{"id":55977,"date":"2022-12-22T13:57:08","date_gmt":"2022-12-22T06:57:08","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=55977"},"modified":"2025-07-10T17:43:07","modified_gmt":"2025-07-10T10:43:07","slug":"cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/","title":{"rendered":"<strong>CBD COP15 Berakhir, Indonesia Mesti Percepat Pengakuan Masyarakat Adat<\/strong>"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n<p><strong>Montreal\/Jakarta, 21 Desember 2022. <\/strong>Greenpeace Indonesia menyambut kesepakatan final Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB ke-15 atau CBD COP15 di Montreal, Kanada, yang secara eksplisit mengakui peran penting masyarakat adat sebagai penjaga keanekaragaman hayati. Ini mencakup pengakuan terhadap hak, wilayah, pengetahuan, serta pentingnya pelibatan masyarakat adat dalam pengambilan keputusan.&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201cImplementasi kesepakatan ini harus memastikan bahwa hak, pengetahuan, pandangan, nilai, dan praktik hidup masyarakat adat dihormati. Setiap pengambil kebijakan mesti secara eksplisit merujuk Deklarasi PBB tentang Hak-hak Masyarakat Adat (UNDRIP) serta prinsip-prinsip hak asasi manusia,\u201d kata Sekar Banjaran Aji, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/12\/0050c5be-gp1t909i-1024x683.jpg\" title=\"Great March led by Indigenous leaders for Biodiversity and Human Rights during COP15.\" alt=\"Great March led by Indigenous leaders for Biodiversity and Human Rights during COP15.\" class=\"wp-image-55948\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/12\/0050c5be-gp1t909i-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/12\/0050c5be-gp1t909i-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/12\/0050c5be-gp1t909i-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/12\/0050c5be-gp1t909i-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/12\/0050c5be-gp1t909i.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n<p>Bagi Indonesia, kesepakatan CBD COP15 yang berakhir pada Senin, 19 Desember 2022 waktu Kanada ini mestinya mendorong pemerintah untuk mempercepat pengakuan terhadap masyarakat adat, termasuk wilayah mereka. Hingga Agustus 2022, sebanyak <a href=\"https:\/\/news.mongabay.com\/2022\/09\/mapping-of-indigenous-lands-ramps-up-in-indonesia-without-official-recognition\/\">17,7 juta hektare<\/a> wilayah adat yang telah dipetakan masih belum mendapatkan pengakuan.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Adapun yang telah diakui baru 3,1 juta hektare, atau 15 persen dari total luas wilayah adat yang sudah dipetakan. Masyarakat adat yang tanahnya diakui pun masih harus <a href=\"https:\/\/news.mongabay.com\/2022\/08\/no-permit-no-problem-for-palm-oil-company-still-clearing-forest-in-papua\/\">berjuang secara hukum<\/a> untuk menolak konsesi perusahaan demi mempertahankan hak-hak mereka. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan masih menganggap <a href=\"https:\/\/betahita.id\/news\/detail\/7861\/masyarakat-adat-dalam-ancaman-konflik-agraria-.html.html\">70 persen tanah adat<\/a> yang telah dipetakan Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) sebagai kawasan hutan nasional, kendati putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35 Tahun 2012 menyatakan sebaliknya.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Pada 2021, Persatuan Pembela Masyarakat Adat Nusantara melaporkan terdapat <a href=\"https:\/\/www.aman.or.id\/files\/organization-document\/57108Catatan%20Akhir%20Tahun%20AMAN,%202021%20Fix%20(1).pdf\">13 kasus perampasan tanah<\/a> terhadap masyarakat adat, yang berdampak pada 103.717 orang dan sekitar 251.000 hektare lahan. Jumlah kasus yang tak dilaporkan diperkirakan jauh lebih banyak.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Pengakuan dan perlindungan masyarakat adat salah satunya diserukan oleh <a href=\"https:\/\/media.greenpeace.org\/Detail\/27MDHUFXO5R9\">Orpha Yosua<\/a>, perempuan muda Suku Namblong dari Lembah Grime Nawa, Jayapura, Papua. Lembah Grime Nawa merupakan kawasan yang kaya akan keanekaragaman hayati, salah satunya habitat burung Cenderawasih. Bertemu Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Alue Dohong, di Montreal pada Minggu, 18 Desember 2022, Orpha menyampaikan perjuangan komunitasnya melawan aktivitas PT Permata Nusa Mandiri (PNM) di tanah adat mereka, termasuk pembalakan hutan secara ilegal yang diduga dilakukan perusahaan. Kepada Orpha, Wakil Menteri LHK menyatakan bakal mengecek kasus tersebut.<\/p>\n\n<p>\u201cPemerintah Indonesia harus memastikan bahwa kebijakan di dalam negeri sejalan dengan target hasil COP15. Salah satunya dengan meninggalkan pola konservasi lawas dan menerapkan konservasi berbasis komunitas adat. Produk hukum yang sedang disusun, seperti Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat dan RUU Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem juga harus sejalan dengan target global ini,\u201d ujar Sekar.