{"id":55514,"date":"2022-09-28T10:12:20","date_gmt":"2022-09-28T03:12:20","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=55514"},"modified":"2022-09-28T10:14:19","modified_gmt":"2022-09-28T03:14:19","slug":"ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/","title":{"rendered":"<strong>NDC Terbaru Indonesia Tidak Menjawab Ancaman Krisis Iklim<\/strong>"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n<p><strong>Jakarta, 27 September 2022.<\/strong> Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mengumumkan <em>enhanced National Determined Contribution<\/em> (NDC) terbaru Indonesia. Meskipun ada peningkatan dalam target pengurangan emisi, dari 29% menjadi 31.89% dengan usaha sendiri di tahun 2030, dan dari 41% menjadi 43.2% jika dengan bantuan internasional, namun <em>enhanced<\/em> NDC ini masih jauh dari harapan publik untuk melindungi masa depan Indonesia dari dampak buruk krisis iklim.<\/p>\n\n<p>\u201cSangat disayangkan dalam <em>enhanced<\/em> NDC yang pembahasannya dilakukan secara tertutup ini, rencana percepatan pengakhiran masa operasional PLTU, atau rencana pensiun dini PLTU, belum tertuang dalam rencana mitigasi <em>enhanced<\/em> NDC. Padahal pensiun dini PLTU sangat perlu dilakukan secepatnya untuk memberikan ruang bagi pengembangan energi terbarukan di tengah kondisi kelebihan pasokan listrik. Ini jauh lebih baik daripada menyuruh masyarakat menambah daya dan mendorong penggunaan energi listrik berlebihan, demi menyelamatkan PLN dari krisis akibat kelebihan pasokan listrik\u201d ungkap Adila Isfandiari, Pengkampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Masih diizinkannya penggunaan batubara minimal 30% di tahun 2025 dan 25% di tahun 2050 (teks dalam Enhanced NDC: <em>\u201ccoal should be minimum 30% in 2025 and minimum 25% in 2050\u201d<\/em>) juga bertentangan dengan rekomendasi IPCC untuk mencapai target 1.5 derajat Celcius, yang mengharuskan adanya <a href=\"https:\/\/climateanalytics.org\/media\/report_coal_phase_out_2019.pdf\">pengurangan batubara dalam sektor kelistrikan sebesar 80% dari level 2010 pada tahun 2030, dan melakukan phase out batubara pada tahun 2040<\/a>.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Pemerintah juga merencanakan penggunaan <em>co-firing<\/em> pada PLTU Batubara dengan kebutuhan 9 juta ton biomassa. Berdasarkan <a href=\"https:\/\/ieefa.org\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/Indonesias-Biomass-Cofiring-Bet_February-2021.pdf\">analisis IEEFA<\/a>, penggunaan biomassa dalam jumlah besar ini akan membutuhkan industri biomassa skala besar dengan tantangan teknis dan finansial yang besar pula, terutama untuk mendapatkan biomassa berkualitas. <a href=\"https:\/\/www.researchgate.net\/publication\/326021333_Life_Cycle_Environmental_Impact_of_Biomass_Co-Firing_with_Coal_at_a_Power_Plant_in_the_Greater_Houston_Area\">Pencampuran 5% biomassa untuk <em>co-firing<\/em> hanya akan mengurangi emisi CO2 pada PLTU sebesar 3.2% saja<\/a>, belum termasuk risiko jejak karbon pada perluasan lahan untuk biomassa, proses produksi pellet dan juga distribusi. Selain itu, terdapat juga <em>clean coal technology<\/em> yang hanya akan memperpanjang masa operasi PLTU yang menghasilkan emisi GRK tinggi.<\/p>\n\n<p>\u201c<em>Enhanced<\/em> NDC juga masih mencantumkan solusi palsu yaitu penggunaan B-40 sebesar 100% pada 2030 yang tidak akan mengurangi emisi karbon secara signifikan dari sektor energi. Rencana pengembangan biodiesel ini juga akan membawa risiko ekonomi dan lingkungan bagi Indonesia. Berdasarkan <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2020\/11\/cc19cf62-laporan-biodiesel-lpem_bahasa-indonesia_final.pdf\">laporan Greenpeace bersama LPEM Universitas Indonesia<\/a>, implementasi B-40 akan semakin mempercepat ekstensifikasi lahan sawit yang berpotensi membutuhkan perluasan lahan baru dan mengancam luasan hutan tersisa\u201d tambah Adila.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Sebagai negara yang termasuk dalam daftar <a href=\"https:\/\/www.carbonbrief.org\/analysis-which-countries-are-historically-responsible-for-climate-change\/\">lima besar negara dengan akumulasi emisi terbesar dalam periode 1850-2021<\/a>, Indonesia seharusnya menerapkan komitmen iklim yang lebih ambisius. Terlebih lagi Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat rentan terhadap risiko bencana iklim. Berdasarkan laporan Bank Indonesia, potensi kerugian ekonomi akibat krisis iklim dapat mencapai <a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/3090637\/bi-kerugian-indonesia-akibat-iklim-bisa-capai-40-persen-pdb-di-2050\">40% dari PDB Indonesia di 2050<\/a>.<\/p>\n\n<p>\u201cDi hari yang sama ketika KLHK memasukkan enhanced NDC ke UNFCCC, ribuan anak muda dalam kolektif Bumi Butuh Aksi melakukan aksi <em>Climate Strike <\/em>di Jakarta untuk menyuarakan keresahan mereka terhadap ancaman krisis iklim yang makin nyata dan sering. Pemerintah Indonesia seharusnya mendengarkan suara mereka dengan memperkuat komitmen iklim, dan berhenti mengadopsi solusi-solusi palsu yang justru memberikan karpet merah dan keuntungan bagi perusak lingkungan\u201d pungkas Adila.