{"id":4492,"date":"2020-01-30T14:08:11","date_gmt":"2020-01-30T07:08:11","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=4492"},"modified":"2025-07-10T17:51:16","modified_gmt":"2025-07-10T10:51:16","slug":"si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/","title":{"rendered":"Si Kaya dan si Miskin dalam Menghadapi #KrisisIklim"},"content":{"rendered":"\n<p>Banjir yang melanda Jabodetabek pada awal tahun 2020 adalah bukti\nnyata dari&nbsp; #KrisisIklim yang sedang\nberlangsung di Indonesia. Jakarta dan sekitarnya mendapat curah hujan yang\nsangat tinggi. Bahkan daerah Halim, Jakarta Timur dinobatkan memiliki curah\nhujan dengan intensitas tertinggi selama 154 tahun terakhir.<\/p>\n\n<p>Pada tulisan sebelumnya yaitu <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4379\/krisisiklim-manusia-akan-kehilangan-banyak-privilege\/\">#KrisisIklim?\nManusia Akan Kehilangan Banyak Privilege<\/a>, sudah dibahas beberapa\nakibat dari terjadinya #KrisisIklim. Semua orang tentunya akan merasakan akibat\ntersebut, menjadi korban dari #KrisisIklim. Namun, apakah semua orang akan\n\u201clangsung\u201d menjadi korban? Apakah semua orang \u201clangsung\u201d menjadi korban yang\npaling dirugikan banjir yang terjadi di awal tahun 2020?<\/p>\n\n<p>Hmm, rasanya tidak. Mari kita melihat realita lebih dalam lagi. <\/p>\n\n<p><strong>Krisis Air\nBersih? Beli Saja\u2026<\/strong><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-blue-overlay caption-alignment-center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/90061c09-gp0stpoth-1024x683.jpg\" title=\"Villagers Collect Water in Beed District. \u00a9 Subrata Biswas \/ Greenpeace\" alt=\"Villagers Collect Water in Beed District. \u00a9 Subrata Biswas \/ Greenpeace\" class=\"wp-image-4494\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/90061c09-gp0stpoth-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/90061c09-gp0stpoth-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/90061c09-gp0stpoth-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/90061c09-gp0stpoth-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/90061c09-gp0stpoth.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption><div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Subrata Biswas \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Coba kita ketik di mesin pencarian <em>\u201ckrisis air bersih di Indonesia\u201d<\/em>, puluhan portal&nbsp; berita online menyuguhkan bencana krisis air\nbersih di beberapa daerah di Indonesia. Agustus 2019 di Gresik, Jawa Timur,\nratusan warga di 59 desa mengalami krisis air. Warga-warga tersebut terpaksa\nharus membeli air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) wilayah setempat\n(dikutip dari <a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/nasional\/20190815064634-32-421471\/kemarau-panjang-krisis-air-bersih-meluas-di-sejumlah-wilayah\">cnnindonesia.com<\/a>).\nWarga harus mengeluarkan uang sebesar Rp 40 ribu per hari untuk membeli air\nkarena sumur kering, dengan kata lain warga harus mengeluarkan Rp 1,2 juta\nlebih banyak setiap bulannya \u2018hanya\u2019 untuk membeli air. Bagaimana dengan\nmasyarakat menengah ke bawah? Menurut data BPS, garis kemiskinan secara\nnasional adalah sebesar Rp 1.990.170\/rumah tangga\/bulan. Dengan kata lain warga\nGresik yang tergolong miskin (pendapatan di bawah garis kemiskinan), akan\nkesulitan mendapat air bersih di tengah kekeringan yang melanda. Orang-orang\nyang berada di atas garis kemiskinan memiliki <em>privilege <\/em>yang lebih banyak dalam menghadapi #KrisisIklim karena\nmampu membeli air bersih.<\/p>\n\n<p><strong>Harga Pangan\nMelambung Jauh<\/strong><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-blue-overlay caption-alignment-center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/9d546c25-gp0a4e-1024x683.jpg\" title=\"Climate Philippines and Cambodia Drought Documentation. \u00a9 Jose Enrique Soriano \/ Silverlens \/ Greenpeace\" alt=\"\" class=\"wp-image-4495\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/9d546c25-gp0a4e-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/9d546c25-gp0a4e-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/9d546c25-gp0a4e-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/9d546c25-gp0a4e-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/9d546c25-gp0a4e.