{"id":46113,"date":"2022-05-11T17:01:00","date_gmt":"2022-05-11T10:01:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=46113"},"modified":"2025-07-10T17:44:59","modified_gmt":"2025-07-10T10:44:59","slug":"memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/","title":{"rendered":"Memberi Makan Industri Ternak Eropa Sambil Merusak Alam: Alasan Greenpeace Menghadang Kapal Pembawa Kedelai Brasil ke Belanda"},"content":{"rendered":"\n<p>Hari ini (10 Mei 2022), relawan Greenpeace dari enam belas negara dan pemimpin adat dari Brasil ikut serta dalam protes damai yang dilakukan oleh Greenpeace Belanda di gerbang laut di IJmuiden, Amsterdam. Aktivis dari seluruh Eropa menghadang kapal besar yang tiba dengan 60 juta kilo kedelai dari Brasil, menuntut undang-undang &#8216;anti-deforestasi&#8217; Uni Eropa yang baru.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/2022\/05\/24434ba0-gp1sxfzn-1024x683.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Aktivis Greenpeace dari beberapa negara Eropa menghadang kapal pembawa kedelai dari Brasil sepanjang 225 meter di lJmuiden, Belanda.. \u00a9 Marten van Dijl \/ Greenpeace \/ Greenpeace<\/figcaption><\/figure>\n\n<p><strong>Kapal Crimson Ace, simbol sistem pangan yang rusak dan keterlibatan Uni Eropa dalam perusakan hutan global<\/strong><\/p>\n\n<p>Crimson Ace, kapal raksasa sepanjang 225 meter, adalah simbol dari <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/press-release\/53683\/greenpeace-blocks-soy-ship-dutch-port\/\">sistem yang rusak, yang berdampak pada perusakan lingkungan dan pelanggaran hak asasi manusia<\/a>. Sebagian besar kedelai yang dibawa kapal ini akan digunakan sebagai pakan ternak (untuk memproduksi daging, susu, telur, ikan budidaya), seperti halnya hampir semua kedelai yang diimpor ke UE (setidaknya 85%).<br><br>Produksi kedelai global telah <a href=\"https:\/\/cdn.greenpeace.fr\/site\/uploads\/2019\/06\/hooked_on_meat_EN_web.pdf\">meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 1997<\/a>, didorong oleh meningkatnya permintaan pakan ternak, dan <a href=\"https:\/\/comtrade.un.org\/\">Uni Eropa sekarang menjadi importir kedelai terbesar kedua di dunia<\/a>, dengan sekitar 33 juta ton produk kedelai bersumber dari luar negeri setiap tahun. Menurut perhitungan Greenpeace Prancis, <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/eu-unit\/issues\/nature-food\/46173\/for-local-and-ecological-agriculture\/\">Uni Eropa memobilisasi 11,9 juta hektar kedelai di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan peternakannya<\/a>, jumlah lahan yang setara dengan luas negara Jerman.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/2022\/05\/65900e46-gp0sttejb-1024x683.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Pesawat menyemprotkan pestisida di atas perkebunan, di Riach\u00e3o das Neves. Wilayah ini dikenal sebagai \u201cCincin Kedelai\u201d, yang menyatukan beberapa pertanian, pengolah, dan pusat distribusi kedelai. \u00a9 Marizilda Cruppe \/ Greenpeace<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Lebih dari setengah kedelai ini digunakan untuk menghasilkan daging, daging yang dikonsumsi orang Eropa dalam jumlah yang jauh melebihi rekomendasi diet. Orang Eropa mengonsumsi sekitar <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/eu-unit\/issues\/nature-food\/45548\/report-eu-spent-e252-million-advertising-meat-and-dairy\/\">dua kali lebih banyak daging daripada rata-rata global<\/a>, dan sekitar tiga kali lebih banyak dari susu.<\/p>\n\n<p>Padang rumput untuk ternak dan lahan pertanian untuk produksi kedelai telah diidentifikasi sebagai dua pendorong utama deforestasi di seluruh dunia. Melalui konsumsinya yang tinggi, negara-negara UE bertanggung jawab atas <a href=\"https:\/\/www.wwf.eu\/?2831941\/EU-consumption-responsible-for-16-of-tropical-deforestation-linked-to-international-trade\">16% deforestasi tropis <\/a>yang terkait dengan komoditas yang diperdagangkan secara internasional seperti daging, minyak sawit atau kedelai.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/2022\/05\/5abf3c2c-gp0sttkbm-1024x656.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Sekitar 50 aktivis dari Prancis, Jerman, dan Belanda menghadang kedatangan kapal barang Ellirea ke pelabuhan Prancis selatan S\u00e8te, untuk mengampanyekan penghentian penggundulan hutan untuk produksi kedelai. \u00a9 Nicolas Chauveau \/ Greenpeace<\/figcaption><\/figure>\n\n<p><\/p>\n\n<p><strong>Masyarakat adat diusir dari tanah mereka demi menyediakan lahan untuk kedelai dan ternak<\/strong><\/p>\n\n<p>Masyarakat adat memiliki pengetahuan untuk hidup selaras dengan tanah dan menanam pangan secara ekologis, tetapi alih-alih mendengarkan mereka, perusahaan dan pemerintah telah merenggut hak, tanah, dan kehidupan mereka selama beberapa generasi.