{"id":3787,"date":"2019-09-24T11:15:56","date_gmt":"2019-09-24T04:15:56","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=3787"},"modified":"2021-12-01T19:31:13","modified_gmt":"2021-12-01T12:31:13","slug":"sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/","title":{"rendered":"Sejumlah lahan milik perusahaan kelapa sawit dan bubur kertas yang terbakar luas belum mendapat hukuman saat karhutla kembali membara"},"content":{"rendered":"<p><b>Jakarta, 24 September 2019 \u2013 <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Saat krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sedang berlangsung, tidak ada sanksi yang signifikan baik perdata maupun sanksi administratif diberikan kepada sepuluh perusahaan kelapa sawit yang memiliki area lahan terbakar terbesar dari 2015 hingga 2018, berdasarkan analisis pemetaan terbaru Greenpeace Indonesia. Pemerintah Indonesia juga belum mencabut satu pun izin konsesi sawit atas karhutla tersebut.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-3789 size-large alignnone\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/09\/d490476d-gp0sttyd1_pressmedia-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/09\/d490476d-gp0sttyd1_pressmedia-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/09\/d490476d-gp0sttyd1_pressmedia-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/09\/d490476d-gp0sttyd1_pressmedia-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/09\/d490476d-gp0sttyd1_pressmedia-2048x1366.jpg 2048w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/09\/d490476d-gp0sttyd1_pressmedia-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama periode yang sama, sektor bubur kertas (pulp) sebagian besar juga lolos dari sanksi serius yang diberikan\u00a0 pemerintah meskipun telah terjadi kebakaran berulang-ulang di area lahan yang luas.[1] Tahun ini, titik api tercatat di banyak konsesi yang sama yakni kelapa sawit dan bubur kertas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMenghentikan krisis kebakaran yang berulang ini seharusnya menjadi agenda utama pemerintah sejak 2015. Tetapi temuan kami menunjukkan hanya kata-kata belaka sementara penegakan hukum masih lemah dan tidak konsisten terhadap perusahaan. Presiden Jokowi dan para menterinya harus segera mencabut izin perusahaan yang di lahannya terjadi kebakaran, \u201dkata Kiki Taufik, Kepala Kampanye Hutan Global Greenpeace Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Analisis Greenpeace Indonesia menggunakan data resmi pemerintah yaitu data <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">burn scar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (bekas kebakaran), menunjukkan bahwa lebih dari 3,4 juta hektar lahan terbakar antara 2015 dan 2018.[2] Data ini kemudian dibandingkan dengan data konsesi terbaik yang tersedia[3] pada perusahaan kelapa sawit dan bubur kertas serta sanksi administratif dan perdata terhadap perusahaan, yang disusun melalui permintaan sesuai hak atas keterbukaan informasi dan laporan resmi pemerintah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Temuan-temuan dari analisis ini sangat bertolak belakang dengan klaim pemerintah soal penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku karhutla,[4] yang berdampak pada jutaan orang Indonesia. Kabut asap dari karhutla juga telah mengganggu negara-negara tetangga dalam dua pekan terakhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Temuan-temuan terkait perkebunan kelapa sawit (2015-2018):<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada satu pun dari sepuluh konsesi kelapa sawit di Indonesia dengan total area terbakar terbesar yang diberikan sanksi perdata maupun sanksi administrasi yang serius. Tujuh dari perusahaan tersebut memiliki jumlah titik api yang tinggi di konsesi mereka pada tahun ini.[5]<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah tidak mencabut satu pun izin dari perusahaan kebun sawit yang terkait karhutla.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sejumlah konsesi perusahaan kelapa sawit terbakar berulang kali, namun tidak menerima sanksi perdata atau administrasi yang serius.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Temuan-temuan terkait perkebunan bubur kertas:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Area yang terbakar lebih luas dari wilayah Singapura dalam konsesi yang terkait dengan Sinar Mas\/Asia Pulp &amp; Paper (APP) antara 2015 dan 2018. Konsesi ini memiliki total area terbakar terbesar dari semua konsesi di seluruh Indonesia, namun hanya menerima sanksi perdata\/sanksi administratif atas penanaman kembali di area yang sebelumnya terbakar.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Perusahaan di bawah grup Sinar Mas\/APP yang areanya terbakar setiap tahunnya antara 2015-2018 tetapi tidak menerima sanksi perdata atau administrasi yang serius. Sejauh ini, ditemukan ada lebih dari 200 titik api di tahun ini.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah perusahaan yang berada di dalam grup\u00a0 APRIL\/RGE terdeteksi mengalami karhutla setiap tahun sejak tahun 2015. Perusahaan ini telah menerima sanksi administrasi yang serius namun hanya dua kali. Investigasi tindak pidana telah dilakukan terhadap sejumlah perusahaan, termasuk perusahaan ini, namun dihentikan (SP3) oleh kepolisian pada tahun 2016 karena kekurangan bukti. Menurut catatan setidaknya hampir 500 titik api terlihat pada tahun ini.