{"id":4136,"date":"2019-11-04T12:28:16","date_gmt":"2019-11-04T05:28:16","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=4136"},"modified":"2020-03-05T14:54:51","modified_gmt":"2020-03-05T07:54:51","slug":"perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/","title":{"rendered":"Perusahaan Merek ternama  Membeli Minyak Sawit Yang Terkait Masalah Karhutla"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-2879 size-large\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/6e818410-gp0stt0v6-1024x684.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"684\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/6e818410-gp0stt0v6-1024x684.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/6e818410-gp0stt0v6-300x201.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/6e818410-gp0stt0v6-768x513.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/6e818410-gp0stt0v6-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/6e818410-gp0stt0v6.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/p>\n<p><b>Bangkok, Thailand, 4 November 2019<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> &#8211; Perusahaan merek ternama seperti Unilever, Mondelez, Nestle, dan Procter &amp; Gamble (P&amp;G), dan pedagang minyak kelapa sawit termasuk Wilmar membeli minyak kelapa sawit dari produsen yang terkait dengan ribuan titik panas api\u00a0 di Indonesia tahun ini, berdasarkan <\/span><a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/57d38e76-0936_gp_burning_bahasa_v3.pdf\"><span style=\"font-weight: 400;\">analisis terbaru oleh Greenpeace Internasional<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Perusahaan-perusahaan tersebut bahkan membeli minyak sawit dari perusahaan yang konsesinya sedang disidik terkait kebakaran hutan dan lahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Unilever, Mondelez, Nestle, dan P&amp;G membeli bahan dari kelompok produsen minyak kelapa sawit yang lahannya memiliki jumlah titik panas api terbanyak, hampir mencapai 10.000 titik panas api. Pedagang minyak sawit Wilmar, Cargill, Musim Mas, dan Golden-Agri Resources (GAR) memiliki kitan atas kebakaran tahun ini di Indonesia, mereka mensuplai lebih dari tiga perempat minyak sawit global. [1] Analisis baru menunjukkan tumpang tindih yang luas pada perusahaan-perusahaan ini dengan kelompok-kelompok produsen minyak kelapa sawit dengan area terbakar terbesar pada 2015-2018.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPerusahaan telah menciptakan tampilan yang berkelanjutan dalam hal pemanfaatan serta kelestarian lingkungan hidup. Tetapi kenyataannya sumber bahan baku mereka berasal dari pelanggar terburuk. Perusahaan-perusahaan yang mendapat keuntungan finansial dari kebakaran hutan harus dimintai pertanggungjawaban atas kekejaman lingkungan ini dan dampak buruknya terhadap kesehatan, \u201dkata Annisa Rahmawati, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indoeterkanesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut laporan, lebih dari 900.000 orang di Indonesia telah menderita infeksi pernafasan atas (ISPA) yang disebabkan kabut asap dari kebakaran tahun ini, [2] dan hampir 10 juta anak-anak beresiko mengalami kerusakan fisik dan kognitif seumur hidup akibat polusi udara. [3] Antara 1 Januari hingga 22 Oktober 2019, kebakaran mengakibatkan sekitar 465 megaton CO<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">2<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> terlepas ke udara yang nilainya hampir mencapai total emisi gas rumah kaca Inggris skala per-tahun. [4]<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Temuan baru datang ketika para perusahaan berkumpul pada acara Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) di Thailand. Asosiasi ini menyatakan minyak kelapa sawit anggotanya memenuhi standar berkelanjutan, salah satu kriterianya adalah \u201c<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tanpa bakar.\u201d<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Namun lebih dari dua pertiga dari kelompok produsen yang terkait dengan kebakaran berulang dan semua perusahaan yang dianalisis oleh Greenpeace adalah anggota RSPO, beberapa bahkan anggota dewan pengelolanya. [5]<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perusahaan-perusahaan global telah <\/span><a href=\"https:\/\/drive.google.com\/file\/d\/1tolV2R1tPdbQ5JqxrdR3xcmnSUeGOJjs\/view\"><span style=\"font-weight: 400;\">membuat komitmen untuk menghentikan deforestasi pada tahun 2020<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, tetapi sebaliknya kehilangan hutan justru cepat, dan komoditas telah menjadi pendorong deforestasi tertinggi. [6] Greenpeace baru-baru ini mundur <\/span><a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/southeastasia\/press\/2973\/greenpeace-halts-engagement-with-wilmar-unilever-mondelez-over-continued-failure-to-take-necessary-action-to-cut-deforestation-from-their-supply-chains\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">dari sebuah proses dengan Unilever, Mondelez dan Wilmar<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam hal pembuatan platform monitoring minyak sawitnya, khususnya di Indonesia, karena mereka gagal berulang kali mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencapai target nol deforestasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah di seluruh dunia belum mengambil tindakan serius terhadap perusahaan atau perusahaan barang konsumsi yang terkait dengan kebakaran. [7] Greenpeace menyerukan agar perusahaan yang bertanggung jawab dan yang telah mengambil keuntungan dari kebakaran ini, dituntut pertanggungjawabannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><b>Foto dan Video:<\/b> <a href=\"https:\/\/media.greenpeace.org\/collection\/27MZIFJ8YCLAC\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/media.greenpeace.org\/collection\/27MZIFJ8YCLAC<\/span><\/a><\/p>\n<p><b>Catatan:<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">[1] Pangsa