{"id":46265,"date":"2022-07-01T14:38:04","date_gmt":"2022-07-01T07:38:04","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=46265"},"modified":"2025-07-10T17:44:44","modified_gmt":"2025-07-10T10:44:44","slug":"apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/","title":{"rendered":"Apa penyebab udara Jakarta sangat buruk?"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n<p>Langit Jakarta terlihat keruh setiap harinya, menandakan bahwa udara di Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Pada 26 Juni 2022, IQ Air mengukur konsentrasi particulate matter PM 2,5 udara Jakarta enam kali lebih buruk dari batas aman. Sangat berbahaya, terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Pekatnya polusi juga mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Tentu kamu tidak heran, ini juga bukan kali pertama permasalahan polusi menjadi topik utama Kota Jakarta. Dilansir dari data World Air Quality Report, Jakarta pernah menempati peringkat ke-5 sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada 2019 silam. Lantas, apa yang membuat udara di Jakarta tak layak untuk dihirup?<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"533\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/38db2437-image-2_polusi-jakarta.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-46266\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/38db2437-image-2_polusi-jakarta.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/38db2437-image-2_polusi-jakarta-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/38db2437-image-2_polusi-jakarta-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/38db2437-image-2_polusi-jakarta-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><figcaption>Tall buildings and the National Monument in the centre are covered by smog from air pollution at a business district in Jakarta. Air quality in Jakarta is getting worse recently due to the high pollution from traffic and the coal power plant that surrounds Jakarta.<\/figcaption><\/figure>\n\n<p><strong>Jakarta dihimpit pembangkit listrik berbahan bakar batu bara<\/strong><br><br>Ada banyak faktor, tapi ada satu yang sering terlupa dari perhatian publik. Kualitas udara di Jakarta kian memburuk, salah satu sebabnya adalah asap batu bara. Berdasarkan studi Vital Strategies, pembakaran batu bara menjadi salah satu penyebab buruknya kualitas udara di Jakarta. Hampir seperlima polusi berasal dari pembakaran batu bara. Tak heran, Jakarta dihimpit 8 PLTU batu bara dalam radius 100 km. Lebih parah, pada tahun 2020 lembaga penelitian <a href=\"https:\/\/energyandcleanair.org\/wp\/wp-content\/uploads\/2020\/08\/Jakarta-Transboundary-Pollution_Final-Bahasa.pdf\">Centre for Research on Energy and Clean Air<\/a> (CREA) mencatat bahwa Jakarta juga dikelilingi 118 fasilitas industri yang turut berkontribusi terhadap pencemaran udara di Jakarta.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"533\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/44e64402-gp0sto8ud_web_size.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-46267\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/44e64402-gp0sto8ud_web_size.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/44e64402-gp0sto8ud_web_size-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/44e64402-gp0sto8ud_web_size-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/44e64402-gp0sto8ud_web_size-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><figcaption>Children play by the beach near a coal power plant in Jepara, Central Java, oblivious to the possible threats to their health. The coal mining furore poses serious hazards to human health, the environment and the social integrity of communities around mining areas.<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Bahkan belum dibakar pun batu bara sudah bermasalah. Bulan ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi mencabut izin lingkungan PT Karya Citra Nusantara (KCN) yang beroperasi di Pelabuhan Marunda. Mereka dinilai tidak memenuhi sanksi administratif atas kasus pencemaran lingkungan akibat debu batu bara di kawasan Marunda. Dengan begitu, aktivitas bongkar muat batu bara PT KCN dibekukan.&nbsp;<\/p>\n\n<p><strong>Jejak buruk batu bara di Jakarta<\/strong><\/p>\n\n<p>Tidak salah jika ada yang bilang, tempat terbaik batu bara adalah di perut bumi. Penggunaan bahan peledak yang pada umumnya dilakukan juga dapat menyebabkan erosi dan memusnahkan habitat makhluk hidup.<\/p>\n\n<p>Dampak buruk akibat batu bara turut dirasakan masyarakat Jakarta, khususnya di Marunda dan sekitarnya dari segi lingkungan pun kesehatan. Proses peledakan dan pengeboran dalam proses penambangan menghasilkan mineral halus yang tercampur pada debu yang bisa terhirup dan menjadi penyebab penyakit pneumokoniosis. Debu ini dibawa ke Marunda, proses bongkar muat yang serampangan mengancam nyawa penduduk ibu kota.