{"id":4642,"date":"2020-02-18T12:22:34","date_gmt":"2020-02-18T05:22:34","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=4642"},"modified":"2025-07-10T17:51:01","modified_gmt":"2025-07-10T10:51:01","slug":"kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/","title":{"rendered":"Kenapa Kita Harus Peduli dari mana Makanan Laut yang Terhidang di Depan Kita Berasal?"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-medium caption-alignment-center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"533\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/5f7ccedd-gp0stu70g_web_size.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-4643\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/5f7ccedd-gp0stu70g_web_size.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/5f7ccedd-gp0stu70g_web_size-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/5f7ccedd-gp0stu70g_web_size-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/5f7ccedd-gp0stu70g_web_size-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><figcaption>Stan makanan laut di Hamburg, Jerman. \u00a9 Joerg Modrow \/ Greenpeace<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Entah kamu memakannya, atau suka berenang di lautan bersamanya , atau menikmati proses memancing, ikan dan jenis hidangan laut lainnya memainkan peran besar dalam kehidupan kita. Satwa laut itu menakjubkan, begitu indah untuk diamati di habitat aslinya, siapa yang tidak suka menonton film <em>Finding Nemo<\/em>? Namun, bagi yang senang menikmati <em>steak<\/em> tuna, pernahkah kamu bertanya dari mana ikan itu berasal dan bagaimana proses dia ditangkap?<\/p>\n\n<p>Bila kita telusuri, perjalanan hidangan laut atau biasanya kita menyebutnya <em>seafood<\/em>,<em> <\/em>dari laut ke supermarket itu rumit dan bisa membuat kita tercengang. Di belakang industri <em>seafood<\/em> yang menguntungkan, ada banyak praktik bisnis yang kotor, yang kental dengan praktik perbudakan modern, perusakan lingkungan, kolusi dengan pemerintah, dan belum lagi ancaman terhadap nelayan skala kecil dan keluarga mereka.<\/p>\n\n<p>Inilah yang perlu kamu ketahui tentang dampak industri perikanan terhadap planet kita.<\/p>\n<div id=\"om-xsza8kw1il8oopssp6hi-holder\"><\/div>\n\n<p><strong>Penangkapan berlebihan mengancam keanekaragaman hayati<\/strong><\/p>\n\n<p>Pepatah lama mengatakan, \u201cada sangat banyak ikan di laut\u201d. Tetapi populasi manusia terus tumbuh, yang menciptakan permintaan produk pangan laut yang semakin besar. Apakah populasi hewan laut mencukupi kebutuhan manusia? Jumlah mereka tidak sebanyak yang kita kira.<\/p>\n\n<p><a href=\"https:\/\/blog.csiro.au\/whats-the-catch-fishing-boats-double-to-3-7-million\/\">Dari tahun 1950 hingga 2015, jumlah armada perikanan di seluruh dunia naik dua kali lipat menjadi 3,7 juta<\/a>. Penambahan armada perikanan secara terus-menerus menghasilkan tekanan besar pada populasi ikan, dan praktik-praktik yang dilakukan oleh industri perikanan kerap berorientasi untuk mengambil sebanyak mungkin ikan, dan mengabaikan dampak terhadap ekosistem laut dan kehidupan laut lainnya.<\/p>\n\n<p>Kapal pukat dasar, yang menyeret sebuah jaring besar hingga dasar laut, telah menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada habitat bawah laut yang rapuh; industri tuna dengan alat pancing yang terdiri dari ribuan kait umpan membentang hingga puluhan kilometer, telah menghancurkan beberapa populasi hiu dan burung laut; dan kapal penangkap ikan pukat cincin, yang menggunakan jaring raksasa yang melingkar, menangkap tuna dalam jumlah besar dengan bantuan rumpon, sehingga bisa menarik sebagian besar ikan dan satwa laut lainnya. Ini hanyalah beberapa praktik yang mengancam keanekaragaman hayati lautan kita dan memperkecil peluang ikan untuk berkembang dan bertahan hidup.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-medium caption-alignment-center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"533\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/3c5f76b6-gp04jmi_web_size.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-4644\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/3c5f76b6-gp04jmi_web_size.