{"id":57496,"date":"2023-11-13T06:00:00","date_gmt":"2023-11-12T23:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=57496"},"modified":"2025-06-23T21:53:48","modified_gmt":"2025-06-23T14:53:48","slug":"anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/","title":{"rendered":"Anak Muda Adat dan Masa Depan Hutan Papua"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Menjadi anak adat adalah keistimewaan. Anak adat memiliki jati diri yang berbeda\u2013dengan kekhususannya yang berbasis pada identitas, wilayah adat dan seluruh kekayaannya, serta praktik kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun dan berkelanjutan. Itu sebabnya, anak muda adat adalah mediator; penghubung lintas zaman dan generasi, termasuk dengan dunia luar.<\/em><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"800\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/315a6f5e-gp0stxsat.jpg\" title=\"Forest Defender Camp in Papua. \u00a9 Jurnasyanto Sukarno \/ Greenpeace\" alt=\"\" class=\"wp-image-57497\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/315a6f5e-gp0stxsat.jpg 1200w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/315a6f5e-gp0stxsat-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/315a6f5e-gp0stxsat-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/315a6f5e-gp0stxsat-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/315a6f5e-gp0stxsat-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Papuan indigenous men from the Tenit tribe stand before a huge Merbau tree in the forest during the photo opportunity. Greenpeace Indonesia holds a Forest Defender Camp inside the forest in Sira village, Saifi district, South Sorong Regency, South West Papua to train Papuan Indigenous youths from various areas to protect the Papuan forest in Papua Island.<div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Jurnasyanto Sukarno \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Bagi Tresya Imelda Yoshua, bergabung dengan Suara Grime Nawa atau Suara Grina membuka matanya terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat adat suku Namblong di tempat asalnya di Lembah Grime Nawa, Jayapura, Papua. Tresya bergabung dengan Suara Grina pada Januari 2023, saat komunitas jurnalisme warga itu membuat perekrutan anggota baru.<\/p>\n\n<p>\u201cBanyak hal yang awalnya saya tidak tahu, saya jadi tahu setelah bergabung dengan Suara Grina dan mengikuti pelatihan,\u201d kata Tresya, anak muda adat dari suku Namblong.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Suara Grina terbentuk sejak 2019, di tengah-tengah perjuangan masyarakat adat suku Namblong melawan perusahaan sawit PT Permata Nusa Mandiri yang hendak beroperasi di Lembah Grime Nawa. Belakangan, Suara Grina juga memuat cerita tentang budaya masyarakat adat suku Namblong, serta keanekaragaman hayati di Lembah Grime Nawa yang akan rusak jika perusahaan sawit beroperasi.<\/p>\n\n<p>Tresya dan kawan-kawannya bahkan menginisiasi sekolah budaya untuk anak-anak muda Namblong. Mereka meminta para mama untuk mengajarkan bahasa lokal dan tari-tarian adat Namblong, menganyam noken, dan sebagainya.<\/p>\n\n<p>\u201cSaat ini tantangan orang muda Papua bukan hanya soal sumber daya alam kami yang dikuras, akan tetapi juga ancaman serius yang kami generasi muda hadapi adalah mempertahankan budaya. Bagaimana kami tidak kehilangan tanah dan hutan, karena itu juga identitas kami masyarakat adat,\u201d kata Tresya.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"800\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/76746e5f-gp1sy8sq.jpg\" title=\"Grime Nawa Valley. \u00a9 Jurnasyanto Sukarno \/ Greenpeace\" alt=\"Grime Nawa Valley. \u00a9 Jurnasyanto Sukarno \/ Greenpeace\" class=\"wp-image-57498\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/76746e5f-gp1sy8sq.jpg 1200w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/76746e5f-gp1sy8sq-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/76746e5f-gp1sy8sq-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/76746e5f-gp1sy8sq-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/76746e5f-gp1sy8sq-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">A view of Grime Nawa valley seen from Berab, Nimbokrang, Jayapura Regency, Papua.<div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Jurnasyanto Sukarno \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Tresya merupakan salah satu peserta <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/57166\/dari-hutan-desa-pertama-di-papua-anak-muda-adat-serukan-penyelamatan-hutan\/\"><em>Forest Defender Camp<\/em><\/a><em> <\/em>yang digelar pada 20-23 September 2023 di Kampung Manggroholo-Sira, Distrik Saifi, Sorong Selatan. Ia bergabung dengan lebih dari 100 anak muda adat yang datang dari sejumlah daerah di Tanah Papua.