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/2022\/05\/cf22caee-gp1sx0t8-1024x683.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Aktivis pribumi berkumpul dalam aksi besar, yang disebut \u201cAto Pela Terra\u201d, di Bras\u00edlia, bersama dengan organisasi, pemimpin, dan ratusan pengunjuk rasa menentang \u201cpaket penghancuran\u201d Bolsonaro. \u00a9 Adriano Machado \/ Greenpeace.<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Kapal seperti Crimson Ace dapat berisi kedelai yang berasal dari ekosistem yang rusak, di mana penduduk asli dan komunitas tradisional menghadapi konflik atas tanah mereka, dan pelanggaran lainnya (seperti penggusuran dengan kekerasan).<\/p>\n\n<p>Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa<a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/press-release\/50164\/meat-soy-deforestation-karipuna-amazon-brazil\/\"> ekspansi daging dan kedelai mendorong deforestasi dan mengancam kelangsungan hidup masyarakat adat di Brasil.<\/a> Industri peternakan hewandi <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/story\/50848\/eu-complicity-global-deforestation-forests-law\/\">negara-negara Eropa ikut andil atas perlombaan ini.<\/a> Demi mendapatkan tanah yang cocok untuk kedelai, mereka membuka lahan untuk ternak jauh ke dalam hutan hujan, serta merampas kawasan lindung dan tanah adat.<\/p>\n\n<p><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/2019\/08\/70b6ffdb-gp0stsncm_web_size-768x512.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Wilayah antara negara bagian Maranh\u00e3o, Tocantins, Piau\u00ed dan Bahia, yang dikenal sebagai MATOPIBA di Brasil., Dianggap sebagai pameran agribisnis Brasil, dengan produksi kedelai dan jagung yang tinggi untuk ekspor. \u00a9 Marizilda Cruppe \/ Greenpeace.<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Peternakan besar-besaran dan perkebunan monokultur memakan <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/press-release\/46609\/greenpeace-report-pantanal-fires-jbs\/\">area alami yang unik demi menghasilkan daging dan kedelai untuk pakan ternak.<\/a> Lebih dari setengah vegetasi alami Cerrado Brasil, rumah bagi komunitas pribumi dan spesies unik seperti jaguar,<a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/publication\/27456\/report-under-fire\/\"> telah dibuka untuk perkebunan kedelai dan padang rumput.<\/a><\/p>\n\n<p><\/p>\n\n<p><strong>Undang-undang Uni Eropa yang kuat untuk melindungi hutan, manusia, dan alam sangat dibutuhkan<\/strong><\/p>\n\n<p>Para pemimpin politik harus mengesahkan, memantau, dan menegakkan hukum untuk melindungi hutan dan ekosistem dunia untuk menjamin hak masyarakat adat dan tanah, yang semuanya penting untuk menyelamatkan hutan hujan Amazon dan iklim dunia.<\/p>\n\n<p>Saat ini, kepresidensi Dewan Eropa Prancis memimpin negosiasi dengan menteri Eropa lainnya mengenai undang-undang UE baru yang dapat melindungi ekosistem berharga di seluruh dunia. Namun<a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/eu-unit\/issues\/nature-food\/45908\/briefing-eu-anti-deforestation-law-could-have-serious-holes\/\"> undang-undang yang direncanakan masih memiliki banyak celah krusial. <\/a>Misalnya, undang-undang tersebut hanya melindungi hutan, dan bukan kawasan alam penting lainnya seperti Cerrado Brasil, sementara hampir setengah dari semua impor kedelai Brasil berasal dari cagar alam ini.<\/p>\n\n<p>Hak asasi manusia internasional juga kurang diperhatikan, di mana masyarakat adat dan masyarakat lokal yang paling menderita dari budidaya kedelai, seringkali tidak mendapatkan perlindungan yang layak atas hak-hak mereka.<\/p>\n\n<p><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/2022\/05\/8fda5b3c-gp1sxg09-1024x683.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Para pemimpin adat, Waduwabati Suya dan Alberto Fran\u00e7a Dias (Alberto Terena) dari Brasil, berada di Amsterdam menyerukan kepada para menteri Uni Eropa untuk mendukung undang-undang baru yang kuat yang akan mengakhiri keterlibatan Eropa dalam perusakan lingkungan. \u00a9 Joris van Gennip \/ Greenpeace.<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Banyak aturan yang diusulkan dalam rancangan undang-undang juga dibantah oleh perusahaan yang mengambil untung dari penghancuran yang sedang berlangsung.<a href=\"https:\/\/www.theguardian.com\/environment\/2022\/mar\/04\/agribusiness-giants-tried-to-thwart-eu-deforestation-plan-after-cop26-pledge\"> Mereka enggan untuk mengadopsi<\/a> aturan transparansi yang mengharuskan perusahaan untuk mengetahui dan bertanggung jawab atas lokasi penanaman produk atau penggembalaan sapi mereka.