<\/p>\n\n<p>Sungguh jelas, bahkan sebelum dibakar pun batu bara sudah menjadi penyebab bahaya polusi. Setelah dibakar di tungku uap PLTU sebaran polusinya makin luas. Benar bahwa&nbsp; asap kendaraan pribadi memang menjadi salah satu penyebab besar polusi udara di Jakarta dan kondisi cuaca berpengaruh pada intensitas polusi. Namun, tak lagi bisa dielakan bahwa kegiatan industri batu bara menjadi faktor penting penyebab langgengnya polusi udara di Jakarta. Hal itu bisa dilihat secara nyata dari dampak-dampak yang dihasilkan dari industri batu bara.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"793\" height=\"552\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/b44f45dc-screenshot-2.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-46268\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/b44f45dc-screenshot-2.png 793w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/b44f45dc-screenshot-2-300x209.png 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/b44f45dc-screenshot-2-768x535.png 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/b44f45dc-screenshot-2-488x340.png 488w\" sizes=\"auto, (max-width: 793px) 100vw, 793px\" \/><\/figure>\n\n<p>Data yang diambil dari <a href=\"https:\/\/ispu.menlhk.go.id\/map.html\">Indeks Standar Pencemaran Udara<\/a> (ISPU) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukan angka yang tidak sehat terkait polusi udara di Jakarta. Tanda peringatan bahaya untuk kelompok sensitif seperti manula, ibu hamil, anak-anak, balita, orang dengan penyakit pernapasan, dan penyintas Covid-19 juga telah digaungkan.&nbsp;<\/p>\n\n<p><strong>Polusi adalah persoalan serius jangan salah urus<\/strong><\/p>\n\n<p>Maka dari itu, pemerintah harus bekerja ekstra jika ingin serius menangani masalah polusi udara di Jakarta. Beberapa hal bisa dilakukan dengan menguatkan dan menyediakan transportasi publik yang memadai dan bebas asap, termasuk insentif untuk mereka yang menggunakan kendaraan ramah lingkungan seperti sepeda. Kemudian, transisi energi dari batu bara menjadi energi bersih juga menjadi komponen paling penting untuk mencapai tujuan bebas polusi udara. Selama batu bara terus dibakar, polusi akan terus ada.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/05\/7ade2563-gp0strzga-1024x576.jpg\" title=\"Bike for Renewable Energy in Thailand - On the Road. \u00a9 Arnaud Vittet \/ Greenpeace\" alt=\"Bike for Renewable Energy in Thailand - On the Road. \u00a9 Arnaud Vittet \/ Greenpeace\" class=\"wp-image-5148\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/05\/7ade2563-gp0strzga-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/05\/7ade2563-gp0strzga-300x169.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/05\/7ade2563-gp0strzga-768x432.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/05\/7ade2563-gp0strzga-510x287.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/05\/7ade2563-gp0strzga.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Bersepeda untuk Bumi<div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Arnaud Vittet \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Tak hanya pemerintah, kamu juga bisa turut mempercepat penanganan terkait permasalahan polusi udara. Salah satu caranya dengan mengubah gaya hidup dengan menggunakan transportasi publik ramah lingkungan, atau bersepeda. Selain itu, bersama kita harus mendorong pemerintah berkomitmen serius menjalankan transisi energi!<\/p>\n\n<p><em>Sherina Redjo adalah Content Writer di Greenpeace Indonesia<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Langit Jakarta terlihat keruh setiap harinya, menandakan bahwa udara di Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Pada 26 Juni 2022, IQ Air mengukur konsentrasi particulate matter PM 2,5 udara Jakarta enam kali lebih buruk dari batas aman.<\/p>\n","protected":false},"author":81,"featured_media":46266,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"not set","p4_local_project":"not set","p4_basket_name":"not set","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[18,6,34,31,17],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-46265","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ciptakan-perubahan","tag-energi-terbarukan","tag-iklim","tag-kota","tag-polusi","tag-udara","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Apa penyebab udara Jakarta sangat buruk? - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Apa penyebab udara Jakarta sangat buruk? - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Langit Jakarta terlihat keruh setiap harinya, menandakan bahwa udara di Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Pada 26 Juni 2022, IQ Air mengukur konsentrasi particulate matter PM 2,5 udara Jakarta enam kali lebih buruk dari batas aman.