{"id":55307,"date":"2022-09-07T10:08:50","date_gmt":"2022-09-07T03:08:50","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=55307"},"modified":"2025-07-10T17:44:08","modified_gmt":"2025-07-10T10:44:08","slug":"90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/","title":{"rendered":"90 Persen Warga Jakarta Hirup Polusi Udara Berbahaya dan Tidak Menyadarinya"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"533\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/963f678f-gp0stulb5_.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-55309\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/963f678f-gp0stulb5_.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/963f678f-gp0stulb5_-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/963f678f-gp0stulb5_-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/963f678f-gp0stulb5_-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/figure>\n\n<p>Jakarta, 7 September 2022: Sekitar 93% warga Jakarta Raya setiap hari harus menghirup udara berbahaya yang konsentrasi polutannya lima kali lebih besar dari standar batas aman. Konsentrasi rata-rata tahunan PM2,5 di Jakarta Raya mencapai 25 mikrogram per meter kubik, lima kali lebih besar dari batas aman yang direkomendasikan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), yaitu 5 mikrogram per meter kubik. Yang lebih memprihatinkan, warga Jakarta yang masuk kelompok rentan (perempuan, anak-anak, orang lanjut usia, penyandang disabilitas dan lain-lain) seluruhnya harus hidup di tengah udara di atas ambang batas aman, dan tidak menyadarinya.<\/p>\n\n<p>Fakta ini terungkap dari laporan yang dikeluarkan Greenpeace India hari ini. Laporan bertajuk <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/india\/en\/publication\/14156\/different-air-under-one-sky-the-inequity-of-air-pollution\/\">\u201cUdara Berbeda di Langit yang Sama: Riset Mengenai Ketidakadilan Udara (Different Air Under One Sky: The Inequity Air Research)\u201d<\/a> [1] menginvestigasi polusi udara di delapan negara dan meneliti akses masyarakat terhadap stasiun monitoring kualitas udara. Laporan ini juga mengungkap fakta betapa masyarakat yang tergolong kelompok rentan (perempuan, anak-anak, orang lanjut usia, penyandang disabilitas dan sebagainya), khususnya bagi masyarakat yang marjinal secara sosial dan ekonomi, tidak mempunyai pilihan apapun selain harus menghirup udara berbahaya.<\/p>\n\n<p>Polusi udara merupakan salah satu persoalan lingkungan terbesar yang bisa menimbulkan risiko terhadap kesehatan. Sayangnya, laporan ini menemukan masyarakat rentan termasuk anak-anak (balita), orang lanjut usia, perempuan hamil dan lain-lain, sedikit atau bahkan tidak sama sekali, mendapat akses informasi dan data kualitas udara lokal jika dibandingkan dengan total populasi.<\/p>\n\n<p>Beberapa temuan penting dalam laporan ini:<\/p>\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Hampir seluruh masyarakat Indonesia tinggal di kawasan dengan konsentrasi rata-rata tahunan PM2,5 sebesar 5 mikrogram per meter kubik atau lebih, di atas ambang aman yang direkomendasikan WHO. 10% nya, tinggal di wilayah dengan kadar PM2,5 lima kali lipat lebih besar dari ambang aman WHO .<\/li><li>Di tingkat provinsi, diperkirakan 93% total populasi di Jakarta Raya terekspos udara dengan kadar PM2,5 lima kali lebih besar dari ambang aman. Ini merupakan yang terburuk di Indonesia.<\/li><li>Di Banten populasi yang terpapar mencapai 63%, Sumatera Utara 57% dan Jawa Barat 46%.<\/li><li>Seluruh kelompok masyarakat rentan terpapar polusi udara di atas ambang aman WHO.<\/li><li>Pada 2021, WHO mengubah panduan rata-rata tahunan kualitas udara. Panduan baru ini menyatakan bahwa konsentrasi PM2,5 tidak boleh melebihi 5 mikrogram per meter kubik, karena bahkan kadar konsentrasi di bawah itu pun sudah menimbulkan resiko kesehatan yang signifikan.<\/li><\/ul>\n\n<p><strong>Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu mengatakan:<\/strong><\/p>\n\n<p>Temuan dari laporan ini mengejutkan dan mengkhawatirkan. Masyarakat kelompok rentan hidup di tengah polusi udara berbahaya tanpa menyadarinya karena tidak punya akses terhadap informasi kualitas udara.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Kondisi ini semakin mempertegas urgensi agar pemerintah segera mengimplementasikan apa yang sudah diperintahkan oleh hakim dalam sidang putusan gugatan polusi udara yang telah dimenangkan warga negara sejak satu tahun lalu. Di mana di dalam putusan itu Presiden RI diperintahkan untuk memperbaiki Baku Mutu Udara Ambien yang bisa melindungi kelompok sensitif.