{"id":57591,"date":"2023-11-23T12:50:28","date_gmt":"2023-11-23T05:50:28","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=57591"},"modified":"2025-06-23T21:53:33","modified_gmt":"2025-06-23T14:53:33","slug":"petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/","title":{"rendered":"Petani Sayur Malino Didera Krisis Iklim"},"content":{"rendered":"\n<p>Puluhan petani sayuran di kawasan Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, hanya bisa memandang nanar, menghela nafas panjang, atau bahkan menertawai keadaan. Mereka sudah tak kuasa melawan perubahan cuaca yang demikian cepat ini. Namun, mereka juga tak tahu harus mencari pertolongan dari mana.<\/p>\n\n<p>Tulisan ini berkisah tentang sosok-sosok petani yang menghadapi kerentanannya sendiri. Mereka hanya bisa berpasrah dan menunggu keajaiban. Mereka seperti sekrup-sekrup kecil di bangunan masyarakat negara ini, tetapi sebenarnya secara bersama-sama mereka menghasilkan triliunan pendapatan.<\/p>\n\n<p><strong>Daeng Ba\u2019rang<\/strong><\/p>\n\n<p>Perkenalkan Daeng Ba\u2019rang (53 tahun), seorang petani sayuran yang bermukim di lingkungan Batu Lapisi Dalam, Kelurahan Malino, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Ba\u2019rang duduk di ruang tamu rumahnya yang terbuat dari tembok. Lebarnya sekitar enam meter, dengan panjang sekitar 20 meter. Di tempat itu dia tinggal bersama istrinya, Mina (55 tahun), dan anak perempuan semata wayangnya yang berusia 25 tahun.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n<p>Dia memiliki lahan seluas 200 meter persegi. Di tanah itu dia menanam berbagai macam jenis sayuran, mulai dari kembang kol, sawi, hingga cabai rawit. Setiap hari keluarga itu merawat tanaman dengan tekun, membersihkan rumput, dan menyiraminya. Selama puluhan tahun tanah itu telah memberi hasil, keuntungannya dikumpulkan, dan rumah itu adalah hasilnya. Kali ini mereka telah merombak bagian tengah rumah untuk membuat rangka cor beton.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"681\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/ffbcc968-il-malino-12-1024x681.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-57592\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/ffbcc968-il-malino-12-1024x681.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/ffbcc968-il-malino-12-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/ffbcc968-il-malino-12-768x511.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/ffbcc968-il-malino-12-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/ffbcc968-il-malino-12.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n<p>Dua orang kerabat membantu tanpa menerima upah. Ba\u2019rang berkata di kampungnya ada banyak orang yang memiliki keterampilan sebagai tukang bangunan yang bekerja pada proyek-proyek pemerintah melalui perantara kontraktor. Biasanya menjadi kuli bangunan dilakoni para petani itu ketika musim kemarau datang, sebagai pekerjaan musiman dengan upah Rp150 ribu per hari.&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201cKalau saya gaji, tidak mungkin saya bisa membangun rumah,\u201d kata Ba\u2019rang menunjuk dua orang itu. \u201cCukup bahannya saya beli sedikit demi sedikit. Di kampung kami masih saling membantu.\u201d<\/p>\n\n<p>Menjelang siang sebelum azan ibadah Jumat, di pertengahan September 2023, tiga orang itu menyelesaikan adukan campuran semen lalu bergantian menuangkannya dengan ember kecil ke dalam kotak memanjang yang di dalamnya diberi besi baja. Setelah itu, mereka duduk bersama makan. Siang itu hidangannya adalah ayam kuah yang nikmat, tapi tak ada sayuran. Mereka tersenyum sebab inilah yang dihadapi Ba\u2019rang beserta petani lainnya. \u201cTahun yang susah,\u201d katanya singkat.<\/p>\n\n<p>Di sepanjang wilayah ini petani sayuran sedang menjerit. Tanaman mereka gagal panen karena kemarau yang panjang. Sudah empat bulan kawasan itu tak pernah diguyur hujan. Tanah pertanian menjadi retak. Debu beterbangan. Sungai mengering.<\/p>\n\n<p>Ba\u2019rang menanam kembang kol, yang usia tanamnya memasuki tiga bulan, dan seharusnya sebulan lagi akan panen, tapi sudah dipastikan gagal. Daun sayuran itu berbintik putih dan dipenuhi lubang. Bakal buah dari kembangnya sudah dipastikan tak akan keluar dan tak bisa lagi diselamatkan. \u201cDicabut saja nanti,\u201d katanya.