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/3c5f76b6-gp04jmi_web_size-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/3c5f76b6-gp04jmi_web_size-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/3c5f76b6-gp04jmi_web_size-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><figcaption>Kapal ikan pukat cincin yang berasal dari Perancis, Trevignon, menangkap ikan cakalang dan tuna sirip kuning di kanal Mozambik. \u00a9 Jiri Rezac \/ Greenpeace<\/figcaption><\/figure>\n\n<p><strong>Perikanan industri menghilangkan mata pencaharian banyak kelompok nelayan kecil<\/strong><\/p>\n\n<p>Jutaan kelompok nelayan pesisir di seluruh dunia bergantung pada penangkapan ikan sebagai sumber pendapatan. Di negara-negara berkembang, perikanan tangkap dan kegiatan terkait seperti pembuatan kapal atau pemrosesan ikan mempekerjakan jutaan orang, dan makanan laut sebagai salah satu sumber protein utama mereka. Bagi yang lain, memancing lebih dari sekadar makanan &#8211; memainkan peranan yang kuat dalam identitas mereka, terutama bagi <a href=\"http:\/\/theconversation.com\/for-indigenous-communities-fish-mean-much-more-than-food-70129\">masyarakat adat<\/a>.<\/p>\n\n<p><a href=\"http:\/\/www.fao.org\/fishery\/ssf\/people\/en\">Keamanan dan akses pangan<\/a> sangat penting bagi masyarakat pesisir, tetapi dengan kapal-kapal industri yang bekerja di laut seperti layaknya bekerja di pabrik, maka jutaan nelayan lokal dan skala kecil yang telah bergantung pada lautan selama beberapa generasi dibiarkan mencari nafkah di area penangkapan yang semakin sempit karena sebagian besar wilayah sudah terkuras, hingga mereka pun bisa kehilangan mata pencaharian.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-medium caption-alignment-center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"522\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/b436fe6c-gp02gna_web_size.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-4648\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/b436fe6c-gp02gna_web_size.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/b436fe6c-gp02gna_web_size-300x196.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/b436fe6c-gp02gna_web_size-768x501.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/b436fe6c-gp02gna_web_size-510x333.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><figcaption>Nelayan lokal menggunakan alat pancing sederhana untuk menangkap tuna di Flores, Indonesia. Metode memancing seperti ini berkontribusi pada keberlanjutan jangka panjang dan perkembangan jumlah ikan. \u00a9 Paul Hilton \/ Greenpeace<\/figcaption><\/figure>\n\n<p><strong>Hidangan laut yang murah sering kali disertai dengan pelanggaran hak asasi manusia<\/strong><\/p>\n\n<p>Harga satu kaleng tuna yang murah mungkin tampak seperti hasil tawar-menawar, tetapi fakta di belakang harga tersebut adalah selain melakukan perusakan lingkungan, pelaku industri juga memperkerjakan pegawai dengan upah murah dan tindakan yang sewenang-wenang.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Perikanan tangkap itu padat karya, benar-benar membutuhkan banyak pekerja untuk melakukan kegiatan penangkapan hingga pemrosesan. Sementara hal-hal seperti biaya bahan bakar tidak dapat dihindari, <a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/s41467-018-07118-9\">tenaga kerja menyumbang 30-50% dari total biaya operasional penangkapan ikan<\/a>, dan serangkaian bukti menunjukkan bahwa pekerja migran, terutama dari Asia Tenggara, sering digunakan untuk mengambil jalan pintas.<\/p>\n\n<p>Setelah terpikat dengan janji upah yang menarik dan kesempatan untuk memberikan kesejahteraan bagi keluarga mereka, yang justru terjadi berdasarkan berbagai kasus yang berhasil didokumentasikan dengan baik, para nelayan migran justru hidup dalam <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/story\/27803\/5-reasons-modern-slavery-at-sea-is-still-possible-in-2019\/\">kondisi yang mengerikan<\/a>, bekerja berjam-jam secara tidak manusiawi dengan upah rendah atau bahkan tanpa upah, dan sering kali menghadapi kekerasan. Suatu praktik yang disebut <em>transshipment<\/em>, yakni hasil tangkapan (beberapa di antaranya dapat mencakup tangkapan ilegal) dipindahkan dari satu kapal ke kapal yang lain untuk memungkinkan kapal penangkap ikan utama bertahan lebih lama tanpa memasuki pelabuhan, yang berarti para pekerja ini sepenuhnya terisolasi di laut selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Ini masih terjadi sekarang, dan <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/press-release\/27791\/new-testimonials-suggest-modern-slavery-for-southeast-asian-migrant-fishers-working-out-at-sea\/\">Greenpeace Asia Tenggara memiliki kesaksian dan laporan untuk menunjukkannya<\/a>.