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption><div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Jose Enrique Soriano \/ Silverlens \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Indonesia mengutamakan beras sebagai pangan utama tentunya\nmenuntut sektor pertanian harus mampu memenuhi kebutuhan beras untuk masyarakat\nIndonesia. Kekurangan beras akan menjadi masalah serius untuk Indonesia. Lalu\napa hubungannya dengan #KrisisIklim?<\/p>\n\n<p>Cuaca tak menentu akan terasa dampaknya di sektor pertanian.\nContoh jelasnya masih segar karena baru saja terjadi yaitu <a href=\"https:\/\/www.beritasatu.com\/nasional\/595345\/dampak-banjir-519-hektare-sawah-di-banten-gagal-panen\">ratusan\nhektare sawah di Banten gagal panen akibat banjir yang melanda<\/a>. Tak\nhanya kekeringan saja yang akan merusak jadwal panen para petani, banjir juga\nberdampak demikian. <\/p>\n\n<p>Cuaca yang tidak menentu seperti itu dipicu oleh iklim yang\nsemakin tidak bersahabat. Saat ini, pangan Indonesia masih dalam kondisi aman\nkarena produksi yang berlimpah dan dibantu oleh beras impor. Namun, mari kita\npikirkan beberapa tahun kedepan, akankah kekuatan pangan Indonesia masih dalam kondisi\nprima ketika #KrisisIklim semakin ganas? Ketika cuaca semakin tidak bersahabat.\nKekeringan dan hujan ekstrim datang tanpa bisa di prediksi.<\/p>\n\n<p>Ketika saat itu terjadi, stok beras menipis dan tidak dapat\nmemenuhi seluruh masyarakat Indonesia. Akibatnya harga beras yang melambung\nlagi-lagi tidak ramah untuk masyarakat yang tergolong miskin. Tak hanya beras,\nproduk pertanian lainnya akan bernasib sama. Begitu pula hasil laut yang akan\nturun drastis ketika nelayan tak mampu melaut akibat cuaca yang mengganas.<\/p>\n\n<p><strong>\u201cSemua di dunia ini harus bayar, termasuk bernafas.\u201d <\/strong><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-blue-overlay caption-alignment-center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"533\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/9e5a061d-gp0sttvxe_web_size.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-4514\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/9e5a061d-gp0sttvxe_web_size.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/9e5a061d-gp0sttvxe_web_size-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/9e5a061d-gp0sttvxe_web_size-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/9e5a061d-gp0sttvxe_web_size-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/figure>\n\n<p>WHO menyatakan bahwa polusi udara adalah masalah lingkungan utama yang menimbulkan risiko bagi kesehatan. Setiap tahunnya, ada 7 juta kematian yang disebabkan oleh polusi udara. <a href=\"https:\/\/databoks.katadata.co.id\/datapublish\/2019\/06\/07\/polusi-udara-sebabkan-7-juta-kematian-per-tahun-di-dunia\">Jumlah kematian akibat polusi udara terbesar terjadu di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat lalu diikuti oleh Afrika, Mediterania Timur, dan Amerika.<\/a><\/p>\n\n<p>Coba kita ingat kembali, berapa banyak negara yang menjadi\nkonsumen tetap dari produen udara bersih dalam kemasan? Dan berapa harga yang\ndibandrol untuk udara dalam kemasan tersebut?<\/p>\n\n<p>Pada 2015, independent.co.uk memberitakan bahwa lelaki asal\nInggris bernama Leo De Watts, menjual udara bersih dalam kemasan bermerek\nAethaer ke China seharga Rp 1.575.000 atau 80 pounds. Kaum kaya di China tidak\nberpikir panjang untuk membeli produk tersebut karena kualitas udara China\nsemakin buruk, salah satu dampak dari #KrisisIklim. Tak hanya dari Inggris,\nprodusen asal Kanada dengan merek Vitality memproduksi udara dalam botol dengan\nharga $24 dolar dan mampu menjual puluhan ribu botol dalam sebulan, di ekspor\nke berbagai negara. Vitality juga membuka cabang di India. Negara-negara dengan\nkualitas udara yang buruk juga menjadi konsumen setia dua perusahaan udara ini.\nTerlihat bisnis jual beli udara sangat menjanjikan di tengah masalah polusi\nudara yang sulit diselesaikan. <\/p>\n\n<p>Dibalik mengambil peluang disetiap kesempatan, bisnis jual beli\nudara bersih ini menjadi tamparan keras untuk masyarakat dunia. Selama ini kita\ndibebaskan menghirup udara sebanyak-banyaknya tanpa mengeluarkan sepeser pun.\nBeberapa negara harus membeli udara bersih karena buruknya kualitas udara di\nnegara mereka, yang kemudian menyebabkan kematian. Ternyata udara bersih itu\nsangat berharga!<\/p>\n\n<p><strong>Banjir Datang?