{"id":4364,"date":"2019-12-09T16:45:49","date_gmt":"2019-12-09T09:45:49","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=4364"},"modified":"2025-07-10T17:51:29","modified_gmt":"2025-07-10T10:51:29","slug":"anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/","title":{"rendered":"Anak Buah Kapal Ikan Asal Asia Tenggara Mengalami \u201cPerbudakan Modern\u201d"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Jakarta, 9 Desember 2019<\/strong>. Sebanyak 13 kapal\npenangkap ikan berbendera asing diduga melakukan penindasan terhadap anak buah\nkapal (ABK) asal Asia Tenggara. Berdasarkan tingkat keparahannya,\nperlakuan-perlakuan yang diterima para ABK tersebut bisa digolongkan sebagai\n\u201cperbudakan modern\u201d. [1]&nbsp;<\/p>\n\n<p>Dalam laporan \u201c<a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/southeastasia\/publication\/3428\/seabound-the-journey-to-modern-slavery-on-the-high-seas\/\">Ketika Laut Menjerat: Perjalanan Menuju Perbudakan Modern di Laut Lepas<\/a>,\u201d Greenpeace Asia Tenggara memperlihatkan potret kehidupan dan kondisi pekerjaan para ABK, terutama yang berasal dari Indonesia dan Filipina, yang bekerja di kapal penangkap ikan jarak jauh negara lain. Kerja paksa, penganiayaan, dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya menjadi benang merah dari kesaksian sebanyak 34 ABK yang dilakukan melalui wawancara tatap muka, analisis dokumentasi, dan petunjuk lainnya yang memperkuat. [2]<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-blue-overlay caption-alignment-center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"697\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/7648ec70-gp0stqe64-1024x697.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3638\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/7648ec70-gp0stqe64-1024x697.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/7648ec70-gp0stqe64-300x204.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/7648ec70-gp0stqe64-768x523.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/7648ec70-gp0stqe64-499x340.jpg 499w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/7648ec70-gp0stqe64.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n<p>Salah satu ABK, yaitu Tuan Z, 24, mantan kru kapal <em>longliner\nZhong Da 2<\/em> milik Taiwan yang direkam pada Mei 2018, menyatakan:<\/p>\n\n<p><em>\u201cSaya dipaksa bekerja tanpa istirahat dan makanan yang cukup. Saya\nkelelahan dan tidak bisa melanjutkan tugas saya. Saya melihat awak kapal yang\nlain bisa beristirahat. Saya berhenti dan pergi ke dapur, tetapi makanan tak\nlagi disajikan. Bos mendatangi saya dan bertanya, &#8220;Apa masalah Anda?&#8221;\nSaya pun bertanya kembali, &#8220;Apakah Anda tidak tahu aturannya, saya juga perlu\nistirahat dan makan, apa salah saya?&#8221; <\/em>[3]<\/p>\n\n<p>Greenpeace Asia Tenggara pun berusaha menghubungi perwakilan <em>Zhong\nDa 2<\/em>, serta kapal penangkap ikan lain yang disebutkan dalam laporan (sesuai\ndengan kontak yang tersedia), tetapi <em>Zhong Da 2<\/em> tidak memberikan\nkomentar menanggapi tuduhan ini.<\/p>\n\n<p>Laporan ini juga mengungkapkan sistem perekrutan yang menjebak\nbanyak nelayan Indonesia dalam kondisi kerja paksa. Greenpeace Asia Tenggara,\ndengan bantuan <a href=\"http:\/\/sbmi.or.id\/\">Serikat Buruh Migran\nIndonesia<\/a> (SBMI), menganalisis kontrak, surat jaminan dan dokumen terkait.<\/p>\n\n<p>Dalam penyelidikan praktik perburuhan ilegal, seorang ABK asal\nIndonesia yang bekerja di kapal penangkap ikan <em>Chin Chun 12<\/em> asal Taiwan,\nmengaku belum menerima gaji selama enam bulan pertama. Sementara seorang ABK\nIndonesia lainnya yang bekerja di kapal <em>Lien Yi Hsing 12 <\/em>asal Taiwan\ndilaporkan hanya menerima USD 50 dalam empat bulan pertama. [4] <em>Chin Chun 12<\/em>\nbelum menanggapi tuduhan yang disampaikan kepada mereka, sementara <em>Lien Yi\nHsing 12<\/em> telah merespons dan membantah tuduhan itu [5]<\/p>\n\n<p>\u201cMeskipun terdapat kebijakan nasional untuk melindungi pekerja\nmigran dan perjanjian internasional tentang pengelolaan perikanan, perbudakan\nmodern terus berlangsung dalam industri perikanan,\u201d kata Arifsyah Nasution,\nJurukampanye Laut untuk Greenpeace Asia Tenggara.<\/p>\n\n<p>Arifsyah menegaskan, \u201cModel bisnis perikanan global yang\neksploitatif ini tidak bisa lagi berlanjut, dan keluhan ketidakadilan serta\npenyiksaan yang tak berkesudahan harus segera diatasi oleh semua pemangku\nkepentingan. Satu nelayan migran menderita itu sudah keterlaluan. Sangat\npenting bahwa hukum nasional yang menjamin hak-hak nelayan migran ditegakkan\nsepenuhnya, atau, jika tidak ada, harus disusun dan disahkan sesegera\nmungkin.&#8221;<\/p>\n\n<p>\u201cKami sangat prihatin dan menyesalkan pemerintah lagi-lagi lalai, sehingga gagal dalam mengesahkan tepat waktu sejumlah aturan pelaksana yang dimandatkan oleh UU 18\/2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (PPMI). Seharusnya semua aturan turunan, termasuk yang mengatur lebih rinci tata laksana pelindungan awak kapal sudah disahkan pada November 2019 lalu, yaitu dua tahun sejak UU PPMI ditetapkan,\u201d ujar Hariyanto, Ketua Umum Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI).\u00a0<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-blue-overlay caption-alignment-center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"533\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/12\/8002918e-gp0stu86b_web_size_with_credit_line.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-4365\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/12\/8002918e-gp0stu86b_web_size_with_credit_line.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/12\/8002918e-gp0stu86b_web_size_with_credit_line-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/12\/8002918e-gp0stu86b_web_size_with_credit_line-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/12\/8002918e-gp0stu86b_web_size_with_credit_line-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><figcaption>Fisherman unload the catches from troll ship at Tegal port, Central Java. Fisherman is one of the main livelihood for people leaving in the North Coast area of Java.<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>\u201cKami menduga kuat ada hambatan\nbirokrasi dan ego lembaga yang sangat serius, sehingga mengakibatkan molornya\npenerbitan peraturan pelaksanaan UU PPMI itu. Ini sebuah ironi dan tragedi,\ndalam dua tahun terakhir itu pula praktik eksploitasi terhadap pelaut migran\nperikanan asal Indonesia masih terus terjadi tanpa penertiban dan penindakan\nefektif oleh pemerintah,\u201d tegas Hariyanto.<\/p>\n\n<p>Dengan COP 25 disebut sebagai &#8220;<a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/press-release\/27652\/the-climate-crisis-is-an-ocean-crisis-greenpeace-report\/\">COP biru<\/a>&#8221; karena fokusnya pada lautan dan menjelang <a href=\"https:\/\/www.un.org\/en\/observances\/human-rights-day\">Hari Hak Asasi Manusia Internasiona<\/a>l, Greenpeace Asia Tenggara menyerukan kepada 10 negara anggota ASEAN, khususnya, Indonesia, Filipina dan Thailand untuk memimpin penyelesaian masalah penangkapan ikan yang berlebihan, <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/iuu-fishing\/background\/what-is-iuu-fishing\/en\/\">ilegal, tidak dilaporkan dan tidak diatur<\/a> (IUU), serta perbudakan modern di laut. Sebagai salah satu rekomendasi inti, ketiga negara ini diminta untuk meratifikasi dan mengimplementasikan <a href=\"https:\/\/www.ilo.org\/global\/about-the-ilo\/newsroom\/news\/WCMS_596898\/lang--en\/index.htm\">Konvensi ILO 188 mengenai Pekerjaan Dalam Penangkapan Ikan<\/a>, untuk melindungi warganya dari pelanggaran hak asasi manusia di kapal penangkap ikan. [6]<\/p>\n\n<p>Laporan bisa diunduh di <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/southeastasia\/publication\/3428\/seabound-the-journey-to-modern-slavery-on-the-high-seas\/\">sini<\/a>.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n<p>Foto bisa diakses di <a href=\"https:\/\/media.greenpeace.org\/Share\/11t7d7mer80wva8phow28053a68ljc11\">sini<\/a>.<\/p>\n\n<p><strong>Catatan:<\/strong><\/p>\n\n<p>[1] Kapal penangkap ikan yang diidentifikasi dan diseleksi untuk\npenulisan laporan apakah itu berasal atau terdaftar di Cina daratan, Taiwan,\nVanuatu, dan Fiji. Lihat laporan hal 28.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n<p>[2] Secara keseluruhan, empat pengaduan yang disimpulkan dalam\nlaporan, mencakup:<\/p>\n\n<p>i) Penipuan meliputi 11\nkapal ikan asing&nbsp;<\/p>\n\n<p>ii) Pemotongan upah yang\nmelibatkan 9 kapal ikan asing<\/p>\n\n<p>iii) Kerja lembur\nberlebihan yang melibatkan 8 kapal ikan asing&nbsp;<\/p>\n\n<p>iv) Penganiayaan fisik dan\nseksual yang melibatkan 7 kapal ikan asing<\/p>\n\n<p>[3] Seperti yang tertera di laporan hal 32.&nbsp;<\/p>\n\n<p>[4] Tabel gaji awak kapal dan pengurangannya pada hal 23,\n24.&nbsp;<\/p>\n\n<p>[5] Seperti yang dicantumkan di hal 34.&nbsp;<\/p>\n\n<p>[6] Rekomendasi lainnya di hal 48.&nbsp;<\/p>\n\n<p><strong>Kontak Media:<\/strong><\/p>\n\n<p>Hariyanto, Ketua Umum Serikat Buruh Migran Indonesia,\nhari@sbmi.or.id, 0822-9898-0638<\/p>\n\n<p>Arifsyah Nasution, Jurukampanye Laut Greenpeace Asia Tenggara,\narifsyah.nasution@greenpeace.org, 0811-1400-350<\/p>\n\n<p>Ester Meryana, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia,\nemeryana@greenpeace.org, 0811-1924-090<\/p>\n\n<p>Greenpeace International Press Desk, +31 (0)20 718 2470 (available\n24 hours), pressdesk.int@greenpeace.org<\/p>\n\n<p>Ikuti twitter @greenpeacepress untuk mengetahui siaran pers\nterbaru&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebanyak 13 kapal penangkap ikan berbendera asing diduga melakukan penindasan terhadap anak buah kapal (ABK) asal Asia Tenggara. Berdasarkan tingkat keparahannya, perlakuan-perlakuan yang diterima para ABK tersebut bisa digolongkan sebagai \u201cperbudakan modern\u201d.