{"id":58726,"date":"2024-07-11T19:11:47","date_gmt":"2024-07-11T12:11:47","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=58726"},"modified":"2025-07-02T14:39:05","modified_gmt":"2025-07-02T07:39:05","slug":"uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/","title":{"rendered":"UU KSDAHE, Komitmen Semu untuk Konservasi Alam dan Pelindungan Masyarakat Adat"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><em>Tanggapan Greenpeace tentang UU KSDAHE<\/em><\/strong><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"800\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/07\/048e16e5-gp1t909i.jpg\" title=\"Great March led by Indigenous leaders for Biodiversity and Human Rights during COP15. \u00a9 Greenpeace \/ Toma Iczkovits\" alt=\"Great March led by Indigenous leaders for Biodiversity and Human Rights during COP15. \u00a9 Greenpeace \/ Toma Iczkovits\" class=\"wp-image-58727\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/07\/048e16e5-gp1t909i.jpg 1200w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/07\/048e16e5-gp1t909i-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/07\/048e16e5-gp1t909i-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/07\/048e16e5-gp1t909i-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/07\/048e16e5-gp1t909i-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">On December 10th, hundreds of Quebec and international civil society organizations led by Indigenous delegations sent a powerful signal to countries that are currently gathered in Montreal for COP15 to negotiate the next Global Biodiversity Framework. This key international agreement will shape global efforts to preserve ecosystems for the next decade. At the forefront of these demands was protecting human rights, including protecting Indigenous peoples and reversing biodiversity loss.<div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Greenpeace \/ Toma Iczkovits<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p><strong>Jakarta, 11 Juli 2024. <\/strong>Greenpeace Indonesia menilai ada sederet masalah dalam proses formil maupun substansi Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE) yang disahkan pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Selasa, 9 Juli lalu. Secara formil, proses pembahasan rancangan UU KSDAHE sangat minim pelibatan masyarakat.&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201cPembahasan rancangan UU KSDAHE tak berjalan transparan. Sejumlah organisasi masyarakat sipil kesulitan untuk memonitor prosesnya. Pemerintah dan DPR patut ditengarai telah mengabaikan partisipasi publik yang bermakna dalam proses penyusunan dan pembahasan RUU KSDAHE,\u201d kata Sekar Banjaran Aji, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia.<\/p>\n\n<p>Secara substansi, UU KSDAHE juga bermasalah. Undang-Undang Konservasi ini masih menggunakan paradigma lama yang mengeksklusi masyarakat adat dan komunitas lokal dalam pelindungan ekosistem. Pemerintah dan DPR tak mengakomodasi usulan masyarakat sipil agar memastikan adanya pengakuan, partisipasi, dan pelindungan masyarakat adat dan komunitas lokal dalam UU KSDAHE.<\/p>\n\n<p>Kendati ada pasal yang menyebut peran serta masyarakat, termasuk masyarakat adat, proses itu tampaknya hanya dipandang sebagai formalitas belaka. Proses penetapan kawasan konservasi dalam UU KSDAHE bersifat sangat sentralistik karena berada di bawah kewenangan pemerintah pusat. Hal ini amat berpotensi memicu konflik dengan masyarakat setempat yang kehilangan ruang hidup dan tempat beraktivitas. Watak yang sentralistik ini diperparah dengan pasal-pasal sanksi pidana dalam UU KSDAHE terhadap perorangan, yang berpotensi menambah deret panjang kriminalisasi warga.<\/p>\n\n<p>Prinsip konservasi seharusnya mengacu pada Konvensi Keanekaragaman Hayati (<em>Convention of Biological Diversity<\/em>)\u2013yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia dalam UU Nomor 5 Tahun 1994. Konvensi ini mengatur bahwa negara mestinya mengakui ketergantungan yang erat dan berciri tradisional sejumlah masyarakat asli dan masyarakat setempat, yang berkaitan dengan konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya secara berkelanjutan.