<\/p>\n\n<p>Biaya awal tanaman itu mencapai Rp10 juta. Pemodalnya akan mendapat sebagian keuntungan dari hasil panen beserta pengembalian modal. Mina, istrinya, harus memutar kepala agar biaya hidup tetap terpenuhi.<\/p>\n\n<p>Tahun ini ratusan petani di kawasan itu \u201cberjudi\u201d menanam sayuran di bulan Juli. Mereka berharap cuaca bisa berubah. Musim tanam, dengan siklus cuaca yang selama ini menjadi kebiasaan, sekarang sudah tak bisa diprediksi. Para petani di tempat-tempat yang jauh dari pusat pembuat kebijakan, yang mengandalkan pengetahuan lokal selama berabad-abad, kini mulai takluk. Selama sepekan penulis melakukan perjalanan di berbagai sudut kawasan ini, petani-petani yang berada di ladang berusia sama seperti Ba\u2019rang. Anak-anak muda yang terjun ke sektor pertanian lebih memilih menjadi pedagang penghubung ketimbang bertani.<\/p>\n\n<p>Dalam tradisi pengetahuan mereka, seharusnya menjelang Juli hujan masih mengguyur sesekali. Namun, hingga September ini kering terus, perkiraan mereka meleset. Mereka ingin berhenti menanam, tapi mereka tak punya pilihan. Ba\u2019rang yang menanam pada Juli itu berharap ada keajaiban, tapi tak terjadi.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Februari 2023 menjadi tahun \u201cair mata\u201d petani di kawasan ini. Ribuan hektare gagal panen. Kentang, wortel, mentimun, kol, hingga tomat membusuk di pohon. Berkebalikan dengan kemarau panjang ini, saat itu hujan mengguyur dengan intensitas tinggi.<\/p>\n\n<p><strong>Puang Jari\u2019<\/strong><\/p>\n\n<p>Puang Jari\u2019 (48 tahun), yang bermukim di desa Tonasa, Kecamatan Tombolo Pao, mengingat Februari sembari menggeleng kepala dengan bahu sedikit terangkat. \u201cBaru satu hari kami selesai panen tomat, besoknya akan panen di hamparan lainnya,\u201d katanya. \u201cTapi jelang siang, hujan tiba-tiba datang tidak berhenti. Anginnya juga menjadi kencang. Pohon tomat semuanya tumbang. Batang-batangnya patah. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan.\u201d&nbsp;<\/p>\n\n<p>Hingga Maret hujan terus mengguyur. Bulan berikutnya hujan mereda. Kemudian panas menyengat. Lahan pun dibersihkan kembali. Dia kemudian menanam cabai keriting. Sungai di dekat lahannya masih cukup baik mengalirkan air. Dia menyedotnya menggunakan mesin pemompa dan membuat jaringan pipa untuk penyiraman dengan pola memercik. Namun, hingga Juli cuaca menjadi lebih ekstrem dan sangat panas.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Air sungai mulai berkurang. Beberapa anakan sungai bahkan mengering. Sungai-sungai besar juga hampir kerontang. \u201cKarena kurang sekali <em>mi<\/em> air di sungai, semut bisa menyeberang sambil jalan,\u201d katanya.<\/p>\n\n<p>Setelah dihantam guyuran hujan pada awal tahun. Kini petani menghadapi kemarau yang entah kapan akan berakhir. \u201cKemarau sebelumnya tidak panas seperti sekarang. Itu rumput sampai mati semua. Dulu tidak,\u201d katanya.&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201cKalau sampai September akhir ini tidak ada hujan, akan banyak petani yang gulung tikar. Mungkin saya juga.\u201d<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"681\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/c874eb9a-il-malino-22-1024x681.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-57597\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/c874eb9a-il-malino-22-1024x681.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/c874eb9a-il-malino-22-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/c874eb9a-il-malino-22-768x511.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/c874eb9a-il-malino-22-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/c874eb9a-il-malino-22.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n<p>Puang Jari\u2019 hanya bisa berharap alam kembali membaik. Dia tak tahu mengapa perubahan iklim ini terjadi. Dia tak pernah mengerti bagaimana suhu bumi meningkat dan membuat es di kutub mencair. Yang pasti baginya dan ribuan petani lainnya kemarau telah membuat tanamannya tak bisa tumbuh dengan baik. Tanamannya mati dan kemunculan hama semakin masif. \u201cKarena panas, semakin banyak orang jual racun. Banyak sekali,\u201d katanya.