{"id":1747,"date":"2018-10-19T00:00:00","date_gmt":"2018-10-18T17:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/"},"modified":"2021-12-01T19:31:33","modified_gmt":"2021-12-01T12:31:33","slug":"lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/","title":{"rendered":"Lebih dari 90% Merek Garam yang Disampel Secara Global Ditemukan Mengandung Mikroplastik"},"content":{"rendered":"<p>Seoul, Korea Selatan, 17 Oktober 2018. Lebih dari 90% merek garam yang disampel secara global ditemukan mengandung mikroplastik, di mana jumlah tertinggi berasal dari sampel garam yang bersumber di Asia, menurut sebuah penelitian baru yang dirancang bersama oleh Seung-Kyu Kim, Profesor di Universitas Incheon dan Greenpeace Asia Timur<sup>[1]<\/sup>.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-2024 size-large\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/c0482496-gp0stqbdh-1024x683.jpg\" alt=\"Plastic Waste Found in North Sea. \u00a9 Will Rose\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/c0482496-gp0stqbdh-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/c0482496-gp0stqbdh-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/c0482496-gp0stqbdh-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/c0482496-gp0stqbdh-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/c0482496-gp0stqbdh.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/p>\n<p>Penelitian, yang telah diterbitkan di jurnal ilmiah Environmental Science &amp; Technology, menganalisis 39 merek garam secara global, menunjukkan bahwa kontaminasi plastik dalam garam laut adalah yang tertinggi, diikuti oleh garam danau, kemudian garam batu \u2013 sebuah indikator tingkat polusi plastik di daerah-daerah sumber garam tersebut<sup>[2]<\/sup>. Hanya tiga dari merek garam yang diteliti tidak mengandung partikel mikroplastik dalam sampel yang direplikasi<sup>[3]<\/sup>.<\/p>\n<p>\u201cPenelitian terbaru telah menemukan plastik dalam makanan laut, margasatwa, air keran, dan sekarang dalam garam. Sudah jelas bahwa kita tidak bisa melarikan diri dari krisis plastik ini, terutama karena sampah plastik terus memasuki perairan dan lautan kita,\u201d kata Mikyoung Kim, Jurukampanye Greenpeace Asia Timur. \u201cKita harus menghentikan polusi plastik pada sumbernya. Demi kesehatan manusia dan lingkungan kita, sangat penting bagi perusahaan untuk mengurangi ketergantungan mereka pada plastik sekali pakai dengan segera.\u201d<\/p>\n<p>Berdasarkan penelitian sebelumnya mengenai pencemaran mikroplastik dalam garam, penelitian ini adalah yang pertama dalam hal skala untuk melihat tingkat kontaminasi dari penyebaran geografis dari garam laut, dan korelasinya dengan pelepasan dan tingkat pencemaran plastik terhadap lingkungan.<\/p>\n<p>Studi ini menyoroti Asia sebagai hotspot untuk polusi plastik global yang berarti bahwa ekosistem dan kesehatan manusia di pinggiran laut Asia berpotensi berada pada risiko yang lebih besar karena polusi mikroplastik laut yang parah. Dalam satu sampel garam laut dari Indonesia, para peneliti menemukan jumlah mikroplastik tertinggi. Negara ini dianggap sebagai penyumbang sampah plastik terburuk kedua ke lautan dunia<sup>[4]<\/sup>.<\/p>\n<p>Dengan asumsi asupan garam 10 gram per hari, konsumen dewasa rata-rata dapat mencerna sekitar 2.000 mikroplastik setiap tahun melalui garam saja, menurut studi tersebut. Bahkan ketika sampel garam Indonesia yang sangat terkontaminasi dikeluarkan dari penelitian ini, rata-rata orang dewasa masih bisa mengonsumsi ratusan mikroplastik setiap tahun<sup>[5]<\/sup>.<\/p>\n<p>\u201cTemuan menunjukkan bahwa konsumsi mikroplastik manusia melalui produk laut sangat terkait dengan emisi plastik di wilayah tertentu,\u201d kata Profesor Seung-Kyu Kim. \u201cUntuk membatasi paparan terhadap mikroplastik, langkah-langkah pencegahan diperlukan, seperti mengendalikan pelepasan sampah dari sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik dan yang lebih penting, mengurangi sampah plastik,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Awal bulan ini, Greenpeace bersama dengan koalisi Break Free From Plastic merilis laporan yang menyebut Coca-Cola, PepsiCo, dan Nestl\u00e9 sebagai sejumlah perusahaan yang kemasannya masih bergantung pada plastik sekali pakai yang mencemari lautan dan saluran air kita secara global<sup>[6]<\/sup>.