<\/p>\n\n<p>Informasi terkini mengenai kualitas udara yang kita hirup adalah langkah awal untuk mengatasi masalah ini. Sudah saatnya pemerintah membuat sistem monitoring kualitas udara di seluruh negeri dan memastikan datanya terpublikasi secara langsung (real time). Dibarengi dengan peringatan kesehatan jika kualitas udara sedang buruk sehingga masyarakat bisa melakukan langkah-langkah untuk melindungi diri dan kesehatannya. Tidak kalah penting, pemerintah harus tegas untuk menghentikan sumber-sumber pencemar udara, dan memastikan terpenuhinya hak warga negara untuk mendapatkan udara yang bersih dan sehat. Terlebih Majelis Umum PBB telah mengesahkan resolusi hak atas lingkungan hidup yang bersih, aman dan berkelanjutan merupakan hak asasi manusia..<\/p>\n\n<p><strong>Jurukampanye Unit Polusi Udara Global Greenpeace Yung-Jen Chen mengatakan:<\/strong><\/p>\n\n<p>Ketersediaan data polusi udara dan akses terhadap udara bersih jelas merupakan isu ketidakadilan, dimana masyarakat rentan justru menjadi yang paling berisiko dan paling tidak punya akses informasi. Setiap manusia punya hak menghirup udara bersih dan lingkungan yang sehat. Intervensi dan kebijakan pemerintah untuk memastikan udara bersih adalah mutlak dan harus dilakukan segera, demi memastikan pemenuhan hak asasi manusia yang mendasar ini.<\/p>\n\n<p><strong>Catatan Redaksi<\/strong><\/p>\n\n<p>[1] Laporan lengkap dapat diunduh di sini: <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/india\/en\/publication\/14156\/different-air-under-one-sky-the-inequity-of-air-pollution\/\">https:\/\/www.greenpeace.org\/india\/en\/publication\/14156\/different-air-under-one-sky-the-inequity-of-air-pollution\/<\/a><\/p>\n\n<p>Sub-bagian laporan tentang Indonesia dalam bahasa Indonesia dapat diunduh di sini: <a href=\"https:\/\/bit.ly\/udarakitabersama\">https:\/\/bit.ly\/udarakitabersama<\/a><\/p>\n\n<p><strong>Kontak<\/strong><\/p>\n\n<p>Bondan Andriyanu, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, <a href=\"mailto:bandriya@greenpeace.org\">bandriya@greenpeace.org<\/a><\/p>\n\n<p>Rahma Shofiana, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, <a href=\"mailto:rahma.shofiana@greenpeace.org\">rahma.shofiana@greenpeace.org<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fakta ini terungkap dari laporan yang dikeluarkan Greenpeace India hari ini. Laporan bertajuk \u201cUdara Berbeda di Langit yang Sama: Riset Mengenai Ketidakadilan Udara (Different Air Under One Sky: The Inequity Air Research)\u201d menginvestigasi polusi udara di delapan negara dan meneliti akses masyarakat terhadap stasiun monitoring kualitas udara.<\/p>\n","protected":false},"author":74,"featured_media":55309,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"not set","p4_local_project":"not set","p4_basket_name":"not set","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[3,1],"tags":[31,17],"p4-page-type":[14],"class_list":["post-55307","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ciptakan-perubahan","category-uncategorized","tag-polusi","tag-udara","p4-page-type-siaran-pers"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>90 Persen Warga Jakarta Hirup Polusi Udara Berbahaya dan Tidak Menyadarinya - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"90 Persen Warga Jakarta Hirup Polusi Udara Berbahaya dan Tidak Menyadarinya - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Fakta ini terungkap dari laporan yang dikeluarkan Greenpeace India hari ini. Laporan bertajuk \u201cUdara Berbeda di Langit yang Sama: Riset Mengenai Ketidakadilan Udara (Different Air Under One Sky: The Inequity Air Research)\u201d menginvestigasi polusi udara di delapan negara dan meneliti akses masyarakat terhadap stasiun monitoring kualitas udara.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-09-07T03:08:50+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-10T10:44:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/963f678f-gp0stulb5_.