{"id":57215,"date":"2023-10-02T19:57:15","date_gmt":"2023-10-02T12:57:15","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=57215"},"modified":"2025-06-23T21:54:24","modified_gmt":"2025-06-23T14:54:24","slug":"ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/","title":{"rendered":"Ribuan Orang Desak Perusahaan Seafood AS\u00a0Stop Nikmati Cuan dari Kapal Ikan Pelaku Perbudakan"},"content":{"rendered":"\n<p>Kamis pagi, 7 September 2023, sejumlah aktivis Greenpeace Amerika Serikat memasang bendera bertuliskan <em>\u201cEnd Modern Slavery\u201d<\/em> (Stop Perbudakan Modern) tepat di depan gedung Bumble Bee Seafoods yang berada di area perkantoran Gallagher Square, San Diego, California, Amerika Serikat. Beberapa di antaranya berdiri mengangkat potongan karton angka berwarna kuning menyusun tulisan <em>\u201c51000+\u201d<\/em>.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Salah seorang aktivis lainnya memegang karton berwarna hitam yang bertuliskan \u201c<em>PEOPLE want Bumble Bee to stop benefiting from modern slavery in its supply chain<\/em>\u201d (Banyak orang ingin Bumble Bee berhenti mengeruk untung dari perbudakan modern di rantai suplainya).<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"521\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/10\/33b199b4-gp0stxjn8_web_size_with_credit_line.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-57220\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/10\/33b199b4-gp0stxjn8_web_size_with_credit_line.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/10\/33b199b4-gp0stxjn8_web_size_with_credit_line-300x195.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/10\/33b199b4-gp0stxjn8_web_size_with_credit_line-768x500.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/10\/33b199b4-gp0stxjn8_web_size_with_credit_line-510x332.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/figure>\n\n<p>Angka <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/usa\/news\/greenpeace-usa-tells-bumble-bee-to-end-modern-slavery-in-its-supply-chain\/\">51000+<\/a> itu mewakili jumlah orang yang menandatangani sebuah petisi yang ditujukan pada Bumble Bee Seafoods, korporasi penghasil makanan laut dalam bentuk kaleng seperti tuna dan salmon, beserta induk perusahaannya, Fong Chun Formosa (FCF), yang berpusat di Taiwan.<\/p>\n\n<p>Petisi itu mendesak Bumble Bee dan FCF untuk membersihkan \u201cdarah\u201d di rantai pasok mereka yang selama ini mengorbankan begitu banyak awak kapal\u2013yang banyak di antaranya adalah orang Indonesia.<\/p>\n\n<p>Memangnya, ada apa dengan Bumble Bee? Siapa mereka? Apa kaitannya dengan perbudakan modern di atas kapal ikan?<\/p>\n\n<p><strong>Di Balik Tuna Kaleng Bumble Bee<\/strong><\/p>\n\n<p>Hasil<a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/usa\/reports\/gpea-report-fake-my-catch\/\"> investigasi<\/a>[1] Greenpeace Asia Timur pada 2022 lalu menemukan setidaknya 10 persen dari 119 sampel kapal berbendera atau milik Taiwan, yang hasil tangkapannya dipasok ke Bumble Bee, telah melanggar aturan Badan Perikanan Taiwan (<em>Taiwan Fishery Agency<\/em>\/TFA) dan masuk daftar <em>illegal, unreported, and unregulated (IUU) fishing<\/em>. Laporan itu juga menemukan sejumlah kapal yang memasok hasilnya ke Bumble Bee ternyata terlibat dalam praktik penangkapan ikan ilegal.<\/p>\n\n<p>Tak hanya itu, Greenpeace Amerika Serikat juga menemukan produk kaleng Bumble Bee yang dijual di salah satu toko kelontong di Kota Arlington, negara bagian Virginia, berisi ikan yang ditangkap menggunakan kapal asal Taiwan bernama Da Wang\u2014yang oleh Bea Cukai dan Pelindungan Perbatasan Amerika Serikat diberi <a href=\"https:\/\/www.dhs.gov\/news\/2022\/01\/28\/dhs-takes-action-combat-forced-labor-and-hold-companies-accountable-exploiting\">\u201ckartu merah\u201d<\/a> awal 2022 lalu karena terbukti terjadi kerja paksa di dalamnya.<\/p>\n\n<p>Di atas kapal Da Wang itu, ternyata ada awak kapal asal Indonesia yang menjadi korban kekerasan dan kerja paksa. Namanya <a href=\"https:\/\/open.spotify.com\/episode\/2dxJp7KRhyLTLgHQYKVhyC?si=64fjfExKSdqUbcorTHOHrQ&amp;nd=1\">Ardi Ligantara<\/a>, pria asal Medan, Sumatera Utara, itu menjadi korban pada awal 2019 lalu. Ia menjadi saksi atas tewasnya kolega sesama asal Indonesia di atas kapal itu.<\/p>\n\n<p>Selain Taiwan, China juga merupakan negara yang kapal-kapal ikannya kerap menjadi tempat terjadinya praktik kekerasan dan kerja paksa di tengah laut. Tak hanya Ardi, ada juga<a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/56857\/tertipu-dan-terjegal-sistem-hikayat-syamsul-dan-neraka-di-laut-argentina\/\"> Syamsul<\/a> asal Tegal, Jawa Tengah, yang pada 2020 kerja berbulan-bulan di atas kapal berbendera China dan tak mendapat upah sesuai dengan kontrak kerjanya. Sama seperti Ardi, Syamsul juga menjadi saksi atas tewasnya awak kapal Indonesia yang disimpan di lemari pendingin bersama hasil tangkapan laut.<\/p>\n\n<p>Pada 2019[2] dan 2021[3] lalu, Greenpeace Indonesia dan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) menerbitkan dua seri laporan investigasi tentang praktik perbudakan terhadap awak kapal perikanan. Kebanyakan korban adalah orang Indonesia. Mereka bekerja di kapal-kapal berbendera Taiwan atau China dan hasil tangkapannya dipasarkan di negara-negara maju seperti kawasan Eropa dan Amerika Serikat.