{"id":44339,"date":"2020-11-18T20:58:09","date_gmt":"2020-11-18T13:58:09","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=44339"},"modified":"2025-07-10T17:48:13","modified_gmt":"2025-07-10T10:48:13","slug":"hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/","title":{"rendered":"Hutan Terkikis, Masyarakat Adat Menangis"},"content":{"rendered":"\n<p>Apa yang terlintas ketika kalian mendengar \u2018Papua\u2019? Ada banyak hal tentunya, tetapi bagi saya yang pertama terlintas di kepala ketika mendengar \u2018Papua\u2019 adalah wilayah yang memiliki kekayaan alam melimpah dengan tingkat keanekaragaman hayati tinggi. Salah satu kekayaan alam yang melimpah itu adalah; kawasan hutan yang luas yang belum terjamah (paradise forest), walaupun kini tidak lagi, karena semakin terancam oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit yang membuka hutan secara besar-besaran.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-medium caption-alignment-center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"533\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/11\/c49802da-gp0strn9j_web_size_with_credit_line.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-44329\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/11\/c49802da-gp0strn9j_web_size_with_credit_line.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/11\/c49802da-gp0strn9j_web_size_with_credit_line-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/11\/c49802da-gp0strn9j_web_size_with_credit_line-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/11\/c49802da-gp0strn9j_web_size_with_credit_line-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><figcaption>Aerial view of Papua province, Indonesia&#8217;s last intact forest frontier.\nSmoke rises from long rows of smouldering debris from recent forest clearance in the PT Dongin Prabhawa oil palm concession in Mappi district, Papua. The concession is controlled by the Korindo Group.<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Baru-baru ini, Greenpeace International&nbsp; dan Forensic Architecture membeberkan temuan terkait dugaan pembakaran hutan yang sengaja dilakukan perusahaan asal Korea Selatan: Korindo.&nbsp; Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa dalam kurun tahun 2001-2019, sekitar 57.000 hektar hutan telah dibuka untuk menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.<\/p>\n\n<p><strong>Derita Masyarakat Adat Papua<\/strong><\/p>\n\n<p>Hutan tak hanya menjadi habitat bagi banyak spesies flora dan fauna, namun juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat adat Papua secara turun temurun. Salah satu suku yang terdampak dari pembukaan hutan dengan pembakaran disengaja tersebut adalah suku Mandobo dan Malind yang tinggal di pedalaman Papua. Seiring dengan geliat ekspansi perkebunan kelapa sawit, semakin banyak hutan adat yang semakin terkikis. Padahal menurut Undang-undang Perkebunan dan Undang-undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), praktik pembakaran untuk pembukaan lahan adalah tindakan ilegal di Indonesia. <\/p>\n\n<p>Dilansir dari BBC Indonesia, Petrus Kinggo, ketua marga Kinggo dari Suku Mandobo menjelaskan bagaimana masyarakat adat Papua sangat menggantungkan hidupnya dari hutan, contohnya ketika mencari makan setiap hari. Menurut Petrus, korporasi menggunakan berbagai cara agar mendapatkan tanah dari kendali masyarakat adat. Misalnya dengan cara memberikan kompensasi biaya pendidikan, pembangunan sumur bersih, genset dan lain sebagainya. Namun dampak dari penghancuran hutan tersebut justru semakin merugikan masyarakat adat di Papua. Dengan dalih legalitas, Korindo merasa bahwa tak ada hak masyarakat adat yang menjadi korban lantaran mereka melakukannya sesuai dengan hukum yang berlaku.<\/p>\n\n<p><strong>Lindungi Hak Masyarakat Adat<\/strong><\/p>\n\n<p>Skandal ini mencerminkan bahwa masyarakat adat bukan menjadi prioritas negara yang seharusnya dilindungi. Praktik pembakaran oleh Korindo belum tersentuh hukum, ditambah lagi,&nbsp; kehadiran Omnibus Law Undang-undang Cipta Kerja menunjukkan ketidakseriusan pemerintah Indonesia dalam melindungi hutan serta mencegah kasus pembakaran hutan di Indonesia terus terjadi.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-medium caption-alignment-center\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/media.greenpeace.org\/AssetLink\/42c3156ssb6l051k4nq206lb3fa5vttc.jpg\" alt=\"\"\/><\/figure>\n\n<p>UU Cipta Kerja tak lagi menetapkan luas minimal kawasan dalam bentuk presentasi. UU ini juga melakukan penyederhanaan perizinan berusaha pada perizinan pemanfaatan hutan. Dari sebelumnya ada 14 jenis izin menjadi 1 jenis izin yaitu perizinan berusaha pemanfaatan hutan. Perizinan berusaha meliputi kegiatan pemanfaatan kawasan hutan, pemanfaatan jasa lingkungan, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, pemanfaatan hasil hutan kayu, pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu.<\/p>\n\n<p>Sungguh ironi bukan? ketika pemerintah sendiri justeru membuat&nbsp; undang-undang yang memperlemah perlindungan lingkungan. Mau berapa banyak masyarakat adat yang harus kehilangan tempat tinggal jika hal ini terus dibiarkan?<\/p>\n\n<p><a href=\"https:\/\/act.greenpeace.org\/page\/71057\/petition\/1?ea.tracking.id=blogs&amp;utm_campaign=covid-19-response&amp;utm_source=p4&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=blog&amp;utm_term=masyarakatadat\">Tandatangani petisi ini<\/a>, berikan suaramu untuk mencegah lebih banyak lagi hutan yang dibakar dengan sengaja. Suara yang kamu berikan juga membantu melindungi masyarakat adat di Papua.\u00a0<\/p>\n\n<p><em>Ditulis oleh Thalitha Yuristiana, Mahasiswi UPN Veteran Jakarta yang sedang melakukan magang di Greenpeace Indonesia<\/em><\/p>\n\t\t\t<section\n\t\t\tclass=\"boxout post-44304 \"\n\t\t\t\n\t\t>\n\t\t\t<a\n\t\t\t\tdata-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n\t\t\t\tdata-ga-action=\"Image\"\n\t\t\t\tdata-ga-label=\"n\/a\"\n\t\t\t\tclass=\"cover-card-overlay\"\n\t\t\t\thref=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/saya-bersama-hutan-papua\/\" \n\t\t\t><\/a>\n\t\t\t\t\t\t\t<img\n\t\t\t\t\t\tsrc=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/10\/de8764ac-shutterstock_101022454-1024x683.jpg\"\n\t\t\t\t\t\tsrcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/10\/de8764ac-shutterstock_101022454-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/10\/de8764ac-shutterstock_101022454-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/10\/de8764ac-shutterstock_101022454-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/10\/de8764ac-shutterstock_101022454-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/10\/de8764ac-shutterstock_101022454-2048x1366.jpg 2048w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/10\/de8764ac-shutterstock_101022454-510x340.jpg 510w\"\n\t\t\t\t\t\tsizes=\"(min-width: 1000px) 358px, (min-width: 780px) 313px, 88px\"\n\t\t\t\t\t\talt=\"\" title=\"\"\n\t\t\t\t\/>\n            \t\t\t<div class=\"boxout-content\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<a\n\t\t\t\t\t\tclass=\"boxout-heading medium\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-action=\"Title\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-label=\"n\/a\"\n\t\t\t\t\t\thref=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/saya-bersama-hutan-papua\/\"\n\t\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t>\n\t\t\t\t\t\tSaya Bersama Hutan Papua\n\t\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"boxout-excerpt\">Saat ini Hutan Papua beserta isinya sedang dalam ancaman yang besar. Kami butuh suaramu untuk lindungi hutan alami terakhir di Indonesia.<\/p>\n\t\t\t\t                                    <a\n                        class=\"btn btn-primary\"\n                        data-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n                        data-ga-action=\"Call to Action\"\n                        data-ga-label=\"n\/a\"\n                        href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/saya-bersama-hutan-papua\/\"\n                        \n                    >\n                        Ikut Beraksi\n                    <\/a>\n                \t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/section>\n\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa yang terlintas ketika kalian mendengar \u2018Papua\u2019? Ada banyak hal tentunya, tetapi bagi saya yang pertama terlintas di kepala ketika mendengar \u2018Papua\u2019 adalah wilayah yang memiliki kekayaan alam melimpah dengan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":38,"featured_media":44298,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"not set","p4_local_project":"not set","p4_basket_name":"not set","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[19],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-44339","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ciptakan-perubahan","tag-hutan","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Hutan Terkikis, Masyarakat Adat Menangis - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Hutan Terkikis, Masyarakat Adat Menangis - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Apa yang terlintas ketika kalian mendengar \u2018Papua\u2019? Ada banyak hal tentunya, tetapi bagi saya yang pertama terlintas di kepala ketika mendengar \u2018Papua\u2019 adalah wilayah yang memiliki kekayaan alam melimpah dengan&hellip;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-11-18T13:58:09+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-10T10:48:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/11\/cdf32064-gp04u3u.