<\/p>\n\n<p>Poin bermasalah lainnya dalam UU KSDAHE adalah pemanfaatan jasa lingkungan untuk beberapa hal, seperti panas bumi dan karbon. Ini jelas kontradiktif dengan tujuan konservasi sumber daya alam demi menyelamatkan keanekaragaman hayati tersisa. Sistem operasional ekstraksi panas bumi sangat berisiko, berpotensi mencemari dan merusak lingkungan, dan mengganggu ekosistem dalam area hutan.<\/p>\n\n<p>\u201cPembangkit terbarukan skala besar, termasuk <em>hydro<\/em> dan <em>geothermal<\/em>, membutuhkan pengawasan yang jauh lebih ketat mengenai analisis risiko dan dampak sosial, ekonomi serta lingkungannya. Pembangunan pembangkit panas bumi yang berada di kawasan taman nasional, hutan lindung, dan masyarakat adat serta area yang berpotensi besar menimbulkan konflik sosial membawa dampak yang jauh lebih besar daripada manfaatnya. Padahal transisi ke energi terbarukan harus memastikan aspek keadilan dan keberlanjutan,\u201d kata Hadi Priyanto, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.<\/p>\n\n<p>Adapun pemanfaatan jasa lingkungan berupa karbon jelas mengindikasikan niat pemerintah berbisnis karbon. Ini memungkinkan perusahaan pencemar lingkungan melakukan praktik <em>greenwashing <\/em>dengan menggunakan uangnya untuk bisnis konservasi.&nbsp;<\/p>\n\n<p>UU KSDAHE juga tak akan cukup untuk mencapai target 30&#215;30 guna melindungi setidaknya 30 persen daratan dan 30 persen lautan pada 2030, yang telah disepakati dalam <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/55977\/cbd-cop15-berakhir-indonesia-mesti-percepat-pengakuan-masyarakat-adat\/\">Kerangka Kerja Biodiversitas Kunming-Montreal 2022<\/a>. Apalagi substansi UU KSDAHE juga masih cenderung bias darat, misalnya dalam pengaturan tentang area preservasi yang tidak memasukkan pelestarian di area laut.\u00a0<\/p>\n\n<p>Padahal hingga 2020, lebih dari 54 persen kawasan hutan sudah merupakan kawasan lindung, tapi baru 8,7 persen kawasan penting laut yang telah dilindungi secara hukum. Pemerintah Indonesia berencana menambah luasan kawasan lindung laut hingga 32,5 juta hektare pada 2030 dan secara bertahap menjadi 30 persen di tahun 2045.&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201cKita menghadapi ancaman krisis iklim dan <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/58714\/menyelamatkan-keanekaragaman-hayati-laut-krisis-tak-terlihat-di-laut-lepas\/\">ancaman kepunahan keanekaragaman hayati<\/a>, tapi pemerintah dan DPR masih saja bermain-main dengan komitmen pelindungan lingkungan yang sifatnya semu,\u201d kata Sekar Banjaran Aji.\u00a0<\/p>\n\n<p><strong>Kontak Media:<\/strong><\/p>\n\n<p>Sekar Banjaran Aji, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, +62 812-8776-9880<\/p>\n\n<p>Hadi Priyanto, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, +62 811-1445-577<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tanggapan Greenpeace tentang UU KSDAHE yang bermasalah secara proses dan isi.<\/p>\n","protected":false},"author":93,"featured_media":58727,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"Tanggapan Greenpeace tentang UU KSDAHE yang bermasalah secara proses dan isi.","p4_og_image":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/07\/048e16e5-gp1t909i.jpg","p4_og_image_id":"58727","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[5],"tags":[33,19,6,20],"p4-page-type":[14],"class_list":["post-58726","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-issues","tag-demokrasi","tag-hutan","tag-iklim","tag-laut","p4-page-type-siaran-pers"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>UU KSDAHE, Komitmen Semu untuk Konservasi Alam dan Pelindungan Masyarakat Adat - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"UU KSDAHE, Komitmen Semu untuk Konservasi Alam dan Pelindungan Masyarakat Adat - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tanggapan Greenpeace tentang UU KSDAHE yang bermasalah secara proses dan isi.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-07-11T12:11:47+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-02T07:39:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/07\/048e16e5-gp1t909i.