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/12\/a5a5a17d-gp1t8vaf-1024x683.jpg\" title=\"Press conference: Global Indigenous leaders gather in Montreal to call for Indigenous-led nature protection during COP15.\" alt=\"Press conference: Global Indigenous leaders gather in Montreal to call for Indigenous-led nature protection during COP15.\" class=\"wp-image-55900\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/12\/a5a5a17d-gp1t8vaf-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/12\/a5a5a17d-gp1t8vaf-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/12\/a5a5a17d-gp1t8vaf-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/12\/a5a5a17d-gp1t8vaf-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/12\/a5a5a17d-gp1t8vaf.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">At a press conference in Montreal\u2019s Hotel10 during COP15, global Indigenous leaders from Brazil, Canada, the Democratic Republic of Congo, Cameroon and Indonesia gathered to call for nature protection that centres Indigenous rights and shifts power from industry to Indigenous Peoples and local communities.<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Namun secara keseluruhan, patut disayangkan bahwa COP15 gagal mewujudkan ambisi, langkah-langkah konkret, serta pendanaan yang diperlukan untuk menghentikan kepunahan massal. Target 30&#215;30 untuk melindungi setidaknya 30 persen daratan dan 30 persen lautan pada 2030 memang berhasil disepakati, tetapi tak setegas dan sejelas yang diharapkan. Ketentuan yang melarang perusakan di kawasan lindung, misalnya, hilang dari teks terakhir kesepakatan CBD COP15. Hal ini berarti bahwa kegiatan skala industri yang merusak masih dapat terjadi di kawasan lindung.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Masalah lainnya ialah adanya ruang interpretasi bagi solusi palsu untuk menyelamatkan biodiversitas, seperti ketentuan tentang \u2018penggunaan keanekaragaman hayati berkelanjutan\u2019. Sejak awal, solusi palsu seperti skema <em>nature-based solutions <\/em>dan <em>offsets <\/em>(tukar-menukar) memang mewarnai pembicaraan. Secara sederhana, skema <em>biodiversity offsets <\/em>adalah desain aktivitas untuk \u2018menukar\u2019 kerusakan keanekaragaman hayati di suatu tempat dengan melindungi biodiversitas di kawasan lain.<\/p>\n\n<p>Pendanaan yang diputuskan sebesar US$ 20 miliar per tahun mulai 2025, kemudian US$ 30 miliar per tahun pada 2030 merupakan permulaan, tapi ini belum cukup mengingat kebutuhan pendanaan keanekaragaman hayati mencapai US$ 700 miliar. \u201cTak jelas dari mana sisa uang itu akan diperoleh. Ini bukan cuma seberapa banyak, tapi juga seberapa cepat pendanaan itu bisa sampai ke negara berkembang terlebih dulu,\u201d kata Sekar.&nbsp;<\/p>\n\n<p><strong>Catatan Editor:<\/strong><\/p>\n\n<p>Aksi-aksi masyarakat adat pada Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB di Montreal, Kanada dapat dilihat pada tautan <a href=\"https:\/\/media.greenpeace.org\/Detail\/27MDHUFXJOEU\">berikut<\/a>.<\/p>\n\n<p><strong>Kontak Media:<\/strong><\/p>\n\n<p>Sekar Banjaran Aji, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, +62 812-8776-9880<\/p>\n\n<p>Budiarti Putri, Juru Kampanye Media Greenpeace Indonesia, +62 811-1643-105<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Greenpeace Indonesia menyambut kesepakatan final Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB ke-15 atau CBD COP15 di Montreal, Kanada, yang secara eksplisit mengakui peran penting masyarakat adat sebagai penjaga keanekaragaman hayati. Ini mencakup pengakuan terhadap hak, wilayah, pengetahuan, serta pentingnya pelibatan masyarakat adat dalam pengambilan keputusan.\u00a0<\/p>\n","protected":false},"author":25,"featured_media":55948,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"not set","p4_local_project":"not set","p4_basket_name":"not set","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[3,2],"tags":[35,19,24],"p4-page-type":[14],"class_list":["post-55977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ciptakan-perubahan","category-lindungi","tag-50-tahun","tag-hutan","tag-aktivisme","p4-page-type-siaran-pers"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>CBD COP15 Berakhir, Indonesia Mesti Percepat Pengakuan Masyarakat Adat - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"CBD COP15 Berakhir, Indonesia Mesti Percepat Pengakuan Masyarakat Adat - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Greenpeace Indonesia menyambut kesepakatan final Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB ke-15 atau CBD COP15 di Montreal, Kanada, yang secara eksplisit mengakui peran penting masyarakat adat sebagai penjaga keanekaragaman hayati. Ini mencakup pengakuan terhadap hak, wilayah, pengetahuan, serta pentingnya pelibatan masyarakat adat dalam pengambilan keputusan.