{"id":3541,"date":"2019-08-15T16:32:11","date_gmt":"2019-08-15T09:32:11","guid":{"rendered":"https:\/\/master.k8s.p4.greenpeace.org\/indonesia\/?p=3541"},"modified":"2021-12-01T19:31:16","modified_gmt":"2021-12-01T12:31:16","slug":"kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/","title":{"rendered":"Kenapa Kantong Plastik \u2018Biodegradable\u2019 Bukan Solusi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua masalah membutuhkan solusi, termasuk untuk masalah plastik yang semakin lama semakin menggunung dan mencemari lingkungan. Plastik, seperti yang kita tahu, tidak akan terurai dalam waktu yang sangat lama. Puluhan, ratusan, ribuan, bahkan selamanya tidak akan terurai. Tak hanya mengotori lingkungan sekitar kita sebagai para pengguna plastik, plastik juga mencemari lautan dan membahayakan kehidupan biota laut yang tak berdosa. Jadi, bagaimana dong?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjawab hal itu, lalu muncul berbagai alternatif \u2018ramah lingkungan\u2019 yang muncul sebagai solusi dari sampah plastik yang jumlahnya terus menerus meningkat. \u2018Plastik Ramah Lingkungan\u2019 yang mengklaim bahwa ia akan terurai dalam waktu singkat bermunculan. Plastik sejenis ini juga disebut dengan istilah \u2018biodegradable\u2019 yang artinya dapat terurai dengan alami dalam waktu relatif cepat, sehingga tidak mencemari lingkungan. Tapi apakah plastik biodegradable ini sesuai dengan klaimnya yaitu bisa hancur dengan cepat dan merupakan solusi yang tepat? Tidak.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-3542 size-full\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/ab5e9a16-gp0stpn3o_web_size.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"533\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/ab5e9a16-gp0stpn3o_web_size.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/ab5e9a16-gp0stpn3o_web_size-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/ab5e9a16-gp0stpn3o_web_size-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/ab5e9a16-gp0stpn3o_web_size-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan penelitian yang dilakukan Imogen Napper dan Richard Thompson di University of Plymouth, Inggris, plastik biodegradable tidak terurai setelah tiga tahun dibiarkan di alam bahkan masih utuh seperti sedia kala\u00b9<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Napper dan Thompson meletakkan empat jenis plastik (compostable, biodegradable, oxo-degradable, dan plastik polythene konvensional) pada tiga kondisi, dikubur di tanah, dibiarkan di udara terbuka, dan ditenggelamkan di laut. Semua plastik masih utuh seperti sedia kala dalam jangka waktu tiga tahun setelah pertama kali penelitian dilakukan.&nbsp;<\/span><\/p>\n<div id=\"om-xsza8kw1il8oopssp6hi-holder\"><\/div>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada pula laporan berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBiodegradable Plastics and Marine Litter. Misconceptions, Concerns and Impacts on Marine Environment\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang dirilis oleh UN Environment pada tahun 2015 menyimpulkan bahwa plastik biodegradable bukanlah jawaban yang tepat dalam mengurangi pencemaran di lautan. Plastik jenis ini hanya bisa \u2018hancur\u2019 secara sempurna dalam kondisi lingkungan yang seringkali hanya ditemukan pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">industrial composter <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(seperti pada suhu di atas 50\u00b0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">C) dan bukan alam bebas\u00b2<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang masih cukup asing dengan plastik oxo-degradable, plastik ini adalah jenis plastik yang ditambah senyawa agar dapat hancur saat terkena oksigen dalam waktu singkat<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Namun, bukannya hancur terurai, plastik oxo-degradable akan hancur menjadi potongan-potongan kecil atau biasa kita sebut dengan mikroplastik\u00b3. Mikroplastik ini akan tetap berada di alam, dengan bentuknya yang sangat kecil dan bahkan tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang, jenis plastik ini sangat berbahaya karena bisa dengan mudahnya terhirup atau masuk ke makanan dan minuman kita.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-3543 size-full\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/6b05415d-c9a4a6d1-9a18-4e36-bc0f-24d14d823dfe.jpg\" alt=\"\" width=\"1220\" height=\"1023\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/6b05415d-c9a4a6d1-9a18-4e36-bc0f-24d14d823dfe.jpg 1220w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/6b05415d-c9a4a6d1-9a18-4e36-bc0f-24d14d823dfe-300x252.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/6b05415d-c9a4a6d1-9a18-4e36-bc0f-24d14d823dfe-768x644.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/6b05415d-c9a4a6d1-9a18-4e36-bc0f-24d14d823dfe-1024x859.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/6b05415d-c9a4a6d1-9a18-4e36-bc0f-24d14d823dfe-405x340.jpg 405w\" sizes=\"auto, (max-width: 1220px) 100vw, 1220px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi apakah jenis plastik biodegradable ini lebih baik daripada jenis plastik konvensional? Belum tentu. Pada kenyataannya, jenis plastik yang mengaku \u2018ramah lingkungan\u2019 banyak digunakan hanya sekali dan pada akhirnya dibuang, berakhir di alam, tempat pembuangan akhir, atau malah dibakar. Tak ada ubahnya dengan plastik konvensional pada umumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Plastik biodegradable yang digadang-gadang sebagai solusi pada akhirnya bukanlah solusi yang paling tepat. Solusi yang paling tepat tidak harus menunggu inovasi yang dilakukan oleh orang lain, melainkan dimulai dari diri sendiri dengan cara mengurangi penggunaan plastik sekali pakai hingga akhirnya kita bisa #PantangPlastik dan meninggalkan plastik sekali pakai selamanya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<p>1. https:\/\/www.theguardian.com\/environment\/2019\/apr\/29\/biodegradable-plastic-bags-survive-three-years-in-soil-and-sea2<\/p>\n<p>2. https:\/\/www.unenvironment.org\/news-and-stories\/story\/biodegradable-plastics-are-not-answer-reducing-marine-litter-says-un<\/p>\n<p>3. https:\/\/ec.europa.eu\/environment\/circular-economy\/pdf\/oxo-plastics.pdf<\/p>\n<div class=\"EmptyMessage\">Block content is empty. Check the block&#8217;s settings or remove it.