{"id":2802,"date":"2019-05-07T14:10:36","date_gmt":"2019-05-07T07:10:36","guid":{"rendered":"https:\/\/master.k8s.p4.greenpeace.org\/indonesia\/?p=2802"},"modified":"2021-12-01T19:31:25","modified_gmt":"2021-12-01T12:31:25","slug":"hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/","title":{"rendered":"Hilangnya Keanekaragaman Hayati: Kebutuhan Mendesak Melindungi Hutan dan Laut serta Perubahan Pola Makan"},"content":{"rendered":"<p><b>Paris, 6 Mei 2019.<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Laporan PBB tentang keanekaragaman hayati memperingatkan hilangnya spesies secara besar-besaran, akibat ulah manusia, mengharuskan untuk mulai mengambil tindakan segera demi melindungi hutan dan lautan di seluruh dunia, serta melakukan perubahan besar-besaran dalam sektor pertanian, produksi pangan \u00a0dan konsumsi pangan.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-2803 size-full\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/3d35fd6e-gp02164_web_size.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"533\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/3d35fd6e-gp02164_web_size.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/3d35fd6e-gp02164_web_size-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/3d35fd6e-gp02164_web_size-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/3d35fd6e-gp02164_web_size-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah laporan penilaian global tentang keanekaragaman hayati dan ekosistem dari Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) memperingatkan bahwa 1 juta spesies dalam resiko kepunahan, yang bisa terjadi kapan pun dalam sejarah manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Laporan tersebut memaparkan bahwa sebagian besar target global 2020 untuk perlindungan alam yang diuraikan dalam Rencana Strategis untuk Keanekaragaman Hayati (target keanekaragaman hayati Aichi) tidak akan terpenuhi, mengabaikan \u00a0setengah dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jurukampanye hutan dan iklim Greenpeace Jerman, Dr Christoph Thies mengatakan:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIni adalah realitas sebuah kehancuran. Pemerintah harus mulai menempatkan manusia dan planet di atas kepentingan perusahaan dan keserakahan serta bertindak sesuai dengan urgensi tuntutan dalam laporan ini. Para pemimpin harus mengadopsi target dan rencana implementasi yang kuat untuk melindungi keanekaragaman hayati dengan partisipasi dan persetujuan Masyarakat Adat dan komunitas lokal pada KTT (COP15) tahun depan yang akan digelar di Tiongkok. Mengambil keuntungan yang menjerumuskan alam ke jurang, menempatkan kelangsungan hidup kita sendiri dalam bahaya karena eksploitasi alam berlebihan serta semakin memburuknya perubahan iklim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLaporan ini bukan sembarang seruan untuk bertindak. Ini adalah teguran terbaru dari sekian banyak \u00a0peringatan dan jika kita tidak berhati-hati, maka hilangnya keanekaragaman hayati tidak dapat diubah. Konservasi dan restorasi keanekaragaman hayati dapat memainkan peran besar sebagai solusi iklim alami dan sudah saatnya kita memerangi perubahan iklim dengan melindungi alam yang menopang kita.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHutan, lahan gambut dan ekosistem laut pesisir harus dilindungi atau dipulihkan. Menggabungkan konservasi keanekaragaman hayati dengan pengurangan emisi CO2 drastis dan peningkatan penyimpanan karbon di alam dapat berkontribusi secara signifikan untuk membatasi pemanasan global menjadi 1,5C. Ini adalah tindakan penting dan segera yang dapat membantu kita kembali keluar jurang. \u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Laporan IPBES menemukan bahwa 66% lautan banyak mengalami gangguan \u00a0dari manusia, dan biota laut terkena dampak yang parah. Laporan ini memperingatkan bahwa kekayaan kehidupan di laut sedang mengalami penurunan, membatasi kemampuan laut dalam memberikan keamanan pangan serta perlindungan terhadap perubahan iklim.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-2804 size-full\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/68cfc58c-gp04lcc_web_size.jpg\" alt=\"\" width=\"799\" height=\"551\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/68cfc58c-gp04lcc_web_size.jpg 799w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/68cfc58c-gp04lcc_web_size-300x207.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/68cfc58c-gp04lcc_web_size-768x530.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/68cfc58c-gp04lcc_web_size-493x340.jpg 493w\" sizes=\"auto, (max-width: 799px) 100vw, 799px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Louisa Casson Jurukampanye Perlindungan Laut Greenpeace mengatakan:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLautan kita menopang semua kehidupan di Bumi. Namun sebagian besar kolaborasi internasional belum berfokus pada cara-cara untuk mengeksploitasi kehidupan laut dan lingkungan bersama yang berharga ini. Alih-alih menjarah laut untuk keuntungan jangka pendek, pemerintah harus menempatkan kesetaraan dan keberlanjutan sebagai inti dari pendekatan mereka terhadap lautan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Laporan itu menegaskan bahwa mekanisme yang ada untuk melindungi lautan kita tidak berfungsi. Saat ini, hanya 1 persen