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Arsi Agnitasari\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Arsi Agnitasari\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/\"},\"author\":{\"name\":\"Arsi Agnitasari\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/ec727a11f50a800c1610613939280fbc\"},\"headline\":\"90 Persen Warga Jakarta Hirup Polusi Udara Berbahaya dan Tidak Menyadarinya\",\"datePublished\":\"2022-09-07T03:08:50+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:44:08+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/\"},\"wordCount\":669,\"commentCount\":1,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Polusi\",\"Udara\"],\"articleSection\":[\"Ciptakan Perubahan\",\"Uncategorized\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/\",\"url\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/\",\"name\":\"90 Persen Warga Jakarta Hirup Polusi Udara Berbahaya dan Tidak Menyadarinya - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2022-09-07T03:08:50+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:44:08+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"90 Persen Warga Jakarta Hirup Polusi Udara Berbahaya dan Tidak Menyadarinya\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/ec727a11f50a800c1610613939280fbc\",\"name\":\"Arsi Agnitasari\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJHQnU2AbYDEyFgBe0axtgt4GSgBVOtvjX6VfyxKPli2gqCL9Ci=s96-c\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJHQnU2AbYDEyFgBe0axtgt4GSgBVOtvjX6VfyxKPli2gqCL9Ci=s96-c\",\"caption\":\"Arsi Agnitasari\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/arsi-agnitasari\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"90 Persen Warga Jakarta Hirup Polusi Udara Berbahaya dan Tidak Menyadarinya - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"90 Persen Warga Jakarta Hirup Polusi Udara Berbahaya dan Tidak Menyadarinya - Greenpeace Indonesia","og_description":"Fakta ini terungkap dari laporan yang dikeluarkan Greenpeace India hari ini. Laporan bertajuk \u201cUdara Berbeda di Langit yang Sama: Riset Mengenai Ketidakadilan Udara (Different Air Under One Sky: The Inequity Air Research)\u201d menginvestigasi polusi udara di delapan negara dan meneliti akses masyarakat terhadap stasiun monitoring kualitas udara.","og_url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2022-09-07T03:08:50+00:00","article_modified_time":"2025-07-10T10:44:08+00:00","og_image":[{"width":800,"height":533,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/09\/963f678f-gp0stulb5_.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Arsi Agnitasari","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Arsi Agnitasari","Est. reading time":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/"},"author":{"name":"Arsi Agnitasari","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/ec727a11f50a800c1610613939280fbc"},"headline":"90 Persen Warga Jakarta Hirup Polusi Udara Berbahaya dan Tidak Menyadarinya","datePublished":"2022-09-07T03:08:50+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:44:08+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/"},"wordCount":669,"commentCount":1,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Polusi","Udara"],"articleSection":["Ciptakan Perubahan","Uncategorized"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/","url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/","name":"90 Persen Warga Jakarta Hirup Polusi Udara Berbahaya dan Tidak Menyadarinya - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2022-09-07T03:08:50+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:44:08+00:00","breadcrumb":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55307\/90-persen-warga-jakarta-hirup-polusi-udara-berbahaya-dan-tidak-menyadarinya\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"90 Persen Warga Jakarta Hirup Polusi Udara Berbahaya dan Tidak Menyadarinya"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/ec727a11f50a800c1610613939280fbc","name":"Arsi Agnitasari","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJHQnU2AbYDEyFgBe0axtgt4GSgBVOtvjX6VfyxKPli2gqCL9Ci=s96-c","contentUrl":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJHQnU2AbYDEyFgBe0axtgt4GSgBVOtvjX6VfyxKPli2gqCL9Ci=s96-c","caption":"Arsi Agnitasari"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/arsi-agnitasari\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55307","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/74"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55307"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55307\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64118,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55307\/revisions\/64118"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55309"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55307"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55307"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55307"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=55307"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}