{"id":46045,"date":"2022-04-06T11:20:03","date_gmt":"2022-04-06T04:20:03","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=46045"},"modified":"2025-07-10T17:45:09","modified_gmt":"2025-07-10T10:45:09","slug":"6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/","title":{"rendered":"6 Hal yang Perlu Diketahui dari Laporan Ilmiah untuk Solusi Iklim IPCC"},"content":{"rendered":"\n<p>Para ilmuwan iklim terkemuka dunia baru saja meluncurkan rencana penyelamatan kemanusiaan yang ditujukan langsung untuk pemerintah kita.<\/p>\n\n<p><strong>Dan disinilah aku dan kamu terlibat: <\/strong>Kita perlu memastikan bahwa laporan ini tidak diabaikan. Laporan ini harus diperbincangkan di seluruh penjuru dunia, dan yang terpenting: aksinya.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/7d57574f-gp0sttxwd-1024x684.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-46046\" width=\"736\" height=\"491\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/7d57574f-gp0sttxwd-1024x684.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/7d57574f-gp0sttxwd-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/7d57574f-gp0sttxwd-768x513.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/7d57574f-gp0sttxwd-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/7d57574f-gp0sttxwd.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 736px) 100vw, 736px\" \/><figcaption>Sekitar tujuh puluh ribu orang berpartisipasi dalam aksi Global Climate Strike di Cologne. Aktivis Greenpeace mendesak kebijakan perubahan iklim yang lebih baik di 86 kota di Jerman.<div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Anne Barth \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p><strong>Kondisi saat ini yang sudah kamu tahu: <\/strong>Aksi iklim yang diambil sekarang oleh pemerintah dan sektor finansial tidak cukup danterlambat. Kita membutuhkan lebih banyak dari itu dan juga lebih cepat. Tidak ada satu negara pun yang telah melakukan sesuatu yang cukup. Ini adalah dekade penentuan, antara berhasil atau gagal.<\/p>\n\n<p>Jadi apakah <strong>aksi <\/strong>yang dibutuhkan saat ini? Ini <strong>6 poin penting<\/strong><em> <\/em>dari laporan <a href=\"https:\/\/www.ipcc.ch\/\">IPCC<\/a> (Badan PBB yang menangani isu perubahan iklim) tentang mitigasi yang kami rasa harus kamu ketahui:<br><br>1. <strong>Kita mempunyai solusi yang dibutuhkan untuk membatasi pemanasan sampai 1.5\u00b0C!<\/strong><\/p>\n\n<p>Ini adalah berita terbaiknya: Kita memiliki solusi untuk mengurangi lebih dari setengahnya emisi global hanya dalam 8 tahun, dan terus menuju <em>net zero emissions <\/em>atau emisi nol bersih<em>, <\/em>yang dibutuhkan untuk mencapai target Perjanjian Paris yaitu membatasi pemanasan sampai 1.5\u00b0C. Di dekade penentuan hingga 2030, kontribusi terbesar pada pengurangan emisi net akan datang dari energi matahari dan angin, konservasi dan restorasi pada hutan juga ekosistem alami lainnya, pertanian dan pangan yang ramah iklim, dan efisiensi energi. Lebih dari setengah potensi pada tahun 2030 datang dengan biaya rendah (di bawah 20 USD\/ton atau kurang dari 300 ribu IDR\/ton) atau bahkan biayanya di bawah nol! Biaya di bawah nol berarti berarti berinvestasi dalam solusi, seperti matahari dan angin, akan menghasilkan penghematan biaya dibandingkan dengan melanjutkan cara-cara saat ini.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/1a537ec8-gp1swqyq-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-46049\" width=\"736\" height=\"490\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/1a537ec8-gp1swqyq-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/1a537ec8-gp1swqyq-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/1a537ec8-gp1swqyq-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/1a537ec8-gp1swqyq-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/1a537ec8-gp1swqyq.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 736px) 100vw, 736px\" \/><figcaption>Pos Komando Insiden Surigao Del Norte untuk operasi Typhoon Odette (nama internasional: Rai) sekarang memiliki pasokan listrik tambahan yang stabil, karena Greenpeace memasang panel surya yang memungkinkan staf mengisi lebih banyak laptop, radio, telepon, dan perangkat lain yang diperlukan untuk pelaporan dan pemantauan.<div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Jilson Tiu \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p>2. <strong>Kita bisa mendapatkan lebih banyak dengan mengeluarkan lebih sedikit.