<\/p>\n\n<p>Dalam <em>Forest Defender Camp, <\/em>anak muda adat berbagi cerita tentang masalah yang dihadapi masyarakat adat di Tanah Papua, termasuk perampasan hutan dan tanah adat yang terus terjadi.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Selain Tresya, ada Robert Meanggi, anak muda adat dari suku Awyu, yang berkisah tentang gerakan melawan sejumlah perusahaan sawit di Boven Digoel. Masyarakat adat suku Awyu berjuang dengan pelbagai cara, salah satunya dengan menggugat izin lingkungan hidup yang dikeluarkan pemerintah Provinsi Papua untuk perusahaan sawit PT Indo Asiana Lestari ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura. <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/57412\/putusan-ptun-jayapura-jadi-kemunduran-pelindungan-masyarakat-adat-awyu-dan-lingkungan-hidup\/\">Putusan<\/a> pengadilan pada 2 November 2023 menolak gugatan yang diajukan pejuang lingkungan hidup dari suku Awyu, Hendrikus Woro, tersebut. Namun, suku Awyu tak menyerah. Hendrikus Woro dan kuasa hukumnya akan mengajukan banding ke pengadilan tinggi, setelah pengadilan tingkat pertama tak berpihak pada masyarakat adat dan hutan Papua.<\/p>\n\n<p>Robert Meanggi berasal dari Kampung Anggai, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel. Setelah lulus SMK pada 2014, ia sempat bekerja di perusahaan sawit PT MJR. Tatkala itulah Robert melihat langsung masalah-masalah yang dihadapi para buruh perkebunan sawit, termasuk para perempuan lanjut usia yang menjadi buruh kasar.<\/p>\n\n<p>Misalnya, para mama tersebut hanya diupah 25 hari kerja, padahal mereka bekerja selama 30 atau 31 hari saban bulan. Mereka juga tak dibekali dengan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan untuk memegang pupuk kimia.&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201cPada saat beristirahat untuk makan siang, biasanya mereka sudah tidak lagi mencuci tangan karena air yang ada di sekitar lokasi kerja sudah tercemar akibat pembongkaran lahan untuk perkebunan sawit itu,\u201d kata Robert.<\/p>\n\n<p><em>(Simak kisah Mama Laurensia Yame, perempuan Awyu yang sudah merasakan dampak keberadaan perusahaan sawit, dalam film pendek &#8220;<a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=wzWEWGnQ_Xo\">Mama Lihat Awan Jatuh&#8221;<\/a>. Film ini hasil kolaborasi Greenpeace Indonesia, Perempuan Berkabar, Project Multatuli, dan Pusaka Bentala Rakyat.)<\/em><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"802\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/253c32f7-gp0stt0qq.jpg\" title=\"PT Megakarya Jaya Raya (PT MJR) Oil Palm Concession in Papua. \u00a9 Ulet  Ifansasti \/ Greenpeace\" alt=\"\" class=\"wp-image-57500\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/253c32f7-gp0stt0qq.jpg 1200w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/253c32f7-gp0stt0qq-300x201.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/253c32f7-gp0stt0qq-1024x684.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/253c32f7-gp0stt0qq-768x513.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/253c32f7-gp0stt0qq-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Documentation of landcover, forest clearance and plantation development in PT Megakarya Jaya Raya (PT MJR) oil palm concession, part of the Hayel Saeed Anam group which has a number of palm oil related interests including Pacific Inter-Link which controls HSA&#8217;s palm oil refining and trading interests.<div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Ulet  Ifansasti \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Gelisah dengan situasi tersebut, Robert berdiskusi dengan mandor di tempatnya bekerja. Para buruh lantas mengajukan proposal pengadaan peralatan kerja yang akhirnya disetujui perusahaan.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Kendati begitu, Robert masih melihat adanya pelanggaran hak-hak buruh kebun sawit ketika dia dipindahkan ke divisi lain. Robert pun memutuskan untuk keluar dari perusahaan sawit tersebut.&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201cSaya berpikir bagaimana bisa membangun kampung jika terus bekerja di perusahaan sawit itu. Jadi saya putuskan keluar untuk mencari ilmu, agar saya bisa mendampingi masyarakat adat dan buruh menghadapi persoalan yang mereka alami,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n<p>Robert kemudian berkuliah di Universitas Musamus Merauke. Sembari kuliah, ia banyak belajar tentang hak-hak masyarakat adat dan lingkungan, serta terlibat dalam advokasi masyarakat adat bersama organisasi masyarakat sipil Yayasan Pusaka Bentala Rakyat.