{"id":3491,"date":"2019-08-08T13:19:34","date_gmt":"2019-08-08T06:19:34","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=3491"},"modified":"2021-12-01T19:31:17","modified_gmt":"2021-12-01T12:31:17","slug":"indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/","title":{"rendered":"Briefer &#8211; Indonesia: Deforestasi Meningkat di Area-Area yang dilindungi oleh Moratorium"},"content":{"rendered":"<p><b>Konteks: <\/b><em><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah Indonesia menyatakan pada bulan Juni 2019 bahwa Moratorium Hutan dan Lahan Gambut tentang pemberian izin baru pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit, kegiatan penebangan dan pertambangan, yang diberlakukan tahun 2011 dan diperbarui setiap dua tahun sejak itu, akan dijadikan permanen. Perpanjangan moratorium terakhir sudah berakhir tanggal 17 Juli 2019. Menurut keterangan sejumlah media massa moratorium permanen yang baru tersebut telah ditandatangani tanggal 5 Agustus.<\/span><\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Moratorium tersebut memiliki banyak celah dan tidak menghasilkan perlindungan hutan atau lahan gambut jangka panjang. Analisis pemetaan Greenpeace menunjukkan bahwa dalam kenyataannya tingkat deforestasi telah meningkat di area-area yang berada di bawah moratorium sejak pemberlakuan moratorium. Analisis juga menunjukkan bahwa sepertiga area yang terbakar di Indonesia dalam periode 2015-2018 berada di kawasan moratorium. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Moratorium tersebut masih berupa instruksi presiden dan bukan regulasi yang mengikat secara hukum, proses revisi yang terus diadakan telah memungkinkan pemerintah untuk secara diam-diam menghapus jutaan hektar hutan primer dan lahan gambut yang semestinya dilindungi dan malah menjadi terbuka untuk dieksploitasi perusahaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun di satu sisi pemerintah mengklaim mereka tidak main-main dengan perlindungan hutan, namun, di sisi lain pemerintah terus membagikan tanah kepada perusahaan untuk dieksploitasi. Awal bulan Juli 2019, Presiden Jokowi bahkan mendesak menteri kehutanan untuk mempercepat proses penerbitan izin di kawasan hutan bagi perusahaan.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Sementara itu, regulasi-regulasi lahan gambut yang baru yang diberlakukan tak lama setelah pemilu 2019 selesai semakin memperlemah perlindungan lahan gambut yang ada, yang membawa risiko semakin maraknya pengeringan lahan gambut, kebakaran dan emisi gas rumah kaca.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0 Regulasi-regulasi yang baru ini sangat kontras dengan klaim-klaim Presiden Jokowi sebelumnya bahwa seluruh lahan gambut di Indonesia perlu dilindungi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td>\n<p style=\"text-align: center;\"><b><i>\u201cLahan gambut tidak boleh disepelekan, mereka harus dilindungi karena membentuk sebuah ekosistem khusus, dan tidak hanya gambut dalam yang harus dilindungi, tapi semua area gambut\u201d, Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia<\/i><\/b><b> (November 2014). <\/b><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<h3><b>Metodologi analisis pemetaan Kajian Greenpeace atas Moratorium Hutan Indonesia<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seluruh area di bawah moratorium telah kehilangan 2,5 juta ha hutan primer sejak tahun 2002. Dalam tujuh tahun sebelum moratorium diumumkan (2005-2011) total deforestasi di area-area ini adalah 800.000 ha. Dalam tujuh tahun sejak pemberlakuannya (2012-2018), total deforestasi menjadi 1,2 juta ha. Tingkat deforestasi tahunan rata-rata di area-area ini adalah 97.000 ha untuk periode 2005-2011, naik menjadi 137.000 ha untuk 2012-2018. Meskipun terjadi penurunan signifikan dalam deforestasi pada tahun 2018 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya untuk periode tersebut (turun menjadi 112.000 ha untuk tahun itu), tingkat deforestasi ini masih lebih tinggi dari deforestasi rata-rata di area-area ini sebelum pemberlakuan moratorium. Hal ini menunjukkan bahwa klaim publik baru-baru ini tentang membaiknya tata kelola di area-area yang dilindungi (seperti area-area di bawah moratorium) merupakan klaim yang prematur. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari total 65,9 juta ha area moratorium, 51,3 juta ha atau sekitar 78 %\u00a0 <\/span><b>telah dilindungi oleh regulasi-regulasi lain, jadi hanya 14,6 juta hektar hutan dan lahan gambut yang dilindungi di bawah moratorium.