pasar pedagang <\/span><a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/OccPapers\/OP-175.pdf\"><span style=\"font-weight: 400;\">sesuai dengan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">) berdasarkan data 2015<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">[2] Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia (BNPB), sebagaimana dikutip di <\/span><a href=\"https:\/\/nasional.tempo.co\/read\/1251408\/bnpb-korban-ispa-akibat-karhutla-mencapai-900-ribu-jiwa\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tempo.co<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">[3] Menurut UNICEF, sebagaimana dikutip di <\/span><a href=\"https:\/\/www.france24.com\/en\/20190924-indonesian-forest-fires-putting-10-million-children-at-risk-un\"><span style=\"font-weight: 400;\">France24<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">[4] Emisi dari kebakaran hutan Indonesia berdasarkan pada <\/span><a href=\"http:\/\/www.globalfiredata.org\/index.html\"><span style=\"font-weight: 400;\">Global Fire Emissions Database (GFED)<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Emisi tahunan Inggris berdasarkan data terbaru 2014 dari <\/span><a href=\"https:\/\/www.climatewatchdata.org\/ghg-emissions?regions=EU28&amp;sectors=509\"><span style=\"font-weight: 400;\">Climate Watch<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Banyak kebakaran juga berada dalam areal habitat terakhir orangutan yang terancam punah dan spesies rentan lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">[5] Grup produsen yang terkait dengan kebakaran yang terjadi berulang-ulang didefinisikan sebagai grup yang terkait dengan lebih dari 250 titik panas api pada 2019 dan \/ atau yang terkait dengan area terbakar terbesar pada 2015-2018. <\/span><a href=\"https:\/\/www.rspo.org\/publications\/download\/638ae27c7f6b004\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut aturan RSPO,<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> grup harus menjadi bagian anggota pada level yang mencakup semua operasi minyak sawitnya, oleh karena itu operasional grup di sini dianggap terkait dengan RSPO, di mana grup tersebut saat ini adalah anggota RSPO. Analisis Greenpeace menemukan bahwa anggota RSPO terkait dengan sebagian besar kebakaran di Indonesia saat ini. Pertemuan itu tidak memiliki pembahasan soal karhutla dalam agendanya, menurut <\/span><a href=\"https:\/\/www.rt.rspo.org\/c\/rt17-programme65\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">situs web acara RSPO<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">[6] Menurut Deklarasi Hutan New York tentang Hutan (NYDF). Rincian lebih lanjut tentang komitmen deforestasi perusahaan yang gagal juga dapat ditemukan di <\/span><a href=\"https:\/\/drive.google.com\/file\/d\/1tolV2R1tPdbQ5JqxrdR3xcmnSUeGOJjs\/view\"><span style=\"font-weight: 400;\">briefing Greenpeace Amerika Serikat<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">[7] Sebagai contoh, pemerintah Indonesia belum secara serius menghukum perusahaan kelapa sawit yang bertanggung jawab atas area terbakar terbesar dalam beberapa tahun terakhir, <\/span><a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/press-release\/24444\/palm-oil-and-pulp-companies-with-most-burned-land-go-unpunished-as-indonesian-forest-fires-rage\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">menurut analisis Greenpeace Indonesia<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Selain itu, pemerintah Singapura dan Malaysia juga tidak memberi sanksi kepada perusahaan, terlepas dari kenyataan bahwa setengah dari produsen minyak sawit yang bertanggung jawab atas titik panas api di Indonesia tahun 2019 berbasis di negara-negara ini.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/bit.ly\/2wqDhXP\"><strong>Laporan: &#8220;Membakar Rumah: Bagaimana Merek-Merek Ternama Terus Mengobarkan Kebakaran di Indonesia&#8221;<\/strong><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/bit.ly\/39l4o5b\"><strong>Ringkasan Eksekutif: &#8220;Ongkos Sebenarnya yang Harus Ditanggung Minyak Sawit dan Bubur Kayu&#8221;<\/strong><\/a><\/p>\n<p><b>Kontak:<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Annisa Rahmawati, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia,<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tel 62-811-1097-527 , email <\/span><a href=\"mailto:annisa.rahmawati@greenpeace.org\"><span style=\"font-weight: 400;\">annisa.rahmawati@greenpeace.org<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rully Yuliardi Achmad, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia,\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tel 62- 811-8334-409, email <\/span><a href=\"mailto:rully.yuliardi.achmad@greenpeace.org\"><span style=\"font-weight: 400;\">rully.yuliardi.achmad@greenpeace.org<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perusahaan merek ternama seperti Unilever, Mondelez, Nestle, dan Procter &#038; Gamble (P&#038;G), dan pedagang minyak kelapa sawit termasuk Wilmar membeli minyak kelapa sawit dari produsen yang terkait dengan ribuan titik panas api\u00a0 di Indonesia tahun ini, berdasarkan analisis terbaru oleh Greenpeace Internasional. Perusahaan-perusahaan tersebut bahkan membeli minyak sawit dari perusahaan yang konsesinya sedang disidik terkait kebakaran hutan dan lahan.