<\/p>\n\n<p><a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/eu-unit\/issues\/nature-food\/46045\/analysis-eu-commissions-proposed-anti-deforestation-law\/\">Undang-undang &#8216;anti-deforestasi&#8217; yang kokoh untuk UE<\/a> akan menjadi bagian penting dari solusi. Tetapi dalam kasus kedelai, kita juga mengurangi produksi dan konsumsi daging dan susu secara drastis.<\/p>\n\n<p><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-international-stateless\/2022\/05\/cb639266-gp1sx2au-1024x683.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Para pendaki memanjat fasad markas besar Dewan Uni Eropa di Brussel dan menampilkan penghitung langsung jumlah hutan yang dihancurkan di seluruh dunia sementara para menteri lingkungan bertemu di dalam untuk membahas usulan undang-undang Uni Eropa untuk mengatasi deforestasi. \u00a9 Johanna de Tessires \/ Greenpeace.<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Untuk melindungi <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/story\/49981\/myth-industrial-agriculture-food-climate-health\/\">kesehatan masyarakat dan alam<\/a>, dan untuk mengatasi keadaan darurat iklim, para ilmuwan merekomendasikan <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/eu-unit\/issues\/nature-food\/45548\/report-eu-spent-e252-million-advertising-meat-and-dairy\/\">pengurangan konsumsi daging dan susu Eropa setidaknya 70% pada tahun 2030<\/a>. Salah satu hal paling berguna yang dapat dilakukan setiap orang untuk mengambil tindakan terhadap perubahan iklim saat ini adalah mengurangi konsumsi daging dan susu secara drastis dan meningkatkan jumlah makanan nabati dalam pola makan kita.<\/p>\n\n<p><a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/eu-unit\/issues\/nature-food\/45406\/over-1-million-people-tell-eu-to-stop-funding-forest-destruction\/\">Lebih dari satu juta orang Eropa telah menuntut tindakan politik yang kuat<\/a>. Mari bergabung dengan gerakan dan<a href=\"https:\/\/digital-activist.org\/p\/standtogether4forests\"> tuntut undang-undang UE yang kuat untuk melindungi hutan, manusia, dan alam!<\/a><\/p>\n\n<p><em>Sini Er\u00e4j\u00e4\u00e4, adalah juru kampanye hutan dan pertanian di Greenpeace European Unit.<\/em><\/p>\n\n<p>#Pangan #Hutan<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Relawan Greenpeace dari enam belas negara dan pemimpin adat dari Brasil ikut serta dalam protes damai yang dilakukan oleh Greenpeace Belanda di gerbang laut di IJmuiden, Amsterdam. Aktivis dari seluruh Eropa menghadang kapal besar yang tiba dengan 60 juta kilo kedelai dari Brasil.<\/p>\n","protected":false},"author":79,"featured_media":46115,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"not set","p4_local_project":"not set","p4_basket_name":"not set","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[24,19],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-46113","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ciptakan-perubahan","tag-aktivisme","tag-hutan","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Memberi Makan Industri Ternak Eropa Sambil Merusak Alam: Alasan Greenpeace Menghadang Kapal Pembawa Kedelai Brasil ke Belanda - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Memberi Makan Industri Ternak Eropa Sambil Merusak Alam: Alasan Greenpeace Menghadang Kapal Pembawa Kedelai Brasil ke Belanda - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Relawan Greenpeace dari enam belas negara dan pemimpin adat dari Brasil ikut serta dalam protes damai yang dilakukan oleh Greenpeace Belanda di gerbang laut di IJmuiden, Amsterdam. Aktivis dari seluruh Eropa menghadang kapal besar yang tiba dengan 60 juta kilo kedelai dari Brasil.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-05-11T10:01:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-10T10:44:59+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/05\/95aa4d72-ini.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"683\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Erdisa Nurmalia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Erdisa Nurmalia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/\"},\"author\":{\"name\":\"Erdisa Nurmalia\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/e12d6b9fca424469286cd59e230d9bde\"},\"headline\":\"Memberi Makan Industri Ternak Eropa Sambil Merusak Alam: Alasan Greenpeace Menghadang Kapal Pembawa Kedelai Brasil ke Belanda\",\"datePublished\":\"2022-05-11T10:01:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:44:59+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/\"},\"wordCount\":989,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Aktivisme\",\"Hutan\"],\"articleSection\":[\"Ciptakan