<\/p>\n\n<p><strong>Bumble Bee Harus Berbenah<\/strong><\/p>\n\n<p>Memang belum ada data yang pasti tentang berapa jumlah awak kapal Indonesia yang bekerja di kapal-kapal Taiwan dan China yang memasok ikan untuk Bumble Bee. Namun, mengingat Bumble Bee adalah salah satu pemain terbesar di industri makanan laut kalengan, perbaikan sekecil apa pun yang mereka lakukan tentu akan berpengaruh terhadap perbaikan nasib para awak kapal.<\/p>\n\n<p>Dengan adanya<a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/act\/support-migrant-fishers\/\"> petisi<\/a> yang telah ditandatangani oleh puluhan ribu orang dari seluruh dunia, sudah saatnya para elite di puncak Bumble Bee Seafood menyadari bahwa \u201ctangan mereka berdarah\u201d. Selama bertahun-tahun, mereka seolah menutup mata atas terjadinya praktik kerja paksa dan perbudakan di atas kapal-kapal ikan yang terafiliasi dengan mereka.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"511\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/10\/2d34f46c-gp0stxjn4_web_size_with_credit_line.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-57217\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/10\/2d34f46c-gp0stxjn4_web_size_with_credit_line.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/10\/2d34f46c-gp0stxjn4_web_size_with_credit_line-300x192.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/10\/2d34f46c-gp0stxjn4_web_size_with_credit_line-768x491.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/10\/2d34f46c-gp0stxjn4_web_size_with_credit_line-510x326.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/figure>\n\n<p>\u201cSelama lebih dari satu dekade, Greenpeace AS telah mencoba terhubung dengan Bumble Bee untuk membahas bagaimana mereka bisa membenahi bisnis mereka dengan pendekatan yang sistematis serta berbasis hak asasi manusia dan sains. Tapi mereka selalu menolak bertemu kami,\u201d tutur Sari Heidenreich, Penasihat HAM Senior untuk Perikanan Global Greenpeace AS.<\/p>\n\n<p>Bumble Bee Seafood berada di bawah konglomerasi FCF, salah satu perusahaan ikan tuna terbesar di dunia, yang produknya mudah ditemukan hampir di seluruh pasar swalayan di seluruh Amerika Serikat. Kendati mengklaim \u201cperikanan berkelanjutan penting bagi kami\u201d, namun nyatanya realitas di lapangan jauh panggang dari api.<\/p>\n\n<p>Bumble Bee harus mulai berbenah diri dan membersihkan bisnisnya dari praktik perbudakan dan kekerasan di atas kapal-kapal yang hasil tangkapannya menjadi sumber <em>cuan<\/em> bagi mereka. Dengan begitu, Bumble Bee bisa berkontribusi untuk melindungi awak kapal asal Indonesia yang bekerja di kapal-kapal itu agar terbebas dari perbudakan dan praktik kekerasan.<\/p>\n\n<p>***<\/p>\n\n<p>Apakah Anda ingin turut mendesak Bumble Bee untuk berbenah dan mendukung pelindungan yang lebih baik untuk awak kapal perikanan (AKP) migran Indonesia? Tandatangani <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/act\/support-migrant-fishers\/\">petisi<\/a> ini!<\/p>\n\n<p>***<\/p>\n\n<p><em>Haris Prabowo adalah asisten komunikasi untuk tim Beyond Seafood kampanye laut Greenpeace Indonesia dan Firdarainy Nuril Izzah adalah <\/em>content writer<em> magang di tim yang sama.<\/em><\/p>\n\n<p>[1] <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/usa\/reports\/gpea-report-fake-my-catch\/\">Fake My Catch: The Unreliable Traceability in our Tuna Cans<\/a>, 2022<\/p>\n\n<p>[2] <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/southeastasia\/publication\/3428\/seabound-the-journey-to-modern-slavery-on-the-high-seas\/\">Seabound: The Journey to Modern Slavery on the High Seas<\/a>, 2019<\/p>\n\n<p>[3] <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/southeastasia\/publication\/44492\/forced-labour-at-sea-the-case-of-indonesian-migrant-fisher\/\">Forced Labour at Sea: The Case of Indonesian Migrant Fisher<\/a>, 2021<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Memangnya, ada apa dengan Bumble Bee? Siapa mereka? Apa kaitannya dengan perbudakan modern di atas kapal ikan?<\/p>\n","protected":false},"author":74,"featured_media":57217,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[18,24,20,6],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-57215","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ciptakan-perubahan","tag-energi-terbarukan","tag-aktivisme","tag-laut","tag-iklim","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ribuan Orang Desak Perusahaan Seafood AS\u00a0Stop Nikmati Cuan dari Kapal Ikan Pelaku Perbudakan - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ribuan Orang Desak Perusahaan Seafood AS\u00a0Stop Nikmati Cuan dari Kapal Ikan Pelaku Perbudakan - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Memangnya, ada apa dengan Bumble Bee? Siapa mereka? Apa kaitannya dengan perbudakan modern di atas kapal ikan?\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-10-02T12:57:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-06-23T14:54:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/10\/2d34f46c-gp0stxjn4_web_size_with_credit_line.