<\/b><\/p>\n<p><b>Area moratorium direvisi oleh pemerintah setiap enam bulan. Analisis Greenpeace terhadap perubahan area dalam peta indikatif dalam periode 2011-2018 menemukan bahwa 4,5 juta hektar area hutan dan lahan gambut yang kaya karbon telah dihapus dari peta, dan 5,3 juta hektar dimasukkan ke dalam moratorium di area-area lain.\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Analisis Greenpeace mengungkapkan bahwa 1,6 juta ha dari total 4,5 juta ha yang dihapus dari area moratorium yang asli telah diberikan izin untuk perkebunan kelapa sawit, kayu pulp, penebangan hutan dan pertambangan. <\/span><b>Izin-izin ini diberikan di hutan primer atau lahan gambut.<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Selain itu, Greenpeace mendapati bahwa antara tahun 2012 dan 2017, 1 juta ha area yang telah ditambahkan ke moratorium kemudian dihapus lagi akibat revisi yang terus dilakukan. Revisi reguler yang selama ini biasa dilakukan terhadap moratorium akan terus berlanjut bahkan setelah moratorium dijadikan permanen oleh Pemerintah.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3493 size-full\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/6b943c2c-screen-shot-2019-08-08-at-13.14.09.png\" alt=\"\" width=\"662\" height=\"356\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/6b943c2c-screen-shot-2019-08-08-at-13.14.09.png 662w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/6b943c2c-screen-shot-2019-08-08-at-13.14.09-300x161.png 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/6b943c2c-screen-shot-2019-08-08-at-13.14.09-510x274.png 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 662px) 100vw, 662px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keterangan peta: MORATORIUM HUTAN DAN LAHAN GAMBUT<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">REVISI 15 PAPUA 2018<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">REVISI 15 MORATORIUM HUTAN DAN LAHAN GAMBUT<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(HIJAU TUA) = PERLINDUNGAN GANDA<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(HIJAU LEBIH MUDA) = PERLINDUNGAN TUNGGAL<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(HIJAU MUDA) = HUTAN PRIMER YANG TIDAK TERLINDUNGI 2018<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Moratorium hutan Indonesia ini tidak memiliki kriteria lingkungan yang layak, misalnya area Nilai Konservasi Tinggi (NKT) dan Stok Karbon Tinggi (SKT), kehutanan sosial, keanekaragaman hayati, kerentanan terhadap bencana alam, dsb. Akibatnya, banyak area yang sebelumnya dilindungi di Sumatera dan Kalimantan kini telah dihapus dan dialokasikan kembali di Papua. Dengan menambahkan area-area moratorium baru di Papua tanpa kriteria yang jelas dan tanpa pertimbangan terhadap hak atas tanah setempat, moratorium ini dapat menimbulkan konflik karena area moratorium menjadi tumpang tindih dengan area di mana hak penggunaan adat harus didahulukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td>\n<p style=\"text-align: center;\"><b><i>Analisis pemetaan Greenpeace menunjukkan bahwa masih ada 33,3 juta ha hutan primer yang terbuka untuk pembangunan, dan juga lebih dari 6,5 juta ha lahan gambut, yang sebagian juga masih berhutan. Ini adalah area-area hutan primer dan lahan gambut yang tidak dimasukkan dalam moratorium dan yang masih berisiko mengalami deforestasi dan pengeringan gambut.<\/i><\/b><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Deforestasi di Indonesia telah meningkat di tahun-tahun belakangan. Namun, penjelasannya rumit dan faktor-faktor yang mempengaruhi termasuk\u00a0 kondisi cuaca yang telah menyebabkan tingkat kebakaran hutan yang lebih rendah sepanjang periode 2016-2019 dan turunnya harga minyak kelapa sawit. Analisis Greenpeace menunjukkan bahwa perbaikan tata kelola di area-area yang dilindungi bukanlah salah satu faktor signifikan dalam penurunan deforestasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama periode tahun 2017-2018, Greenpeace menemukan bahwa terjadi sedikit peningkatan hilangnya hutan primer di Papua di area moratorium. Karenanya, Greenpeace berpendapat bahwa moratorium bukanlah alat yang efektif untuk mengkonsolidasikan penurunan deforestasi. Selain itu, selama periode moratorium (2011 &#8211; 2018), analisis Greenpeace menunjukkan bahwa total deforestasi