<\/p>\n<h3>Catatan:<\/h3>\n<ol>\n<li>Kim, Ji-Su et al. (2018) <a href=\"https:\/\/pubs.acs.org\/doi\/10.1021\/acs.est.8b04180\">Global Pattern of Microplastics (MPs) in Commercial Food-Grade Salts: Sea Salt as an Indicator of Seawater MP Pollution<\/a>. Environmental Science &amp; Technology. DOI: 10.1021\/acs.est.8b04180.<\/li>\n<li>Sebanyak 39 sampel garam berasal dari 21 negara\/wilayah \u2013 Australia, Belarus, Brasil, Bulgaria, China daratan, Kroasia, Perancis, Jerman, Hungaria, India, Indonesia, Italia, Korea, Pakistan, Filipina, Senegal, Taiwan, Thailand, UK, US, dan Vietnam. Berdasarkan lokasi produksi dan bahan mentah, sampel produk garam terdiri dari 28 garam laut dari 16 negara\/wilayah, 9 garam batu dari 8 negara\/wilayah, dan 2 garam danau dari 2 negara\/wilayah.<\/li>\n<li>Hanya 3 merek yang diinvestigasi \u2013 Taiwan (garam laut yang dimurnikan), China daratan (garam batu yang dimurnikan), Perancis (garam laut yang tidak dimurnikan yang diproduksi dengan evaporasi sinar matahari) \u2013 tidak mengandung partikel mikroplastik di kedua sampel replikasi. Sampel garam lainnya mengandung partikel mikroplastik.<\/li>\n<li>Jambeck, J.R. et al. (2015) <a href=\"http:\/\/science.sciencemag.org\/content\/347\/6223\/768\">Plastic waste inputs from land into the ocean<\/a>. Science. Vol. 347, issue 6223, p. 768-771.<\/li>\n<li>Konten mikroplastik dalam merek-merek garam bervariasi dengan cukup berbeda dan terbilang tinggi di Asia. Berdasarkan konten mikroplastik rata-rata yakni 506 mikroplastik\/kg untuk semua sampel garam termasuk sampel dari Indonesia, diperkirakan seorang dewasa mengonsumsi sekitar 2.000 mikroplastik per tahun melalui garam.<\/li>\n<li>Break Free From Plastic adalah sebuah gerakan global yang memiliki visi masa depan yang bebas dari sampah plastik. Laporan audit merek BFFP bisa ditemukan <a href=\"https:\/\/www.breakfreefromplastic.org\/globalbrandauditreport2018\/\">di sini.<\/a><\/li>\n<\/ol>\n<h3>Foto:<\/h3>\n<p><a href=\"https:\/\/media.greenpeace.org\/collection\/27MZIFJWSZ6SV\">https:\/\/media.greenpeace.org\/collection\/27MZIFJWSZ6SV<\/a><\/p>\n<h3>Kontak Media:<\/h3>\n<p><strong>Greenpeace Asia Timur<\/strong>, Tim Komunikasi Seoul , email <a href=\"mailto:press.kr@greenpeace.org\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">press.kr@greenpeace.org<\/a>, telp +82 (0) 10 7712 3144<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><strong>Greenpeace International Press Desk<\/strong>, email <a href=\"mailto:pressdesk.int@greenpeace.org\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">pressdesk.int@greenpeace.org<\/a>, telp +31 (0) 20 718 2470 (tersedia 24 jam)<\/p>\n<div class=\"EmptyMessage\">Block content is empty. Check the block&#8217;s settings or remove it.<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p> Lebih dari 90% merek garam yang disampel secara global ditemukan mengandung mikroplastik, di mana jumlah tertinggi berasal dari sampel garam yang bersumber di Asia.<\/p>\n","protected":false},"author":49,"featured_media":2024,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[23],"p4-page-type":[14],"class_list":["post-1747","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ciptakan-perubahan","tag-pantang-plastik","p4-page-type-siaran-pers"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Lebih dari 90% Merek Garam yang Disampel Secara Global Ditemukan Mengandung Mikroplastik - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Lebih dari 90% Merek Garam yang Disampel Secara Global Ditemukan Mengandung Mikroplastik - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Lebih dari 90% merek garam yang disampel secara global ditemukan mengandung mikroplastik, di mana jumlah tertinggi berasal dari sampel garam yang bersumber di Asia.