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Puang Jari\u2019, pada pertengahan September 2023, sekitar pukul 10.00 berada di petak lahannya. Dia bersama pekerjanya sedang memanen cabai keriting. Awalnya dia enggan berbicara dengan kami yang mengunjunginya. \u201cSaya pikir orang promosi racun lagi,\u201d katanya sembari tertawa.<\/p>\n\n<p>Saat berjalan di sela tanaman cabai yang tingginya sekitar 1 meter, dia berhenti. Tangannya mengangkat pucuk tanaman yang daunnya menjadi keriting. \u201cIni sudah mati. Tidak tahu pakai obat apa lagi untuk selamatkan,\u201d katanya.<\/p>\n\n<p>Di teras rumah kebunnya Puang Jari\u2019 menyuguhkan kopi. Penganan dari kue juga terhidang di piring. Sementara itu, tangannya sibuk mengibas-ngibas, mengusir ratusan lalat. Kemunculan lalat juga menjadi pertanyaan baginya. Tahun-tahun sebelumnya lalat bukanlah serangga yang bisa membuatnya kesal. \u201cDari mana datangnya? Tidak tahu. Muncul dan tiba-tiba banyak,\u201d katanya. \u201cDulu kalau ada lalat mungkin karena ada tumpahan kopi atau ada sisa makanan, tapi tidak banyak, hanya puluhan ekor. Sekarang ini ratusan, bisa ribuan.\u201d&nbsp;<\/p>\n\n<p>Jelang sore Puang Jari\u2019 mulai mengangkut hasil panen cabai keriting ke pinggir jalan. Ada puluhan kantong dijejerkan. \u201cSekarang ini kalau panen paling banyak 200 kg. Sebelum kemarau, panen bisa 1 ton setiap tahun,\u201d katanya.<\/p>\n\n<p>Harga setiap kantong cabai keriting Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram dengan berat setiap kantong 10 kg. Harga di bulan September (saat liputan) sangat jauh di bawah normal. Menjelang pertengahan Oktober (saat tulisan dibuat) harganya naik menjadi Rp25 ribu hingga Rp28 ribu per kilogram. Kata Puang Jari\u2019 harga itu sudah masuk dalam kategori normal. Meski demikian, harga yang kembali normal tidak diikuti produktivitas tanaman, yang semakin hari semakin berkurang.&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201c\u201cItu mau dikirim ke Sorong, Papua. Pelanggan saya di sana sudah menelepon terus dan minta,\u201d katanya. \u201cMereka kadang-kadang marah, tapi saya bilang, \u2018Mungkin hanya Tuhan yang bisa tolong kembalikan ini keadaan.\u2019 Jadi, kalau cabai itu sampai ke Sorong, buahnya jadi kempes dan beberapa hitam. Sementara itu, kalau buah cabai yang sehat [bisa tahan] sampai satu minggu. Itu cabainya tidak akan berubah dan besar juga.\u201d<\/p>\n\n<p><strong>Sandi<\/strong><\/p>\n\n<p>Sandi (40 tahun), seorang petani lain, menambahkan, \u201cKalau begini terus, bagaimana kita hidup,\u201d kata. Ia duduk di pematang tanaman sawi milik keluarganya. Kebunnya berada sekitar 500 meter di bagian lain. Badannya masih dipenuhi keringat karena baru selesai mengangkut air dengan jeriken untuk menyiram tanaman sawi hijaunya yang berusia satu bulan dan kembang kolnya yang berusia dua bulan. Bayangan gagal panen sudah menghampirinya. Kemarau dan hama menjadi faktor utamanya. Dia menunjukkan hama yang oleh para petani disebut kutu loncat. Ini adalah kumbang kecil yang memakan daun tanaman. \u201cKalau disemprot racun, dia pindah. Bisa lompat,\u201d katanya.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Dia membalik lembaran daun sawi dan memperlihatkan bintik putih yang menempel. Dia menyebutnya telur si kutu loncat. Setelah difoto dan diperbesar, rupanya itu adalah anakan kumbang. \u201cNanti satu daun ini bisa habis dia makan, lalu pindah lagi,\u201d katanya.&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201cKalau sawi begini yang dijual itu daunnya. Kalau rusak dan lubang-lubang, harganya jadi murah dan juga tidak laku.\u201d&nbsp;<\/p>\n\n<p>Di kampung Batu Lapisi Dalam, dari motor yang melaju pelan di jalan aspal menurun yang meliuk-liuk tampak punggung bukit merana di kejauhan. Rumput yang menyelimutinya menjadi coklat bagai terpanggang. Pepohonan dengan dahan dan ranting terlihat tanpa daun.<\/p>\n\n<p>Bukit-bukit itu memperlihatkan bebatuan. Tanahnya nampak kemerahan dan kecokelatan. Jika bukit itu diandaikan manusia, mereka berdiri dengan badan kurus yang menampilkan tulang rusuk.<\/p>\n\n<p>Malino adalah suatu kawasan di bawah bentangan pegunungan Lompobattang. Orang-orang saban waktu dan paling ramai pada akhir pekan memacu kendaraan dari Makassar sekitar 2 jam untuk mendapatkan udara sejuk di sini. Tempat ini berada di ketinggian 1000 mdpl.