di area moratorium mencapai 1,2 juta ha, sedangkan total deforestasi Indonesia (di dalam dan di luar area moratorium) mencapai 4,38 juta ha \u2013 yang berarti bahwa deforestasi di area moratorium setara dengan 27,4% dari keseluruhan deforestasi yang terjadi di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3492 size-full\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/191ba6f0-screen-shot-2019-08-08-at-13.14.00.png\" alt=\"\" width=\"672\" height=\"297\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/191ba6f0-screen-shot-2019-08-08-at-13.14.00.png 672w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/191ba6f0-screen-shot-2019-08-08-at-13.14.00-300x133.png 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/191ba6f0-screen-shot-2019-08-08-at-13.14.00-510x225.png 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 672px) 100vw, 672px\" \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">JUDUL GRAFIK = HILANGNYA HUTAN PRIMER 2002-2018 DI DALAM AREA MORATORIUM REVISI 1-15 DI INDONESIA<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">GARIS MERAH = SELURUH MORATORIUM<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">GARIS HIJAU = SUDAH TIDAK DI BAWAH MORATORIUM<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">GARIS BIRU = MASIH DI BAWAH MORATORIUM<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkait masalah kebakaran hutan, analisis Greenpeace menemukan bahwa antara tahun 2015 dan bulan Juli 2018 total area yang terbakar mencapai 3,4 juta hektar. Dari itu, lebih dari 1 juta hektar berada di area moratorium, terutama di Kalimantan Tengah, Papua dan Sumatera Selatan serta Riau. Selama kebakaran hutan tahun 2015, ada 2,6 juta hektar area terbakar, di mana 700.000 hektar di antaranya berada di area moratorium.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Analisis Greenpeace pada data tahun 2019 (Januari-Juli 2019), menunjukan bahwa 25% dari semua titik api (FHS) berada di area moratorium. Awal bulan Agustus, ada enam provinsi yang menyatakan keadaan darurat akibat memburuknya kebakaran hutan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terbitnya baru-baru ini Peraturan Menteri No.10\/2019 tentang Penentuan, Penetapan dan Pengelolaan Puncak Kubah Gambut Berbasis Kesatuan Hidrologis Gambut merupakan ancaman tambahan bagi lahan gambut Indonesia. Peraturan baru ini mengizinkan pemegang konsesi untuk terus mengeksploitasi area dan melemahkan upaya untuk melindungi\u00a0 dan meningkatkan pengelolaan lahan gambut di Indonesia. Peraturan tersebut membawa pesan yang salah bahwa pengeringan sejumlah tertentu lahan gambut masih dapat diterima. Setiap pengeringan lahan gambut akan menghasilkan penurunan permukaan lahan gambut sebesar beberapa sentimeter setiap tahunnya dan menyebabkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) serta meningkatkan risiko kebakaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari perspektif hukum, moratorium ini lemah karena hanya berupa Instruksi Presiden (Inpres), yang tidak memiliki kekuatan sanksi atau penegakan hukum. Pergeseran moratorium menjadi larangan permanen atas alokasi konsesi baru pada hutan primer dan lahan gambut juga hanya berbentuk Inpres, menunjukkan kurangnya komitmen politik dari Presiden atau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan menunjukkan bahwa kawasan hutan serta lahan gambut akan terus dihapus dari status perlindungan berdasarkan kepentingan ekonomi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Presiden yang baru terpilih kembali, Jokowi sekarang mendukung investasi skala besar &#8211; sebagaimana dinyatakan dalam pidato politik terbarunya. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Jokowi dengan jelas menyatakan bahwa prioritasnya adalah infrastruktur dan pembangunan, pengembangan sumber daya manusia, investasi dan reformasi birokrasi sambil memastikan efisiensi penggunaan anggaran negara. Presiden menyatakan bahwa beliau akan menjadikan Indonesia sebagai negara yang menarik untuk investasi karena investor adalah kunci pembangunan. Untuk ini, beliau mengatakan tidak akan ragu-ragu untuk \u201cmengejar, mengontrol, memeriksa dan menghajar\u201d siapa saja atau lembaga apa pun yang cuma menjadi penghalang investasi. Pernyataan politik seperti ini menunjukkan bahwa perlindungan hutan dan lahan gambut masih belum merupakan prioritas.