{"id":3173,"date":"2019-07-05T13:12:28","date_gmt":"2019-07-05T06:12:28","guid":{"rendered":"https:\/\/master.k8s.p4.greenpeace.org\/indonesia\/?p=3173"},"modified":"2019-11-06T15:45:57","modified_gmt":"2019-11-06T08:45:57","slug":"laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/","title":{"rendered":"Laporan Greenpeace Terbaru Memperingatkan &#8216;Dampak yang Tidak Dapat Dipulihkan&#8217; dari Penambangan Laut Dalam"},"content":{"rendered":"<p>Lautan dunia berpotensi menghadapi kerusakan yang parah dan tidak dapat dipulihkan, kecuali standar perlindungan lingkungan yang lebih ketat diberlakukan untuk melindungi ekosistem laut dari risiko penambangan laut dalam, demikian ringkasan pesan laporan berjudul \u201cIn Deep Water,\u201d [1] yang dirilis oleh Greenpeace International.<\/p>\n<div id=\"attachment_3176\" style=\"width: 810px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-3176\" class=\"wp-image-3176 size-full\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/07\/583312fe-gp0stpmcd_web_size_with_credit_line.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"533\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/07\/583312fe-gp0stpmcd_web_size_with_credit_line.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/07\/583312fe-gp0stpmcd_web_size_with_credit_line-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/07\/583312fe-gp0stpmcd_web_size_with_credit_line-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/07\/583312fe-gp0stpmcd_web_size_with_credit_line-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><p id=\"caption-attachment-3176\" class=\"wp-caption-text\">Ubur-Ubur Scyphozoa, salah satu hewan laut yang dapat ditemukan di wilayah Arktik.<\/p><\/div>\n<p>Isi laporan menyebutkan, industri pertambangan laut dalam sebenarnya menyadari bahwa kegiatan mereka dapat mengakibatkan kepunahan spesies unik, dan mendorong pemerintah untuk menyetujui Perjanjian Laut Internasional yang kuat di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menempatkan konservasi, bukan eksploitasi, di jantung tata kelola kelautan [2].<\/p>\n<p>\u201cKesehatan laut kita terkait erat dengan kelangsungan hidup kita sendiri. Kecuali jika kita bertindak sekarang untuk melindungi mereka, penambangan laut dalam dapat memiliki konsekuensi yang buruk bagi kehidupan laut dan umat manusia,\u201d kata Louisa Casson, Jurukampanye Lindungi Laut, Greenpeace [3]. \u201cLaut dalam adalah ekosistem terbesar di planet ini dan rumah bagi makhluk-mahluk unik yang belum kita kenal seluruhnya. Industri serakah ini dapat menghancurkan keajaiban laut dalam sebelum kita berkesempatan untuk mempelajarinya.\u201d Hingga saat ini, hanya sekitar 0,0001% dari dasar laut dalam yang telah dieksplorasi atau dijadikan sampel oleh para ilmuwan.<\/p>\n<p>Laporan Greenpeace mengutip para ilmuwan, pemerintah, pencinta lingkungan, dan perwakilan dari industri perikanan, yang memperingatkan ancaman yang tak terelakkan terhadap kehidupan di seluruh wilayah lautan dunia yang luas dari mesin pertambangan dan polusi beracun, jika pemerintah mengizinkan penambangan laut dalam dimulai. Laporan ini juga menjelaskan bagaimana penambangan laut dalam dapat memperburuk perubahan iklim dengan mengganggu cadangan &#8216;karbon biru&#8217; di sedimen dasar laut.<\/p>\n<p>Meskipun penambangan laut dalam komersial belum dimulai, 29 izin eksplorasi telah diberikan kepada sejumlah negara, antara lain Cina, Korea, Inggris, Perancis, Jerman dan Rusia, mencakup area seluas 1 juta kilometer persegi di Samudra Pasifik, Atlantik dan Hindia, atau hampir dua kali luas daratan Spanyol. Anak usaha dari perusahaan senjata besar Amerika Lockheed Martin, memiliki dua lisensi eksplorasi yang disponsori oleh Inggris.<\/p>\n<p>Laporan juga menyoroti kelemahan tata kelola lautan yang terfragmentasi saat ini, dengan International Seabed Authority (ISA), sebuah badan PBB yang bertanggung jawab untuk mengatur industri pertambangan laut dalam, memprioritaskan kepentingan perusahaan di atas perlindungan laut yang kuat.<\/p>\n<p>\u201cISA tidak melindungi lautan kita. Badan ini lebih mempromosikan kepentingan industri pertambangan laut dalam dan melakukan lobi yang menentang Perjanjian Laut Internasional yang kuat,\u201d kata Louisa Casson.<\/p>\n<p>\u201cSangat penting agar pemerintah menyetujui perjanjian PBB yang lebih kuat untuk membuka jalan bagi terciptanya jaringan suaka laut yang menghentikan berbagai bentuk eksploitasi industri, termasuk penambangan laut dalam. Pemerintah juga perlu menegakkan standar lingkungan yang jauh lebih tinggi untuk kegiatan semacam itu di luar suaka laut tersebut.&#8221;<\/p>\n<p>Publikasi laporan \u201cIn Deep Water\u201d datang ketika kapal Greenpeace, Esperanza, sedang dalam perjalanan menuju Lautan Atlantik bagian tengah, di mana kapal itu akan melakukan penelitian baru di lokasi yang disebut The Lost City (Kota Yang Hilang), sebuah formasi spektakuler dari cerobong ventilasi hidrotermal aktif yang menjulang di atas dasar laut dan mungkin memegang petunjuk evolusi kehidupan [4]. Meskipun diidentifikasi oleh UNESCO memenuhi status Warisan Dunia, Kota Yang Hilang berada di bawah ancaman karena berada di area pegunungan bawah laut di Atlantik bagian tengah (Mid-Atlantic Ridge) yang termasuk dalam kontrak eksplorasi penambangan laut dalam yang diberikan oleh ISA kepada Pemerintah Polandia pada Februari 2018.