<\/strong><\/p>\n\n<p>Potensi besar yang sudah ada, secara keseluruhan, berada pada strategi <em>demand-side <\/em>pada 2050 dan yang&nbsp; dapat mengurangi emisi hingga 40-70% dibandingkan dengan kebijakan saat ini. Ini berarti 1) mendesain dan memodifikasi fungsi&nbsp; infrastruktur, 2) memajukan penggunaan teknologi serta meningkatkan faktor sosial budaya yang memungkinkan serta menghargai cara hidup berkelanjutan dari kota-kota yang dapat dilalui dengan berjalan kaki dan bersepeda, juga mobilitas bersama dan berlistrik ke rumah-rumah mandiri, 3) pola makan yang sehat bersumber dari tanaman, 4) menghindari bepergian dengan pesawat, dan 5)&nbsp; konsumsi yang membutuhkan lebih sedikit input material karena kita menggunakan kembali <em>(reuse)<\/em>, memperbaiki <em>(repair)<\/em>, dan meningkatkan daur ulang <em>(recycle)<\/em>. Daripada menyerahkannya pada pilihan-pilihan individual, kita membutuhkan sistem pendekatan yang memajukan pilihan ramah iklim untuk semua, sembari memprioritaskan hak dan kebutuhan bagi mereka yang belum mendapatkan manfaat dari pembangunan. Seperempat penduduk termiskin di seluruh dunia kekurangan rumah, mobilitas, dan makanan yang layak, serta akan membutuhkan energi, kapasitas, dan sumber daya tambahan untuk kesejahteraan manusia.<\/p>\n\n<p>3. <strong>Pendanaan perlu segera dialihkan dari masalah ke solusi.<\/strong><\/p>\n\n<p>Untuk mencapai pemangkasan emisi yang dibutuhkan, investasi tahunan yang mengalir untuk energi bersih, efisiensi, transportasi, pertanian dan kehutanan perlu meningkat setidaknya 3-6 kali lipat pada 2030. Ada modal dan likuiditas global yang cukup untuk menutup kesenjangan investasi ini, tetapi itu tidak menuju ke arah yang benar. Hingga hari ini, lebih banyak pendanaan swasta dan publik yang masih mengalir untuk bahan bakar fosil dibanding untuk solusi iklim, karena insentif yang tidak selaras baik di luar maupun di dalam sektor keuangan. Menghilangkan subsidi pada bahan bakar fosil saja bisa mengurangi emisi <strong>hingga <\/strong>10% pada 2030. Akses finansial masih menjadi penghalang besar bagi negara-negara berkembang, dan janji pendanaan iklim (100 juta USD\/tahun atau sekitar 1,4 kuadriliun rupiah) dari negara-negara berkembang belum juga tercapai.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/9673a857-gp1swmhx-1024x682.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-46051\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/9673a857-gp1swmhx-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/9673a857-gp1swmhx-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/9673a857-gp1swmhx-768x511.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/9673a857-gp1swmhx-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/9673a857-gp1swmhx.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Greenpeace Indonesia, bersama komunitas pesepeda Bike To Work (B2W) Indonesia, Eco Transport, dan Jakarta International Velodrome menggelar kegiatan laser dalam rangkaian Jakarta Night Ride di Jakarta, Indonesia. <div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Rivan Hanggarai \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p>4. <strong>Target dan kebijakan nasional adalah resep untuk kegagalan dan pada dasarnya harus ditingkatkan.<\/strong><\/p>\n\n<p>Ketika sudah banyak negara yang memperbaiki rencana iklim mereka, belum ada satu negara pun yang mengurangi emisi dengan kecepatan yang dipersyaratkan oleh target 1,5\u00b0C. Ketidakselarasan kebijakan mengarahkan pada ketidakselarasan aliran finansial, yang justru mengarah pada ekonomi bahan bakar fosil ketika pada kenyataannya <strong>tidak ada ruang untuk infrastruktur bahan bakar fosil baru. <\/strong>Sudah ada cukup pembangkit batu bara dan infrastruktur bahan bakar fosil lainnya untuk membawa kita melewati 1,5\u00b0C, jika itu diperkenankan untuk terus beroperasi hingga akhir masa pakai yang diproyeksikan. Malah bahan bakar fosil secara global perlu untuk dihentikan hingga sepersepuluhnya pada 2050, jika mereka ingin mengikuti jalur untuk terhindar dari melewati 1,5\u00b0C dan tidak bertaruh soal penguranganemisi karbon kembali oleh atmosfer. Menghindari aksi jangka pendek dengan mengandalkan rencana jangka panjang yang mengasumsikan bahwa entah bagaimana, di suatu tempat, seseorang akan menghilangkan kembali emisi kita dari atmosfer dalam jumlah besar, suatu saat di masa depan, adalah rencana yang berisiko. Penghilangan karbon dioksida seperti itu, pada skala yang diasumsikan oleh banyak cara, adalah wilayah yang belum dipetakan dan disertai dengan banyak ketidakpastian serta risiko. Sejumlah penghapusan karbon dioksida akan diperlukan untuk mengkompensasi emisi yang tidak dapat dihindari, tetapi kebutuhan untuk itu dapat dibatasi dengan pengurangan emisi yang mendesak.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"678\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/efc49c1c-gp1swwx5-1024x678.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-46053\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/efc49c1c-gp1swwx5-1024x678.