<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Muncul &#8216;plastik ramah lingkungan\u2019 yang mengklaim bahwa ia akan terurai dalam waktu singkat bermunculan. Plastik sejenis ini juga disebut dengan istilah \u2018biodegradable\u2019. Tapi apakah plastik biodegradable ini merupakan solusi yang tepat?<\/p>\n","protected":false},"author":28,"featured_media":3542,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"not set","p4_local_project":"not set","p4_basket_name":"not set","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[23],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-3541","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ciptakan-perubahan","tag-pantang-plastik","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Kenapa Kantong Plastik \u2018Biodegradable\u2019 Bukan Solusi - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kenapa Kantong Plastik \u2018Biodegradable\u2019 Bukan Solusi - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Muncul &#039;plastik ramah lingkungan\u2019 yang mengklaim bahwa ia akan terurai dalam waktu singkat bermunculan. Plastik sejenis ini juga disebut dengan istilah \u2018biodegradable\u2019. Tapi apakah plastik biodegradable ini merupakan solusi yang tepat?\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-08-15T09:32:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-12-01T12:31:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/ab5e9a16-gp0stpn3o_web_size.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Medina Basaib\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Medina Basaib\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/\"},\"author\":{\"name\":\"Medina Basaib\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c\"},\"headline\":\"Kenapa Kantong Plastik \u2018Biodegradable\u2019 Bukan Solusi\",\"datePublished\":\"2019-08-15T09:32:11+00:00\",\"dateModified\":\"2021-12-01T12:31:16+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/\"},\"wordCount\":484,\"commentCount\":6,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"PantangPlastik\"],\"articleSection\":[\"Ciptakan Perubahan\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/\",\"name\":\"Kenapa Kantong Plastik \u2018Biodegradable\u2019 Bukan Solusi - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2019-08-15T09:32:11+00:00\",\"dateModified\":\"2021-12-01T12:31:16+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kenapa Kantong Plastik \u2018Biodegradable\u2019 Bukan Solusi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c\",\"name\":\"Medina Basaib\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Medina Basaib\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/mbasaib\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kenapa Kantong Plastik \u2018Biodegradable\u2019 Bukan Solusi - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kenapa Kantong Plastik \u2018Biodegradable\u2019 Bukan Solusi - Greenpeace Indonesia","og_description":"Muncul 'plastik ramah lingkungan\u2019 yang mengklaim bahwa ia akan terurai dalam waktu singkat bermunculan. Plastik sejenis ini juga disebut dengan istilah \u2018biodegradable\u2019. Tapi apakah plastik biodegradable ini merupakan solusi yang tepat?","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2019-08-15T09:32:11+00:00","article_modified_time":"2021-12-01T12:31:16+00:00","og_image":[{"width":800,"height":533,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/ab5e9a16-gp0stpn3o_web_size.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Medina Basaib","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Medina Basaib","Est. reading time":"2 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/"},"author":{"name":"Medina Basaib","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c"},"headline":"Kenapa Kantong Plastik \u2018Biodegradable\u2019 Bukan Solusi","datePublished":"2019-08-15T09:32:11+00:00","dateModified":"2021-12-01T12:31:16+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/"},"wordCount":484,"commentCount":6,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["PantangPlastik"],"articleSection":["Ciptakan Perubahan"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/","name":"Kenapa Kantong Plastik \u2018Biodegradable\u2019 Bukan Solusi - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2019-08-15T09:32:11+00:00","dateModified":"2021-12-01T12:31:16+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3541\/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kenapa Kantong Plastik \u2018Biodegradable\u2019 Bukan Solusi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c","name":"Medina Basaib","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g","caption":"Medina Basaib"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/mbasaib\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3541","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/28"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3541"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3541\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":45706,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3541\/revisions\/45706"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3542"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3541"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3541"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3541"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=3541"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}