<\/p>\n","protected":false},"author":44,"featured_media":2879,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"not set","p4_local_project":"","p4_basket_name":"not set","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[17,19],"p4-page-type":[14],"class_list":["post-4136","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lindungi","tag-udara","tag-hutan","p4-page-type-siaran-pers"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Perusahaan Merek ternama Membeli Minyak Sawit Yang Terkait Masalah Karhutla - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Perusahaan Merek ternama Membeli Minyak Sawit Yang Terkait Masalah Karhutla - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Perusahaan merek ternama seperti Unilever, Mondelez, Nestle, dan Procter &amp; Gamble (P&amp;G), dan pedagang minyak kelapa sawit termasuk Wilmar membeli minyak kelapa sawit dari produsen yang terkait dengan ribuan titik panas api\u00a0 di Indonesia tahun ini, berdasarkan analisis terbaru oleh Greenpeace Internasional. Perusahaan-perusahaan tersebut bahkan membeli minyak sawit dari perusahaan yang konsesinya sedang disidik terkait kebakaran hutan dan lahan.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-11-04T05:28:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2020-03-05T07:54:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/6e818410-gp0stt0v6.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"802\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Rully Yuliardi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Rully Yuliardi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/\"},\"author\":{\"name\":\"Rully Yuliardi\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3151a7596d3e40c8b958c8d1078c61d3\"},\"headline\":\"Perusahaan Merek ternama Membeli Minyak Sawit Yang Terkait Masalah Karhutla\",\"datePublished\":\"2019-11-04T05:28:16+00:00\",\"dateModified\":\"2020-03-05T07:54:51+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/\"},\"wordCount\":734,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Udara\",\"Hutan\"],\"articleSection\":[\"Lindungi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/\",\"name\":\"Perusahaan Merek ternama Membeli Minyak Sawit Yang Terkait Masalah Karhutla - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2019-11-04T05:28:16+00:00\",\"dateModified\":\"2020-03-05T07:54:51+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Perusahaan Merek ternama Membeli Minyak Sawit Yang Terkait Masalah Karhutla\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3151a7596d3e40c8b958c8d1078c61d3\",\"name\":\"Rully Yuliardi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9cd53578b62c04910837938f56a86f1e8bff887cd899a465ff922ae257cec333?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9cd53578b62c04910837938f56a86f1e8bff887cd899a465ff922ae257cec333?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Rully Yuliardi\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/rachmad\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Perusahaan Merek ternama Membeli Minyak Sawit Yang Terkait Masalah Karhutla - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Perusahaan Merek ternama Membeli Minyak Sawit Yang Terkait Masalah Karhutla - Greenpeace Indonesia","og_description":"Perusahaan merek ternama seperti Unilever, Mondelez, Nestle, dan Procter & Gamble (P&G), dan pedagang minyak kelapa sawit termasuk Wilmar membeli minyak kelapa sawit dari produsen yang terkait dengan ribuan titik panas api\u00a0 di Indonesia tahun ini, berdasarkan analisis terbaru oleh Greenpeace Internasional. Perusahaan-perusahaan tersebut bahkan membeli minyak sawit dari perusahaan yang konsesinya sedang disidik terkait kebakaran hutan dan lahan.","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2019-11-04T05:28:16+00:00","article_modified_time":"2020-03-05T07:54:51+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":802,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/05\/6e818410-gp0stt0v6.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Rully Yuliardi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Rully Yuliardi","Est. reading time":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/"},"author":{"name":"Rully Yuliardi","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3151a7596d3e40c8b958c8d1078c61d3"},"headline":"Perusahaan Merek ternama Membeli Minyak Sawit Yang Terkait Masalah Karhutla","datePublished":"2019-11-04T05:28:16+00:00","dateModified":"2020-03-05T07:54:51+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/"},"wordCount":734,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Udara","Hutan"],"articleSection":["Lindungi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/","name":"Perusahaan Merek ternama Membeli Minyak Sawit Yang Terkait Masalah Karhutla - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2019-11-04T05:28:16+00:00","dateModified":"2020-03-05T07:54:51+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4136\/perusahaan-merek-ternama-membeli-minyak-sawit-yang-terkait-masalah-karhutla\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Perusahaan Merek ternama Membeli Minyak Sawit Yang Terkait Masalah Karhutla"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3151a7596d3e40c8b958c8d1078c61d3","name":"Rully Yuliardi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9cd53578b62c04910837938f56a86f1e8bff887cd899a465ff922ae257cec333?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9cd53578b62c04910837938f56a86f1e8bff887cd899a465ff922ae257cec333?s=96&d=mm&r=g","caption":"Rully Yuliardi"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/rachmad\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4136","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/44"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4136"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4136\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4726,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4136\/revisions\/4726"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2879"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4136"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4136"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4136"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=4136"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}