dari laut global yang dilindungi dan tidak ada instrumen hukum yang memungkinkan penciptaan tempat perlindungan di perairan internasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kita membutuhkan Perjanjian Global tentang Laut untuk melindungi setidaknya 30 persen dari lautan global kita pada tahun 2030. Ini adalah kesempatan unik bagi pemerintah untuk bekerja sama untuk melindungi kehidupan, untuk memastikan keamanan pangan bagi jutaan orang dan untuk menciptakan lautan sehat yang menjadi milik kita. sekutu terbaik melawan perubahan iklim. &#8220;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Laporan IPBES telah memperingatkan bahwa pendorong utama perubahan alam, seperti perubahan penggunaan lahan, eksploitasi organisme, perubahan iklim, dan tingkat konsumsi telah meningkat ke tingkat tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eric Darier, Jurukampanye Pertanian dan Pangan Internasional Greenpeace mengatakan:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKami menyambut seruan untuk mengambil tindakan segera pada perubahan pola makan, bergeser lebih banyak mengkonsumsi makanan berbahan nabati, demi mengurangi konsumsi daging dan susu yang telah berdampak negatif pada keanekaragaman hayati, perubahan iklim, dan kesehatan manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSetiap peningkatan \u00a0ruang\/lahan pertanian yang diperlukan pakan ternak untuk industri peternakan adalah pendorong utama alih fungsi lahan, seperti melalui deforestasi dan perusakan habitat. Mengatur konsumsi daging dan susu harus menjadi prioritas bagi pembuat kebijakan sehingga konsumsi dan produksi daging berkurang 50% secara global pada tahun 2050. &#8220;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><b>Kontak<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Greenpeace International Press Desk: pressdesk.int@greenpeace.org, +31 (0) 20 718 2470 (available 24 hours)<\/span><\/p>\n\t\t\t<section\n\t\t\tclass=\"boxout post-943 \"\n\t\t\t\n\t\t>\n\t\t\t<a\n\t\t\t\tdata-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n\t\t\t\tdata-ga-action=\"Image\"\n\t\t\t\tdata-ga-label=\"n\/a\"\n\t\t\t\tclass=\"cover-card-overlay\"\n\t\t\t\thref=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/berdonasi-2-2\/\" \n\t\t\t><\/a>\n\t\t\t\t\t\t\t<img\n\t\t\t\t\t\tsrc=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/07\/0e12d16e-screen-shot-2019-07-22-at-18.24.50.png\"\n\t\t\t\t\t\tsrcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/07\/0e12d16e-screen-shot-2019-07-22-at-18.24.50-300x200.png 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/07\/0e12d16e-screen-shot-2019-07-22-at-18.24.50-510x340.png 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/07\/0e12d16e-screen-shot-2019-07-22-at-18.24.50.png 521w\"\n\t\t\t\t\t\tsizes=\"(min-width: 1000px) 358px, (min-width: 780px) 313px, 88px\"\n\t\t\t\t\t\talt=\"\" title=\"\"\n\t\t\t\t\/>\n            \t\t\t<div class=\"boxout-content\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<a\n\t\t\t\t\t\tclass=\"boxout-heading medium\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-action=\"Title\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-label=\"n\/a\"\n\t\t\t\t\t\thref=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/berdonasi-2-2\/\"\n\t\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t>\n\t\t\t\t\t\tBerdonasi\n\t\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"boxout-excerpt\">Kamu dapat membela lingkungan sepanjang hidupmu. Atau bahkan lebih lama dari itu. Berdonasilah hari ini.<\/p>\n\t\t\t\t                                    <a\n                        class=\"btn btn-primary\"\n                        data-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n                        data-ga-action=\"Call to Action\"\n                        data-ga-label=\"n\/a\"\n                        href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/berdonasi-2-2\/\"\n                        \n                    >\n                        Ikut Beraksi\n                    <\/a>\n                \t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/section>\n\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebuah laporan penilaian global tentang keanekaragaman hayati dan ekosistem dari Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) memperingatkan bahwa 1 juta spesies dalam resiko kepunahan, yang bisa terjadi kapan pun dalam sejarah manusia.<\/p>\n","protected":false},"author":44,"featured_media":2804,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[6,19,20],"p4-page-type":[14],"class_list":["post-2802","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lindungi","tag-iklim","tag-hutan","tag-laut","p4-page-type-siaran-pers"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Hilangnya Keanekaragaman Hayati: Kebutuhan Mendesak Melindungi Hutan dan Laut serta Perubahan Pola Makan - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Hilangnya Keanekaragaman Hayati: Kebutuhan Mendesak Melindungi Hutan dan Laut serta Perubahan Pola Makan - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sebuah laporan penilaian global tentang keanekaragaman hayati dan ekosistem dari Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) memperingatkan bahwa 1 juta spesies dalam resiko kepunahan, yang bisa terjadi kapan pun dalam sejarah manusia.