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMengapa tidak ada satupun dari sepuluh perusahaan kelapa sawit dengan lahan terluas terbakar di Indonesia yang mendapat hukuman serius dari pemerintah Presiden Jokowi? Mengapa konsesi yang memiliki area terbakar terbesar di Indonesia tidak dikenai sanksi untuk karhutla? Sayangnya, ini karena pemerintah tidak serius dalam penegakan hukum, dan ini adalah alasan utama mengapa karhutla kembali terjadi setiap tahun, \u201dkata Kiki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Investigasi Greenpeace Indonesia awal tahun ini menunjukkan bahwa sejumlah perusahaan yang telah dibawa ke pengadilan oleh pemerintah terkait karhutla dan pembalakan liar melunasi kompensasi. Jumlah total uang yang terhutang sekitar 18,9 triliun rupiah.[6]<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bank Dunia memperkirakan krisis karhutla tahun 2015 telah menghabiskan biaya 221 Triliun rupiah, merugikan sektor kehutanan, pertanian, pariwisata, dan industri lainnya.[7] Selain itu, kabut dari kebakaran menyebabkan ISPA dan penyakit lain pada ribuan orang di seluruh wilayah. Menurut sebuah penelitian, kemungkinan peristiwa tersebut telah menyebabkan lebih dari 100.000 kematian dini.[8] Kabut asap karhutla diperkirakan sekitar 11,3 juta ton karbon per hari lepas ke atmosfer, lebih tinggi dari tingkat emisi seluruh Uni Eropa.[9]<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><b>Foto<\/b> <b>: <\/b><a href=\"https:\/\/media.greenpeace.org\/collection\/27MZIFJ8MTZF0\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/media.greenpeace.org\/collection\/27MZIFJ8MTZF0<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Video<\/b> <b>: <\/b><a href=\"https:\/\/drive.google.com\/open?id=1dz6FG_GknB9Y1p08PNJDH55Z7CGjv8TZ\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/drive.google.com\/open?id=1dz6FG_GknB9Y1p08PNJDH55Z7CGjv8TZ<\/span><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Catatan:<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">[1] <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/09\/a8ae3669-media-briefer-greenpeace-240919.pdf\">Analisis Greenpeace Indonesia<\/a>\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">[2] Analisis pemetaan Greenpeace Indonesia data <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">burn scar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari data resmi Kementerian Kehutanan dan Lingkungan. Area yang terbakar mencapai 2.604.500 ha pada tahun 2015; 436.500 ha pada tahun 2016; 164.100 ha pada 2017; dan 528.000 ha pada 2018.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">[3] Semua upaya telah dilakukan untuk memastikan bahwa data konsesi akurat, ada banyak sumber data konsesi yang berbeda dan kurangnya transparansi pemerintah dan perusahaan, terdapat kemungkinan ada beberapa ketidakakuratan. Angka <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">burn scar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> telah dibulatkan ke atas atau ke bawah untuk memperhitungkan masalah ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">[4] <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Upaya hukum sudah kita lakukan. Baik yang perorangan baik korporasi semuanya sudah ada tindakan tegas ke sana,<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Presiden Joko Widodo, 18 September 2019\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.liputan6.com\/news\/read\/4065260\/jokowi-segala-usaha-sudah-dilakukan-atasi-karhutla\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.liputan6.com\/news\/read\/4065260\/jokowi-segala-usaha-sudah-dilakukan-atasi-karhutla\u00a0<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">[5] Sepuluh perusahaan kelapa sawit terdaftar di <\/span><a href=\"https:\/\/act.gp\/2mtPnKI\"><span style=\"font-weight: 400;\">analisis Greenpeace<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">:<\/span><\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td>\n<h6><b> Perusahaan &amp; Lokasi<\/b><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><b>Total fire hotspots hingga 16 September 2019<\/b><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">PT Samora Usaha Jaya (A), South Sumatra<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">17<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">PT Monrad Intan Barakat, South Kalimantan<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">103<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">PT Subur Maju Makmur, South Kalimantan<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">72<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">PT Katingan Mujur Sejahtera, Central Kalimantan<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">50<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">PT Bangun Cipta Mitra Perkasa, Central Kalimantan<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">87<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">PT Karya Luhur Sejati, Central Kalimantan<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">23<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">PT Dendy Marker Indah Lestari, South Sumatra<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">182<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">PT Pagatan Usaha Makmur, Central Kalimantan<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">10<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">PT Dongin Prabhawa, Papua<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">0<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">PT Citra Putra Kebun Asri, South Kalimantan<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">67<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">PT Globalindo Agung Lestari, Central Kalimantan<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">297<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">[6] Lihat \u2018Indonesia land-burning fines unpaid years after fires\u2019 <\/span><a href=\"https:\/\/www.apnews.com\/bcfe710c0ec94fcdba9da3d0d40d8448\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.apnews.com\/bcfe710c0ec94fcdba9da3d0d40d8448<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> and \u201811 perusahaan perusak lingkungan rugikan negara Rp18 triliun\u2019 <\/span><a href=\"https:\/\/tirto.id\/11-perusahaan-perusak-lingkungan-rugikan-negara-rp18-triliun-dgZ6\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/tirto.id\/11-perusahaan-perusak-lingkungan-rugikan-negara-rp18-triliun-dgZ6<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">[7] \u2018The cost of fire : an economic analysis of Indonesia\u2019s 2015 fire crisis\u2019 <\/span><a href=\"http:\/\/documents.worldbank.org\/curated\/en\/776101467990969768\/The-cost-of-fire-an-economic-analysis-of-Indonesia-s-2015-fire-crisis\"><span style=\"font-weight: 400;\">http:\/\/documents.worldbank.org\/curated\/en\/776101467990969768\/The-cost-of-fire-an-economic-analysis-of-Indonesia-s-2015-fire-crisis<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">[8] \u2018Public health impacts of the severe haze in Equatorial Asia in September\u2013October 2015\u2019 <\/span><a href=\"https:\/\/iopscience.iop.org\/article\/10.1088\/1748-9326\/11\/9\/094023\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/iopscience.iop.org\/article\/10.1088\/1748-9326\/11\/9\/094023<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">[9] \u2018Fire carbon emissions over maritime southeast Asia in 2015 largest since 1997\u2019 <\/span><a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/srep26886\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.nature.com\/articles\/srep26886<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Kontak Media:<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kiki Taufik, Kepala Kampanye Hutan Global Greenpeace Indonesia,\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tel 62-811-8706-074 , email kiki.taufik@greenpeace.org<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Rully Yuliardi Achmad, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, <\/span>Tel 62- 811-8334-409, email rully.yuliardi.achmad@greenpeace.org<\/p>\n\t\t\t<section\n\t\t\tclass=\"boxout post-3400 \"\n\t\t\t\n\t\t>\n\t\t\t<a\n\t\t\t\tdata-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n\t\t\t\tdata-ga-action=\"Image\"\n\t\t\t\tdata-ga-label=\"n\/a\"\n\t\t\t\tclass=\"cover-card-overlay\"\n\t\t\t\thref=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/hutan-tanpa-api\/\" \n\t\t\t><\/a>\n\t\t\t\t\t\t\t<img\n\t\t\t\t\t\tsrc=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/516f9953-gp0str28d_.jpg\"\n\t\t\t\t\t\tsrcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/516f9953-gp0str28d_-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/516f9953-gp0str28d_-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/516f9953-gp0str28d_-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/516f9953-gp0str28d_.jpg 800w\"\n\t\t\t\t\t\tsizes=\"(min-width: 1000px) 358px, (min-width: 780px) 313px, 88px\"\n\t\t\t\t\t\talt=\"\" title=\"\"\n\t\t\t\t\/>\n            \t\t\t<div class=\"boxout-content\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<a\n\t\t\t\t\t\tclass=\"boxout-heading medium\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-action=\"Title\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-label=\"n\/a\"\n\t\t\t\t\t\thref=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/hutan-tanpa-api\/\"\n\t\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t>\n\t\t\t\t\t\tTim Cegah Api: Stop Kebakaran Hutan\n\t\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"boxout-excerpt\">Kebakaran hutan tidak hanya mengancam kehidupan manusia, tapi juga mengancam satwa liar asli Indonesia yang terancam punah.<\/p>\n\t\t\t\t                                    <a\n                        class=\"btn btn-primary\"\n                        data-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n                        data-ga-action=\"Call to Action\"\n                        data-ga-label=\"n\/a\"\n                        href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/hutan-tanpa-api\/\"\n                        \n                    >\n                        Ikut Beraksi\n                    <\/a>\n                \t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/section>\n\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sedang berlangsung, tidak ada sanksi yang signifikan baik perdata maupun sanksi administratif diberikan kepada sepuluh perusahaan kelapa sawit terbakar terbesar dari 2015 hingga 2018.<\/p>\n","protected":false},"author":23,"featured_media":3789,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[19],"p4-page-type":[14],"class_list":["post-3787","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lindungi","tag-hutan","p4-page-type-siaran-pers"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Sejumlah lahan milik perusahaan kelapa sawit dan bubur kertas yang terbakar luas belum mendapat hukuman saat karhutla kembali membara - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sejumlah lahan milik perusahaan kelapa sawit dan bubur kertas yang terbakar luas belum mendapat hukuman saat karhutla kembali membara - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Saat krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sedang berlangsung, tidak ada sanksi yang signifikan baik perdata maupun sanksi administratif diberikan kepada sepuluh perusahaan kelapa sawit terbakar terbesar dari 2015 hingga 2018.