\nSi Kaya Mencari \u2018Rumah\u2019 Cadangan, si Miskin Menatap Nanar Atap Rumah<\/strong><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-blue-overlay caption-alignment-center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"600\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/03dab491-gp0stt99m_web_size.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-4515\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/03dab491-gp0stt99m_web_size.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/03dab491-gp0stt99m_web_size-300x225.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/03dab491-gp0stt99m_web_size-768x576.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/03dab491-gp0stt99m_web_size-453x340.jpg 453w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/figure>\n\n<p><a href=\"https:\/\/kumparan.com\/kumparantravel\/banjir-warga-jakarta-mengungsi-ke-hotel-1sYbyPtaPJt\">Beberapa masyarakat yang terkena dampak banjir pada awal tahun\n2020 memilih untuk mengungsi di hotel.<\/a>\nMasyarakat menengah dan menengah ke atas memiliki banyak pilihan ketika rumah\nterendam banjir. Lalu bagaimana dengan masyarkat yang tergolong miskin? Mereka\nhanya duduk termenung menatap rumah satu-satunya yang hanya terlihat atapnya\nsaja. Rata-rata pemukiman kumuh tersebut berada di dataran rendah sehingga air\ndengan mudah menenggelamkan rumah-rumah mereka. Tak ada pilihan ke hotel,\npindah rumah, atau merenovasi rumah menjadi dua lantai atau ditinggikan.\nPilihan mereka hanyalah mengungsi di tempat yang disediakan dan membereskan\nrumah ketika banjir surut.<\/p>\n\n<p>Begitu besar perbedaan yang terjadi di antara masyarakat\nberekonomi rendah dan yang berkecukupan dalam menghadapi #KrisisIklim.\nKesenjangan sosial semakin terasa. Bahwa masyarakat yang tergolong miskin akan\nsangat sulit bertahan hidup ketika #KrisisIklim sudah semakin ganas. Kaum kaya\ndengan <em>privilege <\/em>yang mereka miliki\nmasih sanggup membeli barang-barang dengan harga mahal ketika kuantitasnya\nsemakin sedikit akibat #KrisisIklim.\n\nTapi\ntenang, semua cerita horor tersebut masih mungkin untuk tidak terjadi di dunia\nkhususnya Indonesia jika seluruh masyarakatnya memahami betul #KrisisIklim dan\nmengurangi aktivitas-aktivitas yang dapat memicu #KrisisIklim. <strong>Apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat?<\/strong>\nCukup mudah! Menghemat pemakaian listrik, menggunakan kendaraan umum,\nbersepeda, mengurangi pemakaian barang sekali pakai, mulai mengurangi\nkonsumerisme, dan menanam pohon di lingkungan sekitar untuk menambah suplai\nudara bersih. Masyarakat juga secara langsung bisa <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/dukung-indonesia-segera-melakukan-transisi-energi-ke-energi-terbarukan-yang-ramah-lingkungan\/\">mendorong\nregulator untuk segera melakukan transisi energi ke energi yang lebih ramah\nlingkungan<\/a>. Semua bisa kita hadapi, termasuk #KrisisIklim. Yuk,\nmasih ada kesempatan untuk merubahnya. Bersama-sama, tanpa memandang saya dan\nkamu siapa.\n\n\n\n<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banjir yang melanda Jabodetabek pada awal tahun 2020 adalah bukti nyata dari #KrisisIklim yang sedang berlangsung di Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"author":27,"featured_media":4494,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"not set","p4_local_project":"","p4_basket_name":"not set","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[3,2],"tags":[6,18],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-4492","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ciptakan-perubahan","category-lindungi","tag-iklim","tag-energi-terbarukan","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Si Kaya dan si Miskin dalam Menghadapi #KrisisIklim - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Si Kaya dan si Miskin dalam Menghadapi #KrisisIklim - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Banjir yang melanda Jabodetabek pada awal tahun 2020 adalah bukti nyata dari #KrisisIklim yang sedang berlangsung di Indonesia.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-01-30T07:08:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-10T10:51:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/90061c09-gp0stpoth.