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-embed-youtube wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<lite-youtube style=\"background-image: url('https:\/\/i.ytimg.com\/vi\/nsOFflMQ7b0\/hqdefault.jpg');\" videoid=\"nsOFflMQ7b0\" params=\"rel=0\"><\/lite-youtube>\n<\/div><\/figure>\n\n<p><strong>Industri perikanan perlu segera menyadari keadaan darurat iklim<\/strong><\/p>\n\n<p>Keadaan darurat iklim saat ini merupakan salah satu ancaman terburuk bagi ekosistem laut kita yang rapuh. <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/story\/28455\/why-we-cant-fight-climate-change-without-healthy-oceans\/\">Planet yang lebih hangat berarti lautan yang lebih hangat<\/a>, dan kehidupan laut semakin sulit untuk bertahan hidup. Selain itu, lautan menjadi lebih asam karena polusi karbon dari pembakaran batu bara, minyak dan gas, yang larut ke dalam air laut. Sebenarnya, memiliki lautan yang sehat dapat membantu melindungi kita dari perubahan iklim &#8211; karbon secara alami diserap oleh tanaman dan hewan dan ditangkap oleh tubuh makhluk hidup seperti paus dan ikan lainnya.<\/p>\n\n<p>Di seluruh dunia, <a href=\"https:\/\/www.nationalgeographic.com\/environment\/2019\/02\/climate-change-is-shrinking-essential-fisheries\/\">penangkapan ikan di kawasan tertentu telah menurun karena perubahan iklim<\/a>, dan penangkapan ikan yang berlebihan tidak hanya memperburuknya, tetapi juga memicu penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (IUU). Penangkapan ikan IUU, yang mengacu pada kegiatan yang bertentangan dengan hukum nasional atau internasional, mudah lolos di lautan lepas yang memang rendah dalam penegakan hukum. Ini adalah praktik risiko rendah dengan imbal hasil yang tinggi &#8211; IUU dilaporkan menyumbang <a href=\"https:\/\/www.pewtrusts.org\/en\/research-and-analysis\/articles\/2018\/06\/19\/to-fight-illegal-fishing-follow-the-money\"><em>seafood<\/em> bernilai hingga US$ 23,5 miliar per tahun<\/a>, dan menindak pemain utama tidaklah mudah.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large  caption-style-medium caption-alignment-center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"533\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/00170529-gp0stu636_web_size.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-4649\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/00170529-gp0stu636_web_size.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/00170529-gp0stu636_web_size-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/00170529-gp0stu636_web_size-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/00170529-gp0stu636_web_size-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><figcaption>Seekor hiu ditarik ke atas kapal Cina, Long Xing 621, menggunakan teknik longliner atau tali panjang di pertengahan lautan Atlantik. \u00a9 Tommy Trenchard \/ Greenpeace<\/figcaption><\/figure>\n\n<p><strong>Jadi apa yang bisa saya lakukan?<\/strong><\/p>\n\n<p>Seperti makanan lain yang kita konsumsi, apa yang kamu lihat dalam kaleng, di lorong makanan beku, atau di pasar makanan laut segar di daerah kamu, mempunyai sebuah cerita. <em>Bagaimana<\/em> sampai di sana, <em>siapa<\/em> yang menangkapnya, dan <em>di mana<\/em> ia ditangkap sering diabaikan. Mendorong seluruh industri untuk mengubah praktiknya tidak mudah, tetapi dengan memperlengkapi diri kamu dengan pengetahuan tentang apa yang harus dicari dalam makanan laut berkelanjutan, maka kamu bisa menjadi konsumen ramah laut.<\/p>\n\n<p>Untuk melangkah lebih jauh, tanyakan kepada perwakilan pemerintahan kamu apa yang mereka lakukan untuk memastikan pengelolaan perikanan berkelanjutan. Dengan tekanan yang cukup, kita semua dapat membantu melindungi \u201cikan kecil di kolam besar\u201d &#8211; dari pekerja hingga kehidupan laut dan kelompok nelayan lokal &#8211; untuk memastikan industri makanan laut yang etis, berkelanjutan, dan lautan yang sehat.