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Danang Prasetyo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Danang Prasetyo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/\"},\"author\":{\"name\":\"Danang Prasetyo\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/54bf5402bf2163788b47b7d2b9a2e678\"},\"headline\":\"Hutan Terkikis, Masyarakat Adat Menangis\",\"datePublished\":\"2020-11-18T13:58:09+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:48:13+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/\"},\"wordCount\":517,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Hutan\"],\"articleSection\":[\"Ciptakan Perubahan\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/\",\"url\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/\",\"name\":\"Hutan Terkikis, Masyarakat Adat Menangis - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-11-18T13:58:09+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:48:13+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Hutan Terkikis, Masyarakat Adat Menangis\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/54bf5402bf2163788b47b7d2b9a2e678\",\"name\":\"Danang Prasetyo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLJACKM9i3jaYr7XeHJ3Fb6hnxAuCJWqn4wcDHnNuvLF5MPaByM=s96-c\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLJACKM9i3jaYr7XeHJ3Fb6hnxAuCJWqn4wcDHnNuvLF5MPaByM=s96-c\",\"caption\":\"Danang Prasetyo\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/dprasety\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Hutan Terkikis, Masyarakat Adat Menangis - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Hutan Terkikis, Masyarakat Adat Menangis - Greenpeace Indonesia","og_description":"Apa yang terlintas ketika kalian mendengar \u2018Papua\u2019? Ada banyak hal tentunya, tetapi bagi saya yang pertama terlintas di kepala ketika mendengar \u2018Papua\u2019 adalah wilayah yang memiliki kekayaan alam melimpah dengan&hellip;","og_url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2020-11-18T13:58:09+00:00","article_modified_time":"2025-07-10T10:48:13+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":800,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/11\/cdf32064-gp04u3u.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Danang Prasetyo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Danang Prasetyo","Est. reading time":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/"},"author":{"name":"Danang Prasetyo","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/54bf5402bf2163788b47b7d2b9a2e678"},"headline":"Hutan Terkikis, Masyarakat Adat Menangis","datePublished":"2020-11-18T13:58:09+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:48:13+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/"},"wordCount":517,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Hutan"],"articleSection":["Ciptakan Perubahan"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/","url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/","name":"Hutan Terkikis, Masyarakat Adat Menangis - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2020-11-18T13:58:09+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:48:13+00:00","breadcrumb":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44339\/hutan-terkikis-masyarakat-adat-menangis\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Hutan Terkikis, Masyarakat Adat Menangis"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/54bf5402bf2163788b47b7d2b9a2e678","name":"Danang Prasetyo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLJACKM9i3jaYr7XeHJ3Fb6hnxAuCJWqn4wcDHnNuvLF5MPaByM=s96-c","contentUrl":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLJACKM9i3jaYr7XeHJ3Fb6hnxAuCJWqn4wcDHnNuvLF5MPaByM=s96-c","caption":"Danang Prasetyo"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/dprasety\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44339","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/38"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44339"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44339\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64273,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44339\/revisions\/64273"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44298"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44339"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44339"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44339"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=44339"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}