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/efc49c1c-gp1swwx5-300x199.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/efc49c1c-gp1swwx5-768x509.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/efc49c1c-gp1swwx5-510x338.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/efc49c1c-gp1swwx5.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Spanduk bertuliskan &#8220;Minyak &amp; gas tidak hijau&#8221; dibentangkan di depan Rainbow Warrior.<div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Nicoletta Zarifi \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p>5. <strong>Mereka yang mengeluarkan emisi tinggi memiliki potensi dan tanggung jawab lebih besar untuk mengurangi emisi.<\/strong><\/p>\n\n<p>Rumah tangga di 10% penghasil emisi per kapita teratas berkontribusi sekitar 34-45% dari emisi berbasis konsumsi global. Dua per tiga dari mereka tinggal di negara berkembang dan sepertiga lainnya di luar itu. Mereka yang mengeluarkan emisi tinggi memiliki potensi lebih besar juga untuk mengurangi emisi, sembari menjaga standar kehidupan yang baik dan kesejahteraan. Secara keseluruhan, kesetaraan dan keadilan merupakan pertimbangan penting untuk kebijakan iklim yang efektif, dan untuk mengamankan dukungan nasional dan internasional dalam dekarbonisasi mendalam \u2013 mengingat perbedaan dalam kontribusi emisi saat ini dan historis, tingkat kerentanan dan dampak, serta kapasitas di dalam dan di antara negara-negara. Mempercepat kerjasama internasional, termasuk di bidang keuangan, merupakan dorongan penting transisi rendah karbon dan adil.<\/p>\n\n<p>6. <strong>Benih-benih perubahan transformatif telah ditanam. Sekarang saatnya kita semua bersatu.<\/strong><\/p>\n\n<p>Perubahan menuju masa depan yang berkelanjutan membutuhkan perubahan transformatif yang mengganggu tren yang sudah ada saat ini. Ini membutuhkan perubahan teknologi, sistem, dan budaya. Untuk itu kita membutuhkan tindakan yang konsisten dari para politisi dan pengambil keputusan lainnya, serta tekanan publik dan gerakan sosial.<\/p>\n\n<p>Solusi dari tenaga surya, angin, dan teknologi penyimpanan energi sudah membuat terobosan yang mengganggu dalam hal biaya, pelaksanaan dan adopsi yang lebih cepat dari yang diperkirakan oleh para ahli dan model mitigasi sebelumnya. Ini bisa menjadi <em>gamechanger. <\/em>Bersama-sama solusi ini sekarang, melalui elektrifikasi, dapat mulai mendorong bahan bakar fosil keluar dari sistem energi, transportasi, bangunan, dan industri dengan kecepatan dan skala yang pernah dianggap tidak terpikirkan \u2013 <strong>jika<\/strong> dimungkinkan oleh tindakan yang ditentukan lebih lanjut. Terobosan ini tidak terjadi secara kebetulan. Hal ini didorong oleh kebijakan, inovasi, dan tekanan publik untuk perubahan (terima kasih kepada orang-orang seperti kamu!).<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/8c133b2d-gp1swig8-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-46055\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/8c133b2d-gp1swig8-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/8c133b2d-gp1swig8-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/8c133b2d-gp1swig8-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/8c133b2d-gp1swig8-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/8c133b2d-gp1swig8.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Kegiatan Friday For Future bertepatan dengan Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim, atau COP, dilaksanakan di Glasgow, Skotlandia pada 5 November 2021.<div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Jeremy Sutton-Hibbert \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Tantangan yang perlu diatasi, secara keseluruhan, tidak kecil. Mencapai target dari Perjanjian Paris akan membuat aset bahan bakar fosil terdampar, dengan dampak ekonomi sebesar triliunan dolar. Oleh karena itu, negara, bisnis, dan individu yang akan kehilangan kekayaan mungkin menolak perubahan. Oleh karena itu, memastikan proses pengambilan keputusan tidak terlalu dipengaruhi oleh para aktor yang akan banyak kehilangan adalah kunci untuk mengelola transformasi.<\/p>\n\n<p>Kesadaran masyarakat dan dukungan untuk aksi iklim telah meningkat. Begitu pula kasus-kasus litigasi iklim terhadap negara, sektor swasta dan lembaga keuangan, karena masyarakat semakin beralih ke pengadilan untuk mengakses keadilan dan menggunakan hak mereka atas lingkungan yang sehat.<\/p>\n\n<p>Hanya dalam tiga tahun sejak 2017, jumlah kasus litigasi iklim <strong>hampir dua kali lipat<\/strong>. Dan IPCC menemukan bahwa<strong> \u201csekarang terdapat peningkatan kesepakatan akademis bahwa litigasi iklim telah menjadi kekuatan yang kuat dalam tata kelola iklim\u201d.