<\/p>\n\n<p>Malino adalah kawasan wisata. Villa dan hotel di sepanjang lahan pertanian terlihat megah berdiri. Bentuknya beragam, dari mulai \u2018gaya\u2019 minimalis hingga bergaya Eropa. Warnanya juga mencolok.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Di wilayah ini ada perkebunan teh yang berdiri sejak pemerintahan Belanda. Ada pula pesanggrahan yang dibangun tahun 1927, yang kemudian dijadikan tempat perundingan membentuk Negara Indonesia Timur.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Sejak dulu Malino menjadi sentra produksi pertanian. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi tanaman semusim tertinggi tahun 2020 mencapai 40.702 ton. Tanaman sayuran lainnya adalah bawang daun dengan produksi mencapai 20.730 ton. Kemudian wortel 18.741 ton, lalu tomat 14.612 ton, dan kubis 9.929 ton.&nbsp;<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"681\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/38f6db40-il-malino-01-1024x681.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-57595\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/38f6db40-il-malino-01-1024x681.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/38f6db40-il-malino-01-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/38f6db40-il-malino-01-768x511.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/38f6db40-il-malino-01-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/38f6db40-il-malino-01.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Suyuran tomat yang rusak di lahan pertanian milik warga  akibat kekurangan suplai air  di lingkungan Batu Lapisi Dalam, Kelurahan Malino, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Sayuran dari wilayah inilah yang memasok kebutuhan di Makassar hingga beberapa wilayah di Indonesia bagian Timur. Namun, demikian setiap waktu, lahan pertanian semakin menyusut karena pembangunan hotel untuk sarana pariwisata. Harga tanah bahkan meningkat tajam, mencapai jutaan rupiah per meter.<\/p>\n\n<p>\u201cSudah banyak petani yang menjual tanahnya dijadikan villa. Mereka lalu bekerja di villa itu sebagai buruh. Itu buat sedih,\u201d kata Arifuddin.<\/p>\n\n<p><strong>Arifuddin<\/strong><\/p>\n\n<p>Arifuddin menerka usianya sendiri sudah menjelang 40 tahun. Dia tak bisa baca dan tulis, tapi dia seorang petani penggarap yang ulet. Keluarganya tak memiliki lahan sendiri. \u201cSaya lihat sekarang petani sayur mulai beli sayur juga. Saya pikir ini ada yang salah,\u201d katanya. \u201cKalau petani tidak ada lagi tanah, itu kayak kiamat,\u201d lanjutnya.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Lima tahun yang lalu, dalam ingatan puluhan warga, saat kemarau datang pun setiap pekan selalu saja turun hujan, meski hanya sesaat. Namun, lima tahun setelahnya kemarau seperti bara yang panas. Tidak ada hujan sedikit pun. Puncaknya pada 2023.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Sejak Juni hingga September rasanya langit tak pernah memunculkan awan kumulus \u2013 pembawa hujan. Langit selalu biru, bahkan mulai pukul 5.30 hingga 18.30. Pengetahuan lokal yang digunakan leluhur dalam menghadapi musim tanam akhirnya menjadi usang, tak terpakai.<\/p>\n\n<p>Bagi petani Malino Juli seharusnya masih turun hujan dan kemarau datang menjelang September. Namun, pada 2023 hujan mengguyur kawasan itu pada Februari. Sayuran yang ditanam pada Desember menjadi gagal panen pada Februari karena air melimpah dan membusuk. Kentang, wortel, hingga bunga kol gagal panen. Selain intensitas hujan, angin juga menjadi semakin kuat. Tanaman yang masih berusia sekitar dua bulan menjadi patah, termasuk tomat hingga cabai. Para petani mengelus dada. Harga merosot. \u201cKalau bawa uang Rp20 ribu, bisa dapat 1 karung kentang,\u201d kata seorang petani. \u201cTomat satu kantong plastik merah [20 kg] itu hanya Rp5 ribu,\u201d petani lain berbicara. \u201cSawi tak perlu beli. Minta saja.\u201d<\/p>\n\n<p><strong>Ma\u2019rang<\/strong><\/p>\n\n<p>Di saat panas menyengat itu Ma\u2019rang (62 tahun) bersama istri dan anaknya sedang membersihkan rumput di sela bedengan tanaman. Dia menanam daun bawang, yang usia tanamnya sudah memasuki tiga bulan. Sekitar dua pekan lagi seharusnya panen, tapi tanaman itu tumbuh kurang baik dan menguning.