{"id":44461,"date":"2020-12-18T19:45:20","date_gmt":"2020-12-18T12:45:20","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=44461"},"modified":"2025-07-10T17:48:00","modified_gmt":"2025-07-10T10:48:00","slug":"saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/","title":{"rendered":"Saat Kedaruratan Menjadi Realitas Iklim Kita"},"content":{"rendered":"\n<p>Kami benci untuk mengatakan ini, tetapi seiring bergantinya tahun, keadaan darurat iklim menjadi lebih intens, memecahkan rekor dan mendatangkan malapetaka bagi jutaan orang. Situasi ini memengaruhi ekosistem dan keanekaragaman hayati hampir di setiap belahan dunia.<\/p>\n\n<p>Ini adalah realitas iklim kita saat ini &#8211; yang kita harap tidak pernah harus kita hadapi. Tapi angan sebanyak apa pun tak bisa membuatnya kenyataan pedih ini hilang. Perlu adanya tindakan kolektif, tegas, dan ambisius dari bawah ke atas.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n<p>Tahun ini, pandemi global ikut campur. Selama beberapa bulan yang singkat, langit dunia seakan cerah karena pabrik-pabrik ditutup dan transportasi baik udara maupun darat dihentikan. Kendati demikian, tahun 2020 tetap berada di jalur untuk menjadi tahun terpanas ke-2 menurut laporan iklim. Kami telah melihat gelombang panas, kebakaran hutan, dan bahkan angin topan berulang yang berdampak pada orang dan ekonomi di seluruh dunia.&nbsp;<\/p>\n\n<p><strong>Berikut adalah beberapa gambar tak terlupakan dari keadaan darurat iklim yang akan selamanya menandai tahun 2020.<\/strong><\/p>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Australia<\/h3>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-medium caption-alignment-center\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/4d6909e0-gp0stueyg_medium_res.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Australian Bush fire. \u00a9 SAEED KHAN \/ AFP via Getty Images<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Kebakaran semak (lahan) di Australia mencapai skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, menghancurkan hampir 11 juta hektar dengan setidaknya 29 orang kehilangan nyawa. Diperkirakan lebih dari 1 miliar burung, mamalia dan reptil, serta banyak hewan unik di Australia, ikut terdampak atau terbunuh.<\/p>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kenya<\/h3>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-medium caption-alignment-center\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/198a50c6-gp1styyb_medium_res.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Floods in Migori and Homa Bay Counties in Kenya. \u00a9 Bernard Ojwang \/ Greenpeace<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Selama Mei dan Juni, Kenya mengalami banjir yang menyebabkan ribuan orang mengungsi, ratusan nyawa hilang, tanaman hancur, dan ternak mati. Secara keseluruhan pola cuaca di Afrika Timur telah dipengaruhi secara signifikan oleh perubahan iklim global.<\/p>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Jepang<\/h3>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-medium caption-alignment-center\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/4c254912-gp1su4sj_medium_res.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Hitoyoshi city, Kumamoto Pref, Japan \u00a9 Masaya Noda \/ Greenpeac<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Hujan deras meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Kyushu, Jepang. Banjir dan tanah longsor menyebabkan kerusakan parah, terutama di Prefektur Kumamoto. Puluhan orang tewas, dan lebih dari satu juta orang telah diperintahkan untuk mengungsi. Wilayah Kyushu juga dilanda musim hujan tahun lalu, yang menyebabkan kerusakan parah.<\/p>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">China<\/h3>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-medium caption-alignment-center\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/2845fc32-gp1su72a_medium_res.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>China flooding. \u00a9 STR\/AFP via Getty Images<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Sekitar 36 juta orang ikut terdampak, dengan 140 kematian akibat terjadinya salah satu satu hujan paling lebat dalam beberapa dekade yang mengakibatkan banjir besar di China tengah.<\/p>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Indonesia<\/h3>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-medium caption-alignment-center\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/62cc67dd-gp1su5n0_medium_res.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Flash Floods Aftermath in South Sulawesi. \u00a9 Hariandi Hafid \/ Greenpeace<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Banjir bandang dan tanah longsor di Luwu Utara Sulawesi Selatan merenggut 32 nyawa, dan masih banyak lagi yang hilang. Sekitar 1.590 warga terkena dampak banjir.<\/p>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Korea<\/h3>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-medium caption-alignment-center\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/2020\/09\/8c66771e-gp0stus6g_medium_res-1024x683.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Floods in South Korea. \u00a9 Sungwoo Lee \/ Greenpeace<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Musim hujan terpanjang di Korea Selatan dalam tujuh tahun terakhir telah menyebabkan kerusakan serius akibat hujan lebat. Saat hujan turun dengan deras, sebagian besar kota dan provinsi mengalami kerusakan properti yang parah, termasuk banjir di daerah perkotaan dan pertanian, pemadaman listrik, tanah longsor, dan hilangnya fasilitas seperti jalan dan waduk yang roboh. Sedikitnya 31 orang tewas dan 11 hilang setelah 54 hari hujan.