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Pilihan itu bukannya tanpa bahaya. Menurut Robert, setiap kembali ke kampung, ia kerap dicap sebagai provokator oleh pihak perusahaan. Namun, Robert tak menyerah dan tetap membagikan cerita tentang apa yang dialami suku Awyu kepada orang-orang yang ia jumpai.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Di <em>Forest Defender Camp<\/em>, Robert berharap anak muda adat bersatu dalam perjuangan masyarakat adat di Tanah Papua. Ia berujar, persoalan masyarakat adat dari Sorong hingga Merauke adalah masalah yang harus mereka hadapi bersama.<\/p>\n\n<p>\u201cJika ada persoalan jangan hanya diam dan diam, tapi mari orang muda harus bisa berada di garis depan untuk melihat persoalan-persoalan hak masyarakat adat dan lingkungan. Siapa lagi kalau bukan <em>sa<\/em> (saya), <em>ko<\/em> (kamu), dan kita semua? Kapan lagi kalau bukan sekarang? Mari kita sama-sama bergandengan tangan selamatkan manusia, tanah dan hutan&nbsp; Papua, untuk keberlangsungan hidup orang banyak di muka Bumi ini. Ujung tombak dan masa depan masyarakat adat Papua berada pada kita sebagai orang muda Papua,\u201d kata Robert.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Anak muda adat yang mengikuti <em>Forest Defender Camp<\/em> juga menyampaikan tujuh seruan penyelamatan hutan Papua dan pengakuan masyarakat adat kepada pemerintah Indonesia. Salah satu poin tuntutan yakni mendesak pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat yang berpihak kepada masyarakat adat.&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201cRUU Masyarakat Adat penting sebagai penghormatan negara terhadap hak-hak masyarakat adat, baik itu hak atas tanah, budaya, dan sumber daya alamnya. Pelindungan dan pemenuhan hak-hak masyarakat adat pun harus berasaskan partisipasi, keadilan, kesetaraan, transparansi, hak asasi manusia, serta kelestarian dan keberlanjutan lingkungan hidup,\u201d kata Tresya Imelda Yoshua.[]<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"800\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/1656d0c2-gp0stxs47.jpg\" title=\"Forest Defender Camp in Papua. \u00a9 Jurnasyanto Sukarno \/ Greenpeace\" alt=\"\" class=\"wp-image-57499\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/1656d0c2-gp0stxs47.jpg 1200w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/1656d0c2-gp0stxs47-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/1656d0c2-gp0stxs47-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/1656d0c2-gp0stxs47-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/1656d0c2-gp0stxs47-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Participants declare the Indigenous Youths Statement call for customary land and forest protection as the result of Forest Defender Camp. Greenpeace Indonesia holds a Forest Defender Camp inside the forest in Sira village, Saifi district, South Sorong Regency, South West Papua to train Papuan Indigenous youths from various areas to protect the Papuan forest in Papua Island.<div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Jurnasyanto Sukarno \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p>***<\/p>\n\n<p><em>Cerita ini ditulis oleh Samuel Moifilit dan Budiarti Putri. Samuel adalah tim komunikasi kampanye hutan Greenpeace Indonesia yang berbasis di Sorong, Papua Barat Daya. Ia anak adat suku Moi dari Kabupaten Raja Ampat. Sedangkan Putri merupakan juru kampanye komunikasi Greenpeace Indonesia di Jakarta.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjadi anak adat adalah keistimewaan. Anak adat adalah penghubung lintas zaman dan generasi.<\/p>\n","protected":false},"author":49,"featured_media":57498,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"Anak Muda Adat dan Masa Depan Hutan Papua","p4_og_description":"Menjadi anak adat adalah keistimewaan. Anak adat memiliki jati diri yang berbeda\u2013dengan kekhususannya yang berbasis pada identitas, wilayah adat dan seluruh kekayaannya, serta praktik kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun dan berkelanjutan. Itu sebabnya, anak muda adat adalah mediator; penghubung lintas zaman dan generasi, termasuk dengan dunia luar.","p4_og_image":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/315a6f5e-gp0stxsat.jpg","p4_og_image_id":"57497","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[3,2,5],"tags":[24,19,6],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-57496","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ciptakan-perubahan","category-lindungi","category-issues","tag-aktivisme","tag-hutan","tag-iklim","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Anak Muda Adat dan Masa Depan Hutan Papua - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Anak Muda Adat dan Masa Depan Hutan Papua - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Menjadi anak adat adalah keistimewaan. Anak adat adalah penghubung lintas zaman dan generasi.