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-07-01T07:38:04+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-10T10:44:44+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/38db2437-image-2_polusi-jakarta.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Sherin Utami\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Sherin Utami\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/\"},\"author\":{\"name\":\"Sherin Utami\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/a3dd9665b5d48b133a931d5a9ceaf45b\"},\"headline\":\"Apa penyebab udara Jakarta sangat buruk?\",\"datePublished\":\"2022-07-01T07:38:04+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:44:44+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/\"},\"wordCount\":696,\"commentCount\":1,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"EnergiTerbarukan\",\"Iklim\",\"Kota\",\"Polusi\",\"Udara\"],\"articleSection\":[\"Ciptakan Perubahan\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/\",\"url\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/\",\"name\":\"Apa penyebab udara Jakarta sangat buruk? - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2022-07-01T07:38:04+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:44:44+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Apa penyebab udara Jakarta sangat buruk?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/a3dd9665b5d48b133a931d5a9ceaf45b\",\"name\":\"Sherin Utami\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJduxVvwcwJIu1FqVFaHVKFhMOJMlPiHDQpcZo0NiUmmHf0iyNH=s96-c\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJduxVvwcwJIu1FqVFaHVKFhMOJMlPiHDQpcZo0NiUmmHf0iyNH=s96-c\",\"caption\":\"Sherin Utami\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/sherina-utami\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Apa penyebab udara Jakarta sangat buruk? - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Apa penyebab udara Jakarta sangat buruk? - Greenpeace Indonesia","og_description":"Langit Jakarta terlihat keruh setiap harinya, menandakan bahwa udara di Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Pada 26 Juni 2022, IQ Air mengukur konsentrasi particulate matter PM 2,5 udara Jakarta enam kali lebih buruk dari batas aman.","og_url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2022-07-01T07:38:04+00:00","article_modified_time":"2025-07-10T10:44:44+00:00","og_image":[{"width":800,"height":533,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/07\/38db2437-image-2_polusi-jakarta.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Sherin Utami","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Sherin Utami","Est. reading time":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/"},"author":{"name":"Sherin Utami","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/a3dd9665b5d48b133a931d5a9ceaf45b"},"headline":"Apa penyebab udara Jakarta sangat buruk?","datePublished":"2022-07-01T07:38:04+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:44:44+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/"},"wordCount":696,"commentCount":1,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["EnergiTerbarukan","Iklim","Kota","Polusi","Udara"],"articleSection":["Ciptakan Perubahan"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/","url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/","name":"Apa penyebab udara Jakarta sangat buruk? - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2022-07-01T07:38:04+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:44:44+00:00","breadcrumb":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/46265\/apa-penyebab-udara-jakarta-sangat-buruk\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Apa penyebab udara Jakarta sangat buruk?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/a3dd9665b5d48b133a931d5a9ceaf45b","name":"Sherin Utami","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJduxVvwcwJIu1FqVFaHVKFhMOJMlPiHDQpcZo0NiUmmHf0iyNH=s96-c","contentUrl":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJduxVvwcwJIu1FqVFaHVKFhMOJMlPiHDQpcZo0NiUmmHf0iyNH=s96-c","caption":"Sherin Utami"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/sherina-utami\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46265","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/81"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46265"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46265\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64145,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46265\/revisions\/64145"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46265"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46265"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46265"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=46265"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}