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3498 size-large\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/75ce3da6-gp0stqyln-1024x683.jpg\" alt=\"Forest Fires in Riau. \u00a9 Greenpeace\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/75ce3da6-gp0stqyln-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/75ce3da6-gp0stqyln-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/75ce3da6-gp0stqyln-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/75ce3da6-gp0stqyln-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/75ce3da6-gp0stqyln.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/p>\n<p><b>\u00a0<\/b><\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td>\n<p style=\"text-align: center;\"><b>\u201cBerkaitan dengan investasi, mungkin sudah berapa puluh kali kita sampaikan. Investasi yang berkaitan dengan ekspor, berkaitan dengan barang-barang substitusi impor, tutup mata berikan izin secepat-cepatnya. Tapi, kejadian yang ada di lapangan tidak seperti itu. Dari Kementerian Kehutanan misalnya, masih lama, ini urusan lahan\u201d<\/b><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan analisis di atas, Greenpeace berkesimpulan bahwa Pemerintah Indonesia tidak serius dalam menangani perlindungan hutan dan lahan gambut sebagai tulang punggung penurunan emisi GRK dan pembatasan kenaikan temperatur bumi sebesar 1.5\u00baC. Penggunaan lahan dan emisi kebakaran hutan dan lahan gambut menyumbang 63% dari emisi yang dinyatakan Indonesia. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Menghentikan deforestasi dan pengeringan lahan gambut adalah masalah yang amat penting.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengingat lemahnya implementasi moratorium dan prioritas \u00a0 Presiden yang dinyatakan secara eksplisit, Indonesia tidak akan mampu mempertahankan\u00a0 target pengurangan emisi global sebesar 29-41% yang dicanangkannya. Lebih jauh, melemahkan kredibilitas dan efektivitas tindakan pemerintah lebih lanjut tentang perlindungan hutan dan lahan gambut adalah tidak adanya data publik yang transparan, termasuk peta, yang mencakup deforestasi, degradasi, penerbitan lisensi dan emisi. Data tersebut sangat penting untuk akuntabilitas publik dan tidak adanya transparansi telah menyebabkan inkonsistensi data, kurangnya keterlibatan pemangku kepentingan utama dan menimbulkan banyak pertanyaan tentang keakuratan data.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Greenpeace berpendapat bahwa, dalam menjadikan moratorium permanen, presiden perlu memperluas penugasan moratorium untuk mewujudkan nol deforestasi di semua hutan termasuk nol kebakaran hutan, dan nol pengeringan lahan gambut baru. Moratorium permanen juga harus mengurangi emisi GRK dan risiko kebakaran yang memerlukan rencana untuk membasahi kembali lahan gambut yang dikeringkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, dalam menjadikan moratorium permanen dan efektif, pemerintah harus: (1) mengintegrasikan peta hutan dan lahan gambut tematik dan berkorelasi (kualitas baik) melalui inisiatif Satu Peta yang dapat diakses publik, (2) proses tersebut harus partisipatif dengan melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pendefinisian (kajian izin dan revisi perencanaan tata ruang), pemantauan dan penerapan transparansi proses moratorium, (3) mempertimbangkan lanskap hutan utuh, karakter ekosistem gambut, masyarakat setempat\/ adat dan konservasi hutan sukarela, (dalam bentuk area hutan bernilai konservasi tinggi (NKT) dan area hutan stok karbon tinggi (SKT) (4) memperluas cakupan moratorium berdasarkan data yang aktual dan akurat terutama dalam melindungi ke-34 juta hektar hutan primer di luar area moratorium untuk mencapai nol deforestasi pada tahun 2020 dan (5) memperkuat regulasi moratorium dan menerapkan penegakan hukum yang serius.