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-10-18T17:00:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-12-01T12:31:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/c0482496-gp0stqbdh.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/\"},\"author\":{\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\"},\"headline\":\"Lebih dari 90% Merek Garam yang Disampel Secara Global Ditemukan Mengandung Mikroplastik\",\"datePublished\":\"2018-10-18T17:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2021-12-01T12:31:33+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/\"},\"wordCount\":658,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"PantangPlastik\"],\"articleSection\":[\"Ciptakan Perubahan\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/\",\"name\":\"Lebih dari 90% Merek Garam yang Disampel Secara Global Ditemukan Mengandung Mikroplastik - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2018-10-18T17:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2021-12-01T12:31:33+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Lebih dari 90% Merek Garam yang Disampel Secara Global Ditemukan Mengandung Mikroplastik\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"sameAs\":[\"http:\/\/www.greenpeace.or.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Lebih dari 90% Merek Garam yang Disampel Secara Global Ditemukan Mengandung Mikroplastik - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Lebih dari 90% Merek Garam yang Disampel Secara Global Ditemukan Mengandung Mikroplastik - Greenpeace Indonesia","og_description":"Lebih dari 90% merek garam yang disampel secara global ditemukan mengandung mikroplastik, di mana jumlah tertinggi berasal dari sampel garam yang bersumber di Asia.","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2018-10-18T17:00:00+00:00","article_modified_time":"2021-12-01T12:31:33+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":800,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/02\/c0482496-gp0stqbdh.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Greenpeace Indonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Greenpeace Indonesia","Est. reading time":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/"},"author":{"name":"Greenpeace Indonesia","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe"},"headline":"Lebih dari 90% Merek Garam yang Disampel Secara Global Ditemukan Mengandung Mikroplastik","datePublished":"2018-10-18T17:00:00+00:00","dateModified":"2021-12-01T12:31:33+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/"},"wordCount":658,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["PantangPlastik"],"articleSection":["Ciptakan Perubahan"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/","name":"Lebih dari 90% Merek Garam yang Disampel Secara Global Ditemukan Mengandung Mikroplastik - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2018-10-18T17:00:00+00:00","dateModified":"2021-12-01T12:31:33+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/1747\/lebih-dari-90-merek-garam-yang-disampel-secara-global-ditemukan-mengandung-mikroplastik\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Lebih dari 90% Merek Garam yang Disampel Secara Global Ditemukan Mengandung Mikroplastik"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe","name":"Greenpeace Indonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","caption":"Greenpeace Indonesia"},"sameAs":["http:\/\/www.greenpeace.or.id"],"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1747","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/49"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1747"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1747\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":45752,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1747\/revisions\/45752"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2024"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1747"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1747"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1747"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=1747"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}