{"id":3860,"date":"2019-10-01T13:54:40","date_gmt":"2019-10-01T06:54:40","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=3860"},"modified":"2021-12-01T19:31:11","modified_gmt":"2021-12-01T12:31:11","slug":"alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/","title":{"rendered":"Alasan Mengapa Sekali Pakai Bukan Pilihan yang Berkelanjutan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Polusi plastik adalah sebuah ancaman global. Terima kasih atas tekanan dari masyarakat di segala penjuru dunia, produsen merek dan ritel mengerti bahwa mereka harus bertanggung jawab karena telah menyebabkan hal itu terjadi. Kita dibanjiri oleh pengumuman dari perusahaan mengenai kemasan baru untuk produk mereka, seperti \u201ckemasan 100% bisa didaur ulang\u201d, \u201cterbuat dari plastik yang mudah terurai\u201d, dan \u201ckemasan kertas yang berkelanjutan\u201d. Namun apakah upaya-upaya ini benar-benar diperlukan, dan apakah ini adalah solusi dari krisis polusi plastik?<\/span><\/p>\n<div id=\"attachment_3862\" style=\"width: 809px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-3862\" class=\"wp-image-3862 size-full\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/065768ba-gp0stq7oo_web_size.jpg\" alt=\"\" width=\"799\" height=\"572\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/065768ba-gp0stq7oo_web_size.jpg 799w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/065768ba-gp0stq7oo_web_size-300x215.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/065768ba-gp0stq7oo_web_size-768x550.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/065768ba-gp0stq7oo_web_size-475x340.jpg 475w\" sizes=\"auto, (max-width: 799px) 100vw, 799px\" \/><p id=\"caption-attachment-3862\" class=\"wp-caption-text\">Plastik bertebangan dari TPA La Crau di Entressen, Perancis. TPA ini dibuka untuk umum hingga tahun 2008. Kantong plastik dan plastik jenis lainnya tersangkut di semak-semak sekitar sungai dan terbawa arus sungai.<\/p><\/div>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yuk kita ingat kembali, bagaimana awal mula kita berada di situasi ini: plastik sekali pakai yang dimaksudkan untuk dipakai dalam waktu yang sangat singkat, bahkan hanya hitungan detik, lalu dibuang. Sekarang, kita lihat beberapa \u201csolusi\u201d paling umum yang digembar-gemborkan perusahaan:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> &nbsp; &nbsp; <\/span><b>Kertas<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Sekilas, produk kertas terlihat seperti solusi yang baik, dan ini peralihan yang relatif mudah untuk dilakukan para perusahaan. Namun, peralihan secara masif perusahaan besar dari plastik ke kertas akan membawa dampak negatif bagi hutan secara global. Hutan membawa peran kunci bagi kesehatan lingkungan dengan menyerap karbon dan membersihkan udara, menyokong kehidupan masyarakat adat dan keanekaragaman hayati yang unik, juga menyediakan berbagai macam manfaat bagi ekologi. Melihat tekanan yang diberikan pada sumber daya hutan yang sudah sangat terbatas, sebagian besar area hutan seharusnya dilindungi dan dipulihkan, bukannya diubah untuk memuaskan ketergantungan kita pada kemasan sekali pakai.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<ol start=\"2\">\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> &nbsp; &nbsp; <\/span><b>Bioplastik<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Tren lain yang membingungkan adalah beralih pada \u201cbioplastik\u201d, sebuah istilah yang merujuk pada plastik berbahan dasar ramah lingkungan, mudah terdegradasi secara alami atau mudah menjadi pupuk dan bahkan termasuk di dalamnya plastik berbahan fosil. Masalah yang ditimbulkan oleh bioplastik malah berlipat ganda. Pertama adalah asalnya, kebanyakan plastik ramah lingkungan ini dibuat dari hasil tani, yang akan bersaing dengan hasil pangan, mengancam keamanan pangan dengan mengubah lahan pangan menjadi lahan bioplastik, dan emisi di lahan tani. Masalah kedua adalah apa yang terjadi saat selesai digunakan. Plastik biodegradable hanya akan terdegradasi dalam kondisi tertentu seperti saat terpapar suhu yang sangat tinggi atau kelembaban tertentu yang jarang ditemukan di lingkungan alami (itu pun kalau ditemukan). Plastik biodegradable juga hanya hancur menjadi potongan kecil (seperti plastik biasa), dapat dimakan oleh hewan dan memasuki pencernaannya. Di sisi lain, plastik compostable (plastik yang bisa dibuat kompos) dapat benar-benar dikompos namun dalam kondisi tertentu yang hanya ditemukan di fasilitas kompos industri atau sangat jarang di sistem pengkomposan rumahan. Kebanyakan perangkat pemerintah daerah tidak punya alat yang memadai sehingga besar kemungkinan plastik compostable dibuang di TPA atau dibakar. Tak ada ubahnya dan tidak lebih baik dari plastik sekali pakai.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<ol start=\"3\">\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> &nbsp; &nbsp; <\/span><b>Plastik daur ulang. <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, tapi tak kalah penting, kemasan yang dibuat 100% dari plastik daur ulang. Ini adalah ungkapan yang paling sering digunakan untuk terlihat lebih baik tapi pada kenyataannya tidak sebaik itu. Lebih dari 90% plastik yang pernah dibuat tidak didaur ulang. Sistem daur ulang tidak bisa mengikuti perkembangan jumlah sampah plastik yang dihasilkan sehingga fasilitas daur ulang tidak mampu menampung dan memprosesnya. Kemungkinan besar plastik ini akan tetap berakhir di tempat pembuangan akhir, dibakar di insinerator atau di lingkungan dan tidak didaur ulang. Juga, plastik daur ulang mengalami penurunan kualitas (downcycle), yang berarti bukannya membuat kemasan plastik baru dari kemasan plastik lama, plastik diproses ulang menjadi produk yang kualitas atau nilainya lebih kecil sehingga tidak bisa didaur ulang lagi sama sekali. Setiap daerah punya kapasitas yang berbeda untuk mendaur ulang berbagai macam jenis plastik, jadi <\/span><b>apa yang bisa didaur ulang belum tentu benar-benar didaur ulang.