&nbsp;<\/p>\n\n<p><strong>Kontak media :<\/strong><\/p>\n\n<p>Adila Isfandiari, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, +62811155760<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meskipun ada peningkatan dalam target pengurangan emisi, dari 29% menjadi 31.89% dengan usaha sendiri di tahun 2030, dan dari 41% menjadi 43.2% jika dengan bantuan internasional, namun enhanced NDC ini masih jauh dari harapan publik untuk melindungi masa depan Indonesia dari dampak buruk krisis iklim.<\/p>\n","protected":false},"author":49,"featured_media":45538,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"not set","p4_local_project":"not set","p4_basket_name":"not set","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[19,6,18],"p4-page-type":[14],"class_list":["post-55514","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-hutan","tag-iklim","tag-energi-terbarukan","p4-page-type-siaran-pers"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>NDC Terbaru Indonesia Tidak Menjawab Ancaman Krisis Iklim - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"NDC Terbaru Indonesia Tidak Menjawab Ancaman Krisis Iklim - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Meskipun ada peningkatan dalam target pengurangan emisi, dari 29% menjadi 31.89% dengan usaha sendiri di tahun 2030, dan dari 41% menjadi 43.2% jika dengan bantuan internasional, namun enhanced NDC ini masih jauh dari harapan publik untuk melindungi masa depan Indonesia dari dampak buruk krisis iklim.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-09-28T03:12:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-09-28T03:14:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2021\/11\/beb8946b-gp1swjin_web_size.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/\"},\"author\":{\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\"},\"headline\":\"NDC Terbaru Indonesia Tidak Menjawab Ancaman Krisis Iklim\",\"datePublished\":\"2022-09-28T03:12:20+00:00\",\"dateModified\":\"2022-09-28T03:14:19+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/\"},\"wordCount\":486,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Hutan\",\"Iklim\",\"EnergiTerbarukan\"],\"articleSection\":[\"Uncategorized\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/\",\"name\":\"NDC Terbaru Indonesia Tidak Menjawab Ancaman Krisis Iklim - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2022-09-28T03:12:20+00:00\",\"dateModified\":\"2022-09-28T03:14:19+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"NDC Terbaru Indonesia Tidak Menjawab Ancaman Krisis Iklim\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"sameAs\":[\"http:\/\/www.greenpeace.or.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"NDC Terbaru Indonesia Tidak Menjawab Ancaman Krisis Iklim - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"NDC Terbaru Indonesia Tidak Menjawab Ancaman Krisis Iklim - Greenpeace Indonesia","og_description":"Meskipun ada peningkatan dalam target pengurangan emisi, dari 29% menjadi 31.89% dengan usaha sendiri di tahun 2030, dan dari 41% menjadi 43.2% jika dengan bantuan internasional, namun enhanced NDC ini masih jauh dari harapan publik untuk melindungi masa depan Indonesia dari dampak buruk krisis iklim.","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2022-09-28T03:12:20+00:00","article_modified_time":"2022-09-28T03:14:19+00:00","og_image":[{"width":800,"height":533,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2021\/11\/beb8946b-gp1swjin_web_size.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Greenpeace Indonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Greenpeace Indonesia","Est. reading time":"2 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/"},"author":{"name":"Greenpeace Indonesia","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe"},"headline":"NDC Terbaru Indonesia Tidak Menjawab Ancaman Krisis Iklim","datePublished":"2022-09-28T03:12:20+00:00","dateModified":"2022-09-28T03:14:19+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/"},"wordCount":486,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Hutan","Iklim","EnergiTerbarukan"],"articleSection":["Uncategorized"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/","name":"NDC Terbaru Indonesia Tidak Menjawab Ancaman Krisis Iklim - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2022-09-28T03:12:20+00:00","dateModified":"2022-09-28T03:14:19+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55514\/ndc-terbaru-indonesia-tidak-menjawab-ancaman-krisis-iklim\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"NDC Terbaru Indonesia Tidak Menjawab Ancaman Krisis Iklim"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe","name":"Greenpeace Indonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","caption":"Greenpeace Indonesia"},"sameAs":["http:\/\/www.greenpeace.or.id"],"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55514","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/49"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55514"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55514\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":55516,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55514\/revisions\/55516"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45538"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55514"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55514"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55514"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=55514"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}