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-09-24T04:15:56+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-12-01T12:31:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/09\/d490476d-gp0sttyd1_pressmedia.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1667\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Tides\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Tides\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/\"},\"author\":{\"name\":\"Tides\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/345640c15fef8f9234cf91ae8929db76\"},\"headline\":\"Sejumlah lahan milik perusahaan kelapa sawit dan bubur kertas yang terbakar luas belum mendapat hukuman saat karhutla kembali membara\",\"datePublished\":\"2019-09-24T04:15:56+00:00\",\"dateModified\":\"2021-12-01T12:31:13+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/\"},\"wordCount\":988,\"commentCount\":3,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Hutan\"],\"articleSection\":[\"Lindungi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/\",\"name\":\"Sejumlah lahan milik perusahaan kelapa sawit dan bubur kertas yang terbakar luas belum mendapat hukuman saat karhutla kembali membara - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2019-09-24T04:15:56+00:00\",\"dateModified\":\"2021-12-01T12:31:13+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sejumlah lahan milik perusahaan kelapa sawit dan bubur kertas yang terbakar luas belum mendapat hukuman saat karhutla kembali membara\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/345640c15fef8f9234cf91ae8929db76\",\"name\":\"Tides\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/82f1b87c1d7cfdd663cfdf212a608e55a6e1f58d3f5e5af6ed2bc398e46253a1?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/82f1b87c1d7cfdd663cfdf212a608e55a6e1f58d3f5e5af6ed2bc398e46253a1?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Tides\"},\"description\":\"Seorang pengelana semesta yang mencoba mengikuti nurani untuk menjaga rasa dan asa demi Ibu Bumi\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.tigadesember.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/adestiff\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sejumlah lahan milik perusahaan kelapa sawit dan bubur kertas yang terbakar luas belum mendapat hukuman saat karhutla kembali membara - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Sejumlah lahan milik perusahaan kelapa sawit dan bubur kertas yang terbakar luas belum mendapat hukuman saat karhutla kembali membara - Greenpeace Indonesia","og_description":"Saat krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sedang berlangsung, tidak ada sanksi yang signifikan baik perdata maupun sanksi administratif diberikan kepada sepuluh perusahaan kelapa sawit terbakar terbesar dari 2015 hingga 2018.","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2019-09-24T04:15:56+00:00","article_modified_time":"2021-12-01T12:31:13+00:00","og_image":[{"width":2500,"height":1667,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/09\/d490476d-gp0sttyd1_pressmedia.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Tides","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Tides","Est. reading time":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/"},"author":{"name":"Tides","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/345640c15fef8f9234cf91ae8929db76"},"headline":"Sejumlah lahan milik perusahaan kelapa sawit dan bubur kertas yang terbakar luas belum mendapat hukuman saat karhutla kembali membara","datePublished":"2019-09-24T04:15:56+00:00","dateModified":"2021-12-01T12:31:13+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/"},"wordCount":988,"commentCount":3,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Hutan"],"articleSection":["Lindungi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/","name":"Sejumlah lahan milik perusahaan kelapa sawit dan bubur kertas yang terbakar luas belum mendapat hukuman saat karhutla kembali membara - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2019-09-24T04:15:56+00:00","dateModified":"2021-12-01T12:31:13+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/3787\/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sejumlah lahan milik perusahaan kelapa sawit dan bubur kertas yang terbakar luas belum mendapat hukuman saat karhutla kembali membara"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/345640c15fef8f9234cf91ae8929db76","name":"Tides","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/82f1b87c1d7cfdd663cfdf212a608e55a6e1f58d3f5e5af6ed2bc398e46253a1?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/82f1b87c1d7cfdd663cfdf212a608e55a6e1f58d3f5e5af6ed2bc398e46253a1?s=96&d=mm&r=g","caption":"Tides"},"description":"Seorang pengelana semesta yang mencoba mengikuti nurani untuk menjaga rasa dan asa demi Ibu Bumi","sameAs":["http:\/\/www.tigadesember.com"],"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/adestiff\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3787","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3787"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3787\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":45698,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3787\/revisions\/45698"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3789"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3787"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3787"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3787"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=3787"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}