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Jeri\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Jeri\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/\"},\"author\":{\"name\":\"Jeri\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/e4db70c2924fdf4c365860784c3f26be\"},\"headline\":\"Si Kaya dan si Miskin dalam Menghadapi #KrisisIklim\",\"datePublished\":\"2020-01-30T07:08:11+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:51:16+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/\"},\"wordCount\":963,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Iklim\",\"EnergiTerbarukan\"],\"articleSection\":[\"Ciptakan Perubahan\",\"Lindungi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/\",\"url\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/\",\"name\":\"Si Kaya dan si Miskin dalam Menghadapi #KrisisIklim - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-01-30T07:08:11+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:51:16+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Si Kaya dan si Miskin dalam Menghadapi #KrisisIklim\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/e4db70c2924fdf4c365860784c3f26be\",\"name\":\"Jeri\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c52f3e646dd6c26962c80c1338edb8621545b6d12534d998a4de131c7d52174d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c52f3e646dd6c26962c80c1338edb8621545b6d12534d998a4de131c7d52174d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Jeri\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/jasmoro\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Si Kaya dan si Miskin dalam Menghadapi #KrisisIklim - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Si Kaya dan si Miskin dalam Menghadapi #KrisisIklim - Greenpeace Indonesia","og_description":"Banjir yang melanda Jabodetabek pada awal tahun 2020 adalah bukti nyata dari #KrisisIklim yang sedang berlangsung di Indonesia.","og_url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2020-01-30T07:08:11+00:00","article_modified_time":"2025-07-10T10:51:16+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":800,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/01\/90061c09-gp0stpoth.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Jeri","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Jeri","Est. reading time":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/"},"author":{"name":"Jeri","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/e4db70c2924fdf4c365860784c3f26be"},"headline":"Si Kaya dan si Miskin dalam Menghadapi #KrisisIklim","datePublished":"2020-01-30T07:08:11+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:51:16+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/"},"wordCount":963,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Iklim","EnergiTerbarukan"],"articleSection":["Ciptakan Perubahan","Lindungi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/","url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/","name":"Si Kaya dan si Miskin dalam Menghadapi #KrisisIklim - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2020-01-30T07:08:11+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:51:16+00:00","breadcrumb":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4492\/si-kaya-dan-si-miskin-dalam-menghadapi-krisisiklim\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Si Kaya dan si Miskin dalam Menghadapi #KrisisIklim"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/e4db70c2924fdf4c365860784c3f26be","name":"Jeri","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c52f3e646dd6c26962c80c1338edb8621545b6d12534d998a4de131c7d52174d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c52f3e646dd6c26962c80c1338edb8621545b6d12534d998a4de131c7d52174d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Jeri"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/jasmoro\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4492","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/27"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4492"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4492\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64384,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4492\/revisions\/64384"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4494"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4492"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4492"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4492"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=4492"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}