<\/p>\n\n<p>Daun bawang tumbuh berumpun. Satu rumpun terdiri dari sekitar 10 hingga 15 helai daun. Daun-daun yang menguning itulah yang dicabut keluarga Ma\u2019rang, dengan harapan tak mengganggu helai daun lain. \u201cKalau sudah dicabut yang kuning, besoknya yang lain juga menguning,\u201d katanya.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Daun kuning itu, menurut Ma\u2019rang, karena jamur. Dia mengutip penjelasan orang-orang yang datang menjual racun pestisida. Dia juga telah mengikuti saran para penjual itu, tapi hasilnya selalu nihil. Tahun ini sudah dua kali dia gagal panen. Sekali modal awal kembali, sekali lainnya merugi.<\/p>\n\n<p>Anak perempuannya yang ikut ke kebun menyaksikan tanaman itu dengan tatapan yang remuk. Dia sudah kuliah semester akhir di sebuah universitas di Makassar. Dia berucap pada Ma\u2019rang, \u201cBagaimana jika tanaman ini gagal panen lagi? Bagaimana uang semesterku, Pak?\u201d&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201cSabar. Nanti dicarikan jalan,\u201d jawab Ma\u2019rang.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n<p>Ma\u2019rang adalah petani yang cukup beruntung di wilayah desa Tonasa. Lahannya sederet dengan Puang Jari\u2019. Di lahannya terdapat anak sungai yang mengalirkan air meski dengan debit yang kecil. Sebaliknya, di sisi jalan yang berhadapan dengan kebunnya ratusan hektare hamparan lahan sudah tak bisa lagi digarap. Sungainya telah mengering beberapa bulan lalu.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"681\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/70c10b71-il-malino-19-1024x681.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-57593\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/70c10b71-il-malino-19-1024x681.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/70c10b71-il-malino-19-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/70c10b71-il-malino-19-768x511.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/70c10b71-il-malino-19-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/70c10b71-il-malino-19.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Sungai Jeneberang yang mengering akibat kemarau panjang  dikawasan Malino, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sungai terbesar yang membelah wilayah Gowa. Hulu Jeneberang berada di Pegunungan Bawakaraeng ini menjadi suplai air  pengairan pertanian dan industri pembangkit yang mulai terancam.<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Pilihan untuk para petani adalah menanam ubi jalar dan singkong. Sialnya tanaman itu tetap membutuhkan air saat proses pertumbuhan. Kini, meski tanaman itu tetap hidup, umbinya kecil dan tak layak jual, atau bahkan tanaman mati.<\/p>\n\n<p>Petani-petani itu menceritakannya dengan jiwa terpukul. Bagi mereka peristiwa ini bagai suara dentuman pintu kiamat yang terbuka. Mereka bergidik, tapi tidak menyerah. Kini mereka pelan-pelan kembali menanam, berharap cuaca berubah.<\/p>\n\n<p><\/p>\n\n<p><em>Berkolaborasi dengan <a href=\"https:\/\/iklimku.org\/\">iklimku.org<\/a>&nbsp;<\/em><\/p>\n\n<div class=\"wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8cf370e7 wp-block-group-is-layout-flex\">\n<p>Teks: Eko Rusdianto<\/p>\n\n\n\n<p>Foto: Iqbal Lubis<\/p>\n\n\n\n<p>Penyunting Teks: Kurniawan Adi Saputro<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah dihantam guyuran hujan pada awal tahun. Kini petani menghadapi kemarau yang entah kapan akan berakhir. <\/p>\n","protected":false},"author":74,"featured_media":57593,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/70c10b71-il-malino-19.jpg","p4_og_image_id":"57593","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-57591","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Petani Sayur Malino Didera Krisis Iklim - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Petani Sayur Malino Didera Krisis Iklim - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Setelah dihantam guyuran hujan pada awal tahun. Kini petani menghadapi kemarau yang entah kapan akan berakhir.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-11-23T05:50:28+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-06-23T14:53:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/70c10b71-il-malino-19.