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah Indonesia meyakini bahwa moratorium adalah alat yang efektif untuk mengurangi deforestasi, sebuah kendaraan untuk mencapai targetnya dalam mengurangi emisi global. Dengan implementasi moratorium saat ini, moratorium permanen yang akan datang tidak akan menyelesaikan masalah Indonesia dalam menangani perlindungan lingkungan terutama atas area hutan dan lahan gambut. Dibutuhkan perubahan mendasar dalam cara moratorium dilaksanakan, seperti pendekatan ke peta indikatif, memperkuat dasar hukum moratorium (penegakan hukum) dan transparansi data dan informasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<h3><b>Metodologi analisis pemetaan<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Analisis Greenpeace Asia Tenggara menghitung tutupan hutan dan hilangnya hutan di dalam dan di luar semua area yang pernah dimasukkan dalam moratorium pemerintah setiap tahunnya di periode 2002-2018. Karena data tutupan hutan yang disediakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia (KLHK) tidak konsisten dan tidak disediakan dalam format yang dapat diproses dalam perangkat lunak SIG, Greenpeace Indonesia menggunakan data yang disediakan oleh Universitas Maryland (UMD) yang konsisten di sepanjang periode analisis. UMD menyediakan data tentang &#8216;hutan primer&#8217;, yang didefinisikan sebagai \u2018tutupan hutan tropis lembab alami matang yang belum sepenuhnya ditebangi dan ditanam kembali dalam riwayat terakhir&#8217;. &#8216;Riwayat terakhir&#8217; menunjukkan periode catatan satelit, yaitu 30+ tahun. Data tutupan dan hilangnya hutan primer UMD mencakup area hutan yang telah menjadi sasaran penebangan selektif. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara substansi, definisi &#8216;hutan primer&#8217; UMD lebih luas daripada yang digunakan oleh KLHK,<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0 termasuk area luas yang oleh KLHK digolongkan sebagai hutan sekunder. Untuk tahun 2017, luas menurut UMD mencakup 85,2 juta ha, mendekati angka 93,9 juta ha pada 2017 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang diberikan KLHK untuk total luas hutan Indonesia, yang terdiri dari 46,1 juta ha hutan primer dan 43,1 juta ha hutan sekunder menurut definisi KLHK.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Data UMD juga digunakan oleh WRI untuk analisis hilangnya hutan primer di Indonesia awal tahun ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pandangan Greenpeace adalah bahwa dari perspektif iklim maupun keanekaragaman hayati, perbedaan antara tipe hutan tidaklah relevan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Catatan:<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/read\/detail\/251584-menteri-lhk-presiden-teken-moratorium-hutan-permanen\">https:\/\/mediaindonesia.com\/read\/detail\/251584-menteri-lhk-presiden-teken-moratorium-hutan-permanen<\/a><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Total area terbakar di periode 2015-2018 menurut data resmi KLHK adalah 3.404.22,82 ha (Ada kesalahan tulis dalam pembagian angka ribuannya). Total area terbakar di dalam area moratorium adalah 1.032.762,63 hektar<\/span><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/ekonomi\/20190708154915-532-410196\/dorong-investasi-jokowi-ingin-tutup-mata-beri-izin\">https:\/\/www.cnnindonesia.com\/ekonomi\/20190708154915-532-410196\/dorong-investasi-jokowi-ingin-tutup-mata-beri-izin<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/news.mongabay.com\/2019\/07\/dangerous-new-regulation-puts-indonesias-carbon-rich-peatlands-at-risk\/\">https:\/\/news.mongabay.com\/2019\/07\/dangerous-new-regulation-puts-indonesias-carbon-rich-peatlands-at-risk\/<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/news.mongabay.com\/2014\/11\/indonesia-to-audit-licenses-of-palm-oil-companies-that-clear-peatlands\/\">https:\/\/news.mongabay.com\/2014\/11\/indonesia-to-audit-licenses-of-palm-oil-companies-that-clear-peatlands\/<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/blog.globalforestwatch.org\/data-and-research\/world-lost-belgium-sized-area-of-primary-rainforests-last-year\">https:\/\/blog.globalforestwatch.org\/data-and-research\/world-lost-belgium-sized-area-of-primary-rainforests-last-year<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/abcnews.go.com\/International\/wireStory\/indonesia-steps-response-massive-forest-fires-64702943\">https:\/\/abcnews.go.com\/International\/wireStory\/indonesia-steps-response-massive-forest-fires-64702943<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2019\/07\/14\/20322301\/pidato-visi-indonesia-jokowi-ancam-hajar-pungli-dan-penghambat-investasi\">https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2019\/07\/14\/20322301\/pidato-visi-indonesia-jokowi-ancam-hajar-pungli-dan-penghambat-investasi<\/a><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Jokowi Perintahkan Menteri LHK Beri Izin Lahan Sambil Tutup Mata <\/span><a