<\/p>\n\n<p><em>Shuk-Wah Chung, yang menangani komunikasi kampanye perikanan global di Greenpeace Southeast Asia.<\/em><br><\/p>\n\t\t\t<section\n\t\t\tclass=\"boxout post-5158 \"\n\t\t\t\n\t\t>\n\t\t\t<a\n\t\t\t\tdata-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n\t\t\t\tdata-ga-action=\"Image\"\n\t\t\t\tdata-ga-label=\"n\/a\"\n\t\t\t\tclass=\"cover-card-overlay\"\n\t\t\t\thref=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/hentikan-perbudakan-modern-di-laut\/\" \n\t\t\t><\/a>\n\t\t\t\t\t\t\t<img\n\t\t\t\t\t\tsrc=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/03\/e1487202-gp0stu85w_web_size_with_credit_line.jpg\"\n\t\t\t\t\t\tsrcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/03\/e1487202-gp0stu85w_web_size_with_credit_line-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/03\/e1487202-gp0stu85w_web_size_with_credit_line-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/03\/e1487202-gp0stu85w_web_size_with_credit_line-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/03\/e1487202-gp0stu85w_web_size_with_credit_line.jpg 800w\"\n\t\t\t\t\t\tsizes=\"(min-width: 1000px) 358px, (min-width: 780px) 313px, 88px\"\n\t\t\t\t\t\talt=\"\" title=\"\"\n\t\t\t\t\/>\n            \t\t\t<div class=\"boxout-content\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<a\n\t\t\t\t\t\tclass=\"boxout-heading medium\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-action=\"Title\"\n\t\t\t\t\t\tdata-ga-label=\"n\/a\"\n\t\t\t\t\t\thref=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/hentikan-perbudakan-modern-di-laut\/\"\n\t\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t>\n\t\t\t\t\t\tHentikan Perbudakan Modern di Laut!\n\t\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"boxout-excerpt\">Tak jarang ABK Indonesia menjadi korban perbudakan modern di kapal perikanan asing jarak jauh. Bagaimana pelindungan Pemerintah?<\/p>\n\t\t\t\t                                    <a\n                        class=\"btn btn-primary\"\n                        data-ga-category=\"Take Action Boxout\"\n                        data-ga-action=\"Call to Action\"\n                        data-ga-label=\"n\/a\"\n                        href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/aksi\/hentikan-perbudakan-modern-di-laut\/\"\n                        \n                    >\n                        Ikut Beraksi\n                    <\/a>\n                \t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/section>\n\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di belakang industri seafood yang menguntungkan, ada banyak praktik bisnis yang kotor, yang kental dengan praktik perbudakan modern, perusakan lingkungan, kolusi dengan pemerintah, dan belum lagi ancaman terhadap nelayan skala kecil dan keluarga mereka.<\/p>\n","protected":false},"author":28,"featured_media":4649,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"not set","p4_local_project":"not set","p4_basket_name":"not set","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[20],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-4642","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lindungi","tag-laut","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Kenapa Kita Harus Peduli dari mana Makanan Laut yang Terhidang di Depan Kita Berasal? - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kenapa Kita Harus Peduli dari mana Makanan Laut yang Terhidang di Depan Kita Berasal? - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Di belakang industri seafood yang menguntungkan, ada banyak praktik bisnis yang kotor, yang kental dengan praktik perbudakan modern, perusakan lingkungan, kolusi dengan pemerintah, dan belum lagi ancaman terhadap nelayan skala kecil dan keluarga mereka.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-02-18T05:22:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-10T10:51:01+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/00170529-gp0stu636_web_size.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Medina Basaib\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Medina Basaib\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/\"},\"author\":{\"name\":\"Medina Basaib\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c\"},\"headline\":\"Kenapa Kita Harus Peduli dari mana Makanan Laut yang Terhidang di Depan Kita Berasal?