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"798\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Arsi Agnitasari\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Arsi Agnitasari\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"13 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/\"},\"author\":{\"name\":\"Arsi Agnitasari\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/ec727a11f50a800c1610613939280fbc\"},\"headline\":\"Petani Sayur Malino Didera Krisis Iklim\",\"datePublished\":\"2023-11-23T05:50:28+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-23T14:53:33+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/\"},\"wordCount\":2194,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Uncategorized\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/\",\"url\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/\",\"name\":\"Petani Sayur Malino Didera Krisis Iklim - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-11-23T05:50:28+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-23T14:53:33+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Petani Sayur Malino Didera Krisis Iklim\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/ec727a11f50a800c1610613939280fbc\",\"name\":\"Arsi Agnitasari\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJHQnU2AbYDEyFgBe0axtgt4GSgBVOtvjX6VfyxKPli2gqCL9Ci=s96-c\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJHQnU2AbYDEyFgBe0axtgt4GSgBVOtvjX6VfyxKPli2gqCL9Ci=s96-c\",\"caption\":\"Arsi Agnitasari\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/arsi-agnitasari\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Petani Sayur Malino Didera Krisis Iklim - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Petani Sayur Malino Didera Krisis Iklim - Greenpeace Indonesia","og_description":"Setelah dihantam guyuran hujan pada awal tahun. Kini petani menghadapi kemarau yang entah kapan akan berakhir.","og_url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2023-11-23T05:50:28+00:00","article_modified_time":"2025-06-23T14:53:33+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":798,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/70c10b71-il-malino-19.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Arsi Agnitasari","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Arsi Agnitasari","Est. reading time":"13 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/"},"author":{"name":"Arsi Agnitasari","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/ec727a11f50a800c1610613939280fbc"},"headline":"Petani Sayur Malino Didera Krisis Iklim","datePublished":"2023-11-23T05:50:28+00:00","dateModified":"2025-06-23T14:53:33+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/"},"wordCount":2194,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"articleSection":["Uncategorized"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/","url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/","name":"Petani Sayur Malino Didera Krisis Iklim - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2023-11-23T05:50:28+00:00","dateModified":"2025-06-23T14:53:33+00:00","breadcrumb":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/57591\/petani-sayur-malino-didera-krisis-iklim\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Petani Sayur Malino Didera Krisis Iklim"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/ec727a11f50a800c1610613939280fbc","name":"Arsi Agnitasari","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJHQnU2AbYDEyFgBe0axtgt4GSgBVOtvjX6VfyxKPli2gqCL9Ci=s96-c","contentUrl":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocJHQnU2AbYDEyFgBe0axtgt4GSgBVOtvjX6VfyxKPli2gqCL9Ci=s96-c","caption":"Arsi Agnitasari"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/arsi-agnitasari\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57591","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/74"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57591"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57591\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":63383,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57591\/revisions\/63383"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57593"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57591"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57591"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57591"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=57591"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}