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-05-07T07:10:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-12-01T12:31:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/68cfc58c-gp04lcc_web_size.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"799\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"551\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Rully Yuliardi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Rully Yuliardi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/\"},\"author\":{\"name\":\"Rully Yuliardi\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3151a7596d3e40c8b958c8d1078c61d3\"},\"headline\":\"Hilangnya Keanekaragaman Hayati: Kebutuhan Mendesak Melindungi Hutan dan Laut serta Perubahan Pola Makan\",\"datePublished\":\"2019-05-07T07:10:36+00:00\",\"dateModified\":\"2021-12-01T12:31:25+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/\"},\"wordCount\":625,\"commentCount\":1,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Iklim\",\"Hutan\",\"Laut\"],\"articleSection\":[\"Lindungi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/\",\"name\":\"Hilangnya Keanekaragaman Hayati: Kebutuhan Mendesak Melindungi Hutan dan Laut serta Perubahan Pola Makan - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2019-05-07T07:10:36+00:00\",\"dateModified\":\"2021-12-01T12:31:25+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Hilangnya Keanekaragaman Hayati: Kebutuhan Mendesak Melindungi Hutan dan Laut serta Perubahan Pola Makan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3151a7596d3e40c8b958c8d1078c61d3\",\"name\":\"Rully Yuliardi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9cd53578b62c04910837938f56a86f1e8bff887cd899a465ff922ae257cec333?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9cd53578b62c04910837938f56a86f1e8bff887cd899a465ff922ae257cec333?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Rully Yuliardi\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/rachmad\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Hilangnya Keanekaragaman Hayati: Kebutuhan Mendesak Melindungi Hutan dan Laut serta Perubahan Pola Makan - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Hilangnya Keanekaragaman Hayati: Kebutuhan Mendesak Melindungi Hutan dan Laut serta Perubahan Pola Makan - Greenpeace Indonesia","og_description":"Sebuah laporan penilaian global tentang keanekaragaman hayati dan ekosistem dari Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) memperingatkan bahwa 1 juta spesies dalam resiko kepunahan, yang bisa terjadi kapan pun dalam sejarah manusia.","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2019-05-07T07:10:36+00:00","article_modified_time":"2021-12-01T12:31:25+00:00","og_image":[{"width":799,"height":551,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/68cfc58c-gp04lcc_web_size.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Rully Yuliardi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Rully Yuliardi","Est. reading time":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/"},"author":{"name":"Rully Yuliardi","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3151a7596d3e40c8b958c8d1078c61d3"},"headline":"Hilangnya Keanekaragaman Hayati: Kebutuhan Mendesak Melindungi Hutan dan Laut serta Perubahan Pola Makan","datePublished":"2019-05-07T07:10:36+00:00","dateModified":"2021-12-01T12:31:25+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/"},"wordCount":625,"commentCount":1,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Iklim","Hutan","Laut"],"articleSection":["Lindungi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/","name":"Hilangnya Keanekaragaman Hayati: Kebutuhan Mendesak Melindungi Hutan dan Laut serta Perubahan Pola Makan - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2019-05-07T07:10:36+00:00","dateModified":"2021-12-01T12:31:25+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/2802\/hilangnya-keanekaragaman-hayati-kebutuhan-mendesak-melindungi-hutan-dan-laut-serta-perubahan-pola-makan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Hilangnya Keanekaragaman Hayati: Kebutuhan Mendesak Melindungi Hutan dan Laut serta Perubahan Pola Makan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3151a7596d3e40c8b958c8d1078c61d3","name":"Rully Yuliardi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9cd53578b62c04910837938f56a86f1e8bff887cd899a465ff922ae257cec333?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9cd53578b62c04910837938f56a86f1e8bff887cd899a465ff922ae257cec333?s=96&d=mm&r=g","caption":"Rully Yuliardi"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/rachmad\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2802","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/44"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2802"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2802\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":45729,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2802\/revisions\/45729"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2804"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2802"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2802"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2802"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=2802"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}