\u00a0\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-12-22T06:57:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-10T10:43:07+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/12\/0050c5be-gp1t909i.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Afif\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Afif\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/\"},\"author\":{\"name\":\"Afif\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3e2ebddeabf4d00a38dc3b78e763f280\"},\"headline\":\"CBD COP15 Berakhir, Indonesia Mesti Percepat Pengakuan Masyarakat Adat\",\"datePublished\":\"2022-12-22T06:57:08+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:43:07+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/\"},\"wordCount\":648,\"commentCount\":3,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"50 Tahun\",\"Hutan\",\"Aktivisme\"],\"articleSection\":[\"Ciptakan Perubahan\",\"Lindungi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/\",\"url\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/\",\"name\":\"CBD COP15 Berakhir, Indonesia Mesti Percepat Pengakuan Masyarakat Adat - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2022-12-22T06:57:08+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-10T10:43:07+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"CBD COP15 Berakhir, Indonesia Mesti Percepat Pengakuan Masyarakat Adat\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3e2ebddeabf4d00a38dc3b78e763f280\",\"name\":\"Afif\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLsIvppx-YXQ--3d0zDXkI7iN7hDZr5MuE3Nky8RZxlicYBEMLK=s96-c\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLsIvppx-YXQ--3d0zDXkI7iN7hDZr5MuE3Nky8RZxlicYBEMLK=s96-c\",\"caption\":\"Afif\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/asaputra\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"CBD COP15 Berakhir, Indonesia Mesti Percepat Pengakuan Masyarakat Adat - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"CBD COP15 Berakhir, Indonesia Mesti Percepat Pengakuan Masyarakat Adat - Greenpeace Indonesia","og_description":"Greenpeace Indonesia menyambut kesepakatan final Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB ke-15 atau CBD COP15 di Montreal, Kanada, yang secara eksplisit mengakui peran penting masyarakat adat sebagai penjaga keanekaragaman hayati. Ini mencakup pengakuan terhadap hak, wilayah, pengetahuan, serta pentingnya pelibatan masyarakat adat dalam pengambilan keputusan.\u00a0","og_url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2022-12-22T06:57:08+00:00","article_modified_time":"2025-07-10T10:43:07+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":800,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2022\/12\/0050c5be-gp1t909i.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Afif","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Afif","Est. reading time":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/"},"author":{"name":"Afif","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3e2ebddeabf4d00a38dc3b78e763f280"},"headline":"CBD COP15 Berakhir, Indonesia Mesti Percepat Pengakuan Masyarakat Adat","datePublished":"2022-12-22T06:57:08+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:43:07+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/"},"wordCount":648,"commentCount":3,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["50 Tahun","Hutan","Aktivisme"],"articleSection":["Ciptakan Perubahan","Lindungi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/","url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/","name":"CBD COP15 Berakhir, Indonesia Mesti Percepat Pengakuan Masyarakat Adat - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2022-12-22T06:57:08+00:00","dateModified":"2025-07-10T10:43:07+00:00","breadcrumb":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"CBD COP15 Berakhir, Indonesia Mesti Percepat Pengakuan Masyarakat Adat"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3e2ebddeabf4d00a38dc3b78e763f280","name":"Afif","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLsIvppx-YXQ--3d0zDXkI7iN7hDZr5MuE3Nky8RZxlicYBEMLK=s96-c","contentUrl":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLsIvppx-YXQ--3d0zDXkI7iN7hDZr5MuE3Nky8RZxlicYBEMLK=s96-c","caption":"Afif"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/asaputra\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55977","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/25"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55977"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55977\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64077,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55977\/revisions\/64077"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55948"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55977"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=55977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}