<\/strong><\/p>\n\n<p><strong>Jadi apa rencananya sekarang?<\/strong><\/p>\n\n<p>Di atas adalah <em>highlight <\/em>kami dari laporan IPCC. Dan itu semua bacaan yang sangat direkomendasikan.<\/p>\n\n<p>Tapi, lantas apa?<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/eb0a9d40-gp0sttx3e-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-46058\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/eb0a9d40-gp0sttx3e-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/eb0a9d40-gp0sttx3e-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/eb0a9d40-gp0sttx3e-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/eb0a9d40-gp0sttx3e-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/eb0a9d40-gp0sttx3e.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Kerumunan bermain dengan bola dunia di pawai Iklim Sydney. Jutaan orang di seluruh dunia mogok sekolah atau bekerja untuk menuntut tindakan segera guna menghentikan krisis iklim.<div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Marcus Coblyn \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p><strong>Ini adalah momen yang unik untuk hidup. <\/strong>Antara masalah dan solusi sama-sama lebih besar dari sebelumnya. Namun, begitu juga kekuatan orang-orang yang punya tekad untuk bersatu demi perubahan.<\/p>\n\n<p>Kita punya delapan tahun untuk mengurangi setengahnya emisi global. Dan keputusan antara memulai atau mencegah pengurangan emisi tersebut akan dilakukan jauh lebih awal.<\/p>\n\n<p>Kita telah mencapai satu tonggak penting dengan terobosan energi surya dan angin. Sekarang kita harus meningkatkan level permainan kita, menjadi lebih besar, untuk menyingkirkan bahan bakar fosil, memulihkan sistem pangan kita, melindungi hutan dan lahan kita, serta berjuang demi masa depan yang dapat memenuhi hak dan kebutuhan semua orang dibanding keserakahan segelintir orang.<\/p>\n\n<p><strong>Ini adalah momentum untuk bangkit, tegas, dan berpikir luas. Dan ada peran yang harus dimainkan oleh semua orang.<\/strong><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/b9539de5-gp0stu1at-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-46060\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/b9539de5-gp0stu1at-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/b9539de5-gp0stu1at-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/b9539de5-gp0stu1at-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/b9539de5-gp0stu1at-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/b9539de5-gp0stu1at.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Pelatihan panel surya bagi warga. Komunitas ekstraktif dan nelayan di kepulauan Bailique (Amap\u00e1, Brasil) menerima freezer berbasis energi surya dari Greenpeace Brasil.<div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Diego Baravelli \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Untuk penjelasan dari Greenpeace yang lebih panjang tentang hal-hal penting soal laporan Kelompok Kerja III IPCC dan ajakan aksi dari Greenpeace, silahkan lihat di <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/2022\/04\/69ca2215-greenpeace-takeaways-from-the-ipcc-ar6wg3.pdf\" data-type=\"URL\" data-id=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/2022\/04\/69ca2215-greenpeace-takeaways-from-the-ipcc-ar6wg3.pdf\">sini<\/a>.<\/p>\n\n<p><em>Kaisa Kosonen adalah Senior Policy Advisor untuk Greenpeace Nordic.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Para ilmuwan iklim terkemuka dunia baru saja meluncurkan rencana penyelamatan kemanusiaan yang ditujukan langsung untuk pemerintah kita.<\/p>\n","protected":false},"author":74,"featured_media":46046,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"not set","p4_local_project":"not set","p4_basket_name":"not set","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[6],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-46045","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lindungi","tag-iklim","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>6 Hal yang Perlu Diketahui dari Laporan Ilmiah untuk Solusi Iklim IPCC - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"6 Hal yang Perlu Diketahui dari Laporan Ilmiah untuk Solusi Iklim IPCC - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Para ilmuwan iklim terkemuka dunia baru saja meluncurkan rencana penyelamatan kemanusiaan yang ditujukan langsung untuk pemerintah kita.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-04-06T04:20:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-10T10:45:09+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/7d57574f-gp0sttxwd.