href=\"https:\/\/kbr.id\/nasional\/07-2019\/jokowi_perintahkan_menteri_lhk_beri_izin_lahan_sambil_tutup_mata\/99835.html\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/kbr.id\/nasional\/07-2019\/jokowi_perintahkan_menteri_lhk_beri_izin_lahan_sambil_tutup_mata\/99835.html<\/span><\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www4.unfccc.int\/sites\/submissions\/INDC\/Published%20Documents\/Indonesia\/1\/INDC_REPUBLIC%20OF%20INDONESIA.pdf\">https:\/\/www4.unfccc.int\/sites\/submissions\/INDC\/Published%20Documents\/Indonesia\/1\/INDC_REPUBLIC%20OF%20INDONESIA.pdf<\/a><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Turubanova, S., Potapov, P.V., Tyukavina, A., Hansen, M.C., 2018. Hilangnya hutan primer saat ini di Brasil, Republik Demokratik Kongo, dan Indonesia. Environ. Res. Lett. 13, 074028.<\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1088\/1748-9326\/aacd1c\"><span style=\"font-weight: 400;\"> https:\/\/doi.org\/10.1088\/1748-9326\/aacd1c<\/span><\/a><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0KLHK mendefinisikan hutan primer sebagai \u2018area hutan yang tidak (atau belum begitu) terpengaruh oleh aktivitas manusia atau penebangan\u2019, sementara hutan sekunder \u2018menunjukkan bekas-bekas penebangan yang ditandai oleh pola-pola dan bekas penebangan (penampakan jalan dan bidang-bidang tanah yang telah dibuka\u2019. KLHK (2016) \u2018National forest<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">reference emission level for deforestation and forest degradation\u2019 <a href=\"http:\/\/redd.unfccc.int\/files\/frel_submission_by__indonesia_final.pdfp81\">http:\/\/redd.unfccc.int\/files\/frel_submission_by__indonesia_final.pdfp81<\/a><\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0MoEF (2018) \u2018The state of Indonesia\u2019s forests 2018\u2019 p11\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Kontak Media:<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kiki Taufik, Kepala Kampanye Hutan Global Greenpeace Asia Tenggara, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tel 62-811-8706-074 , email kiki.taufik@greenpeace.org<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Rully Yuliardi Achmad,Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, Tel 62- 811-8334-409, email rully.yuliardi.achmad@greenpeace.org<\/span><\/p>\n<div class=\"EmptyMessage\">Block content is empty. Check the block&#8217;s settings or remove it.<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemerintah Indonesia menyatakan pada bulan Juni 2019 bahwa Moratorium Hutan dan Lahan Gambut tentang pemberian izin baru pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit, kegiatan penebangan dan pertambangan, yang diberlakukan.<\/p>\n","protected":false},"author":23,"featured_media":3498,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[19],"p4-page-type":[15],"class_list":["post-3491","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lindungi","tag-hutan","p4-page-type-publikasi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Briefer - Indonesia: Deforestasi Meningkat di Area-Area yang dilindungi oleh Moratorium - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Briefer - Indonesia: Deforestasi Meningkat di Area-Area yang dilindungi oleh Moratorium - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pemerintah Indonesia menyatakan pada bulan Juni 2019 bahwa Moratorium Hutan dan Lahan Gambut tentang pemberian izin baru pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit, kegiatan penebangan dan pertambangan, yang diberlakukan.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-08-08T06:19:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-12-01T12:31:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/75ce3da6-gp0stqyln.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Tides\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Tides\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"11 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/\"},\"author\":{\"name\":\"Tides\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/345640c15fef8f9234cf91ae8929db76\"},\"headline\":\"Briefer &#8211; Indonesia: Deforestasi Meningkat di Area-Area yang dilindungi oleh Moratorium\",\"datePublished\":\"2019-08-08T06:19:34+00:00\",\"dateModified\":\"2021-12-01T12:31:17+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/\"},\"wordCount\":2146,\"commentCount\":2,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Hutan\"],\"articleSection\":[\"Lindungi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/\",\"name\":\"Briefer - Indonesia: Deforestasi Meningkat di Area-Area yang dilindungi oleh Moratorium - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2019-08-08T06:19:34+00:00\",\"dateModified\":\"2021-12-01T12:31:17+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Briefer &#8211; Indonesia: Deforestasi Meningkat di Area-Area yang dilindungi oleh Moratorium\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/345640c15fef8f9234cf91ae8929db76\",\"name\":\"Tides\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/82f1b87c1d7cfdd663cfdf212a608e55a6e1f58d3f5e5af6ed2bc398e46253a1?