<\/p>\n<p>Foto ekosistem laut dalam bisa diunduh di <a href=\"https:\/\/media.greenpeace.org\/collection\/27MZIFJ8TGMHE\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/media.greenpeace.org\/collection\/27MZIFJ8TGMHE&amp;source=gmail&amp;ust=1562308300666000&amp;usg=AFQjCNFKgN5jiuPCS5HSYzY1lHFxJwnZsg\">sini<\/a>.<\/p>\n<p>Ringkasan Eksekutif dalam Bahasa Indonesia bisa di <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/07\/1bddf6ec-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam-ringkasan-eksekutif.pdf\">sini<\/a>.<\/p>\n<p><strong>Catatan:<\/strong><br \/>\n[1] Unduh laporan \u201cIn Deep Water: the emerging threat of deep sea mining\u201d di <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/in-deep-water\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/in-deep-water&amp;source=gmail&amp;ust=1562308300666000&amp;usg=AFQjCNGDKVUgn3djpyHgArm-NaQOueBSeA\">sini<\/a>.<br \/>\n[2] Greenpeace dan para ilmuwan mendesak sebuah Perjanjian yang dapat membuat jaringan suaka lautan yang mencakup setidaknya sepertiga dari lautan global pada 2030. Untuk informasi lebih lanjut lihat <a href=\"https:\/\/greenpeace.org.uk\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Why-we-need-a-Global-Ocean-Treaty.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/greenpeace.org.uk\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Why-we-need-a-Global-Ocean-Treaty.pdf&amp;source=gmail&amp;ust=1562308300666000&amp;usg=AFQjCNEQ2YLok4hmhZrKZvuvd3p3woqgYQ\">Melindungi Samudra Global: Mengapa Kita Membutuhkan Perjanjian Laut Internasional<\/a>. <a href=\"https:\/\/www.un.org\/bbnj\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/www.un.org\/bbnj\/&amp;source=gmail&amp;ust=1562308300666000&amp;usg=AFQjCNGCN3EjQ0qQMMPQqYSkjXwy9StFwg\">Perundingan kedua dari empat putaran di PBB<\/a> menuju perjanjian yang mencakup perairan internasional berlangsung pada bulan Maret dan April tahun ini. Perundingan putaran ketiga akan berlangsung di kantor PBB di New York pada Agustus 2019, dengan proses perundingan akan ditutup dengan putaran keempat dan terakhir pada paruh pertama tahun 2020.<br \/>\n[3] Louisa Casson adalah Jurukampanye Lindungi Laut (Protect The Oceans) di Greenpeace UK.<br \/>\n[4] Ekspedisi Kutub ke Kutub: Greenpeace berlayar dari Arktik ke Antartika, melakukan penelitian dan investigasi terobosan, untuk menyoroti banyaknya ancaman yang dihadapi lautan dan untuk mengkampanyekan Perjanjian Laut Internasional yang mencakup semua lautan di luar perairan nasional. Lihat <a href=\"https:\/\/storage.googleapis.com\/planet4-international-stateless\/2019\/04\/0a5823bc-ship-tour-poster-a2.png\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/storage.googleapis.com\/planet4-international-stateless\/2019\/04\/0a5823bc-ship-tour-poster-a2.png&amp;source=gmail&amp;ust=1562308300666000&amp;usg=AFQjCNFKMC3jCmjgaab51Y-srksRecV8pQ\">di sini untuk peta rute ekspedisi kutub ke kutub<\/a>. Lihat bagian \u2018kontak\u2019 di bawah ini untuk pertanyaan ekspedisi, termasuk untuk media yang tertarik untuk bergabung dengan kapal di atas kapal.<\/p>\n<p><strong>Kontak media:<\/strong><\/p>\n<p>Julia Zanolli, Global Media Lead for the Protect the Oceans campaign, Greenpeace UK: <a>julia.zanolli@greenpeace.org<\/a>, +44 07971 769107<\/p>\n<p>Greenpeace International Press Desk: <a>pressdesk.int@greenpeace.org<\/a>, +31 (0) 20 718 2470 (available 24 hours)<\/p>\n<p>Arifsyah Nasution, Jurukampanye Laut Greenpeace Asia Tenggara, <a href=\"mailto:arifsyah.nasution@greenpeace.org\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">arifsyah.nasution@greenpeace.<wbr \/>org<\/a>, telp 0811-1400-350<\/p>\n<p>Ester Meryana, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, <a href=\"mailto:emeryana@greenpeace.org\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">emeryana@greenpeace.org<\/a>, telp 0811-1924-090<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lautan dunia berpotensi menghadapi kerusakan yang parah dan tidak dapat dipulihkan, sebagai risiko penambangan laut dalam. demikian ringkasan pesan laporan berjudul \u201cIn Deep Water,\u201d  yang dirilis oleh Greenpeace International.<\/p>\n","protected":false},"author":28,"featured_media":3176,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[20],"p4-page-type":[14],"class_list":["post-3173","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lindungi","tag-laut","p4-page-type-siaran-pers"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Laporan Greenpeace Terbaru Memperingatkan &#039;Dampak yang Tidak Dapat Dipulihkan&#039; dari Penambangan Laut Dalam - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Laporan Greenpeace Terbaru Memperingatkan &#039;Dampak yang Tidak Dapat Dipulihkan&#039; dari Penambangan Laut Dalam - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Lautan dunia berpotensi menghadapi kerusakan yang parah dan tidak dapat dipulihkan, sebagai risiko penambangan laut dalam. demikian ringkasan pesan laporan berjudul \u201cIn Deep Water,\u201d yang dirilis oleh Greenpeace International.