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"511\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Arsi Agnitasari\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Arsi Agnitasari\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/\"},\"author\":{\"name\":\"Arsi Agnitasari\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/ec727a11f50a800c1610613939280fbc\"},\"headline\":\"Ribuan Orang Desak Perusahaan Seafood AS\u00a0Stop Nikmati Cuan dari Kapal Ikan Pelaku Perbudakan\",\"datePublished\":\"2023-10-02T12:57:15+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-23T14:54:24+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/\"},\"wordCount\":803,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"EnergiTerbarukan\",\"Aktivisme\",\"Laut\",\"Iklim\"],\"articleSection\":[\"Ciptakan Perubahan\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/\",\"url\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/\",\"name\":\"Ribuan Orang Desak Perusahaan Seafood AS\u00a0Stop Nikmati Cuan dari Kapal Ikan Pelaku Perbudakan - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-10-02T12:57:15+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-23T14:54:24+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ribuan Orang Desak Perusahaan Seafood AS\u00a0Stop Nikmati Cuan dari Kapal Ikan Pelaku Perbudakan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/ec727a11f50a800c1610613939280fbc\",\"name\":\"Arsi Agnitasari\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJHQnU2AbYDEyFgBe0axtgt4GSgBVOtvjX6VfyxKPli2gqCL9Ci=s96-c\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJHQnU2AbYDEyFgBe0axtgt4GSgBVOtvjX6VfyxKPli2gqCL9Ci=s96-c\",\"caption\":\"Arsi Agnitasari\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/arsi-agnitasari\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ribuan Orang Desak Perusahaan Seafood AS\u00a0Stop Nikmati Cuan dari Kapal Ikan Pelaku Perbudakan - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Ribuan Orang Desak Perusahaan Seafood AS\u00a0Stop Nikmati Cuan dari Kapal Ikan Pelaku Perbudakan - Greenpeace Indonesia","og_description":"Memangnya, ada apa dengan Bumble Bee? Siapa mereka? Apa kaitannya dengan perbudakan modern di atas kapal ikan?","og_url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2023-10-02T12:57:15+00:00","article_modified_time":"2025-06-23T14:54:24+00:00","og_image":[{"width":800,"height":511,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/10\/2d34f46c-gp0stxjn4_web_size_with_credit_line.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Arsi Agnitasari","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Arsi Agnitasari","Est. reading time":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/"},"author":{"name":"Arsi Agnitasari","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/ec727a11f50a800c1610613939280fbc"},"headline":"Ribuan Orang Desak Perusahaan Seafood AS\u00a0Stop Nikmati Cuan dari Kapal Ikan Pelaku Perbudakan","datePublished":"2023-10-02T12:57:15+00:00","dateModified":"2025-06-23T14:54:24+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/"},"wordCount":803,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["EnergiTerbarukan","Aktivisme","Laut","Iklim"],"articleSection":["Ciptakan Perubahan"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/","url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/","name":"Ribuan Orang Desak Perusahaan Seafood AS\u00a0Stop Nikmati Cuan dari Kapal Ikan Pelaku Perbudakan - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2023-10-02T12:57:15+00:00","dateModified":"2025-06-23T14:54:24+00:00","breadcrumb":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57215\/ribuan-orang-desak-perusahaan-seafood-as-stop-nikmati-cuan-dari-kapal-ikan-pelaku-perbudakan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ribuan Orang Desak Perusahaan Seafood AS\u00a0Stop Nikmati Cuan dari Kapal Ikan Pelaku Perbudakan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/ec727a11f50a800c1610613939280fbc","name":"Arsi Agnitasari","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJHQnU2AbYDEyFgBe0axtgt4GSgBVOtvjX6VfyxKPli2gqCL9Ci=s96-c","contentUrl":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJHQnU2AbYDEyFgBe0axtgt4GSgBVOtvjX6VfyxKPli2gqCL9Ci=s96-c","caption":"Arsi Agnitasari"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/arsi-agnitasari\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57215","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/74"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57215"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57215\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":63402,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57215\/revisions\/63402"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57217"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57215"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57215"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57215"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=57215"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}