<\/p>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Amerika Serikat<\/h3>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-medium caption-alignment-center\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/2c92718b-gp0stusjh-1024x683.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Hurricane Laura in Louisiana. \u00a9 Julie Dermansky \/ Greenpeace<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Badai Laura menewaskan sedikitnya 14 orang, membuat ribuan orang mengungsi, dan menyebabkan ratusan ribu orang kehilangan aliran listrik. Salah satu badai terkuat yang pernah melanda AS, Laura meluncur melintasi Louisiana memotong atap dan menewaskan sedikitnya enam orang saat menciptakan jalur destruktif hingga ratusan mil ke daratan. Kecepatan angin tertinggi Laura 150 mph (241 kph) menempatkannya di antara sistem terkuat yang tercatat di AS.<\/p>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Rusia<\/h3>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-medium caption-alignment-center\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/2020\/08\/3233241a-gp1su5ja-1024x576.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Forest Fires in Siberia. \u00a9 Julia Petrenko \/ Greenpeace<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Musim panas di Siberia mengakibatkan berbagai konsekuensi perubahan iklim: gelombang panas, tumpahan minyak yang disebabkan oleh pencairan lapisan es dan amukan kebakaran hutan. Tim Greenpeace Rusia telah mendokumentasikan kebakaran hutan di wilayah Krasnoyarsk. Ini adalah bukti nyata dari keadaan darurat iklim. Pemandangan utara sedang diubah oleh panas dan api. Sementara otoritas Rusia gagal menghentikan kebakaran ini, berharga bagi planet taiga yang terus terbakar dengan konsekuensi bagi penduduk setempat dan kontribusi besar bagi perubahan iklim.<\/p>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Brazil<\/h3>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-medium caption-alignment-center\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/28012f43-gp0stupvd_medium_res-1-1024x683.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>The Amazon on fire. \u00a9 Christian Braga \/ Greenpeace<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Amazon terbakar &#8211; lagi. Kenyataan yang memilukan tentang bagaimana perubahan iklim dan keserakahan terkait erat, membuat kita terperanjat. Dengan lebih dari 38 ribu titik panas, api tidak hanya mengancam hutan hujan terbesar di dunia tetapi juga secara langsung mempengaruhi suhu global.<\/p>\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Filipina<\/h3>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-medium caption-alignment-center\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/6409ae98-gp1sulnt_medium_res-1024x683.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Typhoon Vamco Aftermath in Manila. \u00a9 Jilson Tiu<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Topan yang beruntun di Filipina, termasuk badai terkuat tahun 2020 yang melanda daratan, menyebabkan banjir yang lebih parah dan menyebabkan lebih dari 3 juta orang mengungsi. Pada 17 November, kerusakan pertanian akibat topan yang berturut-turut mencapai $ 256 juta sementara kerusakan infrastruktur mencapai $ 165 juta. Saat ini, ada seruan yang berkembang di Filipina untuk mengumumkan keadaan darurat iklim setelah bencana iklim hebat tahun ini.<\/p>\n\t\t\t<section\n\t\t\tclass=\"boxout post-3400 \"\n\t\t\t\n\t\t>\n\t\t\t<a\n\t\t\t\tdata-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n\t\t\t\tdata-ga-action=\"Image\"\n\t\t\t\tdata-ga-label=\"n\/a\"\n\t\t\t\tclass=\"cover-card-overlay\"\n\t\t\t\thref=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/hutan-tanpa-api\/\" \n\t\t\t><\/a>\n\t\t\t\t\t\t\t<img\n\t\t\t\t\t\tsrc=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/516f9953-gp0str28d_.jpg\"\n\t\t\t\t\t\tsrcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/516f9953-gp0str28d_-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/516f9953-gp0str28d_-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/516f9953-gp0str28d_-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/516f9953-gp0str28d_.jpg 800w\"\n\t\t\t\t\t\tsizes=\"(min-width: 1000px) 358px, (min-width: 780px) 313px, 88px\"\n\t\t\t\t\t\talt=\"\" title=\"\"\n\t\t\t\t\/>\n            \t\t\t<div class=\"boxout-content\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<a\n\t\t\t\t\t\tclass=\"boxout-heading medium\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-action=\"Title\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-label=\"n\/a\"\n\t\t\t\t\t\thref=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/hutan-tanpa-api\/\"\n\t\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t>\n\t\t\t\t\t\tTim Cegah Api: Stop Kebakaran Hutan\n\t\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"boxout-excerpt\">Kebakaran hutan tidak hanya mengancam kehidupan manusia, tapi juga mengancam satwa liar asli Indonesia yang terancam punah.<\/p>\n\t\t\t\t                                    <a\n                        class=\"btn btn-primary\"\n                        data-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n                        data-ga-action=\"Call to Action\"\n                        data-ga-label=\"n\/a\"\n                        href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/hutan-tanpa-api\/\"\n                        \n                    >\n                        Ikut Beraksi\n                    <\/a>\n                \t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/section>\n\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kami benci untuk mengatakan ini, tetapi seiring bergantinya tahun, keadaan darurat iklim menjadi lebih intens, memecahkan rekor dan mendatangkan malapetaka bagi jutaan orang. Situasi ini memengaruhi ekosistem dan keanekaragaman