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-07-05T06:12:28+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2019-11-06T08:45:57+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/07\/583312fe-gp0stpmcd_web_size_with_credit_line.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Medina Basaib\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Medina Basaib\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/\"},\"author\":{\"name\":\"Medina Basaib\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c\"},\"headline\":\"Laporan Greenpeace Terbaru Memperingatkan &#8216;Dampak yang Tidak Dapat Dipulihkan&#8217; dari Penambangan Laut Dalam\",\"datePublished\":\"2019-07-05T06:12:28+00:00\",\"dateModified\":\"2019-11-06T08:45:57+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/\"},\"wordCount\":783,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Laut\"],\"articleSection\":[\"Lindungi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/\",\"name\":\"Laporan Greenpeace Terbaru Memperingatkan 'Dampak yang Tidak Dapat Dipulihkan' dari Penambangan Laut Dalam - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2019-07-05T06:12:28+00:00\",\"dateModified\":\"2019-11-06T08:45:57+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Laporan Greenpeace Terbaru Memperingatkan &#8216;Dampak yang Tidak Dapat Dipulihkan&#8217; dari Penambangan Laut Dalam\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c\",\"name\":\"Medina Basaib\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Medina Basaib\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/mbasaib\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Laporan Greenpeace Terbaru Memperingatkan 'Dampak yang Tidak Dapat Dipulihkan' dari Penambangan Laut Dalam - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Laporan Greenpeace Terbaru Memperingatkan 'Dampak yang Tidak Dapat Dipulihkan' dari Penambangan Laut Dalam - Greenpeace Indonesia","og_description":"Lautan dunia berpotensi menghadapi kerusakan yang parah dan tidak dapat dipulihkan, sebagai risiko penambangan laut dalam. demikian ringkasan pesan laporan berjudul \u201cIn Deep Water,\u201d yang dirilis oleh Greenpeace International.","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2019-07-05T06:12:28+00:00","article_modified_time":"2019-11-06T08:45:57+00:00","og_image":[{"width":800,"height":533,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/07\/583312fe-gp0stpmcd_web_size_with_credit_line.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Medina Basaib","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Medina Basaib","Est. reading time":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/"},"author":{"name":"Medina Basaib","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c"},"headline":"Laporan Greenpeace Terbaru Memperingatkan &#8216;Dampak yang Tidak Dapat Dipulihkan&#8217; dari Penambangan Laut Dalam","datePublished":"2019-07-05T06:12:28+00:00","dateModified":"2019-11-06T08:45:57+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/"},"wordCount":783,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Laut"],"articleSection":["Lindungi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/","name":"Laporan Greenpeace Terbaru Memperingatkan 'Dampak yang Tidak Dapat Dipulihkan' dari Penambangan Laut Dalam - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2019-07-05T06:12:28+00:00","dateModified":"2019-11-06T08:45:57+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3173\/laporan-greenpeace-terbaru-memperingatkan-dampak-yang-tidak-dapat-dipulihkan-dari-penambangan-laut-dalam\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Laporan Greenpeace Terbaru Memperingatkan &#8216;Dampak yang Tidak Dapat Dipulihkan&#8217; dari Penambangan Laut Dalam"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c","name":"Medina Basaib","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g","caption":"Medina Basaib"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/mbasaib\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3173","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/28"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3173"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3173\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3179,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3173\/revisions\/3179"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3176"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3173"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3173"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3173"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=3173"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}