik dan karsinogenik. Pada sebuah studi kompilasi kejadian tumpahan minyak di berbagai belahan dunia menunjukkan tercemarnya ekosistem laut dan pantai dengan berbagai jenis logam berat beberapa diantaranya Cd (kadmium), Pb (timbal), V(Vanadium), Ni (Nikel),\u201d jelas Hilda.<\/span><br \/>\n<span>\u201cPaparan langsung masyarakat pada air tercemar menyebabkan \u00a0dampak langsung seperti gatal pada kulit. Namun lebih lanjut logam berat juga dikenal memiliki dampak akumulasi jangka panjang bagi kesehatan manusia. \u00a0Sebagai contoh, Timbal (Pb) dapat menyebabkan gangguan imunitas, repoduksi, sistem syaraf. Kadmium (Cd) merupakan materi karsinogenik, paparan pada logam ini memicu mual, muntah, sakit kepala dan lambung,\u201d imbuhnya.<\/span><br \/>\n<span>Saya berkunjung ke Desa Margasari beberapa hari setelah kejadian. Memang, saat saya tiba genangan minyak tidak lagi pekat dan bau menyengat sudah pergi. Tetapi bukan berarti dampaknya juga sudah pergi. Menurut Hilda, \u201cdampak tumpahan minyak akan dialami tahunan bahkan dapat berakhir dengan kerusakan permanen.\u201d<\/span><br \/>\n<span>Juga, saat saya tiba nelayan-nelayan masih belum bisa melaut. Dan masih ada juga kerusakan-kerusakan lain, misalnya pada hutan Mangrove yang selama ini juga menjadi sumber mata pencaharian serta paru-paru bagi Desa Margasari. Simak laporan berikutnya mengenai hal ini di artikel berjudul: \u201cPernahkah Kamu Melihat Mangrove Berwarna Hitam\u201d<\/span><br \/>\n\u00a0\n<\/div>\n<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Waktu menunjukkan angka 3:30 pagi ketika Ride, Lurah Desa Margasari, terbangun.\u00a0<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[6,20],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-1690","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-lindungi","tag-iklim","tag-laut","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>\u201cPak Lurah, Ada Api Besar di Laut\u201d - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"\u201cPak Lurah, Ada Api Besar di Laut\u201d - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Waktu menunjukkan angka 3:30 pagi ketika Ride, Lurah Desa Margasari, terbangun.\u00a0\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-04-10T06:56:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2019-11-06T08:46:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/i_jtRHGQizmaqsPjwigeJV3WeiBjMIjvbQl8y3h7GG_tm-iBbyf0q2bUmnCB-U5e0ie-T7azpvf40tO_s9OQ0kMP-7asDOMXW9wsjAZiLcc6MsmsK4ZJX2v9VOJZQiOtrGYQx5OT\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Hikmat\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Hikmat\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/\"},\"author\":{\"name\":\"Hikmat\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3214a3fed2ce15c9cf7bac2b9ddf46cd\"},\"headline\":\"\u201cPak Lurah, Ada Api Besar di Laut\u201d\",\"datePublished\":\"2018-04-10T06:56:00+00:00\",\"dateModified\":\"2019-11-06T08:46:22+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/\"},\"wordCount\":682,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Iklim\",\"Laut\"],\"articleSection\":[\"Lindungi\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/\",\"name\":\"\u201cPak Lurah, Ada Api Besar di Laut\u201d - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2018-04-10T06:56:00+00:00\",\"dateModified\":\"2019-11-06T08:46:22+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"\u201cPak Lurah, Ada Api Besar di Laut\u201d\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3214a3fed2ce15c9cf7bac2b9ddf46cd\",\"name\":\"Hikmat\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/38f880a54b462223a06ca4eb6e0f27afc3d11ee59e86036eb6c6a2825ffdfb99?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/38f880a54b462223a06ca4eb6e0f27afc3d11ee59e86036eb6c6a2825ffdfb99?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Hikmat\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/hsuriata\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"\u201cPak Lurah, Ada Api Besar di Laut\u201d - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"\u201cPak Lurah, Ada Api Besar di Laut\u201d - Greenpeace Indonesia","og_description":"Waktu menunjukkan angka 3:30 pagi ketika Ride, Lurah Desa Margasari, terbangun.\u00a0","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2018-04-10T06:56:00+00:00","article_modified_time":"2019-11-06T08:46:22+00:00","og_image":[{"url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/i_jtRHGQizmaqsPjwigeJV3WeiBjMIjvbQl8y3h7GG_tm-iBbyf0q2bUmnCB-U5e0ie-T7azpvf40tO_s9OQ0kMP-7asDOMXW9wsjAZiLcc6MsmsK4ZJX2v9VOJZQiOtrGYQx5OT"}],"author":"Hikmat","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Hikmat","Est. reading time":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/"},"author":{"name":"Hikmat","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3214a3fed2ce15c9cf7bac2b9ddf46cd"},"headline":"\u201cPak Lurah, Ada Api Besar di Laut\u201d","datePublished":"2018-04-10T06:56:00+00:00","dateModified":"2019-11-06T08:46:22+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/"},"wordCount":682,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Iklim","Laut"],"articleSection":["Lindungi"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/","name":"\u201cPak Lurah, Ada Api Besar di Laut\u201d - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2018-04-10T06:56:00+00:00","dateModified":"2019-11-06T08:46:22+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1690\/pak-lurah-ada-api-besar-di-laut\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"\u201cPak Lurah, Ada Api Besar di Laut\u201d"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3214a3fed2ce15c9cf7bac2b9ddf46cd","name":"Hikmat","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/38f880a54b462223a06ca4eb6e0f27afc3d11ee59e86036eb6c6a2825ffdfb99?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/38f880a54b462223a06ca4eb6e0f27afc3d11ee59e86036eb6c6a2825ffdfb99?s=96&d=mm&r=g","caption":"Hikmat"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/hsuriata\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1690","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1690"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1690\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1694,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1690\/revisions\/1694"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1690"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1690"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1690"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=1690"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}