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-11-12T23:00:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-06-23T14:53:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/76746e5f-gp1sy8sq.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/\"},\"author\":{\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\"},\"headline\":\"Anak Muda Adat dan Masa Depan Hutan Papua\",\"datePublished\":\"2023-11-12T23:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-23T14:53:48+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/\"},\"wordCount\":1143,\"commentCount\":1,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Aktivisme\",\"Hutan\",\"Iklim\"],\"articleSection\":[\"Ciptakan Perubahan\",\"Lindungi\",\"The issues we work on\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/\",\"url\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/\",\"name\":\"Anak Muda Adat dan Masa Depan Hutan Papua - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-11-12T23:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-23T14:53:48+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Anak Muda Adat dan Masa Depan Hutan Papua\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"sameAs\":[\"http:\/\/www.greenpeace.or.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Anak Muda Adat dan Masa Depan Hutan Papua - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Anak Muda Adat dan Masa Depan Hutan Papua - Greenpeace Indonesia","og_description":"Menjadi anak adat adalah keistimewaan. Anak adat adalah penghubung lintas zaman dan generasi.","og_url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2023-11-12T23:00:00+00:00","article_modified_time":"2025-06-23T14:53:48+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":800,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/76746e5f-gp1sy8sq.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Greenpeace Indonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Greenpeace Indonesia","Est. reading time":"6 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/"},"author":{"name":"Greenpeace Indonesia","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe"},"headline":"Anak Muda Adat dan Masa Depan Hutan Papua","datePublished":"2023-11-12T23:00:00+00:00","dateModified":"2025-06-23T14:53:48+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/"},"wordCount":1143,"commentCount":1,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Aktivisme","Hutan","Iklim"],"articleSection":["Ciptakan Perubahan","Lindungi","The issues we work on"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/","url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/","name":"Anak Muda Adat dan Masa Depan Hutan Papua - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2023-11-12T23:00:00+00:00","dateModified":"2025-06-23T14:53:48+00:00","breadcrumb":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57496\/anak-muda-adat-dan-masa-depan-hutan-papua\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Anak Muda Adat dan Masa Depan Hutan Papua"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe","name":"Greenpeace Indonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","caption":"Greenpeace Indonesia"},"sameAs":["http:\/\/www.greenpeace.or.id"],"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57496","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/49"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57496"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57496\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":63390,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57496\/revisions\/63390"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57498"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57496"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57496"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57496"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=57496"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}