<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-3863 size-full\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/5a17592f-gp0gvr_web_size.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"532\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/5a17592f-gp0gvr_web_size.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/5a17592f-gp0gvr_web_size-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/5a17592f-gp0gvr_web_size-768x511.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/5a17592f-gp0gvr_web_size-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, perusahaan belum membicarakan secara jelas bagaimana strategi mereka dalam model sekali pakai yang telah disebutkan di atas. Mereka hanya beralih dari satu material ke material lainnya, namun inti model bisnisnya masih sama saja: gunakan lalu dibuang, dalam jumlah yang besar dalam skala global. Perusahaan masih memproduksi sampah dalam jumlah yang masif yang tidak bisa ditampung oleh planet ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi apa solusinya? Karena polusi plastik terus meningkat, penting bagi perusahaan untuk melakukan sesuatu dan berjalan menuju model bisnis yang tidak mengubah sumber daya bumi menjadi kemasan sekali pakai dan menjadi limbah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<div id=\"attachment_3861\" style=\"width: 810px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-3861\" class=\"wp-image-3861 size-full\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/75a40089-gp0sttj68_web_size.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"450\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/75a40089-gp0sttj68_web_size.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/75a40089-gp0sttj68_web_size-300x169.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/75a40089-gp0sttj68_web_size-768x432.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/75a40089-gp0sttj68_web_size-510x287.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><p id=\"caption-attachment-3861\" class=\"wp-caption-text\">Tanggal 4 Juli digunakan Greenpeace untuk mengajak masyarakat di Swiss untuk mengemas makanan take-away dengan wadah yang dapat digunakan kembali. Gerakan ini berkembang dengan semakin banyaknya orang yang turut bergabung.<\/p><\/div>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perusahaan harus mengutamakan pengurangan, untuk menghindari produksi sampah dari awal, dan berinvestasi pada sistem penggunaan kembali dan pengisian ulang dalam mendistribusikan produk-produk mereka. Mereka perlu punya target pengurangan yang jelas dan rencana langkah yang akan dilakukan. Masyarakat di seluruh dunia telah melakukan sesuatu dengan mendesak perusahaan menggunakan sistem berkelanjutan ini. Saatnya perusahaan mengikuti desakan masyarakat dan membuat solusi yang sesungguhnya: penggunaan kembali.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Elvira Jim\u00e9nez adalah <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Global Project Lead untuk kampanye plasti di Greenpeace Spanyol.<\/span><\/i><\/p>\n\t\t\t<section\n\t\t\tclass=\"boxout post-943 \"\n\t\t\t\n\t\t>\n\t\t\t<a\n\t\t\t\tdata-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n\t\t\t\tdata-ga-action=\"Image\"\n\t\t\t\tdata-ga-label=\"n\/a\"\n\t\t\t\tclass=\"cover-card-overlay\"\n\t\t\t\thref=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/berdonasi-2-2\/\" \n\t\t\t><\/a>\n\t\t\t\t\t\t\t<img\n\t\t\t\t\t\tsrc=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/07\/0e12d16e-screen-shot-2019-07-22-at-18.24.50.png\"\n\t\t\t\t\t\tsrcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/07\/0e12d16e-screen-shot-2019-07-22-at-18.24.50-300x200.png 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/07\/0e12d16e-screen-shot-2019-07-22-at-18.24.50-510x340.png 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/07\/0e12d16e-screen-shot-2019-07-22-at-18.24.50.png 521w\"\n\t\t\t\t\t\tsizes=\"(min-width: 1000px) 358px, (min-width: 780px) 313px, 88px\"\n\t\t\t\t\t\talt=\"\" title=\"\"\n\t\t\t\t\/>\n            \t\t\t<div class=\"boxout-content\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<a\n\t\t\t\t\t\tclass=\"boxout-heading medium\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-action=\"Title\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-label=\"n\/a\"\n\t\t\t\t\t\thref=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/berdonasi-2-2\/\"\n\t\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t>\n\t\t\t\t\t\tBerdonasi\n\t\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"boxout-excerpt\">Kamu dapat membela lingkungan sepanjang hidupmu. Atau bahkan lebih lama dari itu. Berdonasilah hari ini.<\/p>\n\t\t\t\t                                    <a\n                        class=\"btn btn-primary\"\n                        data-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n                        data-ga-action=\"Call to Action\"\n                        data-ga-label=\"n\/a\"\n                        href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/berdonasi-2-2\/\"\n                        \n                    >\n                        Ikut Beraksi\n                    <\/a>\n                \t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/section>\n\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cKemasan 100% bisa didaur ulang\u201d, \u201cterbuat dari plastik yang mudah terurai\u201d, dan \u201ckemasan kertas yang berkelanjutan\u201d. Apakah upaya-upaya ini benar-benar diperlukan, dan apakah ini adalah solusi dari krisis polusi plastik?