Perubahan\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/\",\"url\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/\",\"name\":\"Memberi Makan Industri Ternak Eropa Sambil Merusak Alam: Alasan Greenpeace Menghadang Kapal Pembawa Kedelai Brasil ke Belanda - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2022-05-11T10:01:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:44:59+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Memberi Makan Industri Ternak Eropa Sambil Merusak Alam: Alasan Greenpeace Menghadang Kapal Pembawa Kedelai Brasil ke Belanda\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/e12d6b9fca424469286cd59e230d9bde\",\"name\":\"Erdisa Nurmalia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/41fd6bb8d3333c1fcf4a546595e06c2e727eab0481f39d7c01b80bae64b8c446?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/41fd6bb8d3333c1fcf4a546595e06c2e727eab0481f39d7c01b80bae64b8c446?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Erdisa Nurmalia\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/erdisa\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Memberi Makan Industri Ternak Eropa Sambil Merusak Alam: Alasan Greenpeace Menghadang Kapal Pembawa Kedelai Brasil ke Belanda - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Memberi Makan Industri Ternak Eropa Sambil Merusak Alam: Alasan Greenpeace Menghadang Kapal Pembawa Kedelai Brasil ke Belanda - Greenpeace Indonesia","og_description":"Relawan Greenpeace dari enam belas negara dan pemimpin adat dari Brasil ikut serta dalam protes damai yang dilakukan oleh Greenpeace Belanda di gerbang laut di IJmuiden, Amsterdam. Aktivis dari seluruh Eropa menghadang kapal besar yang tiba dengan 60 juta kilo kedelai dari Brasil.","og_url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2022-05-11T10:01:00+00:00","article_modified_time":"2025-07-10T10:44:59+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":683,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/05\/95aa4d72-ini.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Erdisa Nurmalia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Erdisa Nurmalia","Est. reading time":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/"},"author":{"name":"Erdisa Nurmalia","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/e12d6b9fca424469286cd59e230d9bde"},"headline":"Memberi Makan Industri Ternak Eropa Sambil Merusak Alam: Alasan Greenpeace Menghadang Kapal Pembawa Kedelai Brasil ke Belanda","datePublished":"2022-05-11T10:01:00+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:44:59+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/"},"wordCount":989,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Aktivisme","Hutan"],"articleSection":["Ciptakan Perubahan"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/","url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/","name":"Memberi Makan Industri Ternak Eropa Sambil Merusak Alam: Alasan Greenpeace Menghadang Kapal Pembawa Kedelai Brasil ke Belanda - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2022-05-11T10:01:00+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:44:59+00:00","breadcrumb":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46113\/memberi-makan-industri-ternak-eropa-sambil-merusak-alam-alasan-greenpeace-menghadang-kapal-pembawa-kedelai-brasil-ke-belanda\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Memberi Makan Industri Ternak Eropa Sambil Merusak Alam: Alasan Greenpeace Menghadang Kapal Pembawa Kedelai Brasil ke Belanda"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/e12d6b9fca424469286cd59e230d9bde","name":"Erdisa Nurmalia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/41fd6bb8d3333c1fcf4a546595e06c2e727eab0481f39d7c01b80bae64b8c446?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/41fd6bb8d3333c1fcf4a546595e06c2e727eab0481f39d7c01b80bae64b8c446?s=96&d=mm&r=g","caption":"Erdisa Nurmalia"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/erdisa\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46113","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/79"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46113"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46113\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64155,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46113\/revisions\/64155"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46115"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46113"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46113"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46113"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=46113"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}