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Budiarti Putri\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Budiarti Putri\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/\"},\"author\":{\"name\":\"Budiarti Putri\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/e4e764db80f6a4f83a58464b1e3badff\"},\"headline\":\"UU KSDAHE, Komitmen Semu untuk Konservasi Alam dan Pelindungan Masyarakat Adat\",\"datePublished\":\"2024-07-11T12:11:47+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-02T07:39:05+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/\"},\"wordCount\":636,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Demokrasi\",\"Hutan\",\"Iklim\",\"Laut\"],\"articleSection\":[\"The issues we work on\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/\",\"name\":\"UU KSDAHE, Komitmen Semu untuk Konservasi Alam dan Pelindungan Masyarakat Adat - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2024-07-11T12:11:47+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-02T07:39:05+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"UU KSDAHE, Komitmen Semu untuk Konservasi Alam dan Pelindungan Masyarakat Adat\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/e4e764db80f6a4f83a58464b1e3badff\",\"name\":\"Budiarti Putri\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLopB-Gr_k9SCNin05wv54eBSLhlzm1S71rF3I2remJgRXS7EhD=s96-c\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLopB-Gr_k9SCNin05wv54eBSLhlzm1S71rF3I2remJgRXS7EhD=s96-c\",\"caption\":\"Budiarti Putri\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/budiarti-putri\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"UU KSDAHE, Komitmen Semu untuk Konservasi Alam dan Pelindungan Masyarakat Adat - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"UU KSDAHE, Komitmen Semu untuk Konservasi Alam dan Pelindungan Masyarakat Adat - Greenpeace Indonesia","og_description":"Tanggapan Greenpeace tentang UU KSDAHE yang bermasalah secara proses dan isi.","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2024-07-11T12:11:47+00:00","article_modified_time":"2025-07-02T07:39:05+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":800,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/07\/048e16e5-gp1t909i.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Budiarti Putri","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Budiarti Putri","Est. reading time":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/"},"author":{"name":"Budiarti Putri","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/e4e764db80f6a4f83a58464b1e3badff"},"headline":"UU KSDAHE, Komitmen Semu untuk Konservasi Alam dan Pelindungan Masyarakat Adat","datePublished":"2024-07-11T12:11:47+00:00","dateModified":"2025-07-02T07:39:05+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/"},"wordCount":636,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Demokrasi","Hutan","Iklim","Laut"],"articleSection":["The issues we work on"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/","name":"UU KSDAHE, Komitmen Semu untuk Konservasi Alam dan Pelindungan Masyarakat Adat - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2024-07-11T12:11:47+00:00","dateModified":"2025-07-02T07:39:05+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/58726\/uu-ksdahe-komitmen-semu-untuk-konservasi-alam-dan-pelindungan-masyarakat-adat\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"UU KSDAHE, Komitmen Semu untuk Konservasi Alam dan Pelindungan Masyarakat Adat"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/e4e764db80f6a4f83a58464b1e3badff","name":"Budiarti Putri","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLopB-Gr_k9SCNin05wv54eBSLhlzm1S71rF3I2remJgRXS7EhD=s96-c","contentUrl":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLopB-Gr_k9SCNin05wv54eBSLhlzm1S71rF3I2remJgRXS7EhD=s96-c","caption":"Budiarti Putri"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/budiarti-putri\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58726","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/93"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58726"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58726\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":63876,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58726\/revisions\/63876"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/58727"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58726"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58726"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58726"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=58726"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}