<\/p>\n","protected":false},"author":28,"featured_media":3861,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"not set","p4_local_project":"not set","p4_basket_name":"not set","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[23],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-3860","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ciptakan-perubahan","tag-pantang-plastik","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Alasan Mengapa Sekali Pakai Bukan Pilihan yang Berkelanjutan - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Alasan Mengapa Sekali Pakai Bukan Pilihan yang Berkelanjutan - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"\u201cKemasan 100% bisa didaur ulang\u201d, \u201cterbuat dari plastik yang mudah terurai\u201d, dan \u201ckemasan kertas yang berkelanjutan\u201d. Apakah upaya-upaya ini benar-benar diperlukan, dan apakah ini adalah solusi dari krisis polusi plastik?\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-10-01T06:54:40+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-12-01T12:31:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/75a40089-gp0sttj68_web_size.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"450\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Medina Basaib\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Medina Basaib\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/\"},\"author\":{\"name\":\"Medina Basaib\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c\"},\"headline\":\"Alasan Mengapa Sekali Pakai Bukan Pilihan yang Berkelanjutan\",\"datePublished\":\"2019-10-01T06:54:40+00:00\",\"dateModified\":\"2021-12-01T12:31:11+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/\"},\"wordCount\":805,\"commentCount\":19,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"PantangPlastik\"],\"articleSection\":[\"Ciptakan Perubahan\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/\",\"name\":\"Alasan Mengapa Sekali Pakai Bukan Pilihan yang Berkelanjutan - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2019-10-01T06:54:40+00:00\",\"dateModified\":\"2021-12-01T12:31:11+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Alasan Mengapa Sekali Pakai Bukan Pilihan yang Berkelanjutan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c\",\"name\":\"Medina Basaib\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Medina Basaib\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/mbasaib\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Alasan Mengapa Sekali Pakai Bukan Pilihan yang Berkelanjutan - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Alasan Mengapa Sekali Pakai Bukan Pilihan yang Berkelanjutan - Greenpeace Indonesia","og_description":"\u201cKemasan 100% bisa didaur ulang\u201d, \u201cterbuat dari plastik yang mudah terurai\u201d, dan \u201ckemasan kertas yang berkelanjutan\u201d. Apakah upaya-upaya ini benar-benar diperlukan, dan apakah ini adalah solusi dari krisis polusi plastik?","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2019-10-01T06:54:40+00:00","article_modified_time":"2021-12-01T12:31:11+00:00","og_image":[{"width":800,"height":450,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/10\/75a40089-gp0sttj68_web_size.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Medina Basaib","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Medina Basaib","Est. reading time":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/"},"author":{"name":"Medina Basaib","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c"},"headline":"Alasan Mengapa Sekali Pakai Bukan Pilihan yang Berkelanjutan","datePublished":"2019-10-01T06:54:40+00:00","dateModified":"2021-12-01T12:31:11+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/"},"wordCount":805,"commentCount":19,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["PantangPlastik"],"articleSection":["Ciptakan Perubahan"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/","name":"Alasan Mengapa Sekali Pakai Bukan Pilihan yang Berkelanjutan - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2019-10-01T06:54:40+00:00","dateModified":"2021-12-01T12:31:11+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/3860\/alasan-mengapa-sekali-pakai-bukan-pilihan-yang-berkelanjutan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Alasan Mengapa Sekali Pakai Bukan Pilihan yang Berkelanjutan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c","name":"Medina Basaib","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g","caption":"Medina Basaib"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/mbasaib\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3860","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/28"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3860"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3860\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":45695,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3860\/revisions\/45695"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3861"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3860"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3860"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3860"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=3860"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}