hayati&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":38,"featured_media":44464,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"not set","p4_local_project":"not set","p4_basket_name":"not set","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[13],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-44461","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lindungi","tag-tentang-kami","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Saat Kedaruratan Menjadi Realitas Iklim Kita - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Saat Kedaruratan Menjadi Realitas Iklim Kita - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kami benci untuk mengatakan ini, tetapi seiring bergantinya tahun, keadaan darurat iklim menjadi lebih intens, memecahkan rekor dan mendatangkan malapetaka bagi jutaan orang. Situasi ini memengaruhi ekosistem dan keanekaragaman hayati&hellip;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-12-18T12:45:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-10T10:48:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/488578e1-gp1su5ja.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"675\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Danang Prasetyo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Danang Prasetyo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/\"},\"author\":{\"name\":\"Danang Prasetyo\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/54bf5402bf2163788b47b7d2b9a2e678\"},\"headline\":\"Saat Kedaruratan Menjadi Realitas Iklim Kita\",\"datePublished\":\"2020-12-18T12:45:20+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:48:00+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/\"},\"wordCount\":708,\"commentCount\":1,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"TentangKami\"],\"articleSection\":[\"Lindungi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/\",\"url\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/\",\"name\":\"Saat Kedaruratan Menjadi Realitas Iklim Kita - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-12-18T12:45:20+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:48:00+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Saat Kedaruratan Menjadi Realitas Iklim Kita\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/54bf5402bf2163788b47b7d2b9a2e678\",\"name\":\"Danang Prasetyo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLJACKM9i3jaYr7XeHJ3Fb6hnxAuCJWqn4wcDHnNuvLF5MPaByM=s96-c\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLJACKM9i3jaYr7XeHJ3Fb6hnxAuCJWqn4wcDHnNuvLF5MPaByM=s96-c\",\"caption\":\"Danang Prasetyo\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/dprasety\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Saat Kedaruratan Menjadi Realitas Iklim Kita - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Saat Kedaruratan Menjadi Realitas Iklim Kita - Greenpeace Indonesia","og_description":"Kami benci untuk mengatakan ini, tetapi seiring bergantinya tahun, keadaan darurat iklim menjadi lebih intens, memecahkan rekor dan mendatangkan malapetaka bagi jutaan orang. Situasi ini memengaruhi ekosistem dan keanekaragaman hayati&hellip;","og_url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2020-12-18T12:45:20+00:00","article_modified_time":"2025-07-10T10:48:00+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":675,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/488578e1-gp1su5ja.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Danang Prasetyo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Danang Prasetyo","Est. reading time":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/"},"author":{"name":"Danang Prasetyo","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/54bf5402bf2163788b47b7d2b9a2e678"},"headline":"Saat Kedaruratan Menjadi Realitas Iklim Kita","datePublished":"2020-12-18T12:45:20+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:48:00+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/"},"wordCount":708,"commentCount":1,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["TentangKami"],"articleSection":["Lindungi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/","url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/","name":"Saat Kedaruratan Menjadi Realitas Iklim Kita - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2020-12-18T12:45:20+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:48:00+00:00","breadcrumb":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/44461\/saat-kedaruratan-menjadi-realitas-iklim-kita\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Saat Kedaruratan Menjadi Realitas Iklim Kita"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/54bf5402bf2163788b47b7d2b9a2e678","name":"Danang Prasetyo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLJACKM9i3jaYr7XeHJ3Fb6hnxAuCJWqn4wcDHnNuvLF5MPaByM=s96-c","contentUrl":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLJACKM9i3jaYr7XeHJ3Fb6hnxAuCJWqn4wcDHnNuvLF5MPaByM=s96-c","caption":"Danang Prasetyo"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/dprasety\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44461","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/38"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44461"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44461\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64266,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44461\/revisions\/64266"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44464"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44461"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44461"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44461"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=44461"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}