<\/p>\n","protected":false},"author":28,"featured_media":3638,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"not set","p4_local_project":"","p4_basket_name":"not set","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[20],"p4-page-type":[14],"class_list":["post-4364","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lindungi","tag-laut","p4-page-type-siaran-pers"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Anak Buah Kapal Ikan Asal Asia Tenggara Mengalami \u201cPerbudakan Modern\u201d - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Anak Buah Kapal Ikan Asal Asia Tenggara Mengalami \u201cPerbudakan Modern\u201d - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sebanyak 13 kapal penangkap ikan berbendera asing diduga melakukan penindasan terhadap anak buah kapal (ABK) asal Asia Tenggara. Berdasarkan tingkat keparahannya, perlakuan-perlakuan yang diterima para ABK tersebut bisa digolongkan sebagai \u201cperbudakan modern\u201d.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-12-09T09:45:49+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-10T10:51:29+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/7648ec70-gp0stqe64.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"817\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Medina Basaib\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Medina Basaib\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/\"},\"author\":{\"name\":\"Medina Basaib\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c\"},\"headline\":\"Anak Buah Kapal Ikan Asal Asia Tenggara Mengalami \u201cPerbudakan Modern\u201d\",\"datePublished\":\"2019-12-09T09:45:49+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:51:29+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/\"},\"wordCount\":807,\"commentCount\":1,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Laut\"],\"articleSection\":[\"Lindungi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/\",\"url\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/\",\"name\":\"Anak Buah Kapal Ikan Asal Asia Tenggara Mengalami \u201cPerbudakan Modern\u201d - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2019-12-09T09:45:49+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:51:29+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Anak Buah Kapal Ikan Asal Asia Tenggara Mengalami \u201cPerbudakan Modern\u201d\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c\",\"name\":\"Medina Basaib\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Medina Basaib\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/mbasaib\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Anak Buah Kapal Ikan Asal Asia Tenggara Mengalami \u201cPerbudakan Modern\u201d - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Anak Buah Kapal Ikan Asal Asia Tenggara Mengalami \u201cPerbudakan Modern\u201d - Greenpeace Indonesia","og_description":"Sebanyak 13 kapal penangkap ikan berbendera asing diduga melakukan penindasan terhadap anak buah kapal (ABK) asal Asia Tenggara. Berdasarkan tingkat keparahannya, perlakuan-perlakuan yang diterima para ABK tersebut bisa digolongkan sebagai \u201cperbudakan modern\u201d.","og_url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2019-12-09T09:45:49+00:00","article_modified_time":"2025-07-10T10:51:29+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":817,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2019\/08\/7648ec70-gp0stqe64.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Medina Basaib","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Medina Basaib","Est. reading time":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/"},"author":{"name":"Medina Basaib","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c"},"headline":"Anak Buah Kapal Ikan Asal Asia Tenggara Mengalami \u201cPerbudakan Modern\u201d","datePublished":"2019-12-09T09:45:49+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:51:29+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/"},"wordCount":807,"commentCount":1,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Laut"],"articleSection":["Lindungi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/","url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/","name":"Anak Buah Kapal Ikan Asal Asia Tenggara Mengalami \u201cPerbudakan Modern\u201d - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2019-12-09T09:45:49+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:51:29+00:00","breadcrumb":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/4364\/anak-buah-kapal-ikan-asal-asia-tenggara-mengalami-perbudakan-modern\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Anak Buah Kapal Ikan Asal Asia Tenggara Mengalami \u201cPerbudakan Modern\u201d"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c","name":"Medina Basaib","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g","caption":"Medina Basaib"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/mbasaib\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4364","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/28"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4364"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4364\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64393,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4364\/revisions\/64393"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3638"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4364"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4364"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4364"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=4364"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}