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/82f1b87c1d7cfdd663cfdf212a608e55a6e1f58d3f5e5af6ed2bc398e46253a1?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Tides\"},\"description\":\"Seorang pengelana semesta yang mencoba mengikuti nurani untuk menjaga rasa dan asa demi Ibu Bumi\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.tigadesember.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/adestiff\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Briefer - Indonesia: Deforestasi Meningkat di Area-Area yang dilindungi oleh Moratorium - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Briefer - Indonesia: Deforestasi Meningkat di Area-Area yang dilindungi oleh Moratorium - Greenpeace Indonesia","og_description":"Pemerintah Indonesia menyatakan pada bulan Juni 2019 bahwa Moratorium Hutan dan Lahan Gambut tentang pemberian izin baru pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit, kegiatan penebangan dan pertambangan, yang diberlakukan.","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2019-08-08T06:19:34+00:00","article_modified_time":"2021-12-01T12:31:17+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":800,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/75ce3da6-gp0stqyln.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Tides","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Tides","Est. reading time":"11 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/"},"author":{"name":"Tides","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/345640c15fef8f9234cf91ae8929db76"},"headline":"Briefer &#8211; Indonesia: Deforestasi Meningkat di Area-Area yang dilindungi oleh Moratorium","datePublished":"2019-08-08T06:19:34+00:00","dateModified":"2021-12-01T12:31:17+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/"},"wordCount":2146,"commentCount":2,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Hutan"],"articleSection":["Lindungi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/","name":"Briefer - Indonesia: Deforestasi Meningkat di Area-Area yang dilindungi oleh Moratorium - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2019-08-08T06:19:34+00:00","dateModified":"2021-12-01T12:31:17+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/publikasi\/3491\/indonesia-deforestasi-meningkat-di-area-area-yang-dilindungi-oleh-moratorium\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Briefer &#8211; Indonesia: Deforestasi Meningkat di Area-Area yang dilindungi oleh Moratorium"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/345640c15fef8f9234cf91ae8929db76","name":"Tides","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/82f1b87c1d7cfdd663cfdf212a608e55a6e1f58d3f5e5af6ed2bc398e46253a1?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/82f1b87c1d7cfdd663cfdf212a608e55a6e1f58d3f5e5af6ed2bc398e46253a1?s=96&d=mm&r=g","caption":"Tides"},"description":"Seorang pengelana semesta yang mencoba mengikuti nurani untuk menjaga rasa dan asa demi Ibu Bumi","sameAs":["http:\/\/www.tigadesember.com"],"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/adestiff\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3491","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3491"}],"version-history":[{"count":12,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3491\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":45709,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3491\/revisions\/45709"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3498"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3491"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3491"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3491"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=3491"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}