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"801\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Arsi Agnitasari\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Arsi Agnitasari\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/\"},\"author\":{\"name\":\"Arsi Agnitasari\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/ec727a11f50a800c1610613939280fbc\"},\"headline\":\"6 Hal yang Perlu Diketahui dari Laporan Ilmiah untuk Solusi Iklim IPCC\",\"datePublished\":\"2022-04-06T04:20:03+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:45:09+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/\"},\"wordCount\":1523,\"commentCount\":1,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Iklim\"],\"articleSection\":[\"Lindungi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/\",\"url\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/\",\"name\":\"6 Hal yang Perlu Diketahui dari Laporan Ilmiah untuk Solusi Iklim IPCC - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2022-04-06T04:20:03+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:45:09+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"6 Hal yang Perlu Diketahui dari Laporan Ilmiah untuk Solusi Iklim IPCC\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/ec727a11f50a800c1610613939280fbc\",\"name\":\"Arsi Agnitasari\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJHQnU2AbYDEyFgBe0axtgt4GSgBVOtvjX6VfyxKPli2gqCL9Ci=s96-c\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJHQnU2AbYDEyFgBe0axtgt4GSgBVOtvjX6VfyxKPli2gqCL9Ci=s96-c\",\"caption\":\"Arsi Agnitasari\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/arsi-agnitasari\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"6 Hal yang Perlu Diketahui dari Laporan Ilmiah untuk Solusi Iklim IPCC - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"6 Hal yang Perlu Diketahui dari Laporan Ilmiah untuk Solusi Iklim IPCC - Greenpeace Indonesia","og_description":"Para ilmuwan iklim terkemuka dunia baru saja meluncurkan rencana penyelamatan kemanusiaan yang ditujukan langsung untuk pemerintah kita.","og_url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2022-04-06T04:20:03+00:00","article_modified_time":"2025-07-10T10:45:09+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":801,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/04\/7d57574f-gp0sttxwd.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Arsi Agnitasari","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Arsi Agnitasari","Est. reading time":"8 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/"},"author":{"name":"Arsi Agnitasari","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/ec727a11f50a800c1610613939280fbc"},"headline":"6 Hal yang Perlu Diketahui dari Laporan Ilmiah untuk Solusi Iklim IPCC","datePublished":"2022-04-06T04:20:03+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:45:09+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/"},"wordCount":1523,"commentCount":1,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Iklim"],"articleSection":["Lindungi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/","url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/","name":"6 Hal yang Perlu Diketahui dari Laporan Ilmiah untuk Solusi Iklim IPCC - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2022-04-06T04:20:03+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:45:09+00:00","breadcrumb":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46045\/6-hal-yang-perlu-diketahui-dari-laporan-ilmiah-untuk-solusi-iklim-ipcc\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"6 Hal yang Perlu Diketahui dari Laporan Ilmiah untuk Solusi Iklim IPCC"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/ec727a11f50a800c1610613939280fbc","name":"Arsi Agnitasari","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJHQnU2AbYDEyFgBe0axtgt4GSgBVOtvjX6VfyxKPli2gqCL9Ci=s96-c","contentUrl":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJHQnU2AbYDEyFgBe0axtgt4GSgBVOtvjX6VfyxKPli2gqCL9Ci=s96-c","caption":"Arsi Agnitasari"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/arsi-agnitasari\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46045","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/74"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46045"}],"version-history":[{"count":12,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46045\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64159,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46045\/revisions\/64159"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46046"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46045"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46045"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46045"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=46045"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}