\",\"datePublished\":\"2020-02-18T05:22:34+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:51:01+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/\"},\"wordCount\":1090,\"commentCount\":6,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Laut\"],\"articleSection\":[\"Lindungi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/\",\"url\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/\",\"name\":\"Kenapa Kita Harus Peduli dari mana Makanan Laut yang Terhidang di Depan Kita Berasal? - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-02-18T05:22:34+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:51:01+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kenapa Kita Harus Peduli dari mana Makanan Laut yang Terhidang di Depan Kita Berasal?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c\",\"name\":\"Medina Basaib\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Medina Basaib\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/mbasaib\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kenapa Kita Harus Peduli dari mana Makanan Laut yang Terhidang di Depan Kita Berasal? - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kenapa Kita Harus Peduli dari mana Makanan Laut yang Terhidang di Depan Kita Berasal? - Greenpeace Indonesia","og_description":"Di belakang industri seafood yang menguntungkan, ada banyak praktik bisnis yang kotor, yang kental dengan praktik perbudakan modern, perusakan lingkungan, kolusi dengan pemerintah, dan belum lagi ancaman terhadap nelayan skala kecil dan keluarga mereka.","og_url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2020-02-18T05:22:34+00:00","article_modified_time":"2025-07-10T10:51:01+00:00","og_image":[{"width":800,"height":533,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/02\/00170529-gp0stu636_web_size.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Medina Basaib","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Medina Basaib","Est. reading time":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/"},"author":{"name":"Medina Basaib","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c"},"headline":"Kenapa Kita Harus Peduli dari mana Makanan Laut yang Terhidang di Depan Kita Berasal?","datePublished":"2020-02-18T05:22:34+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:51:01+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/"},"wordCount":1090,"commentCount":6,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Laut"],"articleSection":["Lindungi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/","url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/","name":"Kenapa Kita Harus Peduli dari mana Makanan Laut yang Terhidang di Depan Kita Berasal? - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2020-02-18T05:22:34+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:51:01+00:00","breadcrumb":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/4642\/kenapa-kita-harus-peduli-dari-mana-makanan-laut-yang-terhidang-di-depan-kita-berasal\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kenapa Kita Harus Peduli dari mana Makanan Laut yang Terhidang di Depan Kita Berasal?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/5c84669a210b642c397ab6b83fe5b00c","name":"Medina Basaib","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b6490c7fa05af90341007e4a5328ec69b7061b61d6abbe8c752a2b5da6fde30b?s=96&d=mm&r=g","caption":"Medina Basaib"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/mbasaib\